
Rian masih memperhatikan Riri dari meja kerjanya. Wanita itu masih sibuk menulis. Rian menghampiri Riri saat is sudah sangat penasaran dengan apa yang ditulis istrinya.
"Kamu nulis apa sih sebenarnya?" tanya Rian sambil mendekat.
"Jangan!" ucap Riri sambil melipat kertas itu.
"Kenapa? Mana aku lihat!" ucap Rian sambil meminta kertas itu.
"Ini rahasia," ucap Riri sambil menggelengkan kepalanya.
Riri tidak memberikan kertas itu. Ia justru menyembunyikannya ke belakang tubuhnya. Berusaha menjaga rahasia itu dari Rian.
"Masih ada rahasia diantara kita? Kamu mau seperti itu?" tanya Rian.
"Bukan begitu Mas. Tapi ini tidak penting untukmu," jawab Riri.
"Semua tentangmu adalah penting untukku. Aku berhak tahu semuanya tentangmu. Tanla kecuali," ucap Rian.
"Tapi janji ya jangan komentar aneh-aneh," ucap Riri.
"Tidak. Ayo mana sini kertasnya!" ucap Rian.
Ragu, tapi akhirnya Riri menyerahkan kertas itu. Ia mengamati wajah Rian saat menerima kertas itu. Matanya menatapnya penuh tanya dan terkesan kejam. Ia tidak tahu reaksi suaminya saat melihat tulisannya akan seperti apa.
"Astaga," ucap Rian sambil menahan tawanya.
"Tuh kan! Aku sudah bilang jangan komentar yang aneh-aneh," ucap Riri sambil merebut kertas itu dari Rian.
"Siapa yang komentar aneh-aneh? Aku hanya bilang astaga. Itu saja," ucap Rian.
Riri hanya cemberut sambil menahan malu saat Rian berekspresi seperti itu. Namun karena Rian berusaha menunjukkan sikap biasa, Riri pun bisa lebih tenang dan nyaman.
Menunggu bukanlah hal yang menyenangkan. Riri sampai ketiduran di sofa. Rasa lelah karena melayani Rian hingga kejenuhan membuatnya tidur nyenyak. Bahkan saat jam pulang pun, Rian harus menunggu Riri bangun.
"Emmmh," Riri menggeliat sambil menutup mulutnya yang terbuka akibat menguap.
"Sudah bangun?" tanya Rian.
"Ya ampun. Aku ketiduran Mas," ucap Riri panik.
"Tidak apa-apa. Santai saja," ucap Rian.
__ADS_1
"Jam berapa ini?" tanya Riri.
"Jam lima lebih lima menit," jawab Rian santai.
"Astaga. Kenapa Mas tidak membangunkanku?" tanya Riri.
"Aku tidak tega. Kamu terlihat begitu nyenyak. Kamu pasti lelah hari ini," jawab Rian.
"Mas nyindir aku ya?" tanya Riri.
"Kok nyindir?" Rian balik bertanya.
Riri merasa ucapan Rian adalah sindiran baginya. Bagaimana mungkin ia lelah padahal hanya menemani Rian saja. Sementara Rian yang jelas-jelas bekerja sama sekali tidak terlihat lelah.
Tentu rasa lelah yang Rian rasakan tiba-tiba hilang saat melihat Riri menemaninya seharian. Ia bahkan senyum-senyum sendiri saat ingat apa yang sudah ia lakukan di ruangan itu bersama istrinya tadi.
Kini Rian mengerti kenapa Tuan Felix mengubah keadaan kantor hingga ia harus sendiri di ruangan itu. Ternyata ini yang dimaksud Tuan Felix. Akhirnya ia benar-benar bisa merasakan sensasi luar biasa saat di ruangan itu.
"Ayo pulang! Mama pasti nunggu aku," ucap Riri.
"Iya. Ayo!" ucap Rian.
Rian segera menggenggam tangan Riri saat mereka akan pulang. Ia tahu kalau Riri sangat senang saat diperlakukan seperti itu. Rian selalu menunjukkan rasa sayangnya pada setiap orang. Ia ingin semua orang tahu apa yang ia rasakan pada istrinya.
"Iya Ma. Tadi aku ketiduran. Maaf," jawab Riri.
"Tidak apa-apa. Mama hanya khawatir. Kamu sama sekali tidak mengabari Mama," ucap Nyonya Helen.
"Iya. Maaf ya Ma. Tadi aku ketiduran," ucap Riri.
