
"Kamu sedang apa Ri?" tanya Mia sambil menepuk bahu Rian.
Rian yang terkejut hampir saja membuat Nyonya Helen tahu kalau ia sedang mengintip. Untung saja Rian segera membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa?" tanya Mia lagi
"Hussst," Rian menempelkan telunjuknya pada bibirnya. Lalu ia menunjuk kamar yang terbuka.
"Mama?" tanya Mia.
Rian mengangguk.
"Mama kenapa?" tanya Mia bingung.
"Sini," ajak Rian sambil menarik tangan Mia.
"Rian ada apa sih?" tanya Mia sambil terus mengikuti langkah Rian.
"Kakak kok tidak bisa aku beri kode sih?" ucap Rian kesal.
"Kode apa?" tanya Mia semakin bingung.
Rian tidak punya pilihan lain selain menjelaskan apa yang ia tahu kepada Mia. Mia hanya bisa merasa ikut sakit saat mendengar cerita Rian.
"Papa tidak mau ada orang yang tahu," ucap Mia sambil mengusap sudut matanya.
"Kakak jangan menangis begitu dong. Aku kan hanya bertanya," ucap Rian.
Mia tertawa. Ia terhibur dengan ucapan polos Rian. Sementara kini giliran Rian yang bingung dengan sikap Mia.
"Kakak kenapa sih? Tidak jelas. Aneh sekali," ucap Rian.
"Kalian kok malah kumpul di dapur sih? Pada gibah apa nih? Kok aku tidak diajak?" tanya Dion yang hendak mengambil minum di dapur.
"Enak aja gibah. Kita bukan sedang gibah ya A," bantah Mia.
"Loh, memangnya kalian sedang apa kalau bukan gibah?" tanya Dion.
Mia pun kembali menjelaskan alasannya bicara berdua di dapur. Dion malu sendiri dengan apa yang mereka bicarakan tentang ibunya. Namun apa daya, karena memang itu adalah kenyataan yang terjadi.
"Jangan malu Kak. Mama itu wanita hebat. Dia selalu berusaha kuat meskipun sebenarnya menyembunyikan kerapuhannya," ucap Rian.
"Tapi aku malu sendiri saat Mama berusaha membohongi setiap orang," ucap Dion.
"A, benar kata Rian. Setelah kita semua tahu alasan Mama berbohong, kita justru semakin salut sama Mama. Alasan kebohongan Mama sangat jelas. Aa tidak perlu khawatir ya!" ucap Mia.
"Terima kasih ya karena kalian sudah sangat mengerti keadaan keluargaku," ucap Dion.
"Mama Helen adalah Mama ku juga. Rasa sayangku mungkin tidak sama besar dengan rasa sayang Kak Dion untuk Mama. Tapi aku sangat menyayangi Mama," ucap Rian.
"Ri, terima kasih banyak." Dion merangkul bahu Rian dengan sangat senang.
"Tidak perlu berterima kasih Kak. Sudah seharusnya aku bersikap seperti ini," ucap Rian.
Rian mengantar Nyonya Helen untuk pulang setelah waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Meskipun sempat menolak karena bisa diantar oleh sopir, namun Rian meyakinkan Nyonya Helen jika ia lebih aman jika pulang bersamanya.
"Oma pulang ya Naura, Rendra." Nyonya Helen pamit dan memeluk kedua cucu kembarnya.
"Iya Oma. Om Rian nanti pulang lagi ya! Jangan tidur di rumah Oma," pinta Naura.
"Siap," ucap Rian sambil mengangkat jempol tangannya.
Rian segera pergi mengantarkan Nyonya Helen, sedangkan Tuan Felix tidak bisa ikut karena menjaga kecurigaan Naura dan Narendra. Tuan Felix baru akan ke rumah Nyonya Helen besok. Gantian dengan Rian yang akan menemani Naura dan Narendra.
"Ri, Mama tahu kamu sudah tahu semuanya." Nyonya Helen tiba-tiba memecah keheningan.
Tentu hal itu membuat Rian terkejut dan bingung untuk bersikap seperti apa. Ia hanya diam dan tetap melajukan mobilnya. Berpura-pura tidak mendengar ucapan Nyonya Helen karena sibuk memperhatikan jalanan yang cukup ramai.
"Ri, jangan berpura-pura begitu. Mama tidak apa-apa," ucap Nyonya Helen.
