
Setelah bersusah payah membujuk Tuan Wira, akhirnya Mia menyerah. Dion mengusap bahu Mia saat melihat raut kekecewaan diwajah cantik Mia.
"Ayo pulang Mi," ajak Dion.
"Iya A," ucap Mia.
"Hati-hati ya!" ucap Nyonya Helen.
"Pah, Mia sama Aa pamit ya!" ucap Mia.
"Iya. Kalian hati-hati di jalan. Salam buat kedua cucu Papa yang lucu," ucap Tuan Wira.
Mia mengangguk dan segera keluar. Nyonya Helen mengantar hingga ke teras depan. Melambaikan tangan saat mobil mulai melaju dan benar-benar meninggalkan rumah itu.
Selama dalam perjalanan, Mia enggan bicara. Ia hanya diam dan sesekali mengusap sudut matanya. Dion kasihan melihat Mia yang nampak bersalah.
"Sudah dong Mi," ucap Dion sambil mengusap punggung tangan Mia.
"Apa mungkin Papa marah sama Mia?" tanya Mia.
"Marah?" tanya Dion bingung.
"Ya mungkin karena saat itu Mia yang minta pindah. Jadi sekarang Papa tidak mah menerima Mia lagi di rumah itu," ucap Mia.
"Ya ampun Mi. Kamu kok mikirnya terlalu jauh begitu sih?" tanya Dion.
"Maafkan Mia. Tapi Papa menolak kita A," ucap Mia.
"Mi, jangan menyakiti dirimu hanya karena pikiranmu yang tidak-tidak itu. Sudah jelas Papa menolak kita hanya karena Naura dan Rendra tahu tentang ini. Papa tidak mau membuat mereka khawatir. Itu saja," ucap Dion.
Mia menunduk. Ya, benar kata Dion. Mungkin itu hanya pikiran buruknya saja. Dan ia juga berharap jika itu memang hanya pikiran buruknya. Mia tidak tahu bagaimana bersalahnya ia kalau ternyata pikiran buruknya itu adalah sebuah kenyataan.
"Mi, sudah ah. Jangan sampai anak kita sampai curiga ya!" ucap Dion mengingatkan.
Perjalanan pun terus berlanjut hingga akhirnya mobil melaju dan terparkir di depan rumahnya. Mia menatap wajahnya dari pantulan cermin yang ada di genggamannya.
"Kenapa?" tanya Mia saat Dion tertawa.
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?" Dion balik bertanya.
Dion tidak tahu kalau Mia sedang berusaha untuk belajar tersenyum agar tidak ada siapapun yang curiga atas kesedihannya. Ah tidak. Dion bukan tidak tahu. Ia hanya pura-pura tidak tahu. Tawanya hanya karena lucu dengan tingkah Mia yang nampak seperti ABG bersiap untuk selfie.
"Biar cantik," jawab Mia.
Dengan cepat Mia turun dari mobil dan pergi meninggalkan Dion. Ia berjalan lebih cepat dengan senyum yang melebar. Khawatir jika ada yang curiga dengan perasaanya saat ini.
"Mi, tunggu." Dion menarik tangan Mia.
"Apa sih A?" tanya Mia.
"Itu kamu tidak perlu nyengir begitu," ucap Dion.
__ADS_1
"Ah, Aa serba salah. Murung salah, senyum juga salah. Terus Mia harus gimana?" tanya Mia.
"Ini ada apa sih ribut-ribut begini?" tanya Tuan Felix.
"Papa," ucap Dion.
"Ini nih A Dion," ucap Mia kesal.
"Mi," ucap Dion menyikut Mia.
Mia yang tahu kode dari Dion malah semakin marah dan masuk ke dalam kamar. Sedangkan Tuan Felix hanya menatap kepergian Mia dengan penuh tanya. Dion jadi tidak enak dengan sikap Mia di hadapan Tuan Felix.
"Maaf ya Pah," ucap Dion.
"Kalian bertengkar?" tanya Tuan Felix.
Bertengkar? Dion segera mengelak. Ia menggeleng dengan cepat. Tidak ingin masalah bertambah runyam, Dion segera menjelaskan apa yang terjadi tadi. Tuan Felix dengan bijak memberikan pesan agar lebih sabar menghadapi Mia.
"Iya Pah. Aku mengerti," ucap Dion.
"Ya sudah, kamu istirahat sana!" ucap Tuan Felix.
Dion segera pamit dan menyusul Mia ke kamar. Seperti pesan yang ia terima dari Tuan Felix, ia harus jadi air saat Mia sedang menjadi api.
"Kalian masih saja bertengkar. Tidak malu dengan umur ya!" gerutu Tuan Felix.
Umur? Mendengar kata umur, Rian menahan tawanya. Rupanya sudah sejak tadi Rian melihat semua kejadian antara Mia dan yang lainnya. Ia memilih untuk tidak ikut campur secara langsung. Rian hanya sedang menyusun rencana untuk menemui Tuan Wira dan memberi pengertian.
"Sabar ya Kak. Aku janji akan bantu Kak Mia sebisaku," gumam Rian.
Dering ponsel membuat Rian segera membuka matanya. Bibirnya yang tersenyum berubah menjadi kesal saat tahu jika penelepon itu menggunakan nomor baru. Ia menjawab panggilan itu dengan wajah bingung.
"Halo Rian. Aku sangat merindukanmu," ucap si penelepon.
Rian segera mengakhiri panggilan itu kemudian bergidik. Tanpa menyebutkan siapa namanya, Rian sudah tahu siapa yang meneleponnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Maudi.
