
"Kalau tidak, artinya kami tidak berjodoh." Riri terlihat santai.
"Apa kamu sudah tidak mencintai Rian?" tanya Mia.
"Jawabanku tetap sama. Aku rasa Kak Mia juga tahu jawabannya," jawab Riri.
"Jawab pertanyaan terakhirku ya!" ucap Mia.
"Jangan buru-buru Kak. Santai saja. Berapa banyakpun pertanyaan dari Kakak, aku pasti jawab." Riri menggenggam tangan Mia.
Mia menatap tangannya yang berada dalam genggaman Riri. Ia tahu jika wanita di hadapannya sedang menyimpan luka yang begitu dalam. Namun hebatnya, ia masih bisa tersenyum penuh dengan ketulusan.
"Kalau ternyata Rian menikah dengan wanita lain?" tanya Mia.
"Lalu?" Riri menatap Mia penuh makna.
Mia tahu Riri mengerti maksud pertanyaannya. Namun mungkin Riri tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
"Sudahlah. Lupakan saja," ucap Mia.
Riri tersenyum. Meskipun Mia berusaha menyudahi pertanyaan yang belum sempat ia jawab, namun ia yakin Mia pasti menunggu jawabannya.
Setelah menghela napas dengan berat, Riri menjelaskan bahwa ia tidak pernah membebani Rian untuk menunggunya atau mengejarnya. Bahkan saat ia tahu Rian akan menikah dengan Shelin, ia juga tidak berusaha menggagalkannya. Ia berusaha menerima setiap kenyataan hidupnya.
"Kalaupun Mas Rian gagal menikah, itu bukan keinginanku. Aku hanya ingin Mas Rian bahagia dengan siapapun pilihannya," tutur Riri.
Meskipun hatiku hancur berkeping.
Ya, Mia tahu jika kegagalan hubungan Rian dengan Shelin bukan salah Riri. Kehadiran Hiro mungkin bisa dijadikan alasan utamanya. Meskipun begitu, rasa yang tersimpan di hati Rian adalah penyebab utama semuanya. Karena andai saja perasaan untuk Riri sudah sirna, tidak akan seperti ini jadinya.
Setelah puas dengan jawaban Riri, Mia pamit pulang. Pelukan Riri yang begitu erat dan hangat membuat Mia ikut merasakan sakit yang Riri rasakan. Terjebak dalam kenyataan hidup yang begitu rumit. Namun Mia yakin Riri adalah wanita yang tangguh.
"Pah, kenapa dari tadi hanya diam saja?" tanya Mia setelah keluar dari kantor Riri.
__ADS_1
"Papa merasa bersalah setiap kali bertemu dengan dia. Rasanya sakit, Mi. Malu juga," jawab Tuan Felix.
Mia mengerti maksud atas jawaban ayahnya. Apa yang dilakukan Rian tentu sangat menyakiti hati Riri. Lalu setelah itu, Rian mencoba datang kembali tanpa dosa setelah apa yang sudah dilakukannya pada Riri.
Selama di Jerman, semua urusan Mia berjalan dengan lancar. Ia kembali bahkan sebelum jadwal pulang yang direncanakan. Rasa rindunya pada suami dan anak kembarnya, membuat ia segera pulang setslh semua urusannya selesai.
Rian menunggu cerita yang Mia bawa. Bahkan tahu jika Mi pulang hari ini, hati Rian berdebar tidak karuan. Ia tidak sabar ingin segera mendengar kabar baik dari Mia. Berharap jika Riri siap untuk kembali dan menikah dengannya.
Harapan itu tidak berbalas saat Mia menceritakan apa yang ia bahas dengan Riri. Ada raut kecewa yang tidak bisa dielakkan dari wajah Rian. Tidak marah, karena itu semua akibat atas ulah yang sudah ia perbuat.
"Jadi aku harus menunggu lagi dua tahun? Lebih lama dari yang aku bayangkan," ucap Rian.
"Dia tidak memaksa. Seandainya kamu tidak bisa, ia tidak akan jadi penghalang untukmu." Mia memperjelas maksud Riri agar Rian tidak salah paham.
"Terima kasih banyak ya Kak," ucap Rian.
Rian termenung setelah mendengar apa yang disampaikan Mia. Ternyata rasa itu masih ada. Kesimpulan itu cukup membuat bibirnya bergetar. Lalu dua tahun? Waktu yang memang tidak sebentar. Tapi ia memutuskan untuk fokus dengan pekerjaannya.
Setiap hari Rian mengirimkan beberapa pesan untuk Riri. Dari sapaan basa-basi, hingga laporan kegiatannya hari ini. Tak jarang Rian juga menceritakan apa yang menjadi bebannya hari ini. Sampai saat ini tidak ada satupun pesan yang dibalas oleh Riri. Namun Rian tidak peduli. Ia tetap mengirim pesan itu setiap harinya.
