Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Pacar?


__ADS_3

Sampai mobil terparkir di depan rumahnya, Naura dan Narendra sibuk sendiri. Keluar dari mobil tanpa menghiraukan Tuan Wira yang sudah mengantarnya sampai ke rumah.


"Aduh, mereka tidak menciun tanganku?" gumam Tuan Wira sambil mengangkat dan melihat tangannya sendiri.


Tuan Wira cemberut saat tangan yang biassnya mereka cium itu diabaikan begitu saja saat mereka sedang bertengkar. Apalagi pertengkaran itu hanya karena yang katanya teman sekelas. Ah, sudahlah Tuan Wira menggelengkan kepalanya. Berusaha untuk tidak peduli sama sekali.


Mobil sudah kembali menuju kantor. Sepanjang perjalanan, Tuan Wira sibuk dengan pikirannya. Ia merasa waktu terlalu cepat. Naura dan Narendra yang kemarin masih bayi itu kini sudah mengenal lawan jenisnya.


"Tuhaaaan, mereka tumbuh terlalu cepat." Tuan Wira mengusap pelan wajahnya.


Dalam pantulan spion, ia melihat wajahnya. memperhatikan kerutan di wajahnya yang terlihat semakin banyak. Rambutnya sudah terlihat memutih. Tuan Wira memang tidak mengecat rambutnya. Ia lebih senang untuk membiarkan semuanya tumbuh alami.


Perlahan tangannya mengusap wajahnya dan memperhatikan kerutan demi kerutan itu. Apa yang ia lakukan terhenti saat sopir menegurnya. Ia tidak mau kalau siapapun tahu tentang apa yanh menjdi kegelisahannya.


Baru saja Tuan Wira sampai ke kantor, ia mendapat telepon dari Nyonya Helen. Istrinya menanyakan apa yang terjadi pada kedua cucu kembarnya itu. Rupanya Naura dan Narendra masih belum baikan.


"Papa tidak tahu Mah," jawab Tuan Wira saat Nyonya Helen terus mendesaknya.


"Mana mungkin Papa tidak tahu," ucap Nyonya Helen.


"Tapi Papa tidak tahu. Mama tanya saja pada mereka," ucap Tuan Wira.


"Tapi mereka tidak ada yang mau menjawab pertanyaan Mama. Tidak ada satupun yang menjelaskan," ucap Nyonya Helen.


"Ya sudah kalau begitu Mama tidak usah kepo. Biarkan mereka menyimpan rahasia itu sampai mereka cape sendiri," ucap Tuan Wira.


"Rahasia? Rahasia apa, Pah?" tanya Nyonya Helen.


"Ah, Mama semakin kepo. Sudahlah nanti saja kita cerita di rumah ya. Sekarang Papa mau kerja dulu," ucap Tuan Wira.


Tanpa mendapat persetujuan, Tuan Wira segera mengakhiri panggilan itu begitu saja. Membiarkan Nyonya Helen menggerutu sendiri dengan sikapnya.


Kembali menatap layar laptop, dengan tumpukan berkas yang tidak teratur di sampingnya. Tidak lama Tuan Wira mengusap rambutnya sambil menjauh dari layar laptop. Ia tidak bisa melupakan sikap kedua cucu kesayangannya itu.


"Permisi, Tuan." Seorang sekretaris mengetuk pintu ruangannya.


Pintu ruangan yang tidak ditutup dengan rapat dapat melihat jelas si pengetuk pintu.


"Ada apa?" tanya Tuan Wira.


"Ada tamu yang ingin bertemu dengan, Anda." Sekretaris itu menjawab dengan sopan.


Tuan Wira melihat pergelangan tangannya. Ia memang janjian dengan rekan bisnisnya. Tapi itu tidak sekarang. Lalu siapa tamu itu? Apakah dia orang yang memang sudah janjian dengannya? Atau justru orang lain? Ia segera mengecek ponselnya. Mengecek siapa tahu rekan bisnisnya itu mempercepat waktu pertemuan mereka.


