
Panggilan dengan Riri berakhir saat mobil Rian susah terparkir di depan kantor.
"Nanti disambung lagi ya!" ucap Rian.
"Iya," jawab Riri.
Pagi ini Rian mendapat amunisi terbaik. Suara dan perhatian Riri selalu membuat moodnya naik. Ia keluar dari mobil dengan senyum yang merekah. Semangat membara sudah ia siapkan untuk mengerjakan semua tugas kantor hari ini.
"Pagi, Pak." Rian menyapa hangat Manto yang ternyata sudah lebih duluan datang dibanding dirinya.
"Pagi. Hari ini Bapak terlihat jauh lebih segar," ucap Rian.
"Oh ya?" tanya Rian sambil menatap wajahnya pada pantulan cermin.
"Semoga selalu semangat seperti ini ya, Pak." Manto tersenyum ramah.
"Aku kan belajar dari Pak Manto," ucap Rian.
Hari ini mereka bekerja. Meskipun satu ruangan yang sama, tidak ada obrolan yang terjadi diantara keduanya. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Obrolan keduanya baru dimulai saat jam istirahat. Saat Rian mengajak Manto untuk makan siang bersama.
"Di sini saja Pak," ucap Manto.
"Kali-kali kita makan diluar. Biar lebih fresh," ucap Rian.
"Ya sudah, boleh." Manto mengiyakan ajakan Rian.
Sebuah restaurant mahal dipilih Rian untuk makan siang kali ini. Manto sempat menolak. Namun menurutnya ini pantas untuk menghargai cara kerja Manto yang luar biasa.
"Padahal kita bisa makan di tempat biasa saja, Pak." Manto masih merasa tidak enak.
"Iya. Lain kali kita cari tempat yang lain," ucap Rian.
Rian semakin kagum pada Manto. Meskipun Manto bukan pekerja biasa, dengan honor kerjanya yang di atas rata-rata, tapi Manto berusaha untuk tetap hidup sederhana. Ia jadi malu sendiri.
"Rian," sapa Maudi yang tiba-tiba muncul.
Rian mengusap wajahnya. Kedatangan Maudi benar-benar membuat selera makan Rian hilang. Ia meminta Maudi untuk pergi dari sana. Namun Maudi tetap bersikukuh ingin berada di dekat Rian.
"Sebentar ya Pak," ucap Rian.
Dengan wajah kesal, Rian menarik tangan Maudi untuk menjauh dari meja itu. Ia tidak mau Manto terganggu dengan apa yang dilakukan Maudi.
"Rian, lepaskan!" ucap Maudi sambil berusaha melepas cengkraman tangan Rian. "Sakit," lanjutnya sambil meringis saat tangan Rian berhasil lepas dari pergelangan tangannya.
"Sakit? Riri jauh lebih sakit saat kamu memakinya kemarin. Aku rasa ini tidak ada apa-apanya," ucap Rian.
"Oh, jadi kamu masih tetap membela wanita itu? Si kucing sialan itu?" tanya Maudi dengan senyum sinisnya.
__ADS_1
"Kalau dia kucing sialan, lalu sebutan apa yang pantas untuk orang sepertimu?" Rian balik bertanya dengan tatapan yang tidak kalah tajam.
"Apa maksudmu? Apa karena si kucing sialan itu mengadu dan meminta agar kamu membalas semuanya?" Maudi mulai terbakar. Emosinya mulai memuncak.
"Riri tidak pernah memintaku untuk membalas semua sakit hatinya. Dia cuma minta agar aku segera menikahinya. Karena itu sudah cukup membuatmu sakit hati," ucap Rian dengan senyum penuh kemenangan.
"Berhenti mengatakan hal itu kepadaku," ucap Maudi kesal.
"Kenapa? Karena itu memang kenyataannya. Siap tidak siap, kamu harus siap dengan kenyataan itu. Waktunya tidak lama lagi kok," ucap Rian.
"Aku tidak akan membiarkan pernikahan kalian terjadi. Kamu hanya akan menjadi milikku," ucap Maudi.
"Waw," ucap Rian sambil bertepuk tangan.
Mata Maudi menatap tajam ke arah Rian. Ia benar-benar kesal dengan tingkah Rian yang terlihat santai.
"Aku tidak menyangka jika kamu begitu terobsesi padaku. Apakah aku setampan itu? Atau karena memang sudah tidak ada yang mau padamu?" tanya Rian.
Maudi melayangkan tangannya hingga mendarat tepat di pipi Rian. Mata Rian menatap tajam pada Maudi. Tangannya menyentuh pipi yang sudah ditampar Maudi.
"Terima kasih untuk tamparan ini, Maudi. Ini semakin membuatku tidak ingin bersamamu. Wanita kasar," ucap Rian sambil berlalu meninggalkan Maudi.
"Rian, Rian, tunggu." Maudi mengejar Rian dan menahannya.
"Apa lagi yang kamu mau? Mau menamparku lagi? Silahkan? Yang ini? Yang ini?" tanya Rian sambil menunjuk pipi kiri dan kanannya bergantian.
