
Rian berhasil menenangkan Nyonya Helen hingga tertidur di kursi. Tangan Nyonya Helen menggenggam tangan Tuan Wira. Ia berharap akan bisa seperti itu selamanya. Saling menguatkan dan kembali membangun semua kebahagiaan dalam rumah tangganya yang sudah semakin lama.
Senyum Rian melebar saat Nyonya Helen tidak melepaskan tangannya walau ia sedang terlelap. Namun ia terpaksa mengalihkan pandangannya saat seorang sopir mengetuk pintu. Ia lupa membawa ponselnya hingga Riri menelepon ke sopirnya untuk bicara dengan Rian.
"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Riri cemas.
Rian harus kembali menenangkan Riri agar ia tidak panik. Meskipun ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Sampai saat ini, Tuan Wira masih belum sadarkan diri.
Ponsel itu masih digenggam erat oleh Rian, meskipun panggilan Riri sudah tidak terhubung lagi dengannya. Ia menunduk lemas. Hatinya hancur, pikirannya kacau. Riri yang biasanya menguatkannya tidak melakukan itu semua karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Rian dan Nyonya Helen tidak tidur sedikitpun hingga pagi hari. Mereka berdua masih menunggu kabar baik dari Tuan Wira. Namun mereka hanya bisa semakin gelisa karena saat dokter memeriksa Tuan Wira, tidak ada respon apapun dari Tuan Wira.
Obat yang sudah diberikan tidak memberikan efek apapun pada Tuan Wira. Pria pekerja keras itu masih tetap tidak sadarkan diri sampai saat ini. Rian berusaha terlihat tegar agar Nyonya Helen bisa sedikit tenang. Dada bidang Rian menjadi tempat Nyonya Helen menangis tersedu. Sampai akhirnya Rara membuat Nyonya Helen berhenti menangis.
Kedatangan Rara memang di luar dugaan Nyonya Helen. Wanita yang sempat ia tuduh melakukan drama ternyata menjadi orang pertama yang datang menjenguk.
"Riri memberitahumu?" tanya Nyonya Helen sambil mengusap air mata di pipinya.
Rara tidak kuasa menjawab. Ia hanya menunduk setelah mengangguk.
"Kesini," ucap Nyonya Helen sambil melebarkan tangannya.
Rara mengangkat wajahnya dan bingung dengan sikap Nyonya Helen. Benarkah ini semua? Ya, Nyonya Helen memang sudah bersikap jauh lebih baik. Mertua adik kandungnya itu sudah jauh berubah. Namun ia masih tidak menyangka jika Nyonya Helen memintanya untuk memeluk.
__ADS_1
"Ra," panggil Rian.
Rara terperanjat. Ia menelan salivanya sambil menatap Rian. Wajahnya penuh tanya. Saat Rian mengangguk, Rara segera tersenyum dan memeluk Nyonya Helen. Bahu rasa terasa basah. Sepertinya Nyonya Helen kembali menangis dalam pelukannya.
Bukti ketulusan hati Rara sudah dirasakan dan tidak diragukan lagi oleh Nyonya Helen. Rara sudah dianggap bagian dari keluarga Nyonya Helen.
"Mama," panggil Mia.
Mia segera memeluk Nyonya Helen, sedangkan Dion memeluk Tuan Wira. Meskipun kedatangannya lebih telat dibanding Rara, namun Nyonya Helen menyadari jika jarak rumah Mia dan Dion lebih jauh. Mereka juga punya dua anak yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
"Oma," panggil Naura dengan isak tangisnya.
"Sayang, doakan Opa ya!" pinta Nyonya Helen sambil memeluk Naura.
Air mata Narendra mulai menggenang saat membayangkan betapa sakitnya posisi ayahnya saat ini. Ia yang baru ditinggal ayahnya karena kesibukan kantor, sering merasa kesepian. Apalagi saat ia membayangkan jika Tuan Wira pergi untuk selamanya.
Tangis Narendra pecah saat tiba-tiba dokter masuk dan menyatakan bahwa Tuan Wira sudah tidak ada. Nyawanya tidak bisa diselamatkan lagi. Ketakutannya begitu kuat, hingga ia memeluk erat ayahnya yang sedang menangis.
