
Aktivitas Rian berjalan seperti biasa. Karena ini hari minggu, Rian dan Tuan Felix menghabiskan waktunya di rumah. Minggu ini tidak ada acara liburan atau sekedar keluar rumah.
"Hari ini kamu mau kemana?" tanya Tuan Felix.
"Aku tidak kemana-mana Pah. Papa mau kemana?" tanya Rian.
"Sama. Papa juga tidak kemana-mana," jawab Tuan Felix.
Keduanya sarapan dan menyepakati untuk menghabiskan hari libur di rumah. Hal yang paling penting saat mereka ada waktu senggang adalah menghubungi Mia dan keluarganya yang lain di Indonesia.
Rasa rindu mereka pada keluarganya membuat Rian dan Tuan Felix ingin segera ke Indonesia lagi. Apalagi saat melihat Narendra dan Naura menangis memanggil nama Rian dan Tuan Felix.
"Mia, nanti telepon Papa lagi ya. Papa tidak tega kalau melihat mereka menangis begitu," ucap Tuan Felix.
Setelah panggilan berakhir, Tuan Felix benar-benar mempersiapkan masa depan Rian.
"Kamu usahakan lulus dengan nilai bagus dan kuasai semua materi yang sudah kamu dapatkan. Kita harus kembali ke Indonesia," ucap Tuan Felix.
"Iya Pah. Aku juga ingin segera kembali ke Indonesia," ucap Rian.
Tuan Felix menghubungi beberapa orang kepercayaannya di Indonesia. Ia meminta mereka menyiapkan lokasi di daerah Jakarta. Meskipun tidak terlalu dekat dengan rumah Mia, paling tidak masih tetap di kawasan Jakarta.
"Kenapa tidak minta bantuan Kak Mia dan Kak Dion Pah?" tanya Rian.
"Aku ingin mereka hanya fokus dengan cucu kembarku dan perusahaan. Urusan ini masih bisa Papa atasi," ucap Tuan Felix.
"Pah, maaf ya! Aku jadi merepotkan Papa," ucap Rian.
"Jangan begitu. Kamu itu anak Papa. Semua yang Papa lakukan untuk anak-anak Papa. Mia dan dion sudah mempunyai perusahaan sendiri. Sekarang PR Papa adalah menyiapkan perusahaan untuk kamu," ucap Tuan Felix.
"Seandainya aku tidak bertemu dengan Papa, mungkin sampai ini aku hanya akan menjadi penjual lotek. Tapi takdir berkata lain. Tuhan mempertemukan aku dengan orang-orang baik. Aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa," ucap Rian.
Suasana sedih pun kian terasa saat Tuan Felix meyakinkan Rian jika ia tidak pernah membedakan Mia dan Rian. Padahal Rian sadar betul bagaimana posisinya diantara Mia dan Tuan Felix.
"Kalau tidak ada kamu, mungkin Papa hanya akan menjadi pria tua kesepian. Jika harus berterima kasih, Papa yang seharusnya berterima kasih padamu. Kamu sudah membuat semangat Papa tetap membara. Setidaknya Papa berarti buat kamu," ucap Tuan Felix.
"Pah," ucap Rian penuh haru.
Dering ponsel mengalihkan keharuan mereka. Tuan Felix sangat bersemangat saat mendengar ponsel Rian berdering. Menurutnya, itu adalah Mia yang kembali menghubunginya karena masih merindukannya.
"Maudi," jawab Rian pelan.
Raut wajah ceria Tuan Felix perlahan memudar hingga akhirnya sirna sama sekali.
"Papa ke kamar dulu!" ucap Tuan Felix.
Rian tidak mengerti maksud kepergian ayahnya itu. Entah Tuan Felix melarang Rian menjawab panggilan dari Maudi. Atau justru Tuan Felix memang benar-bemar sudah tidak peduli sama sekali. Ia mengabaikan panggilan dari Maudi. Meskipun begitu, matanya tidak lepas dari layar ponselnya yang masih terus berdering. Rian baru mengambil kembali ponselnya saat panggilan itu sudah berhenti.
__ADS_1
Sebuah pesan masuk. Tidak ada kata apapun selain emoticon menangis. Rian mengernyitkan dahinya dengan perasaan campur aduk. Rasa pedulinya terlalu tinggi hingga jempolnya berhasil membalas pesan Maudi.
'Apa?' pesan itu tidak lama sudah dibaca oleh Maudi.
Tidak membalas pesan dari Rian, Maudi justru kembali menelepon Rian. Dengan penuh keraguan, Rian berusaha meyakinkan dirinya untuk menjawab panggilan dari Maudi.
"Aku di rumah sakit. Kamu bisa ke sini sekarang?" pinta Maudi sambil menangis.
"Kamu sakit apa?" tanya Rian panik.
"Kamu ke sini saja. Biar nanti aku ceritakan di sini," jawab Maudi.
"Kenapa kamu tidak menghubungi Rey?" tanya Rian.
"Sudah. Tapi nomornya tidak aktif," jawab Maudi.
"Ya sudah aku ke sana sekarang," ucap Rian.
Rian mengetuk pintu kamar Tuan Felix yang tertutup begitu rapat. Meminta izin meskipun ia tidak yakin akan diberi izin.
