
"Ayo Mas," ajak Riri.
"Pus," ucap Rian.
Rian yang tengah berdiri disamping mobil menatap Riri dari atas hingga ke bawah. Mulut Rian yang menganga membuat Riri mengusap wajah Rian.
"Apa sih Mas? Memangnya ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Riri.
"Kamu cantik," ucap Rian menatap Riri penuh kekaguman.
"Apa Mas?" tanya Riri sambil mengerutkan dahinya.
Riri tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rian. Ia melihat penampilannya dari kaca mobil Rian.
"Eh, maksudku penampilan kamu berbeda." Rian terlihat begitu salah tingkah dengan ucapannya sendiri.
Tuhaaaan. Kenapa bisa-bisanya aku berkata hal memalukan seperti itu. Mata, jangan macam-macam kamu.
"Memangnya kalau aku pakai baju begini tidak cocok ya, Mas?" tanya Riri.
"Cocok. Kamu sangat cocok pakai baju seperti ini. Kenapa tidak sejak dulu kamu berpenampilan lebih rapi begini?" tanya Rian yang berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Aku malu Mas. Aku tidak percaya diri," ucap Riri.
Apa yang membuatmu tidak percaya diri, Pus. Kamu itu cantik. Ah tidak Rian. Sadar, kamu tidak boleh seperti ini.
Rian terkesima melihat penampilan Riri. Biasanya Riri ke kampus dengan baju sederhana dan tidak pernah menggunakan makeup. Kali ini, Riri nampak menggunakan makeup yang natural, meskipun begitu Rian melihat penampilan Riri sangat mewah.
"Mas, kok bengong?" tanya Riri.
"Tidak apa-apa. Ayo berangkat!" ajak Rian.
Rian tidak ingin jika Riri terus-terusan membuatnya tidak fokus dan semakin gugup.
"Mas, aku tidak norak kan?" tanya Riri memastikan.
"Kamu kenapa sih? Memangnya kamu mau terlihat sempurna di mata aku?" tanya Rian.
"Iya dong Mas. Mas itu orang pertama yang jalan denganku. Aku harus terlihat sempurna," ucap Riri.
Rian menatap Riri dengan penuh tanya.
"Maksudnya?" tanya Rian.
"Ya anggap saja ini latihan. Biar nanti kalau aku punya pacar, aku tidak membuat pacarku malu." Riri nampak datar.
"Kamu sudah punya gebetan?" tanya Rian.
"Apa itu gebetan?" tanya Riri.
"Ya calon pacar," jawab Rian.
"Aku tidak mau pacaran. Pacaran itu hanya menyakitkan. Setelah membangun semua kenangan indah bersama, ujungnya dia bahagia dengan yang lain. Sakit," ucap Riri.
"Kamu belum move on?" ejek Rian.
__ADS_1
"Tidak perlu mengejek. Mas juga sama kan?" ejek Riri.
Sama? Wajah Maudi langsung terbayang jelas di kepala Rian. Sakit itu kembali ia rasakan. Ingin rasanya Rian berteriak, mengungkapkan rasa kecewanya pada Maudi.
"Oh ya Mas, tipe istri idaman itu seperti Mba Maudi ya?" tanya Riri.
Rian yang tengah memikirkan kisah pilunya dengan Maudi tersentak dengan pertanyaan Riri. Istri idaman? Ya, Maudi memang istri idaman bagi Rian. Tapi itu dulu, sebelum ia tahu kalau Maudi sudah menyerahkan kehormatannya pada pria lain.
"Mas, kok tidak dijawab?" tanya Riri.
"Ah, tidak. Bukan begitu. Soal istri idaman itu tergantung selera masing-masing," jawab Rian.
"Tapi kalau buat Mas itu seperti Mba Maudi, kan?" tanya Riri.
"Pus, sudahlah. Bisa tidak khusus malam ini kamu jangan bahas Maudi terus," ucap Rian.
"Iya, iya, maaf. Aku tahu Mas belum move on. Tapi Mas jangan khawatir, aku yakin banyak sekali wanita yang bisa mengganti posisi Mba Maudi di hatinya Mas. Percaya sama aku. Orang baik seperti Mas akan bersama orang baik juga," ucap Riri.
"Ah, sok tahu kamu Pus. Sudah, lupakan soal itu semua. Ayo kita mau makan dimana?" tanya Rian.
"Yah, menghindar. Tidak seru ah," ucap Riri.
"Pus," ucap Rian dengan nada yang penuh penekanan.
"Iya Mas ayo. Aku sih ikut Mas saja. Tapi jangan yang mahal-mahal ya!" ucap Riri.
"Kenapa?" tanya Rian.
"Aku takut uangku tidak cukup," jawab Riri.
"Kan yang Mas jalan itu aku. Jadi aku yang harus bayar," ucap Riri.
Rian diam. Ia tidak ingin berdebat terlalu lama. Ia tahu jika Riri hanya menganggapnya sahabat, tentu sikap Riri menunjukkan jika mereka tidak perlu jaga image satu sama lain.
"Oke, nanti giliran aku yang bayar ya. Gantian," ucap Rian.
"Siap," ucap Riri sambil mengangkat jempol tangannya.
