Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Tidak perlu berdebat


__ADS_3

Rian duduk termenung memandangi list target yang harus dicapainya. Ia merasa apa yang ia lakukan tidak akan bisa membalas jasa semua orang yang sudah membantunya. Sampai akhirnya Tuan Wira yang masuk ke kamarnya menyadarkannya.


"Apa ini?" tanya Tuan Wira.


"Papa sudah pulang? Aku pikir masih di luar kota," ucap Rian yang berusaha mengalihkan pembahasan.


"Papa tanya ini apa?" tanya Tuan Wira sambil mengambil kembali kertas itu.


"Tidak Pah. Ini bukan apa-apa," jawab Rian.


"Apanya yang tidak apa-apa?" tanya Tuan Wira sambil menyimpan kertas itu di atas meja.


Gebrakan tangannya membuat Rian tersentak. Ia terkejut dengan tanggapan Tuan Wira yang begitu marah padanya.


"Papa marah?" tanya Rian.


"Papa mau kita bahas di luar. Ikut Papa dan bawa kertas itu," jawab Tuan Wira.


"Pah, maafkan aku kalau aku salah. Tapi jujur saja aku tidak tahu dimana letak kesalahanku," ucap Rian.


Tuan Wira menggelengkan kepalanya. Ia menatap Rian dengan sangat lekat.


"Kamu mau tahu kesalahanmu? Papa tunggu di luar. Papa akan jelaskan apa kesalahanmu," jawab Tuan Wira.


Tuan Wira melangkah meninggalkan kamar Rian. Sementara Rian hanya menatap kertas itu. Ia melihat tulisannya dari atas hingga bawah. Ia masih bingung apa yang membuat Tuan Wira sebegitu marah padanya.


Rian kembali melihat nominal dan deskripsi yang ia tulis. Ia merasa kalau angka dan deskripsi yang ia tulis sudah sesuai. Adapun perbedaan angka menurutnya hal yang wajar. Secara perhitungan, Mia dan Dion jauh lebih banyak berkorban untuk dirinya.


Merasa sudah terlalu lama ia menatap kertas itu, Rian segera keluar. Biar Tuan Wira yang menjelaskan setelah akhirnya ia tidak menemukan jawaban atas kemarahan ayah angkatnya itu.


Saat Rian ke ruang keluarga, sudah ada Tuan Wira dan Nyonya Helen di sana. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang memicu kemarahan Tuan Wira. Apalagi saat semua harus dibahas bersama Nyonya Helen. Seserius apa sebenarnya masalah yang sudah ia perbuat?


"Duduk!" ucap Tuan Wira.


Rian duduk di hadapan Tuan Wira. Ia masih memegang kertas itu dalam penuh tanya.


"Mana kertas itu," pinta Tuan Wira.


Rian menyerahkan kertas itu tanpa bersuara. Ia hanya diam memendam banyak pertanyaan di kepalanya.


"Lihat ini Ma," ucap Tuan Wira sambil menyerahkan kertas itu pada Nyonya Helen.


Nyonya Helen membaca kertas yang ia terima. Perlahan dahinya mengkerut hingga akhirnya matanya menatap tajam Rian. Rian semakin dibuat bingung dengan ekspresi Nyonya Helen setelah selesai membaca list targetnya dalam kertas itu.


"Apa yang ada di kepalamu Rian?" tanya Nyonya Helen.

__ADS_1


Pertanyaan yang sama sekali tidak bisa Rian jawab. Ia bingung sendiri dengan pertanyaan yang diterimanya.


"Ma, jujur saja aku tidak mengerti dengan pertanyaan Mama dan Papa. Apa yang salah?" tanya Rian.


"Kamu masih bertanya apa salahmu? Ini salahmu Rian," ucap Nyonya Helen sambil menunjukkan kertas itu.


Rian diam saat Nyonya Helen menjawab pertanyaannya dengan nada yang cukup tinggi. Ia bisa merasakan kalau ibu angkatnya itu tengah marah padanya.


"Apa ini? List target? Target apa? Balas budi? Kamu benar-benar keterlaluan Rian," ucap Nyonya Helen sambil menangis.


"Ma, jangan menangis. Maafkan aku kalau aku salah. Tapi aku masih tidak mengerti. Sesalah apakah aku sampai Mama begitu marah dan sakit?" tanya Rian.


