
"Mi, ayo pulang!" ajak Dion.
Tuan Felix menatap Mia penuh dengan rasa bersalah. Ia menyadari kesalahannya. Ia tahu membahas masa lalu Mia sama artinya dengan membuka luka sakit hati untuk Mia.
"Mi," ucap Dion.
Mia terperanjat dan terlihat bingung dengan sikap Dion dan Tuan Felix yang sedang menatapnya.
"Iya A," ucap Mia.
"Apanya yang iya? Hah? Bisa-bisanya kamu melamun di saat ada kita berdua di sini," ucap Dion sambil menggelengkan kepalanya.
"Ma-maaf A," ucap Mia gugup.
"Apa sih yang membuatmu melamun begitu? Kurang bersyukur punya suami yang tampannya di atas rata-rata sepertiku?" tanya Dion dengan begitu percaya diri.
"Apa masih kurang juga punya Papa yang kerennya tidak tertolong seperti ini?" timpal Tuan Felix tidak kalah percaya diri.
Mia hanya tertawa saat mendengar ucapan kedua pria yang begitu berarti dalam hidupnya. Dion dan Tuan Felix pun ikut tersenyum saat melihat Mia yang sudah kembali tertawa. Akhirnya mereka berhasil membuat Mia melupakan kesedihannya.
Dering ponsel membuat semuanya fokus pada Tuan Felix. Dengan bahasa Jerman pria tua itu bicara dengan kerutan di dahinya. Meskipun Mia tidak tahu artinya, tapi ia yakin saat ini Tuan Felix sedang marah.
Dion menatap Mia. Mia yang tahu arti tatapan itu hanya menggeleng. Karena ia juga tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Tuan Felix dan si penelepon. Ingin memberikan ruang, Mia dan Dion keluar dari ruangannya.
"Papa kamu ngomong apa sih?" tanya Dion saat sudah di luar ruangan Mia.
"Mana Mia tahu A. Tapi kalau mendengar nada bicara dan raut wajahnya, sepertinya Papa marah. Tapi kenapa ya?" Mia menduga-duga.
Mia dan Dion masih menunggu di luar sambil ssalig menebak apa yang tengah dibahas oleh Tuan Felix. Sesekali Mia mengintip dari balik kaca, namun ayah kandungnya itu masih asik menelepon. Bahkan saat ini, Tuan Felix terlihat membuka kembali laptopnya.
"A, sepertinya soal perusahaan deh." Mi menunjuk ruangannya.
Dion mendekat dan ikut mengintip. Ya, kepalanya memikirkan apa yang Mia pikirkan. Kalau bukan urusan pekerjaan mana mungkin Tuan Felix menelepon begitu lama dan membuka laptop.
"Semoga perusahaan Papa baik-baik saja," ucap Mia.
"Kita berdoa saja ya Mi," ucap Dion.
Mia menelepon Rian untuk memberitahunya tentang keterlambatannya pulang ke rumah. Rian yang baru selesai mandi segera mengabarkan hal ini pada Naura dan Narendra. Karena baru saja lima menit yang lalu mereka dari kamarnya, bertanya tentang kepulangan kedua orang tuanya.
"Mama dan Papa tidak diculik siluman ular kan?" tanya Naura.
Aduh! Rian menyesal sudah asal bicara di depan Naura. Kini ia sendiri yang bingung saat harus menjelaskan tentang siluman ular itu.
"Bukan, bukan. Mama dan Papa hanya masih ada urusan kantor saja," jawab Rian.
"Kalau begitu, beri tahu Mama dan Papa untuk hati-hati. Kalau ada siluman ular, cepat kabur. Bahaya!" ucap Naura.
Rian menepuk dahinya. Kenapa lagi-lagi siluman ular yang dibahas. Rian pasrah dan akan meminta bantuan Tuan Felix untuk menjelaskan semua ini. Rupanya ia tidak tahu kalau Tuan Felix juga gagal dalam menjelaskan tentang siluman ular.
Sampai larut malam, Tuan Felix dan yang lain baru saja sampai ke rumah. Semuanya sudah terlelap. Ia meminta maaf atas semua keterlamabatan ini. Namun Mia dan Dion sangat mengerti bahkan memberi support penuh.
"Terima kasih untuk tiket pesawatnya, Di. Maafkan Papa harus pulang lebih cepat dan memberimu tugas lagi," ucap Tuan Felix.
"Tidak masalah Pah. Soal perusahaan Rian, aku bisa mengatasinya. Papa jangan khawatir. Papa fokus saja dengan semua pekerjaan di sana. Aku dan Mia hanya bisa mendoakan saja," ucap Dion.
"Itu lebih dari cukup, Di." Tuan Felix menepuk bahu Dion dan segera beristirahat.
Keesokan harinya Tuan Felix bangun lebih pagi. Karena rasa lelahnya, malam tadi ia tidak sempat packing. Meskipun tidak banyak barang yang ia bawa, tapi ia khawatir jika ada barang yang tertinggal.
