Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Riri = Mia


__ADS_3

Selesai kuliah, Riri berjalan tanpa memperhatikan sekitar. Ia hanya fokus dengan jalan yang dilaluinya. Termasuk saat ia melihat Rian di parkiran. Ia hanya melihat sebentar lalu mengalihkan pandangannya.


Rian yang menyadari perubahan Riri juga tuidak berani mendekat. Ia segera masuk dan melihat Riri dari dalam mobilnya. Memperhatikan wanita itu sampai akhirnya sebuah mobil mewah datang dan Riri masuk.


"Siapa yang menjemput Riri?" tanya Rian pada dirinya sendiri.


Mungkinkah Mr. Aric? Tidak, itu bukan mobil Mr. Aric. Lalu siapa? Rasa penasaran Rian membuat ia nekat membuntuti Riri. Ia ingin tahu kemana Riri akan pergi.


"Jalan ini bukan ke arah rumah Mr. Aric. Mau kemana Mpus?" Rian semakin khawatir dan bertanya-tanya.


Mobil itu melaju hingga akhirnya Rian melihat jika mobil itu berhenti di sebuah rumah sakit. Rian melihat Riri turun sendirian. Mobil mewah itu kembali melaju dari area rumah sakit.


Rian turun dan segera mengikuti Riri. Ia ingin tahu siapa yang sedang dirawat. Apakah Mr. Aric atu bukan. Sayangnya Rian kehilangan jejak Riri. Ia tidak tahu Riri belok ke arah mana.


"Mpus kemana sih? Apa aku tanya ke bagian informasi aja ya?" gumam Rian.


"Mas mau kemana?" tanya Riri.


"Aku tidak kemana-mana," jawab Rian spontan.


Rian terkejut saat Riri menyadari kehadiran dirinya. Ia bingung mau mencari alasan seperti apa, selain jujur atas maksud kedatangannya.


"Mas membuntutiku? Bukankah Mas sudah berjanji tidak akan menggangguku lagi? Ingat Mas, seorang laki-laki itu yang dipegang ucapannya." Riri nampak mengancam Rian.


"Aku hanya khawatir saat ada yang menjemputmu dan itu bukan mobil Mr. Aric," ucap Rian.


"Hilangkan pikiran buruk Mas tentang aku. Aku tidak mungkin menjual diri seperti yang Mba Maudi tuduhkan," ucap Riri.


"Pus, aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. Aku justru khawatir padamu," ucap Rian.


Riri diam. Ia senang saat Rian perhatian padanya. Ia bahagia saat ada yang mengkhawatirkannya seperti ini. Riri juga manusia biasa yang butuh seorang teman. Ia ingin membagi semua beban yang ada di pundaknya. Tapi tidak untuk saat ini.


"Lebih baik Mas pulang," ucap Riri.


"Aku akan menemani kamu untuk merawat Mr. Aric. Aku tahu kamu butuh seorang teman," ucap Rian.


"Jangan sok tahu Mas," ucap Riri.


"Pus, ayolah! Aku mengenal Mr. Aric cukup baik. kamu tidak tahu kan kalau selama libur kuliah aku sempat magang di kantornya?" tanya Rian.


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu," jawab Riri dengan bohong.


Sebenarnya Riri sangat mengagumi Rian. Ia tidak percaya jika Rian bisa magang di kantor Mr. Aric dan cukup akrab dengan majikannya itu. Namun Mr. Aric tidak mungkin memaafkannya jik tahu Rian menjenguknya.


"Pus, aku ingin menjenguk Mr. Aric. Tolong beri aku waktu," ucap Rian menahan tangan Riri yng akan pergi meninggalkannya.


"Tidak Mas. Aku masih ingin kuliah dan menyelesaikannya hingga akhir. Jadi tolong jangan membuat masalah," ucap Riri lirih.


"Masalah apa yang aku perbuat? Apa karena aku menemui kemarin?" tanya Rian.


"Mas tolong pergi," pinta Riri tanpa menjelaskan apapun.


