
"Mas, aku takut." Riri menangis sesenggukan.
"Jangan takut. Mana Riri yang aku kenal," ucap Rian.
"Kamu tidak tahu Mas," ucap Riri.
Rian bingung dengan kalimat Riri. Namun setelah Riri menceritakan ketakutannya Rian ikut ketar ketir. Rupanya Rian tidak tahu kalau kantor itu adalah milik ayah Maudi.
"Kalau Mr. Aric menghentikan biaya kuliahku gimana, Mas?" tanya Riri.
Rian diam. Ia sendiri bingung dengan pertanyaan Riri. Usahanya yang belum stabil tidak mungkin sanggup jika harus membiayai kuliah Riri di Jerman.
"Mas, gimana?" tanya Riri sambil menarik tangan Rian.
"Kamu tenang ya! Aku yakin Mr. Aric tidak akan sekejam itu," ucap Rian.
"Tapi Maudi bisa mengadukan aku dengan melebih-lebihkan apa yang terjadi Mas," ucap Riri.
"Ada aku. Aku melihat semuanya. Tenang saja," ucap Rian.
Sepertinya Rian berhasil menyembunyikan perasaan takutnya dihadapan Riri. Sampai akhirnya Riri pun sedikit tenang. Rian memberikan sebotol minuman untuk Riri.
Lama, Maudi tidak keluar dari dalam kantor itu. Rian dan Riri berusaha melupakan ancaman Maudi. Rian benar-benar menikmati waktunya dengan Riri. Ia tidak sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah cantik Riri. Meskipun wajah itu sendu karena ketakutannya, namun tidak mengurangi kecantikan wajah wanita pujaannya itu.
"Kita makan yu!" ajak Rian.
"Makan dimana? Aku tidak mau kalau nanti Mr. Aric mencariku dan semakin marah," ucap Riri.
"Kita makan di kantin sini saja ya!" ucap Rian.
"Ayo!" ajak Riri.
Mereka berdua berjalan menuju kantin. Mata Riri menyapu setiap jalan yang dilaluinya. Ia takut bertemu dengan Maudi. Saat di Jerman, Rian tidak pernah melihat Riri setakut itu pada Maudi. Entah apa yang membuat Riri berubah begitu.
"Aduh," ucap Riri saat kakinya tersandung.
Hampir saja Riri terjatuh, namun Rian segera menangkapnya hingga Riri bersandar di pelukan Rian.
"Hati-hati!" ucap Rian.
"Eh iya maaf," ucap Riri.
Dengan gugup Riri segera menjauh dari tubuh Rian. Ia merapikan pakaiannya dan melanjutkan langkahnya mencari kantin.
"Kamu kenapa gugup begitu?" tanya Rian.
"Tidak Mas," jawab Riri sambil terus melangkah tanpa menoleh ke arah Rian.
Rian menyusul langkah Riri menarik tangannya. Ia terus menggenggam tangan Riri.
__ADS_1
"Jangan jauh-jauh. Tetap di sini ya!" bisik Rian.
Riri tidak menjawab. Ia hanya sedang menenangkan dirinya yang tengah menegang. Genggaman tangan Rian berhasil membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Setelah sampai ke kantin, Rian memesan makanan. Saat makan, Riri berkali-kali melihat ponselnya. Ia melihat kalau Riri tidak nyaman.
"Mas kenapa sih melihatku seperti itu?" tanya Maudi sambil menutup wajahnya.
"Jangan ditutupi. Aku mau menatapmu sepuasnya," ucap Rian sambil menaik tangan Mia dari wajahnya.
"Mas, apa sih. Malu," ucap Riri.
"Masa sama calon suami sendiri malu? Gimana sih kamu?" goda Rian.
"Mas ah jangan begitu," ucap Riri.
Saat Rian dan Riri tengah asyik, tiba-tiba Maudi datang dan menyiram Riri dengan segelas air yang ada di meja mereka.
"Hey, apa yang kau lakukan?" bentak Rian.
"Lebih sopanlah saat kamu bicara di wilayah kekuasaanku," ucap Maudi dengan sinis.
"Sini, biar aku lap." Rian mengelap wajah Riri dengan tissue.
Maudi semakin kesal dan menarik tangan Rian. Ia merampas tissue yang ada di tangan Rian dan melemparnya ke sembarang arah. Perdebatan keduanya mencuri perhatian. Banyak mata yang melihat kejadian itu.
"Mas sudah Mas," ucap Riri sambil menarik tangan Rian.
"Apa? Kamu mau apa?" tantang Maudi.
Saat mereka masih berdebat, tiba-tiba Mr. Aric datang dan menegur Riri. Ia hanya meminta maaf karena kekisruhan yang terjadi di sana. Namun tanpa jawaban, Mr. Aric hanya mengajak Riri segera pergi dari kantor itu.
"Mas, aku pulang ya! Sampai ketemu lagi nanti," ucap Riri pelan.
Rian mengejar langkah Mr. Aric dan mencoba untuk menjelaskan semuanya. Ia meyakinkan Mr. Aric bahwa semua yang diadukan oleh Maudi terlalu berlebihan.
