
Percakapan di meja makan belum usai. Sepertinya, Narendra dan Naura sangat keberatan dengan kepergian Rian. Kasih sayang yang begitu tulus dari Rian membuat keduanya tidak ingin berpisah lagi dengannya. Seandainya bisa, mereka pasti meminta Rian tetap di Indonesia menemani bermain dan belajar setiap harinya.
"Jangan pergi," rengek Narendra.
"Tidak lama. Nanti om pasti ke sini lagi," bujuk Rian.
"Berapa hari perginya?" tanya Naura.
Pertanyaan yang membuat hati Rian sakit sekaligus senang. Sakit karena bukan hanya Naura dan Narendra, tapi ia juga sebenarnya tidak ingin jauh dengan mereka. Tapi dibalik rasa sakit itu, ia merasa senang karena mereka begitu menyayanginya.
"Sebentar saja. Kalau rindu, kita bisa video call. Seperti biasa," ucap Rian.
Ya, selama ini mereka kerap video call. Meskipun tidak lama, namun Rian selalu menyempatkan bertanya kabar dua keponakan kembarnya itu.
"Tapi tidak bisa main robot lagi," ucap Naura.
"Iya. Aku juga tidak bisa belajar lagi," ucap Naura.
"Om Rian tidak lama. Nanti om Rian pasti ke sini lagi untuk bermain dan belajar bersama kalian," ucap Tuan Felix.
"Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang?" tanya Naura.
"Sabar ya Naura," ucap Rian sambil memegang tangan kecil Naura. Menatap matanya yang penuh dengan kesedihan. "Sekarang om Rian harus mengejar asa dulu," lanjut Rian.
"Kenapa asanya harus dikejar-kejar?" tanya Naura dengan wajah polosnya.
"Karena asanya lari ke Jerman, sayang." Rian sudah mulai nampak bingung.
"Dia salah apa? Kenapa larinya jauh sekali? Kenapa asa itu tidak lari ke Depok saja? Jadi om tidak jauh-jauh ke Jerman," ucap Naura.
Dari kebingungan kini pertanyaan itu membuat Rian menahan tawanya. Tingkah dan ucapan polos Naura ini ternyata membuat suasana penuh haru, menjadi sangat lucu.
"Asa itu adalah harapan sayang. Jadi maksudnya Om mau mengejar harapan om, Naura. Cita-cita," ucap Rian sambil mengusap kepala Naura.
"Oh, sekarang cita-cita sudah ganti nama ya jadi asa? Maaf ya Om, Naura baru tahu sekarang. Memangnya cita-cita om mau jadi apa?" tanya Naura.
"Bukan ganti nama sayang," ucap Rian.
"Terus apa?" tanya Naura.
"Sayang, asa itu adalah kata lain yang biasa digunakan untuk menyebut cita-cita." Mia mencoba membuat Naura untuk tidak bertanya lagi. "Om, nanti bilangnya cita-cita saja ya. Jangan asa," lanjut Mia sambil menahan tawanya.
"Iya," jawab Rian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Memangnya cita-cita Om apa?" tanya Narendra.
"Om mau jadi arsitektur paling keren dan hebat," jawab Rian.
"Memangnya kalau mau jadi arkisetur harus ke Jerman ya?" tanya Narendra.
"Arsiterktur, sayang. Bukan arkisetur," ucap Rian membenarkan.
__ADS_1
"Iya itu Om. Memangnya tidak bisa di sini ya?" tanya Narendra.
"Bisa sayang. Hanya saja om mau pengalaman yang lebih banyak," jawab Rian.
"Oh," ucap Narendra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Rian bisa bernapas lega saat tidak ada lagi pertanyaan dari kedua keponakan kembarnya.Jika dibandingkan dengan Narendra. Naura memang anak yang jauh lebih ingin tahu dalam segala hal. Apa yang ia dengar harus ia cari tahu hingga ia benar-benar mengerti.
Narendra juga si pencari informasi yang hebat. Namun berbeda dengan Naura, Narendra akan lebih mudah menyerah saat ia lama mendapatkan jawaban yang ia inginkan.
Saat kepergian Rian dan Tuan Felix, terdengar tangisan Narendra dan Naura. Mereka memohon agar Rian dan Tuan Felix tetap ada di sini menemani hari-hari mereka, seperti satu minggu belakangan ini.
Mia dan Dion sengaja tidak mengantar Rian dan Tuan Felix ke bandara. Mereka tidak ingin jika drama menangis ini terjadi di bandara. Sebenarnya tangisan Narendra dan Naura membuat Mia semakin sedih. Sama seperti anak kembarnya, Mia juga merasa sepi.
"Sudah, jangan nangis terus. Naura dan Narendra saja sudah tidak nangis," ucap Dion.
Mia hanya memukul Dion sambil cemebrut. Ia kesal saat dibandingkan dengan kedua anak kembarnya.
"Makanya jangan menangis lagi ya! Masa kalah sama si kembar? Mana senyumnya? Pasti makin cantik. Ayo senyum!" ucap Dion sambil melebarkan bibir Mia dengan jarinya.
"Aa awas ah, lepasin." Mia menepis tangan Dion.
Hari ini dilalui penuh dengan drama. Mereka menyesuaikan diri kembali dengan ketidakhadiran Rian dan Tuan Felix di rumah itu.
Bukan hanya Mia, Rian juga sedang merasakan hal yang sama. Apalagi saat di Jerman, ia hanya tinggal bersama Tuan Felix. Tidak ada lagi teriakan anak kecil yang membuat Rian tersenyum lebar.