"Pah, aku boleh menjenguk Maudi di rumah sakit?" tanya Rian pelan.
"Tidak perlu meminta izin. Kalau saja Papa tidak memberi izin, kamu pasti akan tetap merengek kan meminta Papa mengizinkammu?" ucap Tuan Felix tanpa membuka pintu kamarnya.
"Pah, tapi Maudi di sini sendirian. Keluarganya di Indonesia. Rey juga nomornya tidak aktif," ucap Rian.
"Iya Pah, aku pasti akan hati-hati. Aku juga tidak akan lama," jawab Rian.
Di balik pintu, Tuan Felix nampak menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis. Ia tidak habis pikir dengan Rian yang masih saja peduli pada Maudi.
Apa sih baiknya Maudi? Kenapa Rian begitu sulit melepaskan Maudi dari hidupnya? Apa jangan-jangan dia pakai pelet? Riri, seandainya kamu tidak sibuk mengurus Mr. Aric, ingin sekali aku meminta kamu untuk menyadarkan Rian. Sepertinya saat ini otak Rian sudah dicuci oleh Maudi.
Tapi Rian adalah Rian. Pria yang masih menyimpan perasannya untuk Maudi. Meskipun rasa itu tidak sebesar dulu, namun ia tidak bisa membiarkan Maudi sendirian di rumah sakit.
"Rian," ucap Maudi sambil menangis di pelukan Rian.
Rian yang dipeluk oleh Maudi hanya bisa diam. Dadanya berdebar tidak menentu. Ada rasa bahagia saat melihat Maudi begitu membutuhkannya seperti saat itu. Ah tidak. Rian segera melepaskan tangan Maudi yang melingkar di pingganggnya saat mengingat Rey.
"Kamu sakit apa?" tanya Rian.
"Aku, aku," jawab Maudi gemetar.
"Kamu kenapa?" tanya Rian.
"A-aku keguguran," jawab Maudi sambil menggenggam erat tangan Rian.
"Apa?" tanya Rian sambil melepaskan genggamannya dari Maudi.
__ADS_1
"Rian, Rian, tolong aku. Aku percaya kamu bisa membantuku. Aku mohon," bujuk Maudi.
"Siapa pria yang menghamilimu?" tanya Rian.
Dadanya sudah sesak menahan sakit. Ia begitu terluka saat mendapati wanita yang ia cintai sudah menyerahkan kehormatannya pada pria lain.
"Dia tidak penting. Yang penting kamu bantu aku," ucap Maudi.
"Tidak penting? Apakah dia Rey?" tanya Rian.
Maudi menggeleng.
"Lalu siapa?" tanya Rian.
Rian semakin terkejut saat tahu bukan Rey pelakunya. Berarti bukan hanya dirinya, tapi Rey juga tidak tahu semua kejadian ini.
"Aku sudah bilang dia tidak penting. Aku mohon bantu aku Rian. Aku mau pulang," pinta Maudi dengan mata yang berlinang.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rian.
"Mengakulah pada dokter jika kamu adalah pria itu, agar aku bisa pulang." Maudi menatap Rian penuh harap.
"Gila kamu! Tidak mungkin aku mengakui apa yang tidak pernah aku lakukan. Aku tidak mau. Kamu cari saja pria itu. Dia yang harus bertanggung jawab," ucap Rian.
"Rian, kalau dia ada aku tidak akan memintamu ke sini. Aku mohon Rian. Sekali ini saja," ucap Maudi.
"Aku tidak mau ikut dalam masalahmu," ucap Rian.
"Aku tidak memintamu masuk ke dalam masalahku. Aku hanya meminta bantuanmu. Aku ingin pulang," bujuk Maudi. "Aku janji tidak akan melibatkanmu dalam hal apapun yang berhubungan denganku. Kali ini saja," lanjut Maudi.
Maudi nampak memohon dan menangis. Ia juga menceritakan kebodohannya karena mau diajak oleh pria yang belum lama ia kenal. Maudi tertipu oleh wajah tampan dan bualannya.
"Kamu mengkhianati Rey," ucap Rian sambil mengepalkan tangannya.
"Saat itu aku dan Rey memang sempat renggang. Aku pikir Rey akan meninggalkanku. Tapi Rey kembali," ucap Maudi membela diri.
"Dan kamu kembali pada Rey sementara kamu sudah tidur dengan pria itu? Dimana hati dan otak kamu Maudi?" ucap Rian kesal.
"Rian aku tahu aku salah. Aku sudah bersikap sangat bodoh. Tapi aku ingin pulang," ucap Maudi.
Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Rian menyetujui permintaan Maudi. Ia menandatangani surat pernyataan yang diberikan oleh dokter. Tidak lama, Maudi sudah bisa dibawa pulang.
"Rian, terima kasih." Maudi memeluk Rian.
Rian melepaskan pelukan Maudi. Bahkan Rian menjauh dari wanita yang baru saja keguguran itu.
"Ingat Maudi! Urusan kita sudah selesai. Aku tidak mau kamu menggangguku lagi. Jangan sekalipun kamu melibatkan aku dalam urusanmu. Apapun itu!" ucap Rian tegas.
__ADS_1
"Iya. Aku janji," ucap Maudi.