Rian pasrah saat Mr. Aric bungkam sampai akhirnya ia masuk ke dalam mobil dan pergi. Riri sempat melambaikan tangannya sesaat sebelum mobil itu benar-benar pergi. Padahal hati Riri tidak yakin bagaimana nasibnya setelah ini.
Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi aku yakin kalau semua yang terjadi adalah yang terbaik. Itu saja. Kalau saja perjuanganku harus selesai, maka aku hanya akan menghubungimu Mas.
Sementara Rian masih duduk menatap jalanan yang kosong. Ia terus melangkah mengabaikan panggilan Maudi yang terus memanggilnya. Bahkan sakit perut yang ia rasakan tadi pagi hilang begitu saja. Rasa sakitnya saat meliht Riri menangis mengalihkan semuanya.
"Rian, Rian, tunggu." Maudi terus memanggil Rian meskipun diabaikan.
Merasa kesal karena Rian terus berlalu tanpa mendengarkan panggilannya, Maudi kembali untuk mengambil mobil. Dengan cepat ia bisa menyusul Rian yang masih berjalan kaki.
Tiiiid.. Tiiid...
"Rian, ayo naik! Aku antar kamu pulang ya!" ucap Maudi.
__ADS_1
Rian masih tidak menggubris. Apalagi saat melihat Maudi begitu polos seolah-olah tidak terjadi apapun dengan mereka.
Dasar wanita ular. Tidak tahu diri. Aku semakin membencimu. Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai Riri kenapa-kenapa. Aku janji pada diriku sendiri.
Rian terus ngedumel dalam hatinya. Seandainya ia bisa, ingin rasanya ia memaki Maudi untuk meluapkan rasa kesalnya. Namun Rian tidak bisa. Ia berusaha menggunakan logikanya. Menahan semua amarah yang membara dalam hatinya.
"Masuk Pak!" ucap Manto yang tiba-tiba menyalip mobil Maudi dan berhentu di depan Rian.
Meskipun ia bingung dengan kehadiran Manto yang datang tiba-tiba, namun jujur saja ia sangat senang. Tanpa menunggu lama, Rian segera masuk ke dalam mobil Manto dan membuat Maudi marah besar.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Manto.
"Baik. Jangan khawatir," jawab Rian.
Dengan tatapan mata Rian yang kosong, Manto tahu jika Rian sedang tidak baik-baik saja. Tapi apa yang bisa ia lakukan kecuali diam dan menunggu Rian sendiri yang menceritakan semua yang terjadi.
Setelah beberapa saat hening, Rian akhirnya mencari tahu kenapa Manto bisa berada di sana. Padahal ia sama sekali tidak menghubunginya. Ternyata sejak Rian turun di kantor itu, Manto tidak kembali ke kantor Rian. Ia tetap di sana. Mengawasi jika saja Rian kembali kambuh. Karena obat dari dokter ketinggalan di dalam mobil.
"Dan hari ini Bapak tidak masuk kantor hanya untuk menungguku?" tanya Rian.
"Bapak tidak perlu khawatir. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku," jawab Manto.
Rian terkejut saat melihat sebuah laptop yang ada di dalam mobil. Manto tidak hanya menunggunya, tapi bekerja dalam mobil. Makanya ia tidak tahu kalau Rian sudah keluar dari kantor itu. Namun karena Maudi yang berteriak-teriak memanggil Rian, ia segera menyudahi pekerjaannya dan berusaha mengejar Rian. Seloyal itukah Manto pada Rian dan perusahaan?
"Apa karena bayaran Pak Manto di atas rata-rata sehingga Bapak seloyal ini?" tanya Rian.
"Maaf Pak, ini bukan soal nominal. Ini hanya tentang tanggung jawab saja," jawab Manto.
Rian tersenyum. Ia senang dengan kinerja Manto yang begitu luar biasa.
"Bapak mau saya antar pulang?" tanya Manto.
"Tidak. Aku mau ke kantor saja," jawab Rian.
Ya, ia harus ke kantor. Bukan untuk bekerja, tapi untuk menenangkan diri. Tidak mungkin ia harus membawa kesedihan dan kegelisahannya ke rumah. Ia tidak boleh membuat orang rumah ikut sedih dan terbebani dengan masalah yang tengah dihadapinya.
"Apa Bapak yakin? Bapak baik-baik saja?" tanya Manto memastikan.
"Tentu. Ayo ke kantor!" ucap Rian.
Sebuah acapan yang berarti jika ia sudah tidak mau bicara lagi. Manto yang sangat peka hanya mengangguk. Tidak lagi bicara kepada Rian.
"Sudah sampai Pak, silahkan." Manto membuka pintu mobilnya.
"Oh, ya ampun. Jangan begini Pak. Aku bisa membukanya sendiri," ucap Rian.
Rian yang melamun tidak sadar jika Manto sudah memberi tahu kalau mereka sudah sampai. Hingga akhirnya Manto berinisiatif untuk membukakan pintu mobilnya agar Rian segera beristirahat di ruangannya.
"Tidak apa-apa Pak. Jangan sungkan. Bukankah kita berteman?" tanya Manto.
__ADS_1
"Karena kita teman, maka Bapak jangan bersikap seperti ini. Ini bukan tugas seorang teman," jawab Rian.
"Iya Pak. Saya mengerti. Lain kali saya tidak akan seperti ini lagi," ucap Manto.