
Pagi-pagi Shelin sudah bersiap. Ia terlihat lebih tenang dari kemarin. Ia bahkan sudah bisa tersenyum dan memeluk ibunya dengan hangat nan manja seperti biasa.
"Kamu tidak ke sekolah?" tanya ibunya.
"Tidak," jawab Shelin sambil menggeleng.
Ibunya menatap Shelin dengan kerutan di dahinya. Ia mencari jawaban kemana Shelin akan pergi pagi ini. Shelin memang tidak menggunakan seragam mengajar, namun pakaiannya terlalu rapi untuk hanya sekedar diam di rumah.
"Mau Mama temani ke mall hari ini?" tanya ibunya.
Pertanyaan yang bermaksud menyelidik kemana Shelin akan pergi. Berhasil! Kini ibunya tahu apa alasan Shelin sudah bersiap sepagi ini tanpa seragam ke sekolah.
"Kamu jangan terburu-buru Nak. Pikirkan ini matang-matang. Ini tentang masa depan kamu," ucap ibunya sambil mengusap pipi Shelin.
Wajah Shelin memang penuh beban, namun ia berusaha untuk tersenyum. Menenangkan dan meyakinkan ibunya tentang keputusan yang sudah diambilnya.
"Aku sangat mencintai dia Ma. Tapi dia tidak mencintaiku. Ketika bertahan, maka aku hanya akan sakit. Mama mengerti kan?" ucap Shelin menggenggam tangan ibunya.
Ibunya hanya menelan salivanya dengan sangat sulit. Ia tidak bisa mengiyakan karena resikonya memang akan sangat menyakitkan. Bahkan mungkin ia sendiri tidak akan sanggup.
"Rian anak yang baik. Mama yakin dia akan melupakan masa lalunya seiring berjalannya waktu. Percaya sama Mama ya," bujuk ibunya.
"Aku tahu Rian orang baik. Karena begitu baiknya, bahkan dia sampai rela patah hati hanya karena menjaga hatiku. Dan aku tidak akan bahagia dengan keadaan ini Ma," ucap Shelin.
"Sayang, Mama tahu ini berat. Tapi kamu bisa berpikir ulang. Mama yakin kamu akan mengambil keputusan yang terbaik. Tapi tidak dengan memutuskan pertunangan ini," ucap ibunya.
Shelin tersenyum. Ia mengerti maksud ibunya. Tapi ia tidak bisa lari dari kenyataan kalau Rian memang lebih mencintai wanita di masa lalunya dibanding dengan dirinya.
"Ma, maafkan aku kalau mengecewakan Mama. Tidak hanya kecewa, aku pasti akan mempermalukan keluarga kita. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku akan menyudahi ikatan ini," ucap Shelin.
"Jangan sayang. Mama mohon pikirkan lagi. Masih banyak waktu untuk menenangkan diri. Lagi pula Rian sudah berjanji untuk memperbaiki diri. Masa kamu tidak memberinya kesempatan?" tanya ibunya.
"Maaf Ma. Ini bukan soal kesempatan. Aku yakin Rian itu sangat baik dan bisa memperbaiki semuanya. Tapi aku tidak bisa menjamin jika rasa itu bisa hilang dari hatinya. Kebersamaan kita hanya akan jadi bom waktu. Semakin lama akan semakin membesar dan parah. Makanya aku lebih memilih mundur dari sekarang," ucap Shelin.
Tidak lama ayahnya datang dan memeluk Shelin. Menenangkan anaknya. Tidak seperti istrinya, ia lebih menyerahkan semuanya pada Shelin. Menurutnya, Shelin yang akan menjalani rumah tangga itu.
Ayahnya tidak mau jika Shelin menanggung beban seumur hidupnya. Ia yakin Shelin yakin dengan keputusan terbaiknya. Bahkan ia siap mengantar Shelin untuk menemui Tuan Wira.
"Pah, kok Papa tidak membujuk Shelin sih? Kenapa Papa malah mengantar ke rumah Tuan Wira?" bisik ibunya Shelin pada suaminya.
"Mama diam saja. Semakin Mama membujuk Shelin, dia akan semakin terluka. Sudahlah," ucap pria itu.
