
"Sedikitt saja ya," bujuk Rian.
Riri menggeleng sambil terus memegang lehernya.
"Ayolah! Satu saja," ucap Rian sambil berusaha menarik tangan Riri.
Riri masih berusaha menahan Rian agar tidak membuat tanda merah di lehernya. Namun Rian terus saja berusaha agar ia bisa memberi tanda di sana. Saat Riri sudah merasa kehabisan tenaga, Rian berhasil menyusup sampai ke sana. Leher yang putih bersih itu membuat Rian tidak ingin melepaskannya begitu saja.
Aroma khas tubuh Riri membuat Rian terbuai di sana. Ia tidak langsung memberi tanda di sana. Sebentar ia membuat Riri yang awalnya takut kini terlihat begitu menikmati. Sedikit rintihan Riri membuat Rian semakin tertantang.
Tangan dan bibirnya bergerak menyebar mencari tempat kesukaannya. Ia berhasil membuat Riri menggeliat sambil menggigit bibir bawahnya. Membuat Rian merasa semakin tertantang dengan ekspresi Riri.
"Andai saja tidak palang merah, aku sikat kamu detik ini juga. Tapi tak apa. Aku sabar menunggu sampai selesai," bisik Rian sambil memainkan tangannya di telinga Riri.
Tidak ada suara. Riri tidak mau kalau saat ia membuka mulut, justru terdengar suara yang tidak ia harapkan. Apa yang Rian lakukan padanya adalah hal pertama yang ia rasakan.
Rian adalah laki-laki pertama yang menjamah hampir seluruh tubuhnya. Suami yang berhasil mengantarkannya ke dalam kenikmatan yang belum ia temui sebelumnya. Riri yang masih polos hanya bisa berusaha menutupi semua ekspresinya. Meskipun kenyataannya raut wajah Riri tidak bisa disembunyikan. Sekarang Rian sudah tahu betul bagaimana ekspresi wajah Riri saat mendapat serangan darinya. Begitu menggemaskan.
Kriiiing.. Kriiing
Dering ponsel membuat Rian menghela napas dalam. Dengan wajah kesal ia mengangkat wajahnya dan meraih ponselnya. Dahinya mengkerut saat tahu jika tidak ada yang meneleponnya sama sekali.
"Siapa Mas?" tanya Riri sambil berangsur dari tempat tidurnya.
"Tidak ada," jawab Rian sambil menunjukkan ponselnya.
"Loh kok bisa?" tanya Riri bingung.
Riri mulai mengancingkan pakaiannya. Namun saat ia melihat ke samping, ia tertawa. Ia baru menyadari bahwa yang berdering adalah ponselnya.
"Papa Mas," ucap Riri saat sudah melihat nama si pemanggil.
"Papa siapa?" tanya Rian.
"Papa aku," jawab Riri cemberut.
"Kok marah sih?" tanya Rian.
Riri mengabaikan pertanyaan Rian. Ia menjawab dulu panggilan dari ayahnya. Dari samping Rian memperhatikan istrinyanyang tengah menelepon. Ia mengagumi kecantikan Riri. Namun lama kelamaan ia fokus dengan ekspresi wajah istrinya.
__ADS_1
Kerutan di dahi Rian menandakan bahwa Rian tengah bingung dengan keadaan Riri. Apa yang mereka bicarakan? Senyuman itu perlahan berubah menjadi linangan air mata. Hingga bulir bening mulai berjatuhan di pipi Riri.
"Kamu baik-baik saja?" bisik Rian meyakinkan.
Riri menatap Rian dan mengangguk. Ia berusaha meyakinkan Rian jika semuanya memang baik-baik saja. Padahal kenyataannya Riri tengah menyimpan perasaan kecewanya.
Penelepon itu memang menggunakan nomor ayahnya. Padahal yang tengah bicara padanya adalah kakaknya. Ia mengatakan jika Riri adalah anak yang tidak tahu diuntung.
"Sudah diurus dari bayi susah payah. Pas besar kabur. Pulang-pulang jadi orang kaya tapi tidak pernah membahagiakan keluarga," ucap Kakaknya.
Sesak rasanya dada Riri saat mendengar cacian dari kakaknya. Sampai akhirnya ia tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya menangis. Melihat keadaan Riri yang sudah tidak bisa dianggap baik-baik saja, Rian merebut ponsel itu.
"Ada apa Pah?" tanya Rian.
"Oh, ada pangeran super kaya yang hanya mau menerima sang putri nih. Apa kabar dengan ibu yang sudah merawatnya? Dibuang begitu saja? Begitu perlakuan seorang pemimpin perusahaan yang terhormat pada ibu mertuanya?" ucap kakaknya Riri.
"Astaga. Aku pikir Papa yang sudah membuat istriku menangis. Ternyata hanya orang yang tidak bisa melihat kebahagiaan adiknya saja? Sayang sekali istriku sudah kalah hanya karena berhadapan dengan wanita jahat sepertimu," ucap Rian.
Riri berusaha menarik lengan Rian. Ia berharap Rian menghentikan ucapannya. Suasana akan semakin keruh saat Rian terus-terusan meladeni ocehan kakaknya. Dan Riri tidak mau hal itu terjadi.
"Oh pantas saja adikku berubah. Ternyata kamu dalang dari pencucian otak adikku," ucap kakanya Riri.
"Mas, kamu kenapa sih meladeni Kak Rara?" tanya Riri.