"Mama pikir kamu sayang sama Mama dan Papa. Mama rasa kamu benar-benar bagian dari keluarga ini. Ternyata Mama salah. Kamu sama sekali tidak menganggap Mama ini ibu kamu," jawab Nyonya Helen.


"Kamu keterlaluan Rian," tambah Tuan Wira.


Rian hanya bisa menelan salivanya. Ia juga merasa bersalah saat melihat Nyonya Helen menangis dengan tersedu. Ingin rasanya ia memeluk dan menenangkan Nyonya Helen. Tapi sudah ada Tuan Wira yang melakukan itu semua.


"Ma, Pah, maafkan aku. Maafkan aku kalau semua yang aku lakukan sudah sangat menyakiti dan mengecewakan kalian. Aku yang salah," ucap Rian.


"Mama tidak mau kalau kamu berpikir tentang balas budi. Karena itu artinya kamu tidak menganggap kami keluarga. Mana ada balas budi di keluarga?" ucap Nyonya Helen disela isak tangisnya.


Rian baru menyadari kalau apa yang ia pikirkan ternyata tidak diterima oleh mereka. Kalimat balas budi yang ia tuliskan memang tidak sepantasnya. Ia segera memburu Nyonya Helen dan bersujud di kakinya sambil menangis.


"Jangan marah Ma. Aku minta maaf. Aku salah. Aku sama sekali tidak tahu kalau ini akan menyakiti Mama dan Papa. Aku hanya merasa kalau hidupku terlalu beruntung saat bertemu dengan keluarga ini," ucap Rian.


"Aku tidak akan bangun sebelum Mama memaafkanku," ucap Rian.


"Iya, Mama memaafkanmu. Bangun Rian," ucap Nyonya Helen.


Rian bangun dan duduk di samping Nyonya Helen. Ia memeluk wanita itu dengan penuh kasih sayang. Tidak ingin kesalah pahaman ini berlanjut, Rian segera menjelaskan bahwa ia sangat menyayangi Nyonya Helen dan Tuan Wira.


Hidup sebatang kara namun akhirnya berhasil menjadi seorang pemimpin di perusahaan besar adalah sebuah kemustahilan, kalau seandainya ia tidak bertemu dengan mereka. Keluarga yang penuh kehangatan dan ketulusan. Rian sama sekali tidak pernah menyangka jika hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat.


"Lalu kenapa kamu berpikir untuk membalas budi kalau kamu menganggap kami keluarga?" tanya Nyonya Helen.


"Aku hanya berpikir jika yang aku dapatkan terlalu banyak. Maka sudah sepantasnya aku menyisihkan penghasilanku untuk semua ini," jawab Rian.


"Kamu pikir saat kami pergi nanti kami tidak memikirkan asuransi untuk anak dan cucu kami?" tanya Tuan Wira.


"Tidak Pah. Sama sekali tidak seperti itu. Aku tidak berpikir begitu," ucap Rian.


Tuan Wira menjelaskan kalau tabungan untuk masa depan cucunya sudah disiapkan. Rian tidak perlu memikirkan semua yang bukan tanggung jawabnya. Melihat Rian sudah bertanggung jawab atas dirinya saja membuat Tuan Wira sudah senang dan tenang.


"Ri, apa ini alasan kamu belum memberi rumah?" tanya Nyonya Helen.

__ADS_1


"Bukan Ma. Aku hanya belum menbutuhkan rumah," jawab Rian.


"Lalu kenapa kamu menyewa rumah?" Tanya Nyonya Helen.


"Itu karena di sana ada Rina. Dia teman aku yang bisa jadi teman curhatku," jawab Rian.


"Lalu kenapa kamu belum menikahi Mpus? Apa karena uangnya sibuk kamu investasikan untuk balas budi?" tanya Tuan Wira.


Rian bahkan belum mengabari Nyonya Helen jika sudah melamar Riri. Ya meskipun secara virtual, tapi lamaran itu sudah diterima. Rian juga sudah menabung untuk pesta pernikahan yang ia mimpikan selama ini.


"Kamu menyiapkan semuanya? Lalu kapan kamu menikmati hasil usahamu? Kamu masih muda untuk memikirkan hal yang terlalu jauh," ucap Tuan Wira.


