Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Koper besar


__ADS_3

"Halo," ucap Rian saat pintu kamar sudah tertutup.


Mereka bercerita satu sama lain untuk melepas rindu. Rian selalu menceritakan setiap kegiatan yang terjadi. Begitupun sebaliknya.


"Si tengil tidak mengganggumu, kan?" tanya Rian.


Bahasan mulai sensitif saat membahas Hiro. Riri menutupi semua yang terjadi. Ia tidak mau jika semua akan menjadi panjang dan runyam. Riri juga balik bertanya tentang Maudi.


Rupanya Rian juga mengikuti langkah Riri. Ia berbohong karena tidak mau bertengkar dengan Riri. Saling berbohong untuk kebaikan bersama mungkin lebih baik dari pada mereka harus jujur dan bertengkar setiap waktu.


"Satu tahun lama ya?" tanya Rian.


"Mas, jangan dibahas terus. Justru waktu akan terasa semakin lama," jawab Riri.


"Rasanya aku ingin kembali ke Jerman. Memastikan kamu tetap baik-baik saja," ucap Rian.


"Aku akan baik-baik saja Mas. Jangan khawatir," ucap Riri.


"Aku percaya padamu," ucap Rian.


Percaya? Ya tentu kata itu yang selalu diucapkan oleh keduanya. Tapi sebenarnya mereka selalu gelisah saat menduga apa yang terjadi diantara mereka.


Jarak memang mengajarkan kerinduan. Bukan hanya itu, jarak kadang membuka rasa curiga dan cemburu yang tak menentu. berusaha dewasa memang sulit. Namun keduanya tetap belajar.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Rian.


"Aku juga," ucap Riri.


Kalimat penutup yang tidak pernah absen setiap kali mereka mengakhiri panggilan. Rian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan tersenyum. Bayangan wajah cantik Riri selalu menghiasi kepalanya.


"Rian," panggil Tuan Felix sambil mengetuk pintuk kamar Rian.


Rian yang tengah berbaring bangun dan segera membuka pintu.


"Ada apa Pah?" tanya Rian.


Ini sudah malam. Ada apa Tuan Felix malam-malam ke kamar Rian? Wajah penuh tanya Rian membuat Tuan Felix tertawa.


"Kenapa?" Tuan Felix balik bertanya.


Tuan Felix menerobos masuk dan membiarkan Rian berdiri mematung di ambang pintu. Masih berpikir dan menduga apa yang akan disampaikan ayah angkatnya itu.


"Duduk!" pinta Tuan Felix sambil menepuk sofa di sampingnya.


"Iya Pah," ucap Rian.


Rian segera menutup pintu kamarnya dan duduk di samping Tuan Felix. Ia dibuat semakin bingung saat melihat selembar cek dengan nominal yang sangat besar.


"Ini untuk apa?" tanya Rian.


Tentu akan menjadi pertanyaan bagi Rian, karena jika uang itu untuk bekalnya maka jelas terlalu berlebihan. Kalau untuk persiapan kantor barunya, bukankah uang itu sudah disimpan oleh Dion?


"Simpan untuk peganganmu," jawab Tuan Felix.


"Papa simpan saja. Nanti kalau ada apa-apa biar aku hubungi Papa," ucap Rian sambil menyerahkan kembali cek itu.


"Ri, pegang saja. Papa tahu siapa kamu. Kamu tidak akan berani meminta uang sama Papa," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


Ya, selama Tuan Felix tinggal bersama Rian, tidak pernah sekalipun Rian meminta uang kepadanya. Apapun kebutuhannya Rian selalu menahan diri untuk tidak meminta kepada Tuan Felix.


"Pah, ini terlalu berlebihan." Rian kembali menolak.


"Ri, aku ini ayahmu. Mau sampai kapan kamu menganggap Papa ini orang lain?" tanya Tuan Felix.


"Bukan begitu Pah. Aku rasa apa yang sudah Papa berikan kepadaku terlalu berlebihan. Aku sudah banyak menghabiskan uang Papa," ucap Rian.


"Hey, kamu tidak pernah menghabiskan uang Papa. Ini memang hak mu," ucap Tuan Felix.