"Rara? Jadi wanita jahat itu namanya Rara?" ucap Rian sambil mendecak kesal.
"Jangan begitu Mas. Bagaimanapun dia adalah kakak iparmu," ucap Riri mengingatkan.
"Status dia memang kakak ipar, tapi jahatnya kelewatan. Sudah tidak mau aku mengaku dia sebagai kakak ipar," ucap Rian.
"Ah mas," ucap Riri sambil mengepalkan kedua tangannya.
Rian tahu Riri sebenarnya marah. Ia kecewa atas sikap kakak kandungnya sendiri. Tapi ia tidak mau mengungkapkan semua itu pada Rian. Ia malu dengan keadaan keluarganya yang sudah berantakan.
Sebagai seorang suami, Rian sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berdiri paling depan. Ia akan selalu menjadi orang pertama yang membela dan melindungi istrinya. Dari siapapun, termasuk dari keluarga istrinya sendiri.
Rian tidak pernah memaksa Riri menjadi orang yang selalu baik. Tapi sedikitpun Rian tidak pernah mengajarkan Riri untuk menjadi orang yang jahat. Ia hanya ingin istrinya seperti dulu. Kuat dan selalu terlihat tenang.
"Dengan kamu berani, bukan berarti kamu jahat. Tapi ada harga diri yang memang harus kamu perjuangkan. Tidak selalu harus diinjak-injak seperti itu oleh kakakmu sendiri," ucap Rian.
__ADS_1
"Terus aku harus gimana Mas?" tanya Riri.
"Temui mereka. Tanyakan apa maunya. Berikan berapapun yang mereka mau," jawab Rian.
Berapapun. Kata yang terucap dari Rian adalah jawaban atas keyakinannya jika yang diharapkan Rara hanyalah uang. Ia adalah orang yang haus uang. Apalah arti uang bagi Rian yang kini sudah punya segalanya.
Bagi Rian saat ini yang paling penting adalah keberadaan Riri di sampingnya. Masalah uang ia bisa kerja keras. Tidak peduli seberapa matre keluarga Riri. Meskipun berkali-kali Riri meminta maaf atas kelakuan keluarganya, namun Rian selalu meyakinkan Riri jika semua tidak akan menjadi masalah untuknya.
"Ingat Pus. Semakin kamu terlihat lemah, semakin senang mereka menekanmu. Jangan sampai aku ikut sakit saat melihatmu menangis seperti ini," ucap Riri.
"Tapi Mas aku malu. Aku takut kamu menyesal menikah denganku. Sebelumnya aku tidak pernah mengenalkan keluargaku seperti apa. Tapi setelah menikah kamu justru tahu bagaimana keadaannya," ucap Riri sambil mengusap air mata di pipinya yang mengalir semakin deras.
"Sayang, ayolah. Jangan begitu. Aku sama sekali tidak pernah mempermasalahkan semua itu. Jika membahas keluarga. Kamu masih beruntung memiliki keluarga yang utuh. Sedangkan aku? Tanpa keluarga ini aku hanya anak sebatang kara yang tidak punya apa-apa. Berhentilah merasa kalau kamu menjadi orang yang paling menderita di dunia ini," ucap Rian panjang lebar.
Kata-kata Rian semakin membuatnya terharu. Air matanya semakin deras. Ia memang memiliki keluarga yang utuh secara kuantitas. Namun secara kualitas, ia tidak punya apa-apa. Hanya ada seorang ayah yang mengerti keadaannya. Itu pun terbatas jarak dan kekangan kakaknya.
Berbeda dengan Rian. Suaminya memang tidak punya keluarga yang utuh secara kuantitas. Tapi kualitas orang-orang yang berada di sekeliling Rian sudah tidak perlu diragukan lagi. Mereka begitu menyayangi Rian dengan sepenuh hati. Bahkan bisa memperlakukan Riri sebagai keluarganya juga.
Kehangatan jelas bisa dirasakan Riri saat masuk ke rumah Nyonya Helen. Meskipun mereka asing, namun mereka menerima Riri seolah sudah saling mengenal sejak lama. Hal itu yang membuat Riri sakit saat menghadapi keluarga kandungnya.
"Sudah ya jangan menangis," ucap Rian sambil mengusap kepala Riri yang kini menangis dalam pelukannya.
Pelukan dan perlakuan Rian membuat Riri merasa sangat nyaman. Ia merasa perlahan bebannya menghilang. Cara Rian menenangkannya membuat Riri merasa bahwa pria ini benar-benar yang Tuhan kirim untuk menyembuhkan semua lukanya.
"Mas, terima kasih sudah memilihku sebagai istrimu. Aku mencintai Mas," ucap Riri sambil mengeratkan pelukannya.
"Sama-sama. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Tetap menjadi istriku dan ada di sampingku. Apapun yang terjadi," ucap Rian.
"Tentu. Aku akan selalu di sampingmu," ucap Riri.
"Sudah ya. Jangan menangis lagi," ucap Rian sambil mengusap air matanya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Rian, Riri. Apa kalian tidak tidur?" teriak Nyonya Helen.
Riri dan Rian saling menatap. Mereka panik dengan kedatangan Nyonya Helen. Masalah apa lagi yang nanti terjadi setelah tragedi sprei?
"Pus, ayo hapus air matamu. Jangan sampai Mama berpikir aku sudah membuatmu menangis di hari kedua pernikahan kita," ucap Rian sambil mengusap pipi Riri.
__ADS_1
"Iya Mas," ucap Riri.