Rian menelan salivanya saat Nyonya Helen mengucapkan hal itu. Ia benar-benar merasa sedang duduk bersama seorang peramal luar biasa yang tahu apa isi kepalanya.
"Mama bicara apa sih? Aku tidak mengerti," ucap Rian masih dengan sandiwaranya.
__ADS_1
"Sudahlah Ri. Mama tahu kalau Dion ataupun Mia pasti akan menceritakan semuanya padamu. Iya kan?" desak Nyonya Helen.
Rian merasa sedang berada di ujung tanduk. Tidak bisa berkutik karena semua yang ucapkan Nyonya Helen memang benar adanya. Hanya saja ia bingung harus bersikap seperti apa. Ia takut kalau jawabannya justru akan melukai hati Nyonya Helen dan membuat masalah baru.
"Ri, Papa mungkin akan marah pada Mama saat tahu kamu datang ke rumah." Nyonya Helen kembali membuat Rian semakin bingung.
"Kalau begitu aku mengantar Mama sampai depan saja?" tanya Rian.
"Kamu tidak mau bertemu dengan Papamu?" Nyonya Helen balik bertanya.
"Aku hanya tidak ingin Mama kena marah karena sudah membawaku ke rumah," jawab Rian.
"Seharusnya kamu bisa meredam kemarahan Papa," ucap Nyonya Helen.
Hah? Jawaban macam apa ini? Kenapa aku jadi serba salah begini? Aku harus meredam kemarahan Papa Wira? Bagaimana caranya?
Rian bingung dengan ucapan Nyonya Helen yang terasa seperti menantangnya. Ia semakin bingung saat harus meredam kemarahan Tuan Wira, sementara ia sendiri tidak tahu bagaimana Tuan Wira ketika sedang marah.
Selama mengenal Tuan Wira, Rian sama sekali tidak sekalipun melihat ayah angkatnya itu marah. Lalu marah seperti apa yang harus ia redam? Rian merasa takut salah bersikap dan justru membuat masalah. Itu saja.
"Ri, apa kamu tidak merindukan Papamu?" tanya Nyonya Helen membuyarkan lamunan Rian.
"Hah? Emm, bukan begitu Ma. Aku tentu sangat merindukan Papa. Tapi aku tidak tahu bisa atau tidak saat harus meredam kemarahan Papa," jawab Rian.
"Harusnya kamu bisa. Dan Mama yakin kamu pasti bisa," ucap Nyonya Helen.
Terdengar sangat meyakinkan, namun Rian sendiri tidak seyakin itu. Kepalanya sedang memikirkan cara yang harus ia lakukan. Namun sayangnya tidak satupun cara yang terbersit di kepalanya. Padahal jarak menuju rumah Nyonya Helen sudah sangat dekat.
"Sudah sampai Ma," ucap Rian.
"Terima kasih ya! Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Papa tidak akan tahu kalau kamu sudah di Indonesia," ucap Nyonya Helen.
Kalimat yang sangat menyayat hatinya. Saat seorang ibu menyerah dan tidak ingin berbuat banyak. Rian memperhatikan langkah Nyonya Helen yang terlihat sangat gontai.
"Ma, tunggu aku!" ucap Rian.
Tangannya menahan langkah Nyonya Helen. Rian melihat jelas air nata berderai membasahi pipinya.
"Terima kasih Ri. Mama memang butuh teman sekarang. Mama tidak tega melihat Papa seperti ini," ucap Nyonya Helen.
"Kita akan sama-sama membuat Papa semangat untuk sembuh lagi ya Ma," ucap Rian.
Ucapan Rian mampu menguatkan hati Nyonya Helen. Ia mengangguk dan segera mengajak Rian untuk masuk. Bertemu dengan suaminya meskipun belum tahu bagaimana responnya nanti.
"Papa, Mama pulang." Nyonya Helen berteriak ceria menuju sebuah ruangan.
Rian masih memperhatikan Nyonya Helen. Ia salut pada ibu angkatnya itu. Padahal ia baru saja melihat Nyonya Helen menangis karena kesedihannya dengan keadaan Tuan Wira. Namun dengan sekejap ia berpura-pura ceria hanya untuk memberi semangat pada suaminya. Ia tahu ini sangat berat.
