Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Aku harus mengejarmu


__ADS_3

Selang beberapa hari, Hiro mengerutkan dahinya saat membuka sebuah pesan dari Shelin. Share lokasi yang letaknya cukup jauh dari tempatnya. Tanpa membalas pesan itu, Hiro segera pergi menuju tempat Shelin berada.


Sudah sampai di lokasi itu, Hiro melihat ke sekeliling. Suasana pedesaan yang sangat kental. Sebelumnya ia tidak yakin jika itu adalah tempat yang dituju. Namun sebuah mobil yang biasa parkir di halaman rumah Shelin membuatnya yakin.


'Aku di luar'


Sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Hiro juga tidak berbalas. Hanya dalam hitungan menit ia bisa melihat senyum Shelin.


"Aku pikir kamu tidak akan ke sini," ucap Shelin.


"Aku kan temanmu. Mana mungkin aku membiarkanmu sendiri," ucap Hiro.


"Terima kasih," ucap Shelin penuh haru.


Keduanya duduk di bebangkuan di bawah sebuah pohon rindang. Udara yang sejuk membuat keduanya menikmati semilir angin yang berhembus.


"Aku tidak berani menerima kenyataan ini," ucap Shelin mengawali ceritanya.


"Kata siapa? Kamu sangat berani. Aku yakin kamu bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Keputusan yang kamu ambil sudah pasti kamu pertimbangkan sebelumnya. Dan aku yakin kamu hebat," ucap Hiro.


Pertama kalinya Hiro merasa begitu terenyuh melihat Shelin yang berusaha tegar di tengah sakit yang mendera. Ia meyakinkan dan menguatkan Shelin jika wanita itu tidak sendiri. Ingin rasanya Hiro menenangkan Shelin dalam dekapannya.


"Aku sangat mencintai dia," ucap Shelin dengan isak tangis yang mulai terdengar nyata.


"Aku tahu itu. Aku tahu. Tapi hati kamu terlalu baik hingga kamu mau melepaskannya begitu saja. Aku menyesal karena sudah hadir dalam hidupmu," ucap Hiro.


Ya, penyesalan mulai Hiro rasakan saat melihat Shelin begitu tersiksa denga keputusannya. Seandainya ia tidak datang, mungkin tidak akan ada kejadia seperti ini. Tapi pikiran itu ditentang oleh Shelin. Justru jika Hiro tidak ada, Maka Shelin akan terperangkap dalam sakit yang entah kapan baru terkuak. Tentu dengan rasa sakit yang semakin besar.


"Hiro, apa menurutmu jadi aku ini memalukan?" tanya Shelin.


Hiro menatap Shelin. Ia melihat Rian begitu sakit. Apa maksud pertanyaan itu?


"Apa tidak akan ada pria yang mau menikahiku setelah kabar ini menyebar luas?" tanya Shelin lagi.


Belum terjawab pertanyaan pertama, Hiro sudah dihadapkan dengan pertanyaan kedua yang semakin membuat rasa bersalahnya tidak bisa dibendung.


"Maafkan aku Shelin," ucap Hiro sambil menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Apakah iya? Aku memalukan sampai kamu tidak enak menajwab pertanyaanku?" tanya Shelin panik.


"Ah tidak-tidak. Bukan itu maksudku," ucap Hiro.


Hiro cukup terkejut dengan kesalahpahaman itu. Ia meminta maaf karena merasa sangat bersalah, bukan tidak enak untuk mengiyakan jawaban Shelin.


"Aku pikir begitu," ucap Shelin sambik cemberut.


"Jangan pernah berpikir seperti itu. Kamu adalah wanita baik. Aku yakin mereka akan mengerti keadaanmu," ucap Hiro.

__ADS_1


"Mungkin iya. Tapi tidak banyak. Atau bahkan hanya kamu yang tahu itu," ucap Shelin.


"Setidaknya kamu tahu kan kalau kamu tidak sendiri?" tanya Hiro.


Shelin mengangguk dan terenyum. Benar apa yang dikatakan Hiro, saat ini ia masih memiliki Hiro. Satu-satunya orang yang bisa ia ajak cerita semua masalahnya.


"Nah kalau begitu kan cantik," ucap Hiro.