Tidak ada. Ponsel Tuan Wira tidak mendapat satu pesan pun. Saat ia masih berpikir tentang tamu itu, sekretarisnya kembali menanyakan kesediaan Tuan Wira untuk menemui tamu itu.


"Oh ya, siapa dia? Apakah dia orang sudah aku beritahu padamu?" tanya Tuan Wira.


"Tidak, Tuan. Tamu itu belum membuat janji dengan Anda. Katanya namanya Sindi," jawab sekretaris.


"Sindi?" tanya Tuan Wira sedikit tidak percaya.


Pasalnya dalam hidupnya ia hanya mengenal satu nama Sindi. Dan itu adalah anak angkatnya yang sudah lama pergi meninggalkannya. Lalu siapa dia? Apa mungkin Sindi anak angkatnya itu sudah kembali?

__ADS_1


"Tuan," sapa sekretaris itu lagi.


Lamunan Tuan Wira segera buyar dan meminta sekretarisnya untuk membawa tamu itu ke ruangannya. Dengan harap-harap cemas, ia menunggu. Terlihat sangat gelisah. Bagaimanapun ia berharap itu benar-benar Sindi yang ia kenal. Tapi untuk apa?


"Permisi," ucap tamu itu.


Suara yang sangat Tuan Wira kenal. Ya, itu memang suara Sindi. Dengan mata nanar Tuan Wira menelan salivanya. Ia benar-benar terkejut dengan kedatangan Sindi ke kantornya.


"Boleh masuk, Tuan?" tanya Sindi ragu-ragu.


Pertanyaan Sindi memecah keheningan. Tuan Wira segera meminta Sindi untuk segera masuk. Sindi tidak sendiri, ada anak yang ikut bersamanya. Sindi mengulurkan tangannya dan membungkuk.


Tuan Wira membalas uluran tangan itu. Sindi segera mencium tangannya. Tidak lama anak yang ikut bersama Sindi juga mengikuti apa yang dilakukannya.


"Kalian hanya berdua?" tanya Tuan Wira.


"Iya. Mas Danu sedang ada urusan," jawab Sindi.


"Oh ya silahkan duduk. Kalian mau minum apa?" tanya Tuan Wira.


"Tidak usah Tuan. Kami tidak lama. Kami hanya ingin melihat keadaan Tuan. Nyonya juga sehat kan?" tanya Sindi.


"Sindi, kenapa kamu jadi berubah? Sejak kapan kamu memanggilku Tuan? Apa karena kamu sudah tidak menganggap ayahmu lagi?" tanya Tuan Wira.


"Apa aku masih boleh memanggil Anda dengan sebutan Papa? Apa aku masih pantas?" tanya Sindi yang mulai menangis.


Dandi yang melihat ibunya menangis segera mengusap pipi Sindi.


"Jangan menangis Ma. Mama kuat," ucap Dandi dengan polos.


"Kenapa kalian tidak ke rumah?" tanya Tuan Wira.


Pertanyaan itu membuat Sindi kembali menangis. Disela isak tangisnya Sindi menjelaskan apa yang membuatnya berubah. Tidak ada niat di hatinya sedikitpun untuk melupakan semua kebaikan ayah dan ibu angkatnya itu.


Nyonya Nathalie lah yang membuat Sindi terpaksa menjauh. Ia mengancam akan mengganggu hubungan Mia dan Dion kalau Sindi terus berusaha menghubungi Nyonya Helen.


Bahkan Nyonya Nathalie membatasi akses Sindi saat berada di luar Jakarta. Namun bagaimanapun Nyonya Nathalie adalah mertuanya juga. Sebenarnya tidak ada sikap Nyonya Nathalie yang melukai Sindi, hanya membatasi ruang geraknya saja.


"Aku tidak mengerti," ucap Tuan Wira.


