
Pekerjaan yang terlalu banyak, membuat Rian keteteran. Ia sampai jatuh pingsan saat di kantor. Dengan sigap Manto membawa Rian ke rumah sakit.
Perlahan mata Rian terbuka. Silau, cahaya membuat matanya semakin sulit untuk terbuka. Melihat gerakan Rian, Manto segera mendekat. Mencoba mengguncang pelan tubuh Rian yang masih lemas.
"Pak," ucap Manto.
Rian memijat kepalanya yang terasa sakit. Ia bingung dengan keberadaannya. Lalu Manto menjelaskan bahwa ia pingsan saat di kantor.
"Pingsan?" tanya Rian.
Selama hidupnya, baru kali ini ia pingsan. Selelah itukah Rian dengan pekerjaannya? Ah, Rian justru berpikir kalau ia memang tidak siap. Ia kecewa pada dirinya sendiri. Namun Manto menepis pikiran Rian.
Bukan tidak siap. Justru menurut Manto, Rian terlalu bersemangat hingga ia tidak memperhatikan kesehatan tubuhnya. Kurangnya jadwal istirahat dan makan membuat Rian pingsan.
"Bapak jangan terlalu memporsis diri. Kalau sudah lelah, sebaiknya istirahat. Semuanya bisa dilakukan bertahap. Jangan memaksakan diri," ucap Manto.
Obrolan mereka terhenti saat Mia dan Dion sudah tiba. Nampak jelas kekhawatiran pada keduanya. Manto sedikit menjauh. Memberikan ruang kepada mereka bertiga untuk saling bicara.
Dari sudut ruangan, Manto melihat ketiganya akrab dan sangat dekat. Jika saja ia tidak tahu tentang Rian, mungkin ia akan menyangka jika Rian memang adik kandung Dion dan Mia. Sama sekali tidak terlihat canggung.
"Pak Manto," panggil Mia.
"Iya Nyonya," ucap Manto sambil segera mendekat.
"Terima kasih sudah membawa Rian ke sini," ucap Mia.
"Tidak perlu berterima kasih Nyonya. Itu sudah menjadi tugas saya," ucap Manto.
Bukan hanya Rian, Dion juga mengakui kinerja Manto. Ia selalu mendapat laporan tentang Manto. Tidak ada yang mengecewakan. Manto memang tepat ditempatkan di kantor itu.
"Kalau saja bisa, aku akan menarik Pak Manto ke perusahaan Papa," ucap Dion.
"Enak saja. Pak Manto itu sudah menjadi bagian dari perusahaan aku ya Kak. Jangan pernah mencoba merayu Pak Manto untuk pindah kerja," ucap Rian.
Semua tertawa saat melihat Rian begitu serius menanggapi ocehan Dion tentang Manto. Orang yang selalu dipuji oleh Rian itu hanya bisa bersyukur karena pekerjaannya tidak mengecewakan atasannya.
"Ri, Papa." Mia memberikan ponselnya pada Rian.
Rian berdeham. Mengumpulkan semua energinya untuk tidak terdengar lemas. Namun sayangnya Tuan Felix tetap khawatir. Kabar yang diterimanya dari Mia membuat Tuan Felix nampak bersedih.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Pah," ucap Rian.
"Sudah Papa bilang, kalau kamu lelah berikan semuanya pada Manto. Papa sengaja menempatkan Manto agar bisa menghandle pekerjaan yang terlalu berat," ucap Tuan Felix.
Rian tersenyum. Kekhawatiran itu justru membuatnya semakin tidak percaya diri. Ia memang masih kalah jauh dengan Manto. Padahal selama ini, Tuan Felix sering bangga padanya karena cekatan.
Semenjak ada Pak Manto, aku tidak cekatan sama sekali. Papa pun memintaku untuk menyerahkan semuanya pada Pak Manto. Aku memang tidak berguna.
"Jangan dong Pah. Biarkan Rian terus berjuang. Baru saja diinfus begini," ucap Mia sambil tertawa.
Ya, Mia tahu kalau Rian sempat tertekan dengan ucapan Tuan Felix. Mia bisa membaca wajah sedih Rian. Ia tidak ingin Rian merasa tidak berguna dibanding Manto.
"Iya. Kak Mia tenang saja. Aku pasti bisa," ucap Rian.
"Harus dong. Kamu lebih muda dari Pak Manto. Harusnya Pak Manto yang kalah. Aku yakin nanti Pak Manto yang diinfus karena lelah mengikuti gaya kerjamu," ucap Mia.
Lagi-lagi ucapan Mia membuat Rian kembali bersemangat. Ia akan membuktikan kalau ia bisa.
"Papa jangan khawatir. Aku akan terus belajar untuk menyeimbangkan antara kerja dan istirahat," ucap Rian.