"Jangan merasa bersalah begutu. Mama hanya khawatir," ucap Nyonya Helen.
Riri sebenarnya bukan hanya merasa bersalah. Ia malu karena meninggalkan Nyonya Helen terlalu lama. Padahal ia sudah berjanji akan menemani Nyonya Helen setiap harinya. Ia segera pamit untuk mandi.
"Sudah, jangan dipikirkan. Wajar lah sekali-kali kamu keluar rumah menemani suami sendiri. Lagi pula Mama juga tidak marah. Mama cuma khawatir," ucap Rian.
"Iya Mas. Tapi aku kok tidak enak ya. Mama pasti sepi di rumah sendirian," ucap Riri.
Rians segera memeluk Riri. Menenangkan istrinya yang tengah gelisah. Rian meyakinkan Riri jika apa yang Riri lakukan bukan sebuah kesalahan.
"Jangan banyak pikiran. Mandi dan kita makan malam. Siapkan energi buat nanti malam," bisik Rian.
__ADS_1
"Mas, kan tadi sudah." Riri mencoba bernegosiasi.
"Tadi kan siang. Jadwal malam beda lagi. Biar kamu ada kerjaan nulis-nulis di kertas yang tadi lagi. Aku mau tahu sebanyak apa nantinya," ucap Rian sambil tertawa.
"Mas," ucap Riri sambil memukul tangan Rian.
Riri yang malu segera mandi. Ia merasa hal itu wajar. Ia menulis berapa kali ia pernah melakukan hal itu dengan suaminya. Hal yang menurut Riri wajar itu berbanding terbalik dengan anggapan Rian. Ia merasa hal itu bukan hal yang perlu dihitung.
Kamu lucu, Pus. Kamu satu-satunya manusia yang menghitung hubungan suami istri selama menikah.
Rian menggelengkan kepalanya. Ia kembali tersenyum saat ingat betapa konyolnya kelakuan Riri. Istrinya yang lulusan sarjana di Jerman masih berpikir untuk menghitung berapa kali mereka berhubungan suami istri. Hal yang benar-benar tidak pernah ada di kepalanya.
"Mas, sudah dong. Kenapa sih senyum-senyum terus begitu ah," ucap Riri kesal.
"Terus aku harus marah-marah? Wajar dong aku senyum saat melihat wajah istriku yang cantik ini," ucap Rian sambil memegang dagu Riri.
"Mas, ih." Riri melepaskan tangan Rian dari dagunya.
Jujur saja Riri takut saat melihat Rian sudah mulai menggodanya lagi. Ia takut jika Rian menginginkan hal itu sekarang. Ini waktu yang tidak tepat. Riri harus segera menghindar sebelum Rian menambah daftar di kertas itu.
"Aku tunggu di ruang makan ya Mas," ucap Riri.
Rian hanya tersenyum lalu mandi. Ia membiarkan Riri segera menemui Nyonya Helen. Ia tahu kalau istrinya sangat lembut dan mudah terbawa perasaan.
"Ma," panggi Riri saat melihat Nyonya Helen duduk di ruang keluarga.
"Sudah mandi?" tanya Nyonya Helen.
"Sudah Ma," jawab Riri.
Riri duduk di dekat Nyonya Helen. Ia memperhatikan Nyonya Helen yang tengah asyik memainkan ponselnya. Kaca mata tebal itu dibuka saat Nyonya Helen menyadari jika Riri memperhatikannya.
"Tadi ibumu ke sini," ucap Nyonya Helen.
"Apa? Kenapa Mama tidak meneleponku?" tanya Riri.
"Dia diantar kakakmu yang jahat itu. Mama rasa kamu harus memisahkan mereka," ucap Nyonya Helen.
Riri diam. Keluarganya memang sedang tidak baik. Ia tidak perlu menjelaskan semua itu karena Nyonya Helen memang sudah tahu keadaannya seperti apa. Namun untuk memisahkan ibunya dari kakaknya, Riri tidak berpikir sejauh itu.
Meskipun sebenarnya Riri tahu itu memang lebih baik untuk mereka berdua. Tapi Riri tahu rasanya dipisahkan dari keluarga seperti apa. Ia tidak mau masalahnya semakin besar dan berlarut-larut.
__ADS_1
"Memangnya mereka ke sini untuk apa?" tanya Riri.
"Si Rara memintamu untuk tinggal bersama mereka. Mama yakin kakakmu itu ada niat jahat," ucap Nyonya Helen.