
"Tuh kan," ucap Riri sambil menggendong Raazi yang menangis.
Naura yang sudah membuat Raazi bangun dan menangis hanya tersenyum di pojokan. Rutinitas Naura yang membuat Riri berhasil menggelengkan kepalanya. Namun hal itu tidak membuat Riri kesal. Ia hanya heran dengan sikap Naura yang masih seperti anak kecil.
"Pacarmu aman kan?" tanya Riri saat sedang menyusui Raazi.
"Ah, dia selingkuh. Aku putus," jawab Naura.
Riri menatap Naura sambil menahan tawa. Bari saja seminggu yang lalu Naura menceritakan tentang pria yang diakuinya sebagai pacar. Sekarang statusnya sudah berubah. Ia merasa geli sendiri dengan sikap Naura.
"Belum ada gantinya? Atau belum move on?" goda Riri.
"Ih, belum move on sama dia? Tidak mungkiiiin," teriak Naura sambil menutup telinganya.
"Nauraaaa," ucap Riri tertahan.
Naura yang menyadari kesalahannya segera menutup mulutnya dan keluar dari kamar. Ia lupa kalau Raazi sedang tidur dalam pangkuan Naura. Kedua kalinya Raazi menangis karena ulah Naura siang itu.
Setalah Raazi tertidur kembali, Riri keluar dari kamar dan mendapati Naura tengah mengobrol dengan Rara. Sebentar Riri mengamati keduanya. Riri melihat mereka semakin akrab. Pemandangan yang menyenangkan baginya.
"Kalian sedang gosip ya?" tuduh Riri sambil duduk di sebelah Rara.
"Ini rahasia," ucap Naura.
Rara hanya tertawa pelan mendengar jawaban Naura. Dalam hatinya ada rasa iri saat melihat Naura begitu dekat dengan Riri. Rara menyesal sempat kehilangan banyak waktu dengan Riri. Adik semata wayangnya adalah orang yang sangat baik dan bisa diajak bercerita.
Seandainya dulu aku tidak egois, mungkin sejak dulu aku bisa bahagia seperti ini.
Narendra mengajak Naura untuk pulang karena ibunya sudah meneleponnya. Rara dan Riri mengantar kedua anak kembar itu sampai di depan pintu. Lambaian tangan Naura dan senyum lebarnya membuat Rara dan Riri ikut tersenyum.
"Dia memang unik. Putus cinta tapi masih bisa sebahagia itu," ucap Rara.
__ADS_1
"Dia juga bercerita tentang itu sama Kakak?" tanya Riri.
Riri menggelengkan kepalanya saat melihat Rara mengangguk. Ternyata Naura memang masih sangat polos.
"Namanya juga cinta monyet," ucap Rara.
Setelah bahasan tentang Naura seleai, Rara segera membuka pembukuan yang ia bawa ke rumah Riri. Keduanya sibuk dengan laporan bulanan yang biasa mereka bahas secara rutin.
Dari kejauhan, Nyonya Helen nampak mengamati keduanya. Ia tidak menyangka jika Rara ternyata bisa dipercaya dan sangat pekerja keras. Walaupun ia sempat tidak percaya dengan perubahan Rara yang menurutnya mendadak, namun akhirnya Nyonya Helen yakin jika Rara menang sudah berubah.
"Ma," panggil Riri yang menyadari keberadaan Nyonya Helen.
Nyonya Helen mengerjap dan berusaha bersikap tenang. Ia benar-benar terkejut denga. panggilan Riri. Lamunannya buyar hingga ia bingung harus bersikap seperti apa.
"Aku pulang dulu ya! Laporannya sudah selesai," ucap Rara.
Sebenarnya Rara masih ingin berlama-lama di sana. Namun melihat kehadiran Nyonya Helen, Rara merasa sadar diri. Tidak ada kalimat yang membuatnya bertahan di sana. Semua seolah menginginkan kepergiannya dari rumah itu.
"Ma, maaf ya." Riri segera menghampiri Nyonya Helen.
"Untuk apa?" tanya Nyonya Helen.
"Kak Rara terpaksa ke sini karena Kak Maya sedang sibuk di butik," jawab Riri.