Hari itu menjadi hari yang paling buruk untuk keluarga Nyonya Helen. Kehilangan sosok Tuan Wira bukanlah hal yang mudah. Sosok pemimpin yang sangat dibutuhkan oleh mereka semua. Namun kenyataan sudah berkata lain. Mereka harus siap menerima kenyataan ini.
Semakin lama, semakin banyak tamu yang datang. Dari mulai keluarga hingga rekan kerja. Kedatangan para pelayat yang membludak membuat Rian terpaksa membatasi kedatangan mereka. Ia tidak mau rumah jadi sesak sampai Nyonya Helen sempat pingsan.
Setelah pemakaman, Rian tidak pernah meninggalkan Nyonya Helen. Bahkan ia meminta izin pada Riri untuk tidak menggendong Raazi dulu.
__ADS_1
Kepergian Tuan Wira menyisakan luka dan sakit yang mendalam du keluarganya. Rian, Dion, Danu hingga Reza berusaha menenangkan dan menguatkan Nyonya Helen. Namun kehilangan suami yang sangat ia cintai adalah sakit yang tidak bisa ia kendalikan.
Sejak Tuan Wira berpulang, Mia, Maya dan Sindi semakin sering berkunjung ke rumah Nyonya Helen. Mereka berusaha meyakinkan Nyonya Helen jika wanita yang sudah mereka anggap sebagai ibu kandung itu tidak sendiri. Banyak orang yang sayang dan peduli.
Suami adalah satu-satunya orang nomor satu dalam hati Nyonya Helen. Berapa banyak pun orang yang menenangkannya, baginya tetap saja. Hatinya tetap hampa dan pikirannya masih kosong. Ia masih sering melamun hingga akhirnya beberapa kali di larikan ke rumah sakit karena pingsan.
Kejadian yang sama pun dialami Nyonya Helen. Hanya enam bulan setelah kepergian Tuan Wira, Nyonya Helen pun berpulang. Kesedihan kembali menyelimuti keluarga Dion. Rian merangkul Dion dan menguatkannya.
Secara biologis, Dion memang satu-satunya anak dari pasangan Tuan Wira dan Nyonya Helen. Namun pada kenyataannya ada Rian yang selalu menemaninya. Ia selalu bersikap sebagai adik yang baik padanya.
"Ri, terima kasih buat semuanya. Aku harap kita akan tetap seperti ini meskipun mama dan papa sudah tidak ada," ucap Dion dengan mata berkaca.
"Jangan khawatir. Aku akan tetap jadi Rian yang selama ini Kakak kenal. Ada atau tanpa mama dan papa," jawab Rian.
Lega rasanya saat Dion mendengar jawaban Rian. Ini yang ia harapkan. Kini, hanya ada Tuan Felix dan orang tua Riri yang masih bisa mereka anggap orang tua. Bahkan Dion meminta Tuan Felix dan orang tua Riri untuk tinggal di rumah itu.
Rumah yang berukuran sangat besar itu tentu akan sepi tanpa kehadiran Nyonya Helen dan Tuan Wira. Dion tidak ingin rumah yang banyak kenangan itu menjadi rumah tua dan ditinggalkan begitu saja.
Tuan Wira dan orang tua Riri pun tinggal di rumah itu. Mengisi kamar-kamar kosong yang tersedia di sana. Hanya Rara yang menolak tinggal di rumah itu. Alasannya logis. Rara tidak mau rumah yang menurutnya sudah memberinya banyak kenangan rusak karena mereka meninggalkannya.
Rara memilih untuk tetap tinggal di rumah itu. Sendiri namun ditemani semangat yang membara. Ia sedang sangat senang menghadapi hari-harinya. Perubahan Rara menjadi lebih baik memang membuatnya jauh lebih bahagia.
Kebencian dan rasa iri sudah mulai terkikis dan lenyap. Kini ia merasa Riri adalah orang yang sangat baik dan sudah menyelamatkannya. Lahirnya Raazi ke dunia ini membawa efek yang sangat baik bagi Rara. Kehadiran anak laki-laki yang tampan itu sudah mengubah pandangan Rara pada adik kandungnya.
__ADS_1