Saat keluar dari kamar, Tuan Felix sudah melihat Tuan Wira duduk santai di salah satu ruangan rumahnya. Ia menghampirinya dan pamit.
"Kenapa semalam tidak memberi tahuku?" tanya Tuan Wira.
__ADS_1
"Aku hanya takut mengganggu istirahatmu," jawab Tuan Felix.
"Usia kita sudah tidak muda lagi. Sepertinya kita harus sudah melepaskan perusahaan dan beristirahat. Menikmati hari tua dan bekerja di balik layar saja," ucap Tuan Wira.
Sudah tua? Melepaskan perusahaan? Kerja di balik layar? Benarkah? Rasanya Tuan Felix belum berpikir sampai sejauh itu. Ia masih merasa dirinya sanggup dan mampu. Tapi berbeda dengan pemikiran sahabat sekaligus besannya itu.
"Mungkin iya. Tapi aku harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Aku harus melihat Rian benar-benar berdiri kokoh," ucap Tuan Felix.
"Kalau begitu bantu dia. Kehadiranmu di sini akan membuat Rian segera berdiri kokoh dengan perusahaan barunya. Tidak perlu unjuk diri. Seperti kataku, cukup bekerja di balik layar saja." Tuan Wira kembali membuat Tuan Felix ragu.
Kepalanya jadi berpikir tentang apa yang diucapkan oleh Tuan Wira. Mungkin benar. Tapi itu nanti. Tidak bisa semudah itu meninggalkan perusahaan.
"Aku titip Rian. Maaf kalau aku menambah bebanmu," ucap Tuan Felix.
"jangan bicara seperti itu. Bagaimanapun juga, Rian sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Jadi jangan khawatirkan Rian," ucap Tuan Wira.
Tenang rasanya saat memastikan bahwa banyak sekali orang yang sayang dan peduli pada Rian. Ia hanya akan menyelesaikan semua masalahnya dengan cepat. Masalah kembali ke Indonesia, bisa ia urus belakangan.
"Papa mau kemana?" tanya Rian dengan bingung.
Rian yang tidak diberi tahu sebelumnya tentu bingung dan sangat terkejut saat melihat Tuan Felix sudah menenteng koper besar.
"Duduk dulu! Dengarkan Papa," ucap Tuan Felix.
Tuan Felix tahu Rian akan sedih dengan keberangkatannya yang mendadak. Ia menjelaskan dengan rinci alasan kepulangannya. Rian sempat kecewa karena tidak diberi tahu sebelumnya. Namun akhirnya ia mengerti dan memeluk Tuan Felix dengan erat.
"Papa sehat-sehat ya di sana," ucap Rian.
"Iya. Kamu jangan khawatir. Papa baik-baik saja kok," ucap Tuan Felix.
"Mau aku antar?" tanya Rian.
"Kamu mau kembali ke Jerman? Untuk mengantar Papa atau ingin bertemu dengan Riri?" goda Tuan Felix.
Rian tersenyum malu dengan ucapan Tuan Felix. Namun dibalik itu, ia hanya sedang menutupi rasa sedihnya karena akan berpisah dengan Tuan Felix. Tuan Felix memang bukan ayah kandungnya. Tapi cara Tuan Felix memperlakukan dirinya merasa jika ia wajib untuk membalas semua kebaikan ayah angkatnya itu.
Kesedihan Rian bukan hanya karena kepergian Tuan Felix, tapi tangis Mia juga mampu membuat hati Rian bergetar. Ia bisa merasakan apa yang Mia rasakan. Lebih dari dirinya karena Mia adalah anak kandung dari pria yang akan meninggalkan Indonesia itu.
Pesawat sudah berangkat. Namun Mia masuk duduk menekuk wajahnya di bebangkuan. Dion tidak mengajaknya pulang. Ia hanya duduk di samping Mia dan mengusap punggung istrinya. Wajah Mia yang ditutup dengan kedua telapak tangannya membuat Dion dan Rian terenyuh.
"Mi, kita pulang yu!" ajak Dion setelah tangis Mia mereda.
Mata dan hidungnya yang memerah, menandakan bahwa ia benar-benar meluapkan kekecewaannya dengan tangisan. Jika saja ia bisa, ia akan berteriak agar lebih lepas. Beruntung Mia ditemani dua pria yang luar biasa. Terus menguatkannya meskipun perasaan mereka juga sebenarnya sedang sedih.
"Ri, Papa sudah ke Jerman." Mia memulai kembali kesedihannya.
"Iya Kak," ucap Rian.
Suara Rian bergetar. Ia menahan tangisnya. Sementara Dion menggenggam tangan Mia dan menguatkannya.
"Papa akan menyelesaikan urusan kerjanya. Nanti juga ke sini lagi setelah semua urusannya selesai," ucap Dion.