"Aku tidak akan pergi sebelum kamu menjelaskan semuanya," ucap Rian.

__ADS_1


"Mas, aku janji akan menceritakan semuanya nanti. Tapi tidak untuk saat ini. Aku mohon mengertilah Mas," ucap Riri.


Rian diam sebentar. Menatap Riri yang memohon padanya berulang kali. Tidak tega rasanya melihat Riri seperti itu. Akhirnya Rian mengalah. Menyimpan rasa penasarannya hingga waktu yang tidak bisa ia tentukan.


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Kamu punya hutang penjelasan padaku," ucap Rian.


"Iya Mas, iya. Aku pasti akan menjelaskannya nanti. Aku janji," ucap Riri.


Riri segera berlari. Pergi, namun tidak lama ia kembali lagi menghampiri Rian.


"Tolong jaga rahasia ini. Jangan sampai Papa tahu kalau Mr. Aric ada di sini. Aku mohon," ucap Riri.


"Iya. Kamu tenang saja," ucap Rian.


Setelah memastikan Riri benar-benar pergi, Rian pulang. Dengan segudang rasa ingin tahunya, ia mencoba belajar untuk terlihat baik-baik saja.


"Ayo Rian, tersenyumlah. Jangan buat Papa curiga. Aku tidak mau Mpus sampai kecewa. Aku akan jaga rahasia ini, Pus." Rian menatap wajahnya dari pantuln spion depan.


Setibanya di rumah, Rian merasa aman karena Tuan Felix belum pulang. Ia tidak perlu menjelaskan apapun pada Tuan Felix. Yang Rian lakukan hanya mandi dan segera mengerjakan tugasnya.


Menyibukkan diri dengan layar komputer, bisa membuatnya aman dari pertanyaan Tuan Felix. Dan ini terbukti saat Tuan Felix masuk ke kamarnya. Rian hanya melihat ke arah pintu dan tersenyum.


"Teruskan," ucap Tuan Felix.


"Siap Pah," jawab Rian sambil tersenyum.


Senyum Rian semakin mengembang saat Tuan Felix menutup kembali pintu kamarnya.


"Akhirnya Papa tidak bertanya tentang Mpus," ucap Rian sambil mengusap dadanya.


Rian kembali menatap pintu kamarnya yang sudah terbuka.


"Ri, Mpus gimana?" tanya Tuan Felix.


Mata Rian membulat sempurna. Ia terkejut melihat kedatangan Tuan Felix yang baru saja masuk kembali ke kamarnya. Padahal Rian baru saja merasa dirinya aman.


"Ri," ucap Tuan Felix lagi saat Rian tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Eh iya," jawab Rian terkejut.


"Mpus kenapa? Apa dia benar-benar dihukum?" tanya Tuan Felix.


"Ya mana aku tahu," ucap Rian berbohong.


"Kok tidak tahu?" tanya Tuan Felix.


"Pah, aku tidak tahu Riri kenapa. Riri tidak masuk," jawab Rian.


"Wah, kalau begitu Mpus benar-benar dihukum. Papa tidak bisa tinggal diam. Papa harus menemuinya," ucap Tuan Felix.


"Eh Pah, jangan." Rian menarik tangan Tuan Felix.


"Kenapa?" tanya Tuan Felix.

__ADS_1


"Ya tidak enak lah. Nanti Mr. Aric berpikir yang tidak-tidak," jawab Rian.


"Yang tidak-tidak bagaimana? Nanti kita jelaskan saja kalau Mput itu teman kamu. Mr. Aric juga mengenal kamu. Aku rada semua akan baik-baik saja," ucap Tuan Felix.


"Pah, tidak begitu. Papa diam saja. Biar nanti aku yang ke rumahnya," cegah Rian.


"Kenapa sih? Jangan bilang kalau kamu cemburu pada Papa," ucap Tuan Felix.


"Papa ngaco deh. Tidak sama sekali Pah. Aku hanya tidak mau nanti Riri malah kena marah kalau Papa ke sana," ucap Rian.


