
Hiro tersenyum saat melihat Maudi terlelap. Wajah cantik itu kembali berseri saat mengira hubungan Rian dan Shelin sudah berakhir. Sampai saat ini pun, Hiro masih tidak menyadari semua kejahatannya. Apa yang ia lakukan semua demi Maudi.
Hidupnya seolah hanya untuk membahagiakan Maudi. Ia tidak mau melihat Maudi kembali stres, karena itu sangat meyakitkan. Ayahnya sendiri pun menyebut Maudi sudah bukan Maudi yang ia kenal. Bahkan beberapa kali ayahnya pernah membawa Maudi ke psikiater.
Depresi ringan yang dialami Maudi sebenarnya tertolong karena ada Hiro. Adanya orang yang mengerti keadaannya dan selalu membelanya tidak membuat depresi itu semakin berat. Maudi memang beruntung memiliki adik hebat seperti Hiro.
"Hiro, Papa ingin bicara." Ayahnya Hiro menatap Hiro yang baru saja keluar dari kamar Maudi.
"Ada apa?" tanya Hiro.
"Berhenti membela Maudi. Dia itu salah. Papa malu kalau sampai ada orang yang tahu tingkah kamu dan Maudi," jawab ayahnya.
"Papa malu punya anak seperti aku dan Kak Maudi?" tanya Hiro.
"Tingkah kalian yang membuat Papa malu. Kamu sampai mengorbankan masa depan kamu hanya untuk misi balas dendam yang tidak beralasan," jawab ayahnya.
Ternyata ayahnya sudah tahu jika Hiro kuliah di Jerman hanya untuk mendekati Riri dan membuat hubungan itu hancur. Setelah itu, ia kembali tanpa menyelesaikan kuliahnya. Di Indonesia, Hiro sudah kuliah. Tapi akhir-akhir ini kerjaannya hanya mengunit Shelin.
Tugasnya bukan lagi tentang materi kuliah, tapi mencari informasi tentang hubungan Shelin dan Rian. Ayahnya sangat kecewa pada Hiro. Saat ia berharap Hiro berbeda dengan Maudi, nyatanya sama saja.
"Pah, apa yang aku lakukan karena aku sayang sama Kak Maudi. Aku ingin Kak Maudi bahagia. Apa papa tidak menginginkan hal yang sama?" tanya Hiro.
"Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya menderita. Tapi penderitaan yang Maudi rasakan semua karena ulahnya sendiri. Dia bahkan tega karena sudah membohongimu selama ini," ucap ayahnya.
Hiro tidak mengerti dengan apa yang disampaikan ayahnya. Cerita ayahnya malam itu membuat Hiro tidak bisa berkata apa-apa. Saat tahu kalau orang yang menghamili kakaknya bukan Rian, tiba-tiba ia menatap ayahnya dengan sangat tajam. Ia menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya sama sekali.
"Kamu mungkin tidak akan percaya dengan apa yang Papa ceritakan. Tapi itu kenyataannya. Papa yang ada di sana saat mengurus semua itu. Sudah cukup Papa malu dengan tingkah Maudi. Papa tidak mau malu karena ulahmu juga. Misi balas dendam itu tidak berasalan," ucap ayahnya.
Hiro masih duduk termenung. Benarkah semua yang disampaikan ayahnya? Untuk apa kalau seandainya itu hanya cerita bualan saja? Tidak ada untungnya seorang ayah menjelek-jelekkan anaknya sendiri.
"Biarkan Rian bahagia. Buatlah Maudi bahagia dengan cara menyadarkannya. Jangan biarkan Maudi selalu bahagia di atas penderitaan orang lain. Sudah cukup, Hiro." Ayahnya mengusap sudut matanya lalu pergi meninggalkan Hiro yang masih duduk menunduk.
Tidak lama Hiro kembali ke kamarnya. Ia mengingat kembali setiap ucapan ayahnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Benarkah seperti itu kenyataannya?
Rian mengusap wajahnya dengan kasar dan berusaha memejamkan matanya. Berharap bisa tidur dan melupakan apa yang baru saja terjadi.
Pagi hari Hiro menghubungi beberapa orang. Ia mengatur rencana untuk membuktikan ucapannya. Ia tidak bisa percaya begitu saja dengan cerita ayahnya.