"Sepi sekali!l," ucap Tuan Felix sambil duduk ditemani secangkir kopi yang masih mengepul.
Sabar ya Pah. Nanti kita akan tinggal di Indonesia setelah aku bisa berdiri sendiri. Aku tidak akan membiarkan Papa kesepian seperti ini lagi.
"Mau kemana?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian sudah siap sepagi itu.
"Ke kantor Mr. Aric," jawab Rian dengan santai.
Saat Tuan Felix sedang menatapnya dengan bingung, Rian justru dengan santai mengambil sebuah roti untuk mengisi perutnya.
"Papa tidak sarapan?" tanya Rian saat melihat Tuan Felix hanya menatap dirinya.
"Papa belum janjian dengan Mr. Aric. Kamu tidak bisa ke kantor itu sembarangan," ucap Tuan Felix.
"Tapi aku sudah membuat janji dengan Mr. Aric," jawab Rian.
"Apa?" tanya Tuan Felix tidak percaya.
Rupanya Tuan Felix tidak tahu jika seminggu bersama Mr. Aric, memberi kesan yang baik tentang Rian. Sahabatnya yang terkenal dingin dan cuek, ternyata bisa dekat lebih cepat dengan Rian.
"Papa tidak percaya?" tanya Rian.
Tidak lama Rian menunjukkan ponselnya. Ada chat yang berisi ajakan Mr. Aric untuk datang ke kantornya hari ini. Tuan Felix menganggukkan kepalanya.
"Jangan sia-siakan kepercayaan Mr. Aric. Dia orang yang loyal dalam urusan bisnis," ucap Tuan Felix.
__ADS_1
"Siap Pah," ucap Rian.
Rian dan Tuan Felix berangkat dengan mobil yang berbeda. Tuan Felix memberi fasilitas dan waktu yang bebas selama itu soal pekerjaan dengan Mr. aric. Itu bagus untuk menunjang masa depan Rian. Selain itu, Rian juga bisa memiliki kesibukan agar tidak terus-terusan memikirkan Maudi.
Hari ini Tuan Felix menunggu kabar dari Rian. Namun sampai saat ini, ia masih belum mendapat kabar juga. Sudah jam makan siang, akhirnya Tuan Felix menghubungi Rian saat ia tak kunjung mendapat kabar.
Pertama, panggilannya diabaikan. Rian tidak menjawab telepon darinya. Ia menghubungi Rian untuk kedua kalinya. Baru saja panggilan itu terhubung, Tuan Felix hanya bisa membuka mulutnya tanpa mengucapkan apapun.
"Kamu tidak berubah," ucap Tuan Felix sambil melihat ponselnya.
Panggilannya sudah diakhiri bahkan saat Tuan Felix belum sempat mengucapkan satu kata pun. Panggilannya pada Rian dijawab oleh Mr. Aric. Sahabatnya itu marah saat ia menghubungi Rian.
"Rian itu anakku. Kenapa dia marah kalau aku meneleponnya? Memangnya dia siapa? Bisa-bisanya dia bilang jangan mengganggu," gerutu Tuan Felix.
Untuk mengobati kekesalannya, Tuan Felix menghubungi Mia. Melihat kedua cucu kembarnya, Tuan Felix kembali tersenyum. Kelucuan Narendra dan Naura bisa menghibur kekesalannya saat ini.
Sudah sore, waktunya pulang. Saat sampai ke rumahnya, Tuan Felix tidak mendapati Rian. Ia meraih ponsel dari sakunya. Melihat ponselnya dengan dahi mengerut.
Tidak ada panggilan ataupun sebuah pesan dari Rian. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mandi. Setelah mandi, ia mendengar suara ketukan pintu.
"Dari mana saja kamu?" tanya Tuan Wira dengan sedikit acuh.
"Pah, maafkan aku. Tadi Mr. Aric benar-benar memberiku materi dan praktek langsung ke lapangan," jawab Rian.
"Lain kali jangan sampai ponselmu pindah tangan padanya," ucap Tuan Felix.
"Pah, tadi aku mau menjawab telepon Papa. Tapi Mr. Aric melarangku. Waktu Papa menelepon lagi, Mr. Aric meminta ponselku. Maafkan aku," ucap Rian.
Bukan sepenuhnya salah Rian. Tuan Felix pun sebenarnya menyadari jika Mr. Aric adalah orang yang tidak suka saat diganggu ketika sedang bekerja.
"Sudah makan?" tanya Tuan Felix melupakan masalah panggilan itu.
"Sudah," jawab Rian sambil mengangguk.
"Besok kamu ke sana lagi?" tanya Tuan Felix.
"Iya," jawab Rian dengan ragu.
"Kamu tidak cape?" tanya Tuan Felix.
Rian diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya lelah, namun Mr. Aric selalu menyemangatinya. Masalahnya, Tuan Felix terlihat kesal karena Rian tidak bisa mengabarinya sama sekali.
"Istirahat! Jangan sampai mengecewakan Mr. Aric. Itu akan sangat mempengaruhi masa depanmu. Mr. Aric akan membawa citra positif buat dunia kerjami nanti," ucap Tuan Felix.
Rian mengangkat wajahnya. Ia terlihat senang saat mendapat dukungan dari Tuan Felix. Rasa lelahnya seketika hilang seiring tangan Tuan Felix yang menepuk bahunya.
"Iya Pah. Papa juga istirahat ya!" ucap Rian dengan senyum mengembang di bibirnya.
Saat Rian sudah pergi, Tuan Felix terlihat tersenyum melihat punggung Rian yang semakin menjauh.
Kamu sudah besar. Bertanggung jawablah untuk hidupmu!
__ADS_1