"Jangan mencoba jadi buaya di depan pemburu ulung. Aku tidak akan bisa dijadikan korbanmu. Justru aku bisa saja menghabisimu," ucap Shelin


Hiro tertawa dengan lepas. Bisa-bisanya Shelin menudingnya sebagai buaya padahal pacaran saja bisa dihitung jari. Seandainya Shelin tahu, mungkin ia yang akan tertawa lepas karena mengejeknya.


Dari dalam rumah, kedua orang tua Shelin mengawasi anaknya dengan Hiro. Ibunya sempat marah dan akan menegur Hiro. Karena menurutnya, Hiro adalah penyebab atas semua ini. Namun ayahnya Shelin mengingatkan istrinya, bahwa Hiro adalah satu-satunya orang yang bisa membuat anaknya kembali tertawa lepas.


"Mau kemana Ma?" tanya ayahnya Shelin.


"Ke kamar," jawab ibunya Shelin dengan ketus.


Ayahnya Shelin mengikuti istrinya yang sedang marah itu dan berusaha menenangkannya. Meminta untuk bersikap baik pada Hiro, karena itu adalah salah satu cara yang bisa menghibur Shelin.


"Ingat ya Ma, jangan membuat Shelin sedih lagi." Ayahnya Shelin kembali mengingatkan.


"Iya, iya," jawab ibunya Shelin.


Waktu malam sudah tiba, mereka dibuat terkejut saat Hirp ternyata pulang. Ia tidak menginap seperti apa yang mereka duga.


"Pulang?" tanya ayahnya Shelin.


"Tapi ini sudah gelap. Perjalanan dari sini ke Jakarta juga tidak dekat. Kenapa dia tidak menginap saja?" tanya ayahnya Shelin.


"Tidak Pah. Katanya takut orang-orang sini mikir jelek kalau dia menginap," jawab Shelin.


Ibunya Shelin yang tidak berkomentar apapun ternyata diam-diam mulai menyadari kalau Hiro adalah anak baik. Buktinya dia mau pulang meskipun ini sudah gelap. Semua hanya karena menjaga nama baik Shelin. Seandainya dia pria jahat yang ingin menghancurkan Shelin, tidak mungkin jauh-jauh datang ke sini dan menghibur anaknya. Setelah itu pulang lagi meskipun jarak Jakarta dan kediaman Shelin cukup jauh.


Hampir dua minggu mereka mengasingkan diri dari Jakarta. Menghindari para wartawan yang selalu memburu Shelin. Bertanya tentang pertanyaan yang sama pada Shelin.


Hal yang menurut mereka hanya akan menghancurkan perasaan Shelin karena terus membahas luka hatinya. Hingga mereka memutuskan untuk menetap di sana. Menghindari ramainya suasana kota dan panasnya berita yang beredar tentang Shelin.


Hal diluar dugaan ternyata Shelin lakukan. Pagi ini ia meminta orang tuanya untuk kembali ke Jakarta. Menjalani kehidupan seperti biasanya. Namun mereka menolak karena yakin jika permintaan itu tidak benar-benar Shelin inginkan.


Selama dua minggu itu, Hiro datang dua kali untuk menemui Shelin. Mereka jadi berpikir, apa mungkin Hiro yang membuat Shelin berubah pikiran? Untuk apa? Apakah karena ia menginginkan Shelin berlarut dalam lukanya?


"Ma, Pa, ini adalah sebuah masalah yang aku buat. Maka aku harus siap menyelesaikan masalah ini. Aku harus menghadapinya, bukan malah lari begini. Kita pulang ya Ma!" ajak Shelin.


Mereka bertiga kembali berdebat. Namun akhirnya Shelin yang menang. Mereka memutuskan untuk kembali ke Jakarta besok. Itu pun tidak yakin untuk menetap kembali. Tergantung dari sikap Shelin nanti. Seandainya tinggal di Jakarta hanya akan menambah bebannya dan melukainya lagi, mereka akan mengambil rencana pertama. Ya, mereka akan menetap di sana dan meninggalkan Jakarta untuk waktu yang cukup lama.


Setelah akhirnya packing, mereka kembali ke Jakarta. Menghirup kembali banyak polusi dari jutaan kendaraan yang hilir mudik setiap hari. Bergelut kembali dengan kemacetan dan kegersangan yang sudah lama mereka tinggalkan.

__ADS_1


Sampai di depan rumah, Hiro sudah menunggu di depan rumah mereka. Shelin tersenyum senang saat melihat Hiro. Akhirnya Hiro membuktikan ucapannya. Hiro benar-benar menemani Shelin saat ia kembali ke Jakarta.