Rencana berjalan siang hari saat Hiro melihat Rian tengah istirahat keluar kantor. Sangat kebetulan karena Rian keluar hanya sendiri. Seorang wanita seksi datang menghampiri Rian yang baru saja sampai ke rumah sakit.
"Tuan, tolong saya Tuan." Wanita seksi itu menangis sambil memeluk Rian.
"Lepaskan saya, tolong." Rian berusaha melepaskan pelukan wanita itu.
Tidak lama dua orang bertubuh besar datang dan menarik tangan wanita seksi itu. Teriakan wanita itu membuat Rian segera menarik tangan wanita itu.
"Lepaskan dia!" ucap Rian.
__ADS_1
"Siapa kamu? Jangan ikut campur! Kami tidak punya urusan denganmu," ucap salah stu pria bertubuh besar itu.
"Tuan, tolong. Saya takut," ucap wanita seksi itu.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Rian.
"Dia tidak mau melayani bos kami," jawab salah satu pria itu.
Rian diam. Ia terjebak dalam situasi yang tidak diinginkannya. Wanita di sampingnya itu ternyata bukan wanita baik-baik. Namun ia melihat wanita itu sangat ketakutan. Usianya juga masih sangat muda.
"Aku yang akan mengganti uang itu. Katakan berapa uang yang harus aku kembalikan!" ucap Rian.
"Kami hanya mau wanita itu," ucap pria itu.
"Aku akan membayar dua kali lipat," ucap Rian.
Hiro tersenyum sinis saat menyaksikan apa yang terjadi. Ternyata apa yang ia pikirkan tentang Rian memang benar. Ayahnya hanya tertipu dengan penampilan Rian.
Kamu memang benar-benar pria brengs*k!
Rian bahkan sampai membawa wanita itu ke dalam mobilnya dan pergi. Tidak ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, ia hanya meminta seseorang untuk mengikuti mereka. Merekam dan menjadikan itu senjata untuknya saat menyerang Rian.
"Pergilah bersenang-senang. Karena sebentar lagi aku yang akan bersenang-senang melihat kehancuranmu!" ucap Hiro.
Orang suruhan Hiro sudah meluncur mengikuti mobil Rian dan wanita suruhan Hiro. Tidak polos, wanita itu membawa rekaman yang sudah ia siapkan. Tidak satu kata pun yang hilang dari rekaman itu.
"Terserah Tuan saja," jawab wanita itu.
"Kenapa jadi teserah saya?" tanya Rian.
"Tuan sudah membayar mahal saya. Maka saya siap melayani Tuan. Saya milik Tuan," jawab wanita itu.
"Ah tidak! Saya tidak membelimu. Saya hanya berusaha menyelamatkanmu. Pergilah! Kamu sudah bebas," ucap Rian.
Wanita itu menatap Rian dengan penuh kebingungan. Padahal ia sudah berharap bisa melayani Rian. Pria yang berada di sampingnya itu sangat menggodanya. Tidak ingin hilang kesempatan, wanita itu berusaha menggoda Rian. Memeluknya dengan erat agar Rian bisa tergoda. Tapi sayangnya Rian dengan tegas melepaskan tangan wanita itu.
"Berhentilah! Tugasku sudah selesai. Silahkan turun dan jangan pernah bertemu denganku lagi kalau kamu tidak ingin menyesal," ucap Rian kesal.
Mobil Rian sudah menepi. Namun wanita itu masih belum turun. Ia malah memohon agar bisa melayani Rian, dengan alasan agar ia tidak merasa berhutang budi. Bukan tergoda, Rian justru semakin muak dengan sikap wanita itu yang semakin agresif.
"Keluar sekarang juga!" bentak Rian dengan mata yang sudah memerah.
Wanita itu segera keluar dari mobil. Ia hanya bisa memegang dadanya saat mobil Rian melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak lama sebuah mobil datang menghampirinya.
"Naiklah! Saya orang suruhan Tuan Hiro!" ucap pria dari dalam mobil.
Tanpa pikir panjang, wanita itu segera naik dan pergi dari sana. Ia segera membuka rekaman dalam tasnya dan menghentikan rekaman itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu turun di sana?" tanya pria itu.