"Ihh, kenapa orang itu masih saja menggangguku? Tahu dari mana nomorku?" tanya Rian kesal.
Belum selesai rasa kesalnya, Maudi kembali meneleponnya lagi. Rian menolak panggilan itu dan segera mematikan ponselnya. Ia tidak mau memberikan celah sedikitpun pada Maudi. Bagi Rian, semua tentang Maudi sudah usai. Ia tidak mau ada komunikasi apapun dengan wanita yang sudah menjadi masa lalunya itu.
Terlelap semalaman, membuat Rian lupa kalau ponselnya mati. Pagi-pagi ia bangun saat Naura menggedor kamarnya. Alarmnya tidak berbunyi. Rian kesiangan lagi.
"Iya sebentar," ucap Rian sambil menggisik matanya.
Dengan kepala yang masih pusing, Rian membuka pintu. Naura sudah mengulurkan tangannya untuk berpamitan untuk pergi ke sekolah. Sudah berangkat? Jam berapa ini? Rian terbelalak saat melihat jam di dinding kamarnya. Ia menepuk dahinya saat kesiangan lagi.
"Om, nanti jemput aku ya!" ucap Naura.
"Siap," ucap Rian mengangkat jempol tangannya.
"Aku berangkat om. Dadaaaah," ucap Naura sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Daaaah," ucap Rian sambil membalas lambaian tangannya.
Melihat Naura sudah pergi, Rian menutup pintu kamarnya lagi. Namun baru saja beberapa langkah menuju kamar mandi, pintu kembali diketuk.
Kali ini suara Narendra yang terdengar. Rian membuka kembali pintu kamarnya. Sama seperti Naura, Narendra juga berpamitan untuk pergi ke sekolah. Hal yang hampir sama pun Narendra ucapkan, kalau ia ingin dijemput oleh Rian.
Narendra sudah pergi. Rian kembali menutup pintu kamarnya. Langkahnya belum mencapai kamar mandi namun pintu kamarnya sudah diketuk lagi. Suara Tuan Felix. Rian segera membuka pintu kamarnya.
"Kamu baru bangun?" tanya Tuan Felix sambil menerobos masuk.
Rian sampai mepet ke tembok karena Tua. Felix memaksa untuk masuk ke kamarnya.
"Papa kenapa tidak tunggu di luar saja?" tanya Rian.
"Oh jadi kamu mengusir Papa? Begitu?" Tuan Felix balik bertanya.
"Bukan begitu Pah. Maksudnga aku mau mandi dulu," jawab Rian.
"Ya sudah kalau mau mandi, mandi saja. Papa juga tidak mungkin ikut ke kamar mandi kok. Tenang saja," uvmcap Tuan Felix.
"Ya sudah aku mandi dulu," ucap Rian.
"Jangan lama-lama ya!" ucap Tuan Felix.
"Papa apaan sih? Geli deh telingaku, Berasa diingatkan sama pacar, ucap Rian sambil bergidik.
"Heh, anak kurang ajar. Jangan mikir macam-macam sama ayah sendiri. Kualat kamu," ucap Tuan Felix.
"Haha," Rian tertawa dan segera berlari ke kamar mandi.
Rian mandi lebih cepat dari biasanya. Ia tahu kalau Tuan Felix sedang menunggunya. Meskipun tidak ada yang tahu apa yang akan dibicarakan, namun Rian tahu kalau ada hal penting yang akan dibahas pagi ini.
"Pah, Pah," panggil Rian sambil menggosok kepalanya dengan handuk.
Rian bingung saat melihat tidak ada siapa-siapa di sana. Ia bahkan sampai membuka pintu kamarnya namun Tuan Felix tidak ditemukan.
"Yah, tadi katanya jangan lama. Giliran aku sudah selesai, orangnya malah kabur." Rian kembali mengeringkan kepalanya.
Rian mulai sadar jika ponselnya tidak ada. Sejak bangun tidur, ia belum memainkan ponselnya. Ia mencarinya karena belum memberi kabar pada Riri.
"Astaga, Mpus." Rian terbelalak saat melihat beberapa panggilan Maudi yang ia abaikan.
Mas, kenapa nomor kamu tidak aktif? Apa kamu sedang menghabiskan waktumu terlalu asyik sampai kamu takut terganggu olehku?
"Astaga Pus. Kamu kenapa sih?" gumam Rian.
Rian segera menghubungi Riri kembali. Namun sekarang giliran nomor Riri yang tidak aktif. Rian semakin gelisah. Pesan yang sangat panjang ia kirimkan untuk Riri. Tentunya penjelasan yang bisa diterima oleh Riri meskipun ia tahu kalau Riri akan kesal.
Maudi memang masih selalu membuat Rian jengkel. Ia memang mencintai bahkan menggilai Maudi. Tapi itu dulu. Saat ia belum bertemu dengan Riri.
Kehadiran Riri memang membuat warna baru dalam hidup Rian. Ia bisa menjadi bangkit dan lebih baik lagi berkat Riri. Banyak hal yang membuat Rian semakin mencintai Riri. Dari mulai sikapnya yang datar hingga perhatiannya yang kadang-kadang membuat Rian baper.
__ADS_1
"Pus, tolonglah. Mengerti keadaanku. Aku tahu kamu pasti sedang kecewa. Tapi kamu juga harus tahu kalau aku tidak mungkin berpaling darimu," gumam Rian sambil menggenggam erat ponselnya.
Salah paham yang lagi-lagi terjadi diantara mereka membuat Rian memijat kepalanya.