Tuan Felix senang mendengar semangat Rian yang begitu membara. Ia juga berpesan agar Manto tetap mengawasi Rian. Tanpa Rian tahu, setiap hari Manto mengirimkan laporan tentang pekerjaan ada Tuan Felix.
Semua perubahan dan perkembangan yang terjadi pada Rian jelas terpantau oleh Tuan Felix. Manto tidak hanya bekerja sebagai partner Rian, tapi ia juga mata-mata untuk Rian.
Ada satu yang membuat hatinya bertanya. Malam ini belum terlalu larut, namun Naura dan Narendra tidak menyambutnya. Apakah mereka sudah tidur? Atau karena mereka sudah tidak peduli lagi padanya?
Pikiran buruk itu terhenti saat dering ponsel terdengar nyaring di telinganya. Saat melihat nama Riri, Mia segera mengantar Rian ke kamar.
"Jangan tidur terlalu malam," ucap Mia.
"Siap Kak," ucap Rian.
Saat sampai di kamar, panggilan Riri memang sudah berakhir. Namun ia melihat sebuah pesan dari wanita itu. Bibirnya tersenyum saat membaca isi pesan yang ia terima. Rasa khawatir Riri membuat Rian yakin jika wanita itu benar-benar tulus.
Rian menghubungi Riri. Ia tidak mau Riri khawatir padanya. Baginya, Riti harus tahu kalau dia kuat dan bisa. Tidak lemah begini.
"Syukurlah kalau Mas sudah baikan. Aku ikut senang mendengarnya. Sekalian aku mau memberi tahu Mas, keberangkatanku ke Indonesia dipercepat." Riri terdengar gelisah.
"Kapan?" tanya Rian.
__ADS_1
"Besok," jawab Riri.
"Bagus dong," ucap Rian senang.
"Kok bagus?" tanya Riri.
"Ya bagus, kita kan jadi lebih cepat bertemu. Memangnya kamu tidak mau bertemu denganku?" tuduh Rian.
"Bukan begitu Mas. Tapi kamu kan sakit. Bagaimana mungkin kamu bisa menemuiku nanti," ucap Riri.
"Aku sudah sembuh Pus," ucap Rian.
"Tidak Mas. Kamu harus istirahat," ucap Riri.
"Kamu kenapa sih? Tidak mau bertemu denganku?" tuduh Rian lagi.
Berkali-kali Riri menjelaskan alasannya. Ternyata kekhawatiran Riri tidak diterima oleh Rian. Oke, dia menyerah. Riri hanya mengiyakan apa yang akan Rian lakukan.
"Begitu dong. Itu baru calon istriku," ucap Rian senang saat Riri sudah mengalah.
Calon istri? Ah, status itu selalu membuat Riri kembali berharap. Seandainya waktu bisa diputar. Ia ingin mempercepat semuanya. Agar status calon itu segera hilang. Ia ingin segera menjadi istri Rian.
"Jangan lupa minum obat dan istirahat," ucap Riri sebelum menutup panggilannya.
"Siap bos," ucap Rian.
Riri menyudahi panggilannya saat sudah dua puluh menit mereka bercerita. Banyak hal yang sempat mereka bahas. Termasuk dimana Rian harus menemui Riri nanti.
Ia berbaring dan memejamkan matanya. Tidur dengan penuh ketenangan. Untuk pekerjaan, ia menyingkirkan dulu berkas yang menghantuinya. Pulih dan sembuh menjadi tujuan utamanya. Ia harus segera benar-benar sembuh karena banyak hal yang harus dikerjakan.
Pengaruh obat membuat Rian tertidur pulas. Alarm di ponselnya diabaikan. Ia terkejut saat melihat sudah jam sembilan. Namun saat akan bangun, kepalanya terasa berat dan sakit.
"Ah, kenapa ini?" tanya Rian sambil memijat pelan kepalanya.
Perlahan Rian berangsut untuk duduk bersandar pada ranjangnya. Ia melihat makanan dan obat sudah siap di atas nakas. Sebuah kertas mengundang rasa penasaran Rian.
Tangannya meraih kertas itu. Tulisan yang tidak terlalu rapi membuatnya tersenyum senang dan terharu. Surat dari Naura yang khawatir dan memintanya agar segera sembuh membuat mata Rian berkaca.
"Aku pikir kamu marah, Naura. Kamu jangan khawatir. Om akan segera sembuh. Nanti kita main ya!" gumam Rian.
__ADS_1
Rian senang saat tahu kalau Naura semalam sudah tidur. Tidak marah atau tidak peduli seperti yang ada dalam pikirannya. Naura juga menemuinya tadi pagi. Namun karena Rian masih tidur, Naura tidak tega membangunkannya. Ia hanya mengirim surat manis untuk Rian.
"