
Semalaman Rian gelisah saat mengingat semua tingkah Maudi. Hanya Mia yang bisa membantunya. Ia mengirim pesan pada Mia, menanyakan kesibukan kakaknya itu. Mia yang kebetulan sedang bersantai, segera menghubungi Rian. Ia tahu jika Rian ingin menghubunginya namun takut mengganggunya.
Senyum Rian mereka saat menerima panggilan Mia. Dengan basa basi, Rian menanyakan kabar keluarga Mia.
"Sudah, langsung saja. Kamu kenapa lagi?" tanya Mia.
Rian hanya bisa tertawa saat Mia sudah tahu apa yang ingin ia sampaikan.
"Maudi terus menerorku. Ia seolah membuat aku agar selalu ingat padanya. Ia ingin membuatku mati penasaran," ucap Rian.
"Husst, kamu kalau ngomong hati-hati ah. Makanya cari pacar baru," ucap Mia.
"Iya, nanti aku cari Kak." Rian mengiyakan mesti ia sama sekali tidak meyakini hal itu.
"Jangan iya-iya saja," ucap Mia.
"Memangnya cari cari pacar seperti cari permen jatuh di selokan kak? Nanti dong. Sabar," ucap Rian.
"Sabar juga harus disertai dengan usaha. Kalau sabar hanya diam saja, itu bukan usaha." Mia jadi kesal.
"Terus apa dong?" tanya Rian.
"Pasrah. Dan pasrah itu hanya untuk orang yang pesimis. Kamu itu masih muda. Harus optimis. Masa kuliah dengan beasiswa saja bisa. Kok cari pacar angkat tangan?" ejek Mia.
"Ih, siapa yang angkat tangan? Aku hanya minta waktu saja," ucap Rian.
"Haha.. Iya, tenang saja. Semua akan datang di waktu yang tepat," ucap Mia.
"Nah itu Kakak pintar. Tahu kan maksud aku?" tanya Rian.
"Hemmm," ucap Mia.
"Jangan cuma hemm dong," ucap Rian.
"Lalu aku harus gimana? Wow?" tanya Mia.
"Ya komen apa saja Kak. Asal jangan hemm," jawab Rian.
"Malas aku komen panjang-panjang sama kamu," ucap Mia.
"Loh kenapa?" tanya Rian.
"Kamu curhatnya itu-itu aja. Kalau tidak tentang Maudi ya Mr. Aric. Tidak ada topik lain yang menarik," jawab Mia.
"Ya sudah nanti aku cari topik yang lain," ucap Rian.
Setelah lama membahas cari pacar baru yang tidak kunjung dilakukan oleh Rian, akhirnya Mia memberi solusi lain. Rian sangat antusias bertanya tentang solusi yang Mia maksud.
__ADS_1
"Tapi aku tidak yakin jika kamu bisa," ucap Mia.
"Eh, apa dulu. Siapa tahu aku bisa," ucap Rian.
Mia menjelaskan jika apa yang Maudi lakukan hanya ingin membuat Rian tidak bisa melupakannya. Sampai akhirnya nanti Rian menyerah dan meminta Maudi untuk menjadi kekasihnya lagi.
"Jadi Maudi sebenarnya masih suka padaku?" tanya Rian.
"Aku tidak yakin dia suka padamu," jawab Mia.
"Lalu buat apa dia menginginkanku menjadi pacarnya lagi?" tanya Rian.
"Aku rasa dia hanya terobsesi padamu. Dia ingin menjadi pacar seorang mahasiswa pintar seperti kamu," jawab Mia.
Rian diam sebentar. Masuk akal. Maudi selalu ingin menjadi nomor satu. Lagipula Rian memiliki paras yang tampan, pintar, serta anak seorang pengusaha ternama di Jerman.
"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Rian.
"Ikuti alurnya," jawab Mia.
"Alur yang mana?" tanya Rian.
"Dia ingin kamu cemburu dan memintanya kembali. Tunjukkan rasa cemburumu di hadapannya. Terus saja bersikap seperti itu tanpa harus membuat kepastian untuknya," jawab Mia.
"Bukankah itu jahat Kak?" tanya Rian.
Mungkin memang terkesan jahat. Namun Mia memilili misi tersendiri. Ia tahu jika Rian sangat mencintai Maudi. Biarkan seolah Rian jatuh ke dalam perangkap Maudi, tapi nanti Maudi yang harus masuk ke dalam perangkapnya.
Rian yang memang tidak punya pengalaman dengan wanita dan cinta, hanya mengandalkan Mia untuk mengendalikan perasaan dan kegelisahannya.
Semua yang Mia sarankan hanya akan ia ikuti. Namun kali ini rasanya Rian ragu. Ia tidak mau jika terlaku berinteraksi dengan Mia. Ya, ide Mia kali ini cukup gila untuk Rian.