Ya, selama ini Rian memang selalu menyimpan uangnya. Dari begitu banyak keuntungan yang ia peroleh dari jerih payahnya, Rian selalu menyisihkannya untuk berbagai hal. Ia bahkan tidak pernah menghabiskan uangnya untuk sekedar main dengan teman-temannya.


Teman? Ah mungkin bisa dikatakan jika Rian tidak punya teman. Uang yang ia keluarkan hanya untuk memanjakan Naura dan Narendra saja. Jika dibandingkan dengan penghasilannya, itu semua tidak ada apa-apanya. Ia sangat menata keuangannya dengan baik.


Kalau ditanya untuk apa, jawaban Rian pasti akan membuat mereka berpikir macam-macam lagi. Rian merasa apa yang ia dapatkan bukan sepenuhnya miliknya. Kadang ia sempat berpikir jika suatu saat ia akan ditanya tentang uang yang ia peroleh.


"Aku sudah cukup senang saat bertemu dengan Pak Manto dan Kak Danu di kantor. Aku juga sering ada acara makan siang atau makan malam bersama rekan-rekanku. Di rumah juga sudah ada Naura dan Rendra. Ada Mama dan Papa juga dan yang lainnya. Apa yang kurang?" ucap Rian.


Nyonya Helen segera memeluk Rian dengan penuh keharuan. Ia tidak menyangka jika Rian menganggap keluarganya begitu berarti. Ia juga miris dengan kehidupan Rian yang hanya tentang bekerja dan keluarga.


"Kapan kamu akan menikah? Mama akan menyiapkan semuanya. Anggap saja ini sebagai kado dari Mama dan Papa untuk pernikahan kalian," ucap Nyonya Helen.


"Belum ada bahasan pasti tentang pernikahan Ma. Aku masih menunggu Mpus," ucap Rian.


"Hey kamu itu laki-laki. Seharusnya kamu yang memberi kepastian," ucap Nyonya Helen.


Ada ketakutan yang membuat Rian harus mempersiapkan dirinya sendiri atas jawaban Riri, yang mungkin akan sangat berat untuk disepakati. Saat ini Riri adalah seorang pemimpin di perusahaan besar di Jerman. Ia rasa Riri tidak mungkin meninggalkan perusahaan itu hanya karena menikah dengannya.


Jawaban Riri yang mungkin akan sembilan puluh sembilan persen untuk tetap di sana akan membuat dirinya kecewa. Tapi apa boleh buat. Nyatanya ia tidak bisa kehilangan Riri dari hidupnya. Ia bahkan mampu bertahan selama hampir dua tahun tidak bertemu dengan Riri.


Rian rasa ia bisa melewati rumah tangga dengan jarak yang terpisah jauh. Namun yang Rian khawatirkan adalah respon Tuan Wira dan keluarga yang mungkin tidak akan setuju dengan keputusan Riri.


"Iya Ma. Secepatnya aku akan bahas semua ini sama Mpus. Mama bantu doa ya biar semuanya berjalan dengan lancar," ucap Rian.


"Tentu. Mama tentu akan selalu mendoakan kamu Ri. Kamu anak Mama. Tidak ada bedanya antara kamu sama Dion," ucap Nyonya Helen.


Tidak ada bedanya? Bahkan sekarang Nyonya Helen merasa lebih dekat dengan Rian dibanding Dion, anak kandungnya sendiri. Dion yang sudah berumah tangga dan sibuk dengan pekerjaannya membuat mereka jarang bertemu. Sekalinya bertemu, tidak bisa seperti dulu. Sudah ada Mia dan kedua anak kembarnya. Dion tidak lagi seperti dulu.


Kehadiran Rian adalah obat saat dirinya merindukan Dion. Itu alasan Nyonya Helen merasa kesal saat Rian tidak pulang ke rumahnya.


"Nanti kalau kamu menikah sama Mpus, kamu tetap tinggal di sini kan?" tanya Nyonya Helen.


Pertanyaan yang berhasil membuat Rian tersentak. Kembali dengan kesedihan dan kepiluannya jika membahas semua itu.

__ADS_1


"Ma, jangan membebani Rian. Namanya rumah tangga pasti mereka ingin mandiri. Tugas kita mendukung saja yang penting mereka bahagia," ucap Tuan Wira.


Ma, Pah, tidak perlu berdebat. Karena mungkin setelah menikahpun semuanya tidak akan berubah. Aku akan tetap di sini dan Mpus di sana. Ah, miris sekali hidupku.


__ADS_2