
Dalam malam pekat, Riri melihat keluar ruangan. Bunyi alat medis membuat Riri merinding. Ia hanya sendiri. Mr. Aric sudah lama tidur lelap karena pengaruh obat.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Riri pelan.
Air matamembasahi pipi Riri saat mengingat Rian yang jauh di sana. Bayangan Rian memang selalu berhasil membuatnya sakit. Ia sangat merindukan masa-masa bersama Rian.
Tangannya mulai bergetar menyentuh layar ponselnya. Ia melihat kumpulan gambar di galeri ponselnya. Beberapa foto gaun pengantin dan dekorasi indah mulai ia hapus satu per satu. Bukan tanpa alasan. Ia kesal saat Rian tidak menghubunginya seharian.
"Kamu mulai melupakan aku Mas. Aku juga harus mulai melupakan semua harapanku yang terlalu besar," ucap Riri sambil mengusap pipinya yang basah.
Riri tidak tahu kalau sebenarnya Rian tengah sibuk. Rian sengaja menyibukkan diri dengan pekerjaan setelah lelah memikirkan Riri. Sengaja Rian tidak menghubungi wanita yang sangat ia cintai itu. Membuat hatinya sedikit membaik sebelum kembali merasakan sakit saat menghubungi Riri lagi.
Ya, memang rasa sakit itu akan muncul setiap kali Rian menghubungi wanita kesayangannya itu. Berbeda dengan dulu. Rasa bahagia akan ia rasakan saat bicara atau sekedar chatting dengan Riri. Semua memang sudah berubah. Dan Rian butuh waktu untuk beradaptasi dengan perubahan itu.
Tuan Felix memberanikan diri untuk menghubungi Rian. Ia menanyakan kabar anak angkatnya setelah sebelumnya Riri mengeluh padanya. Dengan suara serak Rian menjawab panggilan itu.
"Kamu sakit?" tanya Tuan Felix.
"Tidak Pah. Aku baru bangun tidur," jawab Rian.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Felix.
Rian meyakinkan Tuan Felix apapun yang terjadi ia akan tetap baik-baik saja. Ia meyakinkan ayahnya untuk tidak memikirkan hal yang tidak-tidak.
Tuan Felix sedikit tenang saat Rian terdengar sedikit baik-baik saja. Dari nada bicaranya, ia memastikan jika Rian sedang tidak sepenuhnya baik. Ada yang berbeda meskipun Rian berulang kali meyakinkannya tentang keadaan Rian.
"Apa Papa perlu ke sana untuk menemanimu?" goda Tuan Felix.
"Aku bukan Naura Pah," jawab Rian.
Jawaban Rian tentu membuat Tuan Felix tergelak. Bahasan pun seketika teralihkan. Mereka jadi membahas tentang Naura dan Narendra. Keduanya sama-sama melupakan sejenak masalah yang sebenarnya sedang terjadi.
Sampai panggilan berakhir, keduanya tidak membahas lagi tentang sakit hati yang tengah dirasakan oleh Rian. Keduanya berusaha menganggap jika semuanya baik-baik saja. Meskipun itu adalah sebuah ketidakmungkinan.
Hari ini Rian pergi ke kantor. Ini adalah hari kedua Rian tidak mengabari Riri sama sekali. Terakhir kali pesan dari Riri tidak yang tidak ia balas lagi. Setelah itu mereka hilang kontak sampai saat ini.
"Pagi Pak," ucap Manto yang selalu rutin menyapa Rian dengan ramah saat masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi," ucap Rian sambil melempar senyum renyah.
Manto mengusap dadanya saat melihat Rian sudah tidak seperti hari kemarin. Ia senang melihat senyuman dan semangat Rian yang mulai tertata.
Rupanya Sindi sudah berhasil mempengaruhi Rian untuk kembali membangun semangatnya. Meskipun belum sepenuhnya menjadi Rian yang ia kenal, paling tidak Rian sudah tidak seperti saat pertama mendapat masalah dengan Riri.
"Pak, nanti siang kita ada meeting bersama perusahaan X." Manto mengingatkan Rian untuk agendanya hari ini.
"Iya. saya ingat," jawab Rian sambil tersenyum.
"Bu Maudi sudah menelepon saya katanya mereka mengganti tempat meetingnya," ucap Manto.