"Aku tahu mungkin sikap Mama Nathalie akan sangat menyakiti keluarga Papa. Tapi aku tidak bisa apa-apa selain mengikuti suamiku," ucap Sindi.


"Papa mengerti, Papa mengerti." Tuan Wira mengusap wajahnya.


"Sampaikan salamku pada Mama," ucap Sindi.


"Jadi kamu tidak akan ke rumah?" tanya Tuan Wira.


Sindi menggeleng.


"Kenapa? Istriku pasti senang kalau kamu bisa menemuinya? Walaupun hanya sebentar mungkin," ucap Tuan Wira penuh harap.


"Ma, jangan menangis." Dandi kembali mengusap air mata Sindi.

__ADS_1


"Maafkan Mama. Tapi Mama terlalu senang bisa bertemu dengan orang yang sangat Mama rindukan," ucap Sindi.


Tangisannya belum mereda. Tuan Wira mengusap punggung Sindi menenangkan wanita yang tengah menangis terisak.


"Papa," teriak Dion yang tiba-tiba masuk.


Sindi dan Tuan Wira segera melihat sumber suara. Tangisan Sindi tiba-tiba reda. Ia segera mengusap kedua pipinya yang sudah banjir air mata.


"Sindi?" tanya Dion terkejut.


"Memangnya kamu pikir siapa?" Tuan Wira balik bertanya.


"Tidak," jawab Dion sambil menggelengkan kepalanya.


"Sehat, Tuan?" tanya Sindi.


"Jangan memanggilku begitu. Aku jadi merass ada benteng yang terlalu jauh diantara kita," ucap Dion.


"Iya Mas," ucap Sindi.


"Kamu hanya berdua?" tanya Dion.


Sindi yang mendapat pertanyaan itu lagi hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Nama Nyonya Nathalie terpampang di layar ponselnya. Ia segera pamit dan pergi.


"Dia sudah lama di sini?" tanya Dion.


"Belum," jawab Tuan Wira yang kembali duduk di hadapan laptopnya. "Ada apa kamu ke sini?" tanya Tuan Wira.


"Mau cek Papa. Takut ada apa-apa," jawab Dion.


"Tenang saja. Papa sudah sembuh. Kamu jangan khawatir lagi," ucap Tuan Wira.


"Bukan, aku hanya takut kalau Papa cari Mama baru," ucap Dion sambil tertawa.


"Oh, jadi kamu berpikir apa tadi?" tanya Tuan Wira.


"Aku pikir Papa sama ibu tiriku," jawab Dion sambil tertawa.


"Dasar anak gendeng," ucap Tuan Wira sambil melempar Dion dengan sebuah bolpoin yang ada di hadapannya.


Dion hanya tertawa. Tapi memang itu yang ia rasakan. Ia benar-benar terkejut saat melihat Tuan Wira bersama seorang wanita dan anak kecil di ruangannya. Ia membayangkan jika wanita itu menangis karena meminta tanggung jawab Tuan Wira atas anak kecil itu.


Kalau sampai anak itu adik tiriku, mungkin aku harus minum obat penenang.


"Jadi kamu apa ke sini?" tanya Tuan Wira.


"Mama meneleponku agar aku menemui Papa Aku harus menanyakan alasan Naura dan Narendra tidak akur. Memangnya mereka kenapa?" tanya Dion.


"Rendra kesal karena Naura sudah punya pacar," jawab Tuan Wira santai.


"Pacar?" tanya Dion dengan terkejut.


Mata Dion membulat sempurna. Ia benar-benar merasa jantungnya berhenti memompa. Apakah secepat itu? Baginya Naura adalah bayi kecilnya yang sangat lucu. Apa itu pacar?

__ADS_1


Jawaban Tuan Wira berhasil membuat wajah Dion begitu pucat. Sedangkan Tuan Wira sendiri hanya tersenyum senang. Akhirnya ia bisa melihat Dion merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan tadi.


__ADS_2