Mia meminta Rian seolah mengejar Maudi. Namun jangan sampai Rian yang memintanya kembali. Buat Maudi kembali bergantung padanya. Setelah itu, baru setir Maudi. Biarkan Maudi yang mengejarnya. Ubah Maudi menjadi wanita yang baik jika ia sudah benar-benar dalam kendali Rian.
"Bagaimana?" tanya Mia.
"Idenya terlalu ekstrim. Aku berani berani," jawab Rian.
"Kenapa? Ini namanya taktik dan strategi," ucap Mia.
"Aku takut justru nanti aku yang benar-benar jatuh dalam perangkap Maudi. Aku tidak bisa semudah itu menghindar dari Maudi," ucap Rian.
"Apa bedanya dengan sekarang?" tanya Mia.
"Maksudnya?" tanya Rian.
Ya sebenarnya memang tidak ada bedanya. Sekarang pun ia sudah jatuh dalam perangkap Maudi. Kegelisahan Rian saat ini adalah salah satu kekalahannya. Mia ingin kekalahannya ini menjadi batu loncatan agar nantinya Rian yang menang.
__ADS_1
"Bukankah kamu menginginkan Maudi untuk menjadi teman hidupmu?" tanya Mia.
Diamya Rian adalah tanda ia mengiyakan pertanyaan Mia. Namun Rian mengalihkan pembicaraan dengan menyudahi bahasan tentang Maudi. Kini Rian membahas tentang keponakan kembarnya yang sudah smakin besar dan pintar.
Panggilan berakhir saat Narendra dan Naira sudah mulai merengek ingin bertemu. Ia tidak tega melihat dua keponakan kembarnya menangis. Ia juga berjanji akan mengajaknya bermain lagi kalau pulang ke Indonesia.
Saat malam, ketika tubuhnya sudah ada di atas ranjang, Rian kembali mencerna setiap saran dari Mia. Konyol mungkin, dan ia merasa sangat tidak sanggup melakukan hal itu.
Apa mungkin aku bisa? Sedangkan setiap kali bertemu dengan Maudi saja sudah membuat aku semakin jatuh hati padanya.
Entah jam berapa Rian mulai terlelap. Ia bangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Dengan mata yang masih tertutup rapat, Rian meraba mencari letak ponselnya dan mematikan alarmnya.
Sebentar ia berusaha masuk ke dalam tidur nyenyaknya kembali. Namun mata yang masih tertutup itu tidak lantas membuatnya terlelap. Akhirnya Rian mengucek matanya dan menguap.
Perlahan Rian turun dari ranjangnya dan ke kamar mandi. Hari ini ia masuk siang. Masih ada waktu untuk mengerjakan tugas yang belum sempat terselesaikan.
"Rian," panggik Tuan Felix sambil mengetuk pintu kamar Rian.
"Iya Pah," jawab Rian.
Tidak lama Rian membuka pintu kamarnya. Tuan Felix nampak melihat ke dalam kamar Rian yang masih berantakan.
"Kamu kesiangan?" tanya Tuan Felix.
"Tidak," jawab Rian.
Rian masuk dan membuka lebar pintu kamarnya. Membiarkan Tuan Felix masuk dan melihat apa yang sedang ia kerjakan. Rian duduk kembali di hadapan laptop canggih yang baru saja ia peroleh dari Tuan Felix.
"Tugas?" tanya Tuan Felix menunjuk laptop yang sedang dioperasikan Rian itu.
"Iya Pah," jawab Rian.
"Kenapa baru dikerjakan?" tanya Tuan Felix.
Rian hanya tersenyum saat mendapat pertanyaan dari Tuan Felix. Tidak mungkin jika ia harus jujur tentang kegelisahannya semalaman hanya karena Maudi.
"Selesaikan sebelum waktunya dikumpulkan. Semangat ya belajarnya!" ucap Tuan Felix menepuk bahu Rian.
"Siap Pah," jawab Rian.
Tuan Felix keluar dan bersiap ke kantor. Saat akan sarapan, Tuan Felix kembali memanggil Rian untuk sarapan bersama. Bukan karena ingin ditemani, tapi karena ia tidak ingin Rian melupakan sarapannya hanya karena tugasnya.
"Sarapan dan makan siang tepat waktu. Jaga kesehatan," ucap Tuan Felix.
"Iya. Papa tenang saja. Aku pasti akan menjaga pola makanku," ucap Rian.
"Kamu tahu kan kalau kesehatan itu mahal?" tanya Tuan Felix mengingatkan.
__ADS_1
"Iya," jawab Rian.
Rian menyadari jika harta yang sangat tidak tenilai itu adalah kesehatan. Percuma banyak uang jika ujung-ujungnya uang itu hanya akan ia berikan pada seorang dokter. Pola hidup sehat juga selalu Tuan Felix kenalkan dan terapkan pada Rian.