Rian yang tengah meneguk air sampai tersedak. Ia terkejut mendengar nama yang baru saja diucapkan oleh Manto.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Manto.
"Siapa?" Rian balik bertanya.
"Siapa?" Manto nampak bingung dengan pertanyaan Rian.
__ADS_1
"Itu tadi siapa yang menelepon Bapak?" Rian kembali bertanya saat tahu Manto tidak mengerti dengan pertanyaannya.
"Oh, Bu Maudi Pak." Jawab Manto.
"Siapa dia?" tanya Rian.
"Asisten Tuan Ronald Pak," jawab Manto.
"Bagaimana wajahnya? Apa dia masih muda?" tanya Rian.
Manto tidak langsung menjawab. Ia bingung dengan pertanyaan Rian. Apa maksudnya? Apakah semudah itu Rian mencari pengganti Riri? Bahkan ia tidak mempedulikan asal usul wanita itu.
"Pak, gimana?" tanya Rian lagi.
"Emm, itu Pak. Maaf. Apa tadi Pak?" tanya Manto meyakinkan pertanyaan Rian lagi.
"Itu tadi wajah asisten Pak Ronald gimana? Apa dia masih muda?" tanya Rian lagi.
Manto mengangguk, tapi ia masih belum mengerti arah bicara Rian.
"Masih muda?" tanya Rian panik.
"Apa Bapak mengenalnya?" Manto balik bertanya.
"Sepertinya saya memang mengenal asisten itu," jawab Rian lemas.
Rian kesal saat Riri mulai menjauh kenapa yang mendekat justru Maudi? Sekalipun ia butuh pelarian, bukan Riri orangnya. Ia tidak mau kembali berhubungan dengan Rian.
"Bukankah itu bagus Pak?" tanya Manto.
Kerutan di dahi Manto menandakan ketidakmengertiannya atas jawaban Rian. Tapi sekali lagi, Manto bukan orang yang kepo. Ia hanya mengangguk dan kembali ke tempat kerjanya. Membiarkan Rian yang masih memijat kepalanya.
Rian berkali-kali melihat pergelangan tangannya. Semakin siang, kegelisahan itu semakin nyata. Manto semakin khawatir jika meeting siang ini tidak akan berjalan baik.
"Pak," sapa Manto.
Rian mengangkat wajahnya.
"Apa baik-baik saja?" tanya Manto memastikan.
"Baik. Saya baik-baik saja, Pak." Rian segera mengusap pelan wajahnya.
Senyuman Rian yang terpaksa membuat Manto tahu kalau atasannya itu sedang tidak baik. Sebagai rekan yang baik, Manto berusaha mencari jalan keluar hingga menawarkan diri untuk pergi meeting sendirian. Namun Rian menolak. Profesiaonalitas menjadi alasan kuatnya untuk tetap berangkat meskipun tidak menginginkan meeting itu.
Semua karena nama baik perusahaan. Masa depan perusahaan akan dipertaruhkan. Apapun yang terjadi Rian harus siap dengan semua kenyataan ini. Sampai saatnya Rian berangkat, Manto masih melihat wajah gelisah itu dengan sangat nyata.
Rian terlihat berkali-kali menyeka pelipisnya yang basah karena kerungat. Menunggu bukanlah hal yang ia suka. Apalagi saat orang yang ia tunggu adalah masa lalunya. Masa lalu yang membuatnya sangat membenci orang itu.
"Permisi," sapa seorang wanita yang membawa berkas.
"Iya. Selamat datang," ucap Manto dengan menunduk hormat.
Melihat Manto bersalaman, Rian ikut berdiri dan bersalaman dengan wanita itu. Meskipun ia tidak tahu siapa wanita yang ada di hadapannya itu, ia hanya berusaha bersikap baik.
"Kenalkan, ini Tuan Rian." Manto memperkenalkan Rian kepada wanita itu.
"Rian," ucap Rian sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Maudi," ucap wanita itu.
Rian nampak terkejut saat mendengar nama itu. Ia sampai lupa kalau tangan wanita itu masih dalam genggamannya.
"Senang berkenalan dengan Anda, Tuan." Wanita itu berusaha melepaskan tangannya.
"Ah, iya. Maaf, maaf. Jangan panggil Tuan. Panggil Rian saja," ucap Rian sambil salah tingkah.