Ma, maafkan aku karena tidak tahu kalau Mama sedang berjuang seberat ini. Aku akan menemani Mama berjuang. Kita akan berjuang sama-sama ya Ma. Aku yakin Papa pasti akan sehat kembali.
"Bagaimana keadaan cucu kembarku?" tanya Tuan Wira.
"Mereka sehat. Sangat sehat. Mereka juga merindukanmu Pah," ucap Nyonya Helen sambil mengusap dahi suaminya yang terlihat berkeringat. "Papa mematikan AC?" lanjutnya.
"Tadi Papa demam. Makanya AC dimatikan," jawab Tuan Wira.
"Papa demam lagi?" tanya Nyonya Helen panik.
"Tidak, tidak. Hanya sedikit tidak nyaman saja dengan AC," jawab Tuan Wira.
Bagaimanapun Tuan Wira tidak ingin membuat istrinya panik. Ia sangat beruntung dengan keberadaan Nyonya Helen yang selalu berada di sampingnya saat sedang dalam keadaan sakit. Tidak pernah sekalipun istrinya acuh terlebih meninggalkannya.
Perhatian dan kasih sayang istrinya sangat Tuan Wira rasakan. Bagaimana cara Nyonya Helen memperlakukannya memang sangat baik. Tentu hal itu membuat semangat baru dalam hidupnya. Buktinya sudah banyak sekali perubahan sejak pertama penyakit stroke itu menyerangnya.
"Pah," sapa Rian yang sudah lama memperhatikan kedua orang tua angkatnya.
"Pah, Rian adalah anak kita. Feelingnya sangat kuat. Dia terus memaksa Mama untuk bertemu dengan Papa padahal tidak ada yang memberi tahu keadaan Papa," ucap Nyonya Helen saat melihat raut tidak suka pada wajah suaminya.
"Siapa lagi yang tahu keadaanku?" tanya Tuan Wira dengan ketus.
"Pah, ini bukan aib. Kenapa Papa harus malu?" tanya Rian.
"Keluar! Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun. Aku ingin sendiri," ucap Tuan Wira sambil membuang muka.
__ADS_1
"Baik Pah. Papa tenang ya! Mama akan meminta Rian untuk segera pergi dari sini," ucap Nyonya Helen.
Berbeda dengan Nyonya Helen yang menuruti permintaan Tuan Wira untuk keluar dari kamar itu, Rian justru masuk dan menarik tangan Nyonya Helen untuk masuk kembali.
"Pah, aku dan Mama sayang sama Papa. Aku yakin Papa bisa sembuh. Aku ada di sini untuk Papa," ucap Rian.
"Pergi! Jangan bicara tentang sembuh. Sudah berapa rumah sakit aku datangi. Apa hasilnya?Aku hanya bisa duduk di kursi roda seperti ini. Lalu apa yang kamu bisa lakukan di sini?" tanya Tuan Wira.
"Aku punya sayang untuk Papa. Aku yakin kasih sayang aku dan Mama serta yang lainnya untuk Papa akan menjadi obat. Dukungan kita semua bisa menjadi obat kalau Papa bisa lebih tenang menyikapi semua ini," jawab Rian sambil duduk di samping kursi roda.
"Hentikan omong kosongmu!" ucap Tuan Wira sambil berusaha menjauh dari Rian.
"Pah, cukup! Jangan seperti ini! Bukan hanya Papa yang sakit. Tapi kita semua juga sakit. Papa pikir aku tidak sakit dengan kebohongan ini?" tanya Rian sambil menarik kursi roda itu agar tetap berada di sampingnya.
"Rian, lepaskan!" ucap Tuan Wira tegas.
"Tidak Pah. Aku tidak akan melepaskan Papa sampai Papa menerima kehadiranku. Dan kita akan bicara dari hati ke hati," ucap Rian.
"Apa lagi yang ingin kamu bicarakan? Pekerjaan? Karir? Sementara aku sudah tidak berguna seperti ini. Aku tidak bisa berjalan. Tanganku tremor. Apa lagi yang masih bisa aku lakukan?" tanya Tuan Wira dengan tatapan kosong.
Rian melihat banyak sekali beban pada Tuan Wira. Wajar, karena yang Rian tahu ayah angkatnya itu adalah orang yang gila bekerja. Ia bisa tidak tidur semalaman hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Lalu saat ini? Ia tidak bisa melakukan apapun. Pasti berat.
