Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Kabar miring


__ADS_3

Semua sudah terjadi. Rian sudah mengambil keputusan dan Tuan Felix sudah menyetujui. Seharusnya kebahagiaan tengah bersama mereka saat ini. Nyatanya mereka justru sedang tidak baik-baik saja.


Riri memang tidak hadir kembali di kehidupan mereka. Bahkan sudah hilang komunikasi. Tidak ada ungkapan kekecewaan apapun pada Tuan Felix atau pun Rian. Bahkan setalh tahu kalau Rian sudah bertunangan dengan wanita lain, Riri menghapus nomor Rian dari kontaknya.


Bukan ingin memutuskan tali silaturahmi, namun Riri tidak mau terjebak dengan perasaannya sendiri. Karena jauh di hati Riri yang paling dalam, ia masih menyimpan rasa untuk Rian.


Saat ini Riri masih mengurus apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Karena Riri sudah mengurus Mr. Aric dengan sangat baik, ia mendapat semua harta yang dimiliki Mr. Aric.


Orang kepercayaan Mr. Aric sudah memberikan semua wasiat itu sesuai dengan permintaan Mr. Aric saat masih ada. Riri adalah pemilik perusahaan Mr. Aric. Sebenarnya ia tidak percaya diri. Namun orang-orang kantor merangkulnya.


Mereka yang tahu tentang Riri, sangat senang dengan kehadiran Riri di kantor. Mereka sangat hangat menerima Riri sebagai atasan baru mereka. Meskipun Riri belum tahu apa yang harus ia lakukan, ia hanya bisa berusaha untuk belajar.


Riri memang orang yang sangat pintar. Namun apa yang Riri tekuni saat ini sangat tidak sesuai dengan basic saat ia kuliah. Ia harus belajar lagi dari nol. Sempat ingin menyerah namun Riri ingat semua perjuangan Mr. Aric.


"Aku harus bertahan seperti apa yang diinginkan Mr. Aric. Semangat dong Ri. Jangan mengerah!" gumam Riri sambil mengusap air matanya.


Riri benar-benar sendiri saat ini. Tidak ada tempat untuk ia mengeluh selain menangis di depan jendela. Atau menulis ungkapan hatinya di sebuah buku.


Hari demi hari ia lewati dengan penuh perjuangan. Hingga ia mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Sedikit demi sedikit semua tentang Rian sudah mulai lenyap di hati Riri. Bukan karena rasa itu sudah hilang, namun karena tersingkir dengan banyaknya pekerjaan dan hal baru yang menyibukkannya.


Selama Riri berdiri di perusahaan itu, ini pertama kalinya ia harus menghadiri acara pesta rekan kerjanya. Sebuah hotel mewah yang belum pernah Riri injak sebelumnya, ia taklukkan dengan susah payah. Pakaian dan penampilan yang begitu memukau membuat Riri menjadi pusat perhatian.


"Mpus," panggil Tuan Felix.


Suara yang tidak asing itu membuat dada Riri berdegup kencang. Wajahnya berubah saat melihat kehadiran Tuan Felix di pesta itu. Harapannya tidak terwujud. Padahal ia tidak mau bertemu dengan Rian dan Tuan Felix lagi setelah kejadian menyakitkan itu tempo lalu.


"Tuan Felix, apa kabar?" tanya Riri dengan gaya formalnya.


Tuan Felix menelan salivanya. Ia benar-benar sakit dengan sikap Riri yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Namun Tuan Felix sama sekali tidak menyalahkan Riri. Ia berhak dan sangat wajar bersikap seperti itu padanya.


"Baik. Senang bertemu denganmu," ucap Tuan Felix.


Uluran tangan Riri dan bahasa yang ia gunakan benar-benar dingin. Tuan Felix nyaris tidak mengenali wanita yang berdiri di hadapannya itu. Keduanya menahan rasa yang menyeruak di dalam hatinya masing-masing. Namun berusaha menunjukkan sikap tenang. Berusaha bersembunyi di balik kegelisahan mereka.


Keduanya terlihat canggung. Namun Tuan Felix merasa ia harus meminta maaf. Meskipun ia tahu Riri tidak akan semudah itu untuk memaafkan mereka berdua.