Ibunya Shelin hanya menghela napas panjang sambil mengerucutkan bibirnya. Ia kesal saat suaminya malah mendukung Shelin untuk memutuskan pertunangan itu. Menurutnya, wanita yang sudah pernah gagal bertunangan itu sulit dapat jodoh lagi.
__ADS_1
Tuan Wira baru saja keluar dari pintu rumah. Ia segera menyambut kedatangan Shelin dan kedua orang tuanya. Ada rasa bingung karena Rian sama sekali tidak memberi tahu rencana ini sebelumnya. Bahkan malam ini Rian tidak pulang ke rumahnya.
"Ayo masuk!" ajak Tuan Wira dengan hangat.
Penyambutan yang sangat baik dan membuat keluarga Shelin berat untuk mengutarakan maksud kedatangannya. Selama ini hubungan dua keluarga itu memang selalu baik-baik saja. Namun mungkin semuanya akan berubah setelah keputusan Shelin sampai ke telinga Tuan Wira.
"Apa? Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak. mengerti," ucap Tuan Wira dengan sangat terkejut.
"Mungkin Rian bisa menjelaskan semuanya. Kami tidak mau menambah runyam masalah ini," ucap ayah Shelin.
"Pak, tolong. Kita bisa bicara baik-baik," ucap Tuan Wira.
Nyonya Helen hanya diam saja. Ia sebenarnya sudah bisa menduga jika semua akan berakhir. Ia bahkan bersyukur saat mereka gagal sebelum terlambat.
"Ma, telepon Rian cepat!" ucqp Tuan Wira.
"Iya Pah," ucap Nyonya Helen.
Dengan cepat Nyonya Helen pergi dan menghubungi Rian. Perlu dua kali ia memanggil Rian karena panggilan pertamanya diabaikan. Saat ini Rian sedang di jalan dan kebetulan sudah dekat dengan rumah Tuan Wira. Sehingga hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke rumah Tuan Wira.
"Shelin," ucap Rian pertama kali saat melihat mereka semua sedang berkumpul.
Shelin tidak menjawab. Ia hanya menunduk setelah beradu pandang beberapa saat. Rian nampak melihat cincin yang diberikan untuk Shelin berada di atas meja. Ia segera berlutut dan menggenggam tangan Shelin.
"Maafkan aku Shelin. Maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Rian.
Kedua orang tua Shelin sama sekali tidak bicara. Ia membiarkan Shelin menyampaikan semuanya sendiri. Semua keputusannya, maka ia pula yang harus bertanggung jawab.
"Shelin, maaf jika Papa ikut campur. Tapi Papa yakin Rian akan merubah semuanya. Papa bisa memastikan itu," ucap Tuan Wira.
Rian menatap ke arah Tuan Wira. Pembelaan luar biasa yang membuat Rian tersenyum miris. Bahkan di saat salah pun Tuan Wira masih membelanya.
Terima kasih Pah. Aku janji tidak akan mengecewakan Papa lagi. Aku janji.
Rian kembali membujuk Shelin untuk mengurungkan niatnya. Tapi Shelin tetap pada keputusannya. Shelin yakin jika Rian akan baik dan tidak mungkin berpaling lagi. Namun Shelin juga meyakini jika selama itu pula Rian akan tersiksa karena memendam rasa pada Riri.
Belum lagi jika Riri datang lagi. Pertemuan sebentar saja akan membuat Rian kembali mengingat semua kenangan indah bersama Riri. Bahkan mungkin hanya mendengar namanya saja bisa menggetarkan hatinya.
Shelin tidak mau terjebak di sana. Saat ini ia mungkin akan sangat sakit. Tapi ia yakin bisa menemukan kebahagiaannya nanti. Walaupun ia tidak tahu kapan dan siapa yang bisa mengobatinya.
"Aku minta undang wartawan. Aku akan mengumumkan pembatalan pertunangan ini," ucap Shelin.
"Shelin, tidak perlu. Jangan berlebihan. Kita bisa menyelesaikan semuanya baik-baik saja," ucap Rian.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku tidak akan menyudutkanmu. Kita akan menyudahinya dengan baik-baik. Aku hanya tidak mau calon istrimu nanti dicap tidak baik karena perpisahan kita," ucap Shelin sambil menahan sakit.