"Pah, aku sudah bisa lulus kuliah saja bagiku ini sangat luar biasa. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tidak ada Papa," ucap Rian.


"Ri, aku tidak pernah berhitung tentang angka. Karena bagiku kehadiranmu adalah kebahagiaan terbesar yang tidak bisa dihitung dengan angka," ucap Tuan Felix.


Soal ketulusan, Rian memang tidak perlu meragukan Tuan Felix. Bagaimana cara Tuan Felix memperlakukannya selama ini membuat Rian merasa tinggal dengan orang tua kandungnya sendiri.


Hal itu yang membuat Rian ikut menyayangi Tuan Felix penuh dengan ketulusan. Bukan hanya tentang uang, perhatian Tuan Felix dari hal-hal kecil pun membuat Rian selalu merasa hidupnya sempurna.


"Pokoknya kamu simpan saja. Kalau perusahaan butuh suntikan dana, gunakan uang ini. Tapi kalau kamu tidak menggunakan uang ini untuk perusahaan, mungkin kamu bisa gunakan uang ini untuk modal nikah." Tuan Felix tersenyum tipis.


"Papa," ucap Rian malu-malu.


Tuan Felix pergi meninggalkan kamar Rian setelah uang itu Rian terima. Rian menatap nominal yang tertulis di atas kertas itu. Kepalanya menggeleng.


Aku seperti berada di negeri dongeng. Hidup susahku hilang begitu saja saat bertemu dengan keluarga ini. Apa yang harus aku lakukan untuk membayar semua kebaikan ini?


Rian berpikir keras tentang apa langkahnya setelah ini. Namun saat ini, kepalanya sudah tidak bisa memikirkan langkah yang akan ia tempuh. Akhrinya ia menyimpan cek itu dengan baik dan kembali tertidur.


Pagi hari Rian kembali dengan rutinitas barunya. Ia bangun dan mandi. Lalu ikut berkumpul di ruang makan dan sarapan. Setelah itu mengantar kedua keponakan kembarnya dan pergi ke kantor Mia.


"Ri, kamu tahu sesuatu tentang Naura?" tanya Mia saat Rian sudah sampai ke kantornya.


"Kamu tidak tahu kalau Naura dan Rendra membawa koper besar saat pergi sekolah?" tanya Mia.


"Hah? Koper besar?" tanya Rian sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak tahu?" tanya Mia.


"Sama sekali tidak," jawab Rian.


Rian terkejut dengan informasi yang ia terima. Bagaimana ia tidak tahu kalau koper besar itu ada di dalam mobilnya.


"Sebentar, aku cek dulu." Rian mengambil kunci mobilnya yang berada di atas meja.


"Tidak perlu," ucap Mia sambil menarik tangan Rian.


"Aku harus memastikan apa yang mereka bawa dalam koper besar itu," ucap Rian.


"Mereka membawa baju yang sangat banyak. Semua buku pelajaran juga mereka masukkan di dalam koper itu," ucap Mia.


"Apa? Kakak yakin? Tahu dari mana?" tanya Rian.


Mia menceritakan jika tadi pagi sebelum sarapan, ia melihat sopirnya mengangkat koper besar itu dan memasukkannya ke dalam mobil Rian. Berpura-pura tidak tahu, Mia bersikap santai seperti tidak ada apa-apa. Namun setelah ia sampai ke kantor, ia segera menelepon pengasuh Naura. Dan jawaban itu yang ia dapat.


"Lalu mereka mau kabur kemana?" tanya Rian.


"Aku tidak tahu. Mungkin ke rumah Papa. Dia akan merengek padamu nanti. Aku minta tolong, bujuk mereka untuk tidak menginap di rumah Papa," ucap Mia.

__ADS_1


"Kalau memang mereka mau menginap di rumah Papa, kenapa dilarang? Bukannya Papa sudah terbuka dengan semua penyakitnya? Jadi aku rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Rian.


"Tapi Papa belum mengiyakan kami untuk tinggal kembali di rumah itu," ucap Mia.


"Ya sudah Kakak jangan cemas. Nanti aku yang akan bujuk Naura ya!" ucap Rian.