"Pah, ada yang bisa Papa lakukan saat ini. Menyemangati diri Papa sendiri, agar semua keluarga Papa bisa bahagia lagi. Urusan pekerjaan nomor sekian. Tapi Papa harus tahu apa yang terjadi dengan keluarga Papa. Mereka menangis. Mereka sakit. Papa tahu itu?" tanya Rian.
Tidak ada jawaban. Tuan Wira hanya menunduk dan berusaha menenangkan pikirannya. Menguasai emosinya agar bisa tetap terkendali. Ia baru mengangkat wajahnya saat mendengar dering ponsel dari saku celana Rian.
"Pah, lihat. Calon istriku meneleponku." Rian menunjukkan ponselnya pada Tuan Wira.
Tidak lama, Rian kembali memasukkan ponsel itu ke dalam saku celananya.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Tuan Wira saat dering ponsel itu akhirnya berhenti.
"Aku memang mencintai wanita ini. Tapi aku juga sangat menyayangi Papa. Aku tidak bisa asyik menelepon dengannya sementara Papaku ini masih marah padaku. Tugasku belum selesai," jawab Rian.
Tuan Wira melihat ke arah Rian lalu tatapannya berpindah ke arah Nyonya Helen. Istrinya tahu dengan kode mata yang diberikannya. Namun gelengan kepala istrinya adalah jawaban yang tidak diinginkannya.
Rian tersenyum saat mengetahui kode itu. Ia pun menjelaskan bahwa Nyonya Helen belum tahu tentang wanita yang baru saja menghubunginya itu. Ia hanya akan bercerita dan mengenalkan Riri pada Tuan Wira kalau Tuan Wira bersedia keluar kamar dan menikmati udara malam di taman belakang.
Karena rasa ingin tahunya yang besar itu, Tuan Wira mengiyakan. Ini adalah kali pertama ia mau keluar kamar setelah hampir satu minggu hanya berada di ruangan ukuran lima kali lima itu.
"Aku pakaikan jaket ya! Biar Papa tidak masuk angin," ucap Rian.
Bibirnya tersenyum dan menyertai anggukan kepalanya. Ia melihat wajah bahagia dari istri dan anak angkatnya itu. Tiba-tiba kepalanya memikirkan Dion. Anak kandungnya justru tidak bisa membuatmya setenang ini. Ada pikiran buruk saat ia menuduh Dion sudah terlalu bahagia dengan keluarga barunya.
"Ayo Pah!" ajak Rian.
Mereka keluar menuju taman belakang. Malam ini sangat indah. Bintang yang bertaburan di langit menyajikan pemandangan indah malam ini.
"Pah, aku mau mengenalkan calon istriku. Belum sejauh itu sih. Hanya saja aku percaya bahwa seucap kata adalah doa. Makanya aku selalu menyebutnya calon istri," ucap Rian memulai percakapan malam itu.
"Siapa dia?" tanya Tuan Wira yang sudah sangat penasaran.
"Namanya Riri Puspita Dewi Permata Sari. Tapi aku memanggilnya Mpus," jawab Rian.
Tuan Wira melebarkan bibirnya. Ia merasa heran dengan panggilan untuk wanita itu. Namun bukan hanya Tuan Wira, Nyonya Helen justru terlihat jauh lebih bahagia. Ini pertama kalinya Nyonya Helen melihat Tuan Wira bisa tersenyum lepas semenjak sakit.
"Seperti kucing," ucap Tuan Wira.
"Sudah kuduga. Setiap orang pasti menertawakan nama panggilan itu. Tapi lucu kan Pah?" ucap Rian.
"Kamu bisa memanggilnya Riri. Kenapa harus Mpus?" tanya Tuan Wira.
"Biar beda dari yang lain," bisik Rian.
"Hey, kalau mau beda itu yang romantis. Bukan yang aneh begitu," ucap Tuan Wira.
"Tapi Mpus tidak terganggu kok Pah," ucap Rian.
"Hebat ya! Kalau Papa sih udah tak pites," ucap Tuan Wira.
"Untung pacarku bukan alumni anak taekwondo seperti Papa ya!" ucap Rian.
Seketika Tuan Wira tertawa dengan ucapan Rian. Ia membayangkan bagaimana kalau seandainya Rian berpacaran dengan seorang anak taekwondo. Bukan hanya Rian, ia juga takut. Salah ngomong ya siap-siap dihajar.
__ADS_1