"Sudah lama?" tanya Shelin.


"Sudah semalam aku menunggumu di sini," jawab Hiro sambil tersenyum.


Hiro mencium tangan kedua orang tua Shelin bergantian meskipun penyambutan ibunya Shelin kurang mengenakkan. Tidak masalah, Hiro sudah sangat mengerti alasan ibunya Shelin bersikap seperti itu.


"Ayo masuk!" ajak Hiro.


"Tidak, terima kasih. Karena aku sudah memastikan kamu baik-baik saja, sekarang aku mau pulang." Hiro bersiap untuk pergi.


"Mau kemana?" tanya Shelin.


"Kuliah," jawab Hiro.


"Jangan bohong," ucap Shelin.


"Siapa yang bohong?" tanya Hiro.


"Kamu pergi karena sikap Mama yang ketus kan?" tuding Shelin.


"Jangan berburuk sangka padaku. Aku sama sekali tidak masalah dengan sikap ibumu. Aku benar-benar akan kuliah. Ini lihat jadwalku," ucap Hiro.


Hiro menunjukkan jadwal kuliahnya sore ini. Ia bahkan sudah terlambat tiga puluh menit. Hari ini Hiro memang sengaja mengambil kuliah sore karena ingin menunggu Shelin di rumahnya.


Shelin menatap Hiro nanar. Pria itu ternyata begitu tulus. Ia bahkan rela kesiangan hanya untuk menemaninya dulu.


"Maafkan aku ya," ucap Shelin sambil mengembalikan ponsel Hiro.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Hiro sambil menerima ponsel itu dan memasukkannya ke dalam tas.


"Gara-gara aku, kamu jadi telat kuliahnya." Shelin menatap Hiro dengan perasaan bersalah.


"Jangan begitu. Seharusnya aku berterima kasih karena kamu sudah membangkitkan kembali semangat kuliahku," ucap Hiro.


Ya, Shelin adalah salah satu orang yang membuatnya kembali bersemangat untuk kuliah. Ia harus menjadi sarjana agar tidak malu saat mendekati Shelin. Hah? Mendekati? Ah entahlah. Hiro perlahan merasa nyaman saat dekat dengan Shelin.


Setelah pergi dari rumah Shelin, Hiro segera menelepon Rian. Ia mengabarkan keadaan Shelin. Selama ini, Hiro yang selalu mengabari Rian setiap perkembangan Shelin. Ada rasa senang saat mendengar Shelin sudah mulai ceria kembali.


Rian semakin menyadari jika memang tidak ada cinta di hatinya untuk Shelin. Buktinya selama ini Rian tidak cemburu saat Hiro mendekati bahkan bisa dikatakan pengobat luka hati Shelin.


Mungkin selama ini rasa yang tersimpan di hati Rian hanya simpati karena kebaikan dan ketulusan Shelin saja. Tidak dipungkiri, jika Shelin memang cantik, tapi sampai saat ini hanya Riri yang bisa meluluhkan hatinya.


"Aku harus mengejarmu, Pus. Shelin sudah bahagia sekarang. Ada Hiro yang akan menjaganya," ucap Rian.


Tujuan Rian saat ini sudah mulai fokus. Ia siap untuk mengejar kembali cintanya yang sempat hilang dari genggamannya. Perjuangan itu dimulai dengan cara menghubungi Riri. Sayangnya tidak semudah yang ia bayangkan. Riri tidak seterbuka dulu saat menerima kehadiran Rian. Riri bahkan tidak menjawab panggilan darinya.

__ADS_1


Sudah lima kali Rian menghubungi Riri, namun semuanya diabaikan. Ia mengacak kasar rambut hitamnya. Menarik dalam napasnya. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia sadar kesalahannya sangat besar dan pasti sulit untuk Riri memaafkan kesalahannya. Tapi ia yakin jik rasa di hati Riri masih ada untuknya. Meskipun mungkin tidak sebesar dulu, namun ia yakin Riri masih mencintainya.


"Pus, aku tahu kamu bukan wanita yang mudah melupakan semua kenangan indah begitu saja. Tugasku saat ini adalah menguatkan kenangan itu. Aku harap perlahan hatimu terbuka dan bisa memaafkanku. Aku mau kita seperti dulu lagi," gumam Rian.


__ADS_2