Tentu Mia merasa sangat kahwatir dengan langkah Naura. Ia takut Tuan Wira justru akan marah dan membatasi lagi pertemuannya dengan Naura.


Mia bekerja dalam kegelisahan. Rian dapat melihat wajah gelisah Mia. Berkali-kali Rian menjelaskan bahwa ia yang akan menyelesaikan koper besar dan rencana kabur Naura.


"Sudah waktunya untuk menjemput mereka. Kakak jangan khawatir. Percaya padaku. Aku akan menyelesaikan semua masalah ini. Papa dan Naura akan baik-baik saja," ucap Rian.


"Kamu janji?" tanya Mia.


"Iya," jawab Rian dengan sangat meyakinkan.


Mia cukup tenang saat Rian dengan yakin akan menyelesaikan semua ini. Meskipun rasa takut itu masih tersimpan dalam hatinya, tapi paling tidak sudah tidak sebesar pagi tadi.


Mobil Rian sudah terparkir di depan sekolah. Naura dan Narendra sudah menunggunya di bebangkuan. Rian menemui mereka, namun mereka berlari dan segera meminta Rian untuk segera berangkat.


"Nanti dulu. Apa kita tidak istirahat dulu?" tanya Rian.


"Istirahatnya di rumah Opa saja," jawab Naura.


Narendra kesal saat pintu mobil masih tertutup rapat. Rian belum membuka kunci mobilnya.


"Ayo buka Om!" pinta Narendra.


"Oke. Kalian tenang," ucap Rian.


Tidak ingin menjadi pusat perhatian, Rian segera membuka mobilnya. Mungkin ia akan bicara dengan kedua anak itu di dalam mobil.


"Om mau jalan-jalan dulu ke mall. Ada yang mau ikut?" tanya Rian.


"Aku," jawab Naura sambil mengangkat tangannya.


"Aku juga," ucap Narendra.


"Oke, lets go! Tapi kita ke rumah dulu ya. Ganti baju dan kerjakan PR nya dulu," ucap Rian.


"Yaaaah, lama. Kita ke mall aja dulu. Nanti kita ganti baju di rumah Opa. Aku juga sudah membawa semua buku. Jadi PRnya nanti saja ya Om," ucap Narendra.


"Kalian bawa baju ganti dan semua buku? Memangnya kalian mau kemana?" tanya Rian pura-pura tidak tahu.


"Kita kan mau tinggal di rumah Opa. Kata Opa kemarin Naura pulang dulu ya. Besok ke sini lagi bawa baju yang banyak," ucap Naura.


Rian hanya mengernyitkan dahinya. Tidak mungkin Naura berbohong. Tapi soal Mia, apa mungkin Mia belum tahu kalau Tuan Wira sudah mengizinkan mereka tinggal di rumah itu lagi?


"Jadi kalian mau menginap berapa malam?" tanya Rian.


"Lamaaaaa. Sampai Opa sembuh," jawab Narendra.


Rian mencerna jawaban Narendra. Ya, hal ini memang membuat Rian percaya. Wajar jika Tuan Wira meminta Naura dan Narendra untuk tinggal di sana. Karena yang ia tahu, kehadiran si kembar menjadi penyemangat tersendiri untuk Tuan Wira.


Bagaimanapun Rian butuh kepastian dari jawaban kedua anak kembar itu. Rian mengikuti apa yang mereka inginkan. Mencari kebenaran tentang apa yang sudah mereka bicarakan.


Benar. Kehadiran Naura dan Narendra sudah ditunggu sejak tadi. Tuan Wira dan Nyonya Helen sudah duduk di teras depan. Mereka melebarkan kedua tangannya untuk menyambut cucu kembar kesayangannya.

__ADS_1


Rian yang masih duduk di dalam mobil tersenyum. Ia segera memotret kehangatan anak kembar itu dengan Oma dan Opanya, lalu mengirimkannya pada Mia.


Mia yanh sudah menunggu kabar dari Rian nampak menangis bahagia melihat apa yang terjadi. Ia segera menghubungi Dion dan menjelaskan kejadian hari ini. Seperti Mia, Dion juga sangat senang dengan kabar ini.


__ADS_2