
Rian dengan semangat menyelesaikan tugasnya meskipun cukup terganggu dengan keseruan Tuan Felix saat melakukan panggilan video dengan Mia.
"Selesai," ucap Rian dengan senyum mengembang.
Rian segera keluar dari kamarnya karena ia ingin ikut bergabung dalam panggilan video itu. Sayangnya baru saja Rian sampai ke depan pintu kamarnya, Tuan Felix sudah berdiri dan memberikan ponselnya.
"Sudah selesai?" tanya Rian kesal.
"Narendra dan Naura harus istirahat," jawab Tuan Felix sambil berlalu meninggalkan Rian.
Dengan perasaan kesal, Rian kembali masuk dan menutup pintunya rapat-rapat. Menggerutu sendiri untuk mengungkapkan unek-uneknya. Rian tidak tahu jika Tuan Felix sedang tertawa puas melihat kekecewaan Rian.
Sepertinya jiwa usil Tuan Felix sedang kumat. Ia yang tahu kalau Rian sudah menyelesaikan tugas kuliahnya, ia segera mengakhiri panggilan video itu. Tidak lupa ia memberi tahu Mia jika Rian sedang banyak sekali tugas, hingga Mia tidak mungkin menghubungi Rian lagi hari ini.
Biar kamu tahu rasa. Kesal kan kamu?
Berada di kamar masing-masing dengan perasaan yang berbeda, mereka menunggu waktu untuk berangkat ke undangan Mr. Aric. Masih ada waktu untuk bersantai sebelum mereka berangkat.
"Ri," panggil Tuan Felix.
"Iya pah," jawab Rian.
Rian keluar dengan pakaian rapi. Tuan Felix menatapnya dari atas hingga ke bawah.
"Kenapa Pah?" tanya Rian.
"Kamu tampan sekali," jawab Tuan Felix.
"Papa menyindirku?" tanya Rian sambil meraba wajahnya.
"Tidak, tidak. Kamu memang sangat tampan. Andai saja di pesta itu ada gadis, pasti mereka akan langsung jatuh cinta padamu." Tuan Felix menatap Rian kagum.
"Papa ada apa sih? Aneh sekali," ucap Rian.
Rian masuk ke dalam kamarnya dan menatap dirinya di depan cermin. Melihat dari atas hingga ke bawah. Rasanya tidak ada yang salah. Namun kenapa ekspresi Tuan Felix begitu aneh. Padahal ia juga pernah beberapa kali menggunakan pakaian rapi seperti itu.
"Ayo berangkat!" ajak Tuan Felix.
"Ayo!" ucap Rian.
Mereka tidak membawa sopir. Tuan Felix meminta Rian yang mengendarai mobil mewah keluaran terbaru itu. Dalam mobil keduanya nampak saling diam. Sesekali hanya terdengar Rian menanyakan jalan menuju rumah Mr. Aric.
Rian memang cukup dekat dengan Mr. Aric. Namun ia belum pernah ke rumahnya. Selama ini, mereka selalu bertemu di kantor. Hingga Rian harus bertanya setiap kali ada simpangan jalan.
"Kiri, kiri," ucap Tuan Felix sambil menunjuk ke arah kiri.
"Iya Pah," jawab Rian.
"Depan belok kanan, lurus. Nanti belok kiri lagi," ucap Tuan Felix.
"Iya," jawab Rian.
Semakin ia mengikuti petunjuk Tuan Felix, Rian nampak semakin bingung. Rasanya jalan itu tidak asing baginya. Namun ia tidak yakin dengan apa yang dipikirkannya.
__ADS_1
"Rumah putih itu," tunjuk Tuan Felix. "Berhenti di sana ya!" lanjutnya.
"Rumah Mr. Aric?" tanya Rian.
"Pom bensin," jawab Tuan Felix sambil menggelengkan kepalanya.
"Pah, serius." Rian nampak tidak percaya.
"Kamu sudah berpenampilan tampan begini, eh masih aja oon. Kita berhenti di sini ya artinya rumah Mr. Aric. Masa Mr. Aric yang ngundang kita datang ke rumah tetangganya?" ucap Tuan Felix.
"Ayo turun!" ajak Tuan Felix.
Dengan penuh tanya, Rian ikut turun dan memasuki rumah itu. Langkahnya pelan dengan mata yang mengedar ke setiap sudut ruangan yang dilaluinya.
Tidak ada sosok yang ia cari. Tuan Felix sampai menyikut Rian saat ia sempat tidak fokus. Rian pun ikut menyalami teman-teman Tuan Felix. Sebagian ada yang sudah ia kenal, namun sebagian besarnya terasa asing.
Benar apa yang diucapkan oleh Tuan Felix, bahwa mereka hadir dengan pasangannya masing-masing. Hanya Tuan Felix yang membawa Rian dalam pesta itu.
Tidak sedikit orang yang menatapnya seolah mengejek. Namun Tuan Felix berusaha untuk terbawa perasaan dengan pikiran buruknya. Meskipun dengan perasaan kurang nyaman, Tuan Felix dan Rian tetap berada di pesta itu.
Kalau saja semua ini bukan karena Mr. Aric, malas aku harus bertahan di sini. Ternyata teman-temanku dulu adalah makhluk-makhluk yang penuh dengan keingintahuan tingkat tinggi.