Sampai suatu hari, tidak sengaja ia bertemu dengan Shelin di sebua cafe.
"Shelin," sapa Rian.
Shelin yang sangat mengenali suara itu denga. ragu melihat sumber suara. Bibirnya bergetar saat melihat wajah pria yang nyaris menjadi suaminya itu.
"Rian," sapa Hiro tiba-tiba.
Rian menatap Hiro. Ia tersenyum saat melihat Hiro ada di sana. Ingin rasanya ia berterima kasih pada Hiro atas apa yang sudah dilakukannya untuk Shelin. Setidaknya Shelin sudah mau keluar rumah lagi. Raut wajahnya sudah jauh lebih ceria dibanding terakhir kali mereka bertemu.
"Hiro," ucap Rian.
Hiro menawarkan sebuah kursi di meja yang sama. Namun tentu Rian tolak. Tidak mungkin Rian duduk bersama Shelin di satu bangku saat ini. Bukan karena ia masih merasa bersalah. Tapi karena Rian tidak ingin mengganggu waktu Hiro dengan Shelin.
__ADS_1
Kalau dilihat-lihat mereka cocok ya.
Dari kejauhan Rian sesekali melihat mereka berdua. Ia tidak tahu hubungan apa yang terjalin diantara mereka berdua. Namun Rian melihat Hiro begitu menguatkan Shelin.
Rian sengaja tidak pulang sebelum mereka berdua pulang. Padahal makanan di mejanya sudah habis. Tapi ia bertahan di meja itu. Ia bingung basa-basi apa yang harus ia bahas saat melewati meja mereka.
Hiro melambaikan tangan saat pulang. Rian membalas salam perpisahan itu dengan senyum lebar. Ia lega karena akhirnya bisa segera pulang juga.
Hanya selang lima menit, Rian juga meninggalkan cafe itu. Ia kembali ke rumah dengan berbagai pikiran dalam kepalanya. Senang sebenarnya melihat Hiro yang bisa menemani Shelin dan membahagiakannya. Namun di satu sisi, ia juga sedih.
Disaat Shelin sudah menemukan obat atas luka hatinya, Rian justru masih belum mendapat kepastian. Ia tidak tahu sampai kapan perasaannya akan digantung oleh Riri. Kadang sempat merasa lelah, namun akhirnya ia sadar bahwa semua kesalahannya sendiri.
Waktu terus berlalu, Rian berusaha memperbaiki semuanya. Hubungannya dengab Dion dan dua keponakan kembarnya itu kini mulai membaik. Rian sudah mulai seringmain ke rumah Mia bahkan menginap di sana.
Satu tahun sudah berlalu penuh makna dan rasa. Rian berhasil mengembangkan perusahannya dengan sangat memuaskan. Bahkan Tuan Felix datang ke Indonesia hanya untuk mengucapkan selamat atas pencapaian yang Rian dapatkan.
"Ri, kenapa kamu masih tinggal di rumah kontrakan kecil begini?" tanya Tuan Felix saat berkunjung ke rumah kontrakan yang Rian sewa.
Rumah itu memang jarang dikunjungi, namun Rian tetap menyewanya. Meskipun jarang dikunjungi, namun rumah itu terlihat tetap bersoh karena Rina membantu Rian merawat rumahnya.
"Memangnya kenapa? Aku senang tinggal di sini," ucap Rian.
"Cek dari Papa masih ada?" tanya Tuan Felix.
Rian mengangguk. Cek itu memang masih Rian simpan dan belum pernah ia cairkan. Sejumlah uang uang Tuan Felix tulis di sana belum membuat Rian tergiur. Sampai saat ini cek itu masih utuh.
"Aku simpan untuk modal nikah nanti," jawab Rian sambil tertawa.
"Jangan pikirkan nikah dulu. Karirmu sedang sangat bersinar," ucap Tuan Felix.
Kalimat yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Karena sebenarnya, ia ingin sekali melihat Rian segera menikah. Seperti yang ia tahu jika Rian memang ingin menikah muda. Namun ia juga tahu jika Riri masih harus menyelesaikan kuliahnya satu tahun lagi.
"Siap Pah," ucap Rian.
__ADS_1
Dalam hati Rian terus berdoa agar Riri segera membuka hati untuknya. Tidak peduli berapa lama ia harus menunggu. Saat ini ia hanya ingin Riri merespon satu saja pesan yang ia kirim setiap harinya. Ah sudahlah, Rian tidak ingin terlarut dalam angannya. Ia hanya berharap jika waktu bergerak lebih cepat.