Wajah Rian yang putih terlihat memerah. Manto tahu kalau Rian sangat gugup. Namun ia tidak mengerti apa yang membuat kegugupan Rian. Kecantikan wanita itu? Ah tidak. Banyak wanita cantik yang berusaha mendekati Rian, namun Rian tidak pernah terlihat segugup itu.
Jika memang benar Maudi adalah masa lalunya, tidak mungkin wanita itu terlihat begitu santai. Sama sekali tidak terlihat mengenal Rian.
"Oh ya Tuan Ronaldnya mana?" tanya Manto.
"Tuan Ronald sedang ke toilet sebentar," jawab Maudi.
Tidak lama, Tuan Ronald datang. Meeting pun segera dimulai dan berjalan lancar. Setelah semuanya selesai dan oke, mereka bubar. Rian dan Manto kembali bersalaman dengan Maudi. Kali ini Rian sudah tidak setegang sebelum meeting.
Perubahan itu bukan karena meeting, melainkan karena wanita bernama Maudi. Kali ini Manto tidak bisa menahan rasa penasarannya. Ia bertanya tentang hubungan Maudi dan perubahan sikap Rian.
Bukan jawaban yang ia terima, justru gelak tawa yang Manto dapatkan. Manto semakin tidak mengerti dengan sikap Rian. Seandainya Rian bukan atasannya, mungkin saat ini Manto akan menempelkan punggung tangannya pada dahi Rian.
"Apa pertanyaan saya lucu, Pak?" tanya Manto.
"Tidak, tidak. Saya hanya malu saja dengan diri saya sendiri," jawab Rian sambil kembali tertawa.
"Saya tidak mengerti Pak," ucap Manto yang masih menatap Rian dengan bingung.
"Saya pikir asisten Tuan Ronald adalah Maudi mantan saya. Ternyata bukan. Asisten Tuan Ronald adalah Maudi yang berbeda," jawab Rian sambil mengusap wajahnya.
Setiap kali Rian mengingat kejadian itu, ia jadi malu sendiri. Sedangkan Manto hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan sikap Rian.
Memangnya nama Maudi hanya mantan Bapak saja?
Sebenarnya Manto juga ingin ikut tertawa puas saat mendengar jawaban Rian. Namun ia sadar jika Rian adalah atasannya. Bagaimanapun, Manto harus menjaga perasaan Rian.
Kisah ini menjadi rahasia mereka berdua. Karena sesaat sebelum pulang, Rian memastikan kalau tidak akan ada yang tahu tentang kesalahpahaman itu kecuali mereka berdua.
Setelah pulang ke rumah, Manto baru bisa tertawa saat mengingat ketegangan Rian yang tidak jelas itu. Masih jelas terbayang gelisah Rian sejak pagi. Hingga sebelum berkenalan dengan Maudi, keringat masih mengucur deras di pelipis Rian.
"Punya bos kok aneh sekali. Wajah tampan, finansial mapan, tapi masih saja merasakan patah hati dan gerogi saat bertemu mantan. Kalau aku jadi Pak Rian, tinggal tunjuk saja mau yang mana." Manto bergumam pelan saat menatap wajahnya di depan cermin.
"Apa pah?" tanya istri Manto.
Manto terkejut saat baru menyadari kehadiran istrinya. Ucapannya memang hanya sebuah main-main saja. Tapi kemarahan istrinya bukan main. Ia sampai bersumpah dan berkali-kali menjelaskan tentang ucapannya.
Manto menepuk dahinya saat istrinya masih marah meskipun ia sudah menjelaskan berkali-kali. Bantingan pintu kamar meyakinkan Manto jika kemarahan istrinya sangat serius.
Semua gara-gara Anda, Pak Rian.
Ada penyesalan saat ia berucap yang tidak-tidak. Manto bahkan tidak sekalipun pernah berpikir untuk menduakan istrinya. Ucapannya hanya karena sudah berhari-hari melihat kegelisahan Rian yanh menurutnya sangat tidak perlu.
"Ma, sudah dong. Papa kan hamya becanda saja. Papa lagi bahas bos Papa di kantor," bujuk Manto.
"Dan kalau Papa bisa seperti bos Papa itu, Papa mau menduakan Mama kan?" tanya istri Manto kesal.
Manto menarik napas panjang saat harus menghadapi situasi sulit ini.
__ADS_1