Rian mengajak Riri ke cafe tempat teman Tuan Felix. Di sana mereka bisa memesan makanan khas Indonesia. Mungkin itu bisa mengobati kerinduan Riri pada negerinya sendiri.
"Kita makan di sini Mas?" tanya Riri.
"Iya. Ayo!" ajak Rian.
Riri mengangguk dan segera berjalan menhikuti Rian. Mereka duduk di salah satu sudut cafe. Rian segera memesan makanan khas Indonesia yang disediakan di sana.
"Mas, memangnya ada menu itu ya di sini?" tanya Riri sambil berbisik.
"Ada. Makanya aku ajak kamu ke sini," jawab Rian.
Rian melihat ada senyum bahagia di wajah Riri. Sspertinya Riri sangat menikmati tempat itu. Cafe dengan nuansa Jerman namun menghadirkan makanan khas Indonesia. Tentu hal itu menjadi daya tarik tersendiri untuk warga Indonesia yang berada di sana.
Tidak hanya makanan khas Indonesia, makanan khas Jerman juga tentu tersedia di sana. Hingga hampir setiap harinya cafe itu selalu ramai dikunjungi. Bukan hanya warga Jerman, beberapa warga luar negeri pun sering mengisi ruangan cafe yang cukup luas itu.
"Wah Mas, ini pasti enak sekali." Riri bersorak senang saat makanannya sudah tersaji di hadapannya.
__ADS_1
"Kamu suka?" tanya Rian.
"Iya, aku suka Mas. Ini enak," jawab Riri.
"Selamat makan, Pus." ucap Rian.
Keduanya makan dengan sangat lahap. Tidak ada yang bicara selama makan malam itu. Rian sesekali memperhatikan Riri yang telalu fokus menikmati makanannya.
"Mas, kapan-kapan kita makan ke sini lagi ya!" ucap Riri.
"Iya. Nanti aku ajak kamu ke sini lagi," ucap Rian senang.
Mungkin rasa itu mulai tumbuh di hati Rian meskipun ia tidak terlalu menyadari semua itu. Rian hanya merasa kehadiran Riri bisa melupakan sejenak semua beban yang sedang memenuhi pundaknya.
"Mas, besok masuk pagi atau siang?" tanya Riri.
"Aku masuk siang," jawab Rian.
"Yaaaah," ucap Riri kecewa.
"Kenapa? Memangnya kamu masuk pagi, Pus?" tanya Rian.
"Iya Mas, aku masuk pagi sih. Jadi kita tidak bisa ngobrol ya Mas?" ucap Riri.
"Aku bisa berangkat lebih cepat agar punya waktu untuk mengobrol denganmu," ucap Rian.
"Mas serius?" tanya Riri.
"Serius," jawab Rian.
"Yeaaay, terima kasih ya Mas. Mas memang benar-benar baik," ucap Riri.
Rian jauh lebih bahagia saat melihat Riri bahagia. Ia sempat berpikir jika Riri mencintainya. Namun ia butuh waktu untuk membuktikan prediksinya itu.
Ketika mereka pulang, Rian melihat kehadiran Maudi bersama pria itu lagi. Mereka duduk di salah satu meja bagian depan. Rian segera mengalihkan perhatian Riri agar tidak melihat kehadiran Maudi di sana.
"Kita ke jalan sana yu! Kamu harus lihat semua bagian ruangan cafe ini. Semua sangat bagus," ucap Rian.
Riri hanya mengikuti apa yang Rian sarankan. Namun sayangnya Riri hanya berusaha menyenangkan dan menenangkan Rian saha. Karena sebenarnya, Riri juga melihat kehadiran Maudi bersama pria yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Mas, terima kasih ya!" ucap Riri.
"Untuk apa? Yang bayar makannya kan juga kamu, Pus. Harusnya aku yang berterima kasih padamu," ucap Rian.
"Ah, Mas bisa saja. Aku ingin berterima kasih karena sejak tadi siang, Mas mengajakku main. Aku senang selali," ucap Riri.
Rian mengantarkan Riri pulang. Tidak terlalu malam, karena ia tidak ingin Riri terkena masalah di rumah Mr. Aric. Suasana berbeda sangat terasa saat Rian mengemudi mobilnya sendirian menuju rumahnya. Sepi. Rian memilih beberapa lagu yang menggambarkan kisah hidupnya, untuk menemani perjalanannya.
Tanpa kehadiran Riri, Rian merasa jika dirinya kembali dikuasai rasa gelisah, kecewa dan sakit yang teramat sangat. Apalagi saat ia melihat Maudi jalan dengan pria itu lagi. Rian yakin pria bule itu adalah orang yang sudah merebut kehormatan Maudi.
"Kamu jahat Maudi. Kamu jahat. Aku benci padamu," teriak Rian.
Ketika hanya sendirian, Rian berteriak mengeluarkan emosinya. Ia memukul setirnya berulang kali. Suara musik yang cukup keras membuat Rian bersembunyi di balik teriakan kecewanya malam itu.
Maudi lagi. Lagi-lagi Maudi yang ternyata berhasil membuat Rian benar-benar terlihat begitu lemah dan tidak berdaya soal cinta.
__ADS_1