"Tidak masalah Tuan. Semua sudah berjalan seperti seharusnya. Cincin dan kalung yang pernah saya terima akan saya kembalikan nanti. Saya tidak tahu akan bertemu dengan Anda sekarang," ucap Riri.


Tuan Felix terkejut dengan tanggapan Riri atas permintaan maafnya. Riri memang terlihat tenang. Sama sekali tidak melihat kemarahannya. Namun sikap dinginnya justru berhasil membuat Tuan Felix merasa bersalah.

__ADS_1


"Papa berharap kamu tidak berubah. Papa masih dan akan selalu menganggapmu sebagai anak Papa," ucap Tuan Felix.


"Benarkah?" tanya Riri.


"Tentu. Bagi Papa, kamu adalah anak Papa. Sampai kapanpun," jawab Rian.


"Terima kasih Pah," ucap Riri.


Tuan Felix menatap Riri dengan lekat. Ia ingin memastikan bahwa apa yang ia dengar adalah kenyataan, bukan hanya sebuah mimpi di siang hari.


Pelukan Riri dan tangisannya di bahu Tuan Felix membuat pria itu mengusap sudut matanya. Ia senang dengan sikap Riri yang sudah kembali berubah seperti yang ia kenal sebelumnya.


Kehadiran Riri yang menjadi pusat perhatian karena kecantikannya dan usianya yang masih sangat muda, menjadi semakin tersorot saat terlihat berpelukan dengan Tuan Felix. Tuan Felix segera menjelaskan hubungannya dengan Riri. Tuan Felix tidak mau nama Riri menjadi buruk karena dirinya.


Memang media selalu mencari berita yang panas. Kabar miring menerpa Riri dan Tuan Felix. Bahkan kini beredar bahwa Riri adalah wanita simpanan yang sengaja mengincar harta Mr. Aric. Setelah berhasil mendapatkan semua harta Mr. Aric, kini Riri dikabarkan siap meraup harta Tuan Felix.


Berita itu dengan cepat menyebar dan menjadi sangat panas di kalangan perusahaan. Riri hanya bisa menangis. Namun kini Riri tidak sendiri. Tuan Felix menemaninya lewat telepon. Tuan Felix tidak berani menemui Riri karena takut berita semakin menjadi-jadi.


Tuan Felix tidak menceritakan apapun pada Rian. Ia tidak mau Rian kembali merasa bersalah saat mengingat Riri. Lagi pula ia tidak tega jika Shelin menjadi korban atas sikap Rian yang menurutnya terlalu cepat mengambil keputusan. Tapi Rian tahu dengan sendirinya, karena memang ia mencari tahu tentang Riri secara diam-diam.


Malam itu Rian mengepalkan tangannya dengan penuh kemarahan. Ia kecewa pada Tuan Felix yang merahasiakan semua tentang Riri padanya. Namun ia tidak mau menghubungi ayahnya. Ia berharap Tuan Felix lah yang meneleponnya dan membahas tentang Riri.


"Kak, boleh aku bicara?" tanya Rian pada Mia.


Mia yang baru saja keluar dari ruang kerja di rumahnya menatap Rian dengan bingung.


"Ya tinggal bicara saja. Kamu ini aneh," ucap Mia.


"Aku kecewa sama Papa," ucap Rian.


"Memangnya Papa salah apa?" tanya Dion yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Papa Felix Kak. Bukan Papa Wira," jawab Rian terkejut.


"Oh, aku pikir Papa Wira. Memangnya Papa Felix kenapa?" tanya Dion.


Rian menceritakan semua yang ia tahu tentang kejadian antara Tuan Felix dan Riri. Ia bahkan ingin ke Jerman untuk meminta penjelasan yang sebenarnya. Menuntut jawaban atas gosip yang selama ini beredar.


"Ya ampun Rian, nyebut. Jangan gila kamu. Kamu pikir Papa Felix apa? Kalaupun Papa membela Riri, karena Papa benar-benar peduli pada Riri. Apalagi Papa pasti merasa bersalah karena ulahmu," ucap Mia kesal.

__ADS_1


Tidak ingin amarahnya semakin memuncak, ia segera pergi meninggalkan Rian meskipun obrolannya belum selesai. Ia hanya tidak mau ucapannya akan semakin kacau dan membuat Rian tidak nyaman.