Tuan Felix terus menggerutu di dalam hatinya, saat beberapa orang bertanya tentang pasangannya. Belum lagi mereka yang mencari tahu tentang Rian. Rian memang anak yang tampan meskipun asli dari Indonesia, namun wajahnya tidak mirip sama sekali dengan dirinya. Sementara Tuan Felix mengakui Rian sebagai anaknya.
"Pah, ini rumah siapa?" tanya Rian sambil berbisik.
"Ya rumah Mr. Aric," jawab Tuan Felix.
"Yang aku tahu ini rumah temanku," ucap Rian.
Sampai saat ini, Tuan Felix hanya tahu jika teman Rian hanya Maudi dan Rey. Ia tidak pernah menceritakan siapapun selain mereka berdua.
"Mpus, dia mahasiswa baru di kampus." Rian masih mencari sosok Riri.
"Mpus?" tanya Tuan Felix.
Sama seperti Dion, Tuan Felix juga merasa aneh dengan nama Mpus. Rian menutup mulutnya saat ingat kalau ia tidak pernah menceritakan tentang Mpus pada Tuan Felix.
"Siapa?" tanya Tuan Felix lagi.
"Riri. Maksudku Riri. Dia temanku," jawab Rian.
"Mr. Aric itu tidak punya anak. Kamu yakin dia tinggal di sini?" tanya Tuan Felix.
"Setiap aku antarkan pulang, dia turun di depan rumah ini." Rian masih mencoba mencari keberadaan Riri.
"Turun di sini kan bukan berarti ini rumahnya," ucap Tuan Felix. "Eh tunggu dulu! Kamu mengantarnya pulang? Pacar barumu?" lanjut Tuan Felix.
"Bu-bukan. Dia temanku," jawab Rian gugup.
"Kamu utang penjelasan padaku nanti," ucap Tuan Felix.
Rasa penasaran Tuan Felix harus ia tahan karena pesta sudah dimulai. MC sudah berdiri di depan. Sementara yang lain sibuk dengan rangkaian acara yang dibacakan oleh MC, Rian masih sibuk mencari Riri.
__ADS_1
Apa mungkin dia berbohong? Dia mengaku tinggal di sini? Untuk apa? Apa hanya untuk terlihat menjadi orang kaya?
Rian masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai Tuan Felix mengingatkan Rian untuk tidak terlalu memikirkan hal yang tidak penting. Rian menyembunyikan rasa penasarannya sampai akhirnya pesta itu usai.
"Mpus," panggil Rian saat melihat Riri ketika ia akan pulang.
"Mas Rian," ucap Riri.
"Kamu siapanya Mr. Aric?" tanya Tuan Felix yang aneh melihat sosok Riri di rumah itu.
"Saya yang pembantu di rumah ini," ucap Riri tanpa malu.
"Pembantu?" tanya Rian dengan wajah terkejut.
"Kenapa? Mas malu berteman dengan seorang pembantu?" tanya Riri.
"Tidak, tidak begitu Pus. Aku justru salut padamu. Hebat," jawab Rian mengangkat jempol tangannya.
"Mas menyindirku?" tanya Riri.
"Tidak. Sama sekali tidak," jawab Rian sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau pembantu ataupun bos, kita tidak perlu membeda-bedakan seseorang dari strata sosialnya. Menurutku kalian cocok," ucap Tuan Felix.
Hal itu langsung membuat Rian gugup. Sementara Riri justru menanggapinya dengan begitu santai.
"Selama kita saling baik, aku rasa semua orang akan selalu cocok satu sama lain." Riri menjawab dengan begitu ringan namun terlihat sopan.
"Menurutku kalian cocok sebagai pasangan," ucap Tuan Felix lagi.
Rian semakin gugup, namun ia nampak semakin kagum melihat Riri yang sangat santai menghadapi ucapan Tuan Felix.
"Kami baru kenal. Untuk menjadi pasangan, aku rasa terlalu cepat. Nanti kalau kami cocok, kami akan mengabari Tuan secepatnya." Riri tersenyum lebar dan mengangkat jempol pada Tuan Felix.
"Bagus. Aku suka jawabanmu," ucap Tuan Felix.
Rian hanya bisa membulatkan bola matanya saat melihat Riri dan Tuan Felix seolah sedang merencanakan sesuatu. Ia yang tidak percaya dengan sikap Riri, dibuat bingung dengan sosok Riri.
"Kapan-kapan kamu main ke rumahku ya!" ucap Tuan Felix.
"Siap, Tuan." Riri menunduk hormat.
"Panggil Papa saja. Jangan panggil aku Tuan ya!" ucap Tuan Felix.
"Dengan senang hati Papa," ucap Riri.
"Papa?" tanya Rian.
"Kenapa? Papa yang memintaku," jawab Riri.
"Sudahlah. Tidak usah berdebat begitu. Aku jadi ikut baper," ucap Tuan Felix.
"Baper? Papa ini apa-apaan sih? Kita hanya berteman" tanya Rian.
__ADS_1
"Sekarang berteman, siapa tahu beberapa tahun ke depan bisa hajatan. Urusan jodoh tidak ada yang tahu," ucap Tuan Felix.
Rian menarik napas panjang. Ia tidak menyangka bisa berada dalam keadaan seperti ini.