Nyonya Helen duduk dan menjelaskan perasaannya saat ini. Ia melihat sudah banyak sekali perubahan pada Rara. Sikapnya yang hanya diam dan tidak menahan Rara saat pamit karena ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Riri senang dan segera memeluk Nyonya Helen saat tahu semua itu. Harapan Riri benar-benar sudah terwujud. Akhirnya kedua keluarganya bisa menyatu. Tidak ada lagi hal yang membuatnya kikuk saat bersama dengan Rara di rumah itu.
Bahkan Nyonya Helen berencana untuk menjodohkan Rara dengan anak temannya. Namun Riri menolak. Rara masih belum lama bercerai. Menurutnya, Rara harus benar-benar pulih karena ia yakin ada trauma yang besar dalam diri Rara.
Hari demi hari kian membuat Riri bahagia. Ia melewati hari-harinya dengan penuh semangat. Mengurus anak dan membagi waktu untuk pekerjaan bisa ia lakukan dengan baik. Bahkan untuk menjadi pendengar saat Naura curhat pun masih bisa Riri sempatkan.
__ADS_1
Hal itu tentu tidak lepas dari dukungan Rian. Sebagai seorang suami, Rian selalu membuat Riri merasa sangat nyaman. Dalam keadaan lelah pun, Rian masih menyempatkan diri untuk membantu Riri mengurus Raazi. Bahkan ia selalu siap menemani keluhan Riri seharian. Padahal ia sendiri harus bisa menahan rasa mengantuknya.
Saling mengerti dan memahami satu sama lain menjadi kunci kebahagiaan keluarga Riri dan Rian. Meskipun kadang Rian tidak pulang karena meeting di luar kota, namun ia selalu ada waktu untuk menelepon Riri dan melihat keadaan Raazi.
Perusahaan yang semakin berkembang, membuat Tuan Wira merasa kelelahan dengan pekerjaannya. Ia kurang tidur. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, hal itu tentu berakibat buruk untuk dirinya.
"Mas, bangun. Papa pingsan," ucap Riri sambil mengguncang tubuh Rian.
Ini jam dua malam. Saat hampir semua irang sudah terlelap, Riri mendengar tangisan Nyonya Helen. Ia segera keluar dan memastikan apa yang terjadi. Riri sangat terkejut saat melihat Tuan Wira tergeletak di lantai.
"Apa?" tanya Rian dengan suara serak.
Rian masih terbaring di atas ranjangnya. Ia mengucek matanya dan berharap jika semua adalah mimpi belaka. Nyatanya Rian segera berlari saat tahu jika ini memang kenyataan.
"Papa mana?" tanya Rian panik saat melihat kamar orang tuanya sudah kosong.
"Sudah di bawa ke mobil, Tuan." Salah satu pekerja di rumah itu menjawab sambil menunduk hormat.
Rian segera berlari memburu Tuan Wira yang masih tidak sadarkan diri. Bahkan Rian segera masuk ke dalam mobil dan ikut ke rumah sakit. Masih dengan baju tidurnya, Rian menggenggam tangan Tuan Wira.
"Pah, bangun. Ini aku," ucap Rian lirih.
Tangan yang sudah terasa sangat dingin membuat Rian gelisah. Ini sudah ketiga kalinya Tuan Wira pingsan. Orang di rumah sudah tahu tindakan yang harus dilakukan saat Tuan Wira pingsan. Mereka tidak perlu menunggu dokter di rumah, karena rumah sakit adalah tempat yang paling tepat.
Rian memeluk Nyonya Helen yang menangis tersedu saat melihat Tuan Wira terbaring lemas dengan selang infus di tangannya. Selang oksigen pun menjadi salah satu alat yang digunakan untuk membantu Tuan Wira.
"Mama jangan nangis. Mama istirahat ya," ucap Rian.
"Mama tidak mau melihat Papa seperti ini," ucap Nyonya Helen di sela isak tangisnya.
Rian melihat besarnya rasa cinta diantara keduanya. Kekhawatiran Nyonya Helen juga pernah ia lihat pada Tuan Wira saat itu. Saat Nyonya Helen yang tebaring di rumah sakit bahkan sempat tidak bisa berjalan beberapa bulan.
__ADS_1
Seketika pikiran Rian melayang pada Riri. Wanita cantik yang sampai saat ini selalu membuatnya jatuh cinta. Bukan hanya pada parasnya. Bahkan Rian semakin mencintai pribadi Riri yang menurutnya sangat sempurna.