Bukan hanya Rian, Dion saja sampai dibuat menganga dengan jawaban Mia. Pertama kalinya Mia begitu marah pada Rian. Namun di sisi lain, Dion sangat memahami kemarahan Mia. Bagaimanapun, Tuan Felix adalah ayah kandungnya yang juga sudah menganggap Rian sebagai anak kandungnya. Apa yang diucapkan Mia juga memang benar adanya.


Sebagai seorang suami dan Kakak, posisi Dion saat itu serba salah. Ia diam dan berpikir sejenak dengan sikap yang akan ia ambil. Tidak lama tangannya menyentuh bahu Rian.


"Mia hanya sedang memposisikan diri sebagai anak yang membela ayahnya saja. Lebih baik kamu istirahat," ucap Dion.


Rian hanya diam. Dion tahu kalau Rian juga sedang menyimpan kemarahan. Ia pergi tanpa sepatah katapun. Kembali ke dalam kamar dan membereskan semua barang yang ada di kamar itu. Ia berniat untuk pergi dan tidak kembali ke rumah itu.


Semalaman Rian memejamkan matanya namun ia tak kunjung tertidur. Tangannya meraih ponsel yang ia simpan di atas nakas. Ia memegang dadanya saat melihat layar ponselnya yang menunjukkan foto pertunangannya dengan Shelin.


"Kamu pilihanku. Aku yang memilihmu dan memutuskan untuk menjadikanmu satu-satunya wanita yang tersimpan di hatiku. Maafkan aku Shelin. Kamu tidak tahu apa-apa," ucap Rian.


Selama ini Shelin memang selalu mengerti keadaan Rian. Bahkan ia tidak mengekang Rian untuk berteman dengan siapapun. Shelin berusaha meredam semua rasa cemburunya.


Saat merasa gelisah seperti ini, ia tidak menghubungi Shelin. Rian justru menghubungi Rina, sahabat terbaik yang selama ini selalu mendengarkan setiap ceritanya yang menurut Rina seperti sinetron.


"Ini sudah malam. Jangan mengganggu istirahatku," ucap Rina.


"Rin, jangan begitu. Ayolah temani aku sebentar saja," pinta Rian.


"Ya sudah tunggu sebentar. Aku cuci muka dulu," ucap Rina.


Setelah mencuci muka, Rina kembali mendengarkan cerita Rian. Ia memang tipe pendengar yang baik bagi Rian. Bahkan Rina juga sering memberinya tanggapan yang bisa menenangkannya. Tapi kali ini tanggapan Rina membuat Rian kesal.


"Kenapa kamu tidak membelaku?" tanya Rian kesal.


"Kenapa aku harus membela orang yang salah?" Rina balik bertanya.


Bersalah? Ya, karena kekesalannya, Rian tidak pernah merasa melakukan kesalahan. Baginya saat ini Tuan Felix dan Riri lah yang bersalah dan sudah sangat menyakitinya.


"Sudah puas ceritanya?" tanya Rina saat Rian diam dan tidak mendebatnya lagi.


"Aku ngantuk," jawab Rian.


Tanpa pamit, Rian mengakhiri panggilannya dengan Rina. Ini bukan sekali dua kali, Rina bahkan sudah terbiasa dengan sikap yang menyebalkan seperti itu. Rina hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tingkah Rian.


'Aku yakin suatu saat nanti kamu akan kembali menjadi Rian yang dulu. Aku tahu kamu sedang tidak bisa menerima kenyataan atas kembalinya Riri. Kamu pasti menyesal dengan keputusanmu atas pertunangan itu. Tapi semua kamu yang memutuskan dan kamu harus bertanggung jawab atas semua itu. Shelin wanita baik. Tidak pantas untuk dikecewakan.'

__ADS_1


Sebuah pesan yang ia terima dari Rina membuat ponsel di tangannya, hancur berantakan saat menghantam tembok kamarnya. Ia kesal dan sangat marah setelah membaca pesan itu. Rina satu-satunya orang yang Rian pikir akan membelanya. Nyatanya sama saja. Rian sama sekali tidak mendapatkan pembelaan seperti yang ia harapkan dari Rina.


__ADS_2