"Dia marah saat aku berusaha menggodanya," jawab wanita seksi itu.
"Apa?" tanya pria itu.
"Dia tidak seperti yang kita pikirkan," jawab wanita seksi itu.
Mereka pergi menemui Hiro di tempat yang sudah dijanjikan. Kedatang mereka yang tidak diharapkan membuat Hiro marah. Apalagi saat ia mendengar kesaksian mereka tentang Rian yang ternyata tidak seperti bayangannya.
"Keluar!" bentak Hiro.
Wanita seksi dan pria itu segera pergi dari hadapan Hiro. Meninggalkan Hiro sendiri dengan segala kemarahan dan kekecewaannya. Ia begitu kecewa jika selama ini Rian tidak seburuk yang ia pikir. Ia marah kenapa ia bisa begitu bodoh selama ini. Menghabiskan waktunya hanya untuk menyakiti orang baik.
"Aku menyesal sudah melakukan semua kebodohan ini," ucap Hiro sambil memukul meja kaca hingga pecah berantakan.
Malam ini Hiro tidak pulang ke rumahnya. Ia tidak mau bertemu dengan Maudi. Kakak yang sangat ia sayangi itu ternyata sampai hati membohonginya selama ini.
Dengan penuh sesal, Hiro mencoba memutar rekaman itu. Ia memastikan jika Rian memang benar-benar pria baik. Dan akhirnya Hiro menundukkan kepalanya. Ia begitu terkejut saat mendengar Rian begitu kasar saat wanita seksi suruhannya berusaha menggoda.
"Kamu bodoh Hiro! Kamu bodoh," ucap Hiro kesal.
Rasa lelah yang dirasakannya cukup membuatnya lelah. Ia tertidur dengan darah yang mengucur segar daru tangannya. Luka tangannya saat menghantam meja kaca itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa kecewanya.
Pagi-pagi Hiro bangun. Ia pulang hanya sekedar membawa sebagian pakaian dan barang-barangnya. Ia tidak mau lagi tinggal di rumah itu. Bertemu dengan Maudi akan sangat membuatnya sakit. Ia tidak mau hubungannya menjadi tidak baik dengan Maudi. Bagaimanapun Maudi adalah kakak kandung yang memang seharusnya ia jaga. Tapi tidak untuk saat ini.
"Mau kemana?" tanya Maudi dengan sangat ceria dan memeluk Hiro dengan manja seperti biasanya.
Perlakuan Hiro yang manis dan dewasa, Maudi justru merasa Hiro adalah kakaknya. Ia selalu bisa diandalkan untuk setiap masalah yang dihadapinya.
"Aku liburan dulu ya!" jawab Hiro.
"Liburan kemana? Kenapa aku tidak diajak?" tanya Maudi.
Hiro masih berusaha mencari jawaban agar ia terbebas dari Maudi sementara ini. Bahkan ayahnya sendiri pun tidak tahu kalau Hiro memang sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Hanya sebentar. Nanti aku kembali lagi," ucap Hiro.
Hiro melihat wajah Maudi yang cenberut. Sebenarnya ia tidak tega melihat kakak kandungnya begitu sakit hati. Padahal Maudi terlihat sangat bahagia hari ini.
Untung saja Hiro tidak memberi tahu tentang misinya tadi. Kalau seandainya Maudi tahu, ia pasti akan menggagalkan semua rencananya. Maudi yang sudah tahu sikap Rian yang sebenarnya pasti akan menutupi semua kebaikan Rian.
Sayangnya Tuhan sudah menunjukkan semuanya saat ini. Maudi tidak bisa berbohong lagi. Hiro sudah tahu semuanya. Namun sayangnya Hiro masih belum mau membuka semuanya. Ia depresi Maudi kembali kambuh. Sudah cukup bagi Hiro menyaksikan Maudi seperti dulu lagi.
"Hiro, i love you." Terikan Maudi terdengar sangat tulus.
Hiro hanya melihat Maudi sambil tersenyum dan memeluknya untuk terakhir kali. Sebelum akhirnya mereka akan berpisah dengan waktu yang tidak bisa ditentukan. Ia hanya butuh waktu untuk memulihkan keadaannya hatinya.
__ADS_1