Rian dengan tegas melepaskan pelukan Maudi darinya. Ia juga meyakinkan Maudi bahwa sudah tidak ada peluang untuk mereka.
"Di hatiku hanya ada Riri dan aku tidak mau menyakitinya," ucap Rian sebelum berlalu meninggalkan Maudi.
Maudi hanya menangis melihat Rian yang semakin menjauh dan hilang dari pandangannya. Sadar kalau banyak pasang mata yang melihatnya, ia segera pergi meninggalkan restaurant itu. Membiarkan Rian kembali makan siang dengan orang yang tidak dikenalnya itu.
Rian menghela napas panjang sebelum akhirnya ia kembali menemui Manto. Ia melihat Manto duduk gelisah. Makanan juga sudah dihidangkan di atas meja.
"Maaf ya lama," ucap Rian saat sudah duduk kembali di depan Manto.
"Tidak masalah Pak," ucap Manto.
"Ayo makan!" ajak Rian.
"Iya Pak," ucap Manto.
Tidak banyak bertanya, Manto langsung makan. Mengubur rasa ingin tahunya tentang wanita yang mendekati Rian tadi. Perubahan wajah Rian pun membuat Manto begitu penasaran. Namun ia tidak mau membuat Rian merasa tidak nyaman dengan keingintahuannya itu.
Setelah selesai makan, mereka mengobrol ringan tentang pandangannya terhadap perusahaan yang sedang ia rintis itu. Tiba-tiba Manto mengajak Rian untuk segera kembali ke kantor.
Rian melihat pergelangan tangannya. Memang sudah lewat lima menit. Tapi ia tidak mempermasalahkan hal itu. Karena biasanya Manto dan dirinya tidak pernah molor soal waktu.
"Tidak apa-apa Pak. Santai saja," ucap Rian.
__ADS_1
"Bagaimanapun kita adalah contoh untuk mereka. Kalau kita bersikap seenaknya terhadap waktu, saya hanya takut mereka pun melakukan hal yang sama. Jadi sebaiknya kita segera kembali ke kantor," ucap Manto.
Rian mengiyakan. Ia pun setuju dengan ucapan Manto. Ia adalah seorang pemimpin. Seharusnya ia memberikan contoh yang baik agar semua karyawannya bisa mengikuti contoh itu.
"Ya sudah ayo!" ajak Rian.
Manto mempersilahkan Rian berjalan lebih dulu, sedangkan ia mengikutinya di belakangnya. Namun saat sudah sampai parkiran, ia berjalan lebih cepat hingga mendahului Rian. Ia membukakan pintu mobil untuk Rian, seperti biasanya.
"Pak, jangan begitu. Aku bisa sendiri," ucap Rian.
"Tidak apa-apa. Aku juga bisa menyetir sendiri tapi Bapak memaksa untuk menyetir." Manto membalikkan kalimat Rian.
Ya, siang ini Rian memang memaksa Manto agar membolehkannya menyetir sendiri. Meskipun dengan perasaan tidak enak, akhirnya Manto mengalah. Ia duduk di samping Rian yang fokus menyetir.
"Pak, maaf ya untuk hari ini." Rian melihat ke arah Manto sebentar lalu kembali fokus ke jalan.
"Maaf untuk apa, Pak? Justru saya harus berterima kasih untuk hari ini," ucap Manto.
"Terima kasih?" Rian balik bertanya.
"Iya. Selama saya bekerja, saya belum bertemu dengan atasan seperti Anda. Sangat loyal dan menyenangkan," jawab Manto.
"Saya jadi malu Pak. Seharusnya kejadian itu tidak terjadi di depan Bapak," ucap Rian.
"Ah, tidak masalah. Santai saja, Pak." Manto berusaha membuat Rian lebih tenang.
"Saya tidak mengerti kenapa ada wanita yang seperti itu," ucap Rian.
"Banyak Pak. Itu belum seberapa," ucap Manto.
"Maksudnya?" tanya Rian.
"Bapak itu pemimpin perusahaan. Masih muda dan sangat tampan. Wajar jika banyak yang mengejar Bapak," ucap Manto.
"Ah, saya hanya anak yang sangat beruntung saja. Cukup dia saja wanita yang memuat saya pusing. Jadi tidak mungkin banyak yang mengejar saya. Kecuali kalau saya maling," ucap Rian sambil tertawa.
"Loh, jangan salah. Harta dan tahta adalah salah satu yang membuat bapak jadi maling," ucap Manto.
"Hah?" tanya Rian.
"Maling perhatian," jawab Manto sambil senyum mesem.
"Pak Manto ini bisa saja," ucap Rian.
Rian berpikir kalau suatu saat nanti ia benar-benar menjadi pengusaha yang sukses, apakah akan ada Maudi-Maudi yang lain? Rian sampai bergidik saat membayangkan hal itu. Menghadapi satu Maudi saja ia sudah sangat pusing. Apalagi jika ada Maudi-Maudi yang lainnya.
"Bapak kenapa?" tanya Manto saat melihat Rian bergidik.
"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa Pak," jawab Rian.
__ADS_1