"Tapi Mia merasa baru kemarin Papa di sini," ucap Mia.
"Papa janji kalau perusahaanku sudah maju, Papa akan kembali untuk tinggal di sini." Rian mengingatkan dirinya sendiri.
"Benarkah?" tanya Mia dengan antusias.
"Iya Kak. Papa sempat bicara seperti itu padaku," jawab Rian.
"Kita akan berjuang bersama ya Ri," ucap Mia.
"Nah, begitu dong. Kan enak dilihatnya kalau semangat," ucap Dion.
__ADS_1
Mia menatap jalanan, bayangan ayahnya membuat ia semakin semangat. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu perusahaan Rian dari segala sisi. Ia akan segera membuat Tuan Felix untuk kembali tinggal di Indonesia.
Ketika sampai di rumah, Mia kembali menangis saat melihat kedua anak kembarnya sedang menangis. Mia berusaha membuat mereka mengerti dengan keadaan.
"Aku masih kangen sama Opa," ucap Narendra.
"Naura juga," ucap Naura disela isak tangisnya.
Air mata terus membasahi pipi kedua anak kembarnya. Tidak hanya Mia, Dion dan Rian juga ikut berusaha untuk menenangkan Naura dan Narendra. Setelah cukup reda, Mia mengajak kedua anaknya untuk jalan-jalan. Bukan hanya untuk menenangkan anak kembarnya, tapi ia juga ingin melupakan sejenak rasa kecewanya.
"Aku akan pulang tepat waktu," ucap Mia.
"Bersenang-senanglah. Urusan orang properti biar aku yang urus," ucap Dion.
"Kak Dion temani Kak Mia saja. Biar aku yang ke kantor," ucap Rian.
Meskipun Rian tidak tahu apa-apa, namun ia tidak mau mengganggu waktu Mia dan Dion. Ia akan berusaha menyelesaikan semuanya sendiri. Namun Dion malah memintanya untuk menemani Mia dan anak kembarnya.
"Kamu belum tahu banyak hal tentang perusahaan. Lagi pula aku sudah janjian dengan orang itu. Kalau kamu yang datang, mereka akan bingung. Jadi kamu temani Mia dan anak-anak ya!" ucap Dion.
"Aku jadi tidak enak. Perusahaan itu untukku tapi malah Kakak yang sibuk," ucap Rian.
"Kamu tidak perlu sungkan begitu. Kita kerjakan bagian yang bisa kita kerjakan saja. Jangan perhitungan ah," ucap Dion.
Rian berterima kasih untuk semua kebaikan Dion. Ia yang bukan siapa-siapa justru benar-benar menganggapnya sebagai saudara kandungnya sendiri.
Sesuai pembagian tugas, Rian pergi menemano Mia dan kedua anak kembar itu. Hal menyebalkan kembali terjadi. Maudi kembali menemuinya.
"Mama ayo kabur!" teriak Naura.
Naura menarik tangan Mia, sedangkan Narendra menarik tangan Rian. Mia yang bingung hanya bisa menatap Naura namun terus mengikutinya. Sementara Dion ikut berlari dengan menahan tawa.
"Di sini!" ucap Naura.
Keempatnya duduk di bebangkuan. Mata Naura masih sibuk mencari keberadaan Maudi. Mia bisa merasakan jika jantung anaknya berdebar dengan cepat karena rasa takutnya.
"Rian, kamu cerita apa sama anak-anak?" tanya Mia kesal.
"Husssst, Mama jangan berisik." Naura menempelkan telunjuknya di bibirnya.
"Sepertinya dia bukan siluman ular," ucap Narendra.
"Memangnya kenapa?" tanya Naura.
"Menurutku dia itu hantu mall. Karena dia selalu mengikuti kita ke mall," ucap Narendra.
Dion mengusap wajahnya. Ia semakin bingung mencari cara untuk menjelaskan tentang keberadaan Maudi.
"Makanya kalau bicara dengan anak kecil ya disaring dulu. Kamu sudah menanamkan hal aneh di kepala mereka," ucap Mia.
"Ya maaf Kak. Mana aku tahu kalau jadinya akan seperti ini," ucap Rian.
"Aku tidak mau tahu. Kamu harus hapur pikiran siluman ular dan hantu mall dari kepala mereka," ucap Mia.
"Iya, iya. Nanti aku jelaskan sama mereka. Kakak tenang saja," ucap Rian.
Padahal sebenarnya ia juga masih bingung bagaimana cara menyampaikan tentang kehadiran Maudi. Ia memang seperti hantu mall. Selalu tahu kalau ia sedang berada di tempat itu.
Apa jangan-jangan Maudi memasang chip di tubuhku?
Rian bergidik membayangkan hal yang mengerikan itu.
"Kamu kenapa?" tanya Mia.
__ADS_1
"Tidk apa-apa," jawab Rian.
"Aneh sekali," ucap Mia.