Rian menatap wajah Shelin yang penuh dengan ketulusan. Ia malu sendiri karena sudah berpikiran yang tidak-tidak pada wanita itu. Ternyata Shelin sampai memikirkan Riri nanti. Tapi ia tidak yakin Riri mau kembali padanya. Apalagi setelah kejadian ini.
Rian pun menghubungi beberapa wartawan dan mereka mengumumkan berita yang tidak mengenakkan itu. Kini Rian dan Shelin resmi berpisah. Dengan cepat berita itu tersebar dan menjadi topik utama di kalangan para pengusaha. Tidak terkecuali keluarga Maudi.
Maudi nampak menyeringai melihat berita itu. Sedangkan Hiro hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hiro semakin yakin jika kakak yang selama ini dibelanya ternyata sangat jahat.
Tidak ingin melihat Maudi yang bahagia di atas penderitaan orang lain, Hiro segera pergi meninggalkan rumah itu. Ia ikut sakit mendengar berita itu. Karena bagaimanapun itu semua karena ulahnya. Maka hal yang ia lakukan adalah bertanggung jawab atas kesalahannya.
Rumah Shelin adalah tujuan Hiro saat ini. Namun saat melihat banyak wartawan yang menunggu di depan Rumah Shelin, ia mengurungkan niatnya. Rumah Shelin nampak tertutup rapat. Tidak ada satu pun yang keluar rumah dan menemui wartawan itu.
"Apa sih yang kalian mau? Apa semuanya belum jelas? Shelin sudah menjelaskan semuanya. Masih saja kalian kejar dia. Kasihan Shelin," ucap Hiro.
Hiro meninggalkan rumah Sheli dan hanya menghubungi Shelin melalui sambungan telepon. Ia beberapa kali menghubungi Shelin tanpa menghentikan mobilnya.
"Angkat dong Shelin. Kamu kemana sih?" tanya Hiro panik.
Sudah tiga kali panggilan Hiro diabaikan oleh Shelin. Bahkan saat panggilan keempat, nomornya sudah tidak aktif. Sempat terpikir untuk menelepon Riri, tapi Hiro mengubah pikirannya. Ia tidak mau masalah semakin melebar. Ia yakin Riri akan menghubunginya saat berita itu sudah sampai padanya.
Ternyata benar. Tidak menunggu sehari, Riri sudah menghubunginya. Dari ucapannya, wanita itu terdengar begitu gelisah. Hiro meminta maaf sebelum akhirnya mereka saling bercerita satu sama lain.
"Kalau saja kamu tidak membahas semua itu, mungkin semuanya tidak akan runyam begini," ucap Riri.
Hiro merasa semakin bersalah saat Riri ikut menyalahkan dirinya. Ia berkali-kali meminta maaf. Tapi benar kata Riri. Saat ini kata maaf tidak berarti apapun. Percuma, tidak akan mengubah keadaan.
Benar dugaan Hiro, Riri bahkan tidak mau bertemu dengan Rian lagi. Tentu saja hal ini membuat Hiro semakin bersalah. Tujuannya adalah menyatukan dua orang yang saling mencintai. Tapi kenyataannya ia sudah melukai banyak orang.
"Ah, kenapa jadi begini sih?" ucap Hiro sambil memukul setirnya dengan kesal.
Saat ini Hiro merasa buntu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kembali ke rumahnya. Ah tidak, ada Maudi di sana. Ia kembali ke apartemennya. Menyendiri di sana. Menghabiskan beberapa batang rokok dalam waktu yang cukup singkat.
Kepulan asap rokok baru berhenti saat Shelin menghubunginya. Ia segera menjawab panggilan itu. Pertama kali yang ia dengar adalah isak tangis Shelin. Membuat rasa bersalah itu semakin besar. Dadanya terasa sesak saat mendengar Shelin memangis.
"Kamu dimana?" tanya Hiro.
"Aku di luar kota," jawab Shelin.
"Dimana? Aku ingin bertemu denganmu," ucap Hiro.
"Untuk apa? Untuk menertawakan kegagalanku?" tanya Shelin.
"Shelin, ayolah. Aku ini temanmu kan?" tanya Hiro.
__ADS_1
"Aku sedang tidak butuh teman," jawab Shelin.
Ya, Hiro mengerti. Saat ini Shelin pasti butuh waktu untuk sendiri. Ia mencoba memahami Shelin dan akan menemuinya saat Shelin sudah siap bertemu dengannya.