"Loh, memangnya Papa di sana mau membuat keributan? Papa ke sana hanya mau memastikan kalau Mpus baik-baik saja," ucap Tuan Felix.


Rian menghela napas dan menenngkan pikirannya. Lalu akhirnya ia menyerah dan mengatakan yang sejujurnya. Ia hanya tidak mau Riri dimarahi jika ada yang tahu Mr. Aric sedang sakit.


"Nah, begitu dong. Kalau jujur kan Papa mengerti," ucap Tuan Felix.


"Jadi Papa tahu kalau tadi aku berbohong?" tanya Rian.


"Tahu. Kamu itu kalau berbohong kelihatan sekali," ucap Tuan Felix.


"Ah, yang benar aja. Masa begitu?" ucap Rian sambil mengamati wajahnya dari pantulan cermin.


"Dari dulu Mr. Aric itu paling tidak mau jika ada yang tahu kalau dia sedang sakit," ucap Tuan Felix.


"Benarkah? Kenapa?" tanya Rian begitu antusias.


"Dia adalah orang yang selalu ingin terlihat sehat dan baik-baik saja. Baginya sakit adalah lemah. Dan dia tidak mau terlihat lemah oleh siapapun," jawab Tuan Felix.


"Jadi selama sekolah dulu, Mr. Aric tidak pernah bolos sekolah?" tanya Rian.


"Pernah. Tapi setiap sakit, dia selalu bilang jika ia sedang liburan ke luar negeri. Aku bingung dengan sikapnya," jawab Tuan Felix.


"Oh begitu," ucap Rian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


Rian semakin mengapa Riri tidak mau berteman dengan siapapun. Ia takut banyak orang yang ingin main ke rumahnya dan tahu saat Mr. Aric sakit.


"Nanti kalau Mpus sudah masuk kuliah, kamu cari tahu dia dihukum atau tidak oleh Mr. Aric." Tuan Felix terlihat penasaran.


"Kalau dihukum Papa mau protes ke Mr. Aric?" tanya Rian.


"Tidak. Papa hanya ingin tahu penderitaan Mpus seperti apa," jawab Tuan Felix.


"Untuk apa?" tanya Rian.


"Untuk meyakinkan Papa seberapa tangguh Mpus," jawab Tuan Felix.


Setelah selesai mengobrol, Tuan Felix pergi ke luar dari kamar Rian. Kembali ke kamar untuk membayangkan bagaimana keadaan Riri saat ini. Gadis dengan semangat tinggi dan kemandiriannya itu membuat Tuan Felix simpati padanya.


Tuan Felix merasa jika penderitan Riri menggambarkan penderitaan Mia di zaman dulu. Saat ia belum menemukan Mia. Anak kandungnya itu bekerja dengan gigih meskipun jadi buruh cuci.


Pus, Papa yakin kalau suatu saat nanti kamu akan sukses. Kamu juga akan mendapatkan pria yang benar-benar membahagiakanmu. Kuatkan bahumu saat ini Pus, sampai akhirnya nanti ada bahu yang siap menguatkanmu.


Tuan Felix menatap langit-langit kamarnya. Kesedihannya tiba-tiba menyeruak. Bayangan kepedihan Mia tergambar jelas kala mengingat perjuangan Riri saat ini.

__ADS_1


Bagi Tuan Felix, Riri sama dengan Mia. Hingga ia merasa mempunyai kewajiban untuk membahagiakan Riri. Ya, paling tidak ia harus memastikan kalau Riri baik-baik saja. Ia tidak bis membiarkan Riri menderita.


Kalau saja bukan Mr. Aric, mungkin Tuan Felix akan segera mengambil Riri untuk ia jadikan sebagai anaknya. Tidak perlu jadi pembantu, cukup Riri belajar dan bahagia setiap hari. Namun rasanya semua itu tidak mungkin, karena ia tidak ingin membuat hubungannya dengan Mr. Aric menjadi buruk karena Riri.


__ADS_2