Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Terganggu


__ADS_3

"Mas, mau apa ke sini?" tanya Riri.


"Aku mau bicara denganmu," jawab Rian.


"Bicara soal apa?" tanya Riri.


"Kamu tidak bisa mempersilahkan aku duduk dulu?" tanya Rian.


Riri tertawa saat menyadari jika dari tadi Rian masih berdiri di depan gerbang.


"Ayo masuk Mas," ajak Riri. "Tapi di sini saja ya! Aku tidak biasa menerima tamu," lanjut Riri sambil membawa segelas air.


"Kamu tidak pernah menerima tamu?" tanya Rian.


"Aku kan tidak punya teman selain Mas," jawab Riri.


"Aku tidak percaya," jawab Rian.


"Terserah," jawab Riri dengan santai.


"Kenapa? Kamu minder?" tanya Rian.


"Dengan statusku?" tanya Riri kenbali.


"Ya aku tidak tahu," jawab Rian.


"Mas, mungkin orang lain berpikir aku akan minder dengan statusku sebagai pembantu. Tapi sejauh ini aku menikmati semuanya tanpa merasa malu sama sekali. Aku justru bangga dengan diriku sendiri. Mana ada pembantu yang bisa kuliah di kampus ternama di sini?" ucap Riri tanpa merasa terbebani sedikitpun.


"Ya, aku suka itu. Kamu pantas bangga dengan dirimu sendiri. Karena bukan hanya kamu. Aku juga bangga. Dan aku yakin banyak orang yang bangga dengan pencapaianmu," ucap Rian.


"Terima kasih Mas. Akhirnya ada orang yang tidak memandangku dengan sebelah mata," ucap Riri.


"Pus, aku mau tahu kehidupanmu boleh?" tanya Rian.


"Kehidupan yang mana?" tanya Riri bingung.


"Ya kenapa kamu bisa ada di tempat ini?" tanya Rian hati-hati agar Riri tidak tersinggung.


"Mas, aku sebenarnya--," ucapan Riri menggantung saat ada bunyi khusus yang membuat Riri segera berlari ke dalam dan menutup pintu rapat-rapat.


Rian hanya menatap Riri bingung. Ia berdiri dan melihat ke dalam rumah dari kaca. Namun sayangnya Rian tidak bisa melihat apapun. Ia terlihat gelisah. Berjalan mondar-mandir tidak karuan.


"Pus, ada apa? Mr. Aric parah?" tanya Rian saat melihat Riri keluar dari rumah.


"Mas pulang aja ya! Mr. Aric tahu Mas di sini. Jadi aku mohon Mas pulang ya!" ucap Riri memohon.


"Tapi Mr. Aric mengenalku. Biarkan aku masuk dan menjelaskan semuanya," ucap Rian.


"Jangan! Aku sudah bilang Mr. Aric tidak ada yang mau jika ia sedang sakit. Jadi tolong ya Mas pulang aja," ucap Riri.


"Kalau begitu, aku minta nomor ponselmu!" Rian mengeluarkan ponselnya dan segera memberikannya pada Riri.

__ADS_1


"Maaf Mas, aku tidak punya ponsel. Mas tolong pulang sekarang ya!" ucap Riri sambil mendorong Rian.


"Kamu mengusirku, Pus?" tanya Rian.


"Terserah apa katamu, Mas. Dari pada aku yang diusir Mr. Aric," jawab Riri.


Rian pun segera pulang. Meskipun ia masih tidak percaya jika Riri mengusirnya. Ia juga tidak mempercayai Riri yang mengatakan tidak mempunyai ponsel. Rasanya mustahil di zaman sekarang ini masih ada mahasiswa yang tidak mempunyai ponsel.


Dia pikir tinggal di zaman batu? Mana mungkin Mpus tidak punya ponsel.


Rian terus menggerutu saat pulang. Belum lagi saat sampai di rumah, Tuan Felix sudah menunggunya dan bertanya tentang kabar Riri dan Mr. Aric.


"Aku tidak bertemu dengan Mr. Aric," ucap Rian.


"Katanya kamu mau ke rumah Mpus," ucap Tuan Felix.


"Pah, Mpus tidak mengizinkanku untuk menemui Mr. Aric. Katanya Mr. Aric paling tidak suka jika ada yang tahu kalau ada yang tahu dia sedang sakit. Aku sampai diusir Mpus," ucap Rian.


"Oh ya?" tanya Tuan Felix tidak percaya.


Sebenarnya Mr. Aric tidak tahu jika Rian sedang mengunjungi Riri. Ia hanya tahu kedatangan Rian dari sebuah pesan yang dikirim oleh Tuan Felix. Ia mengabarkan jika anaknya sedang ada di rumah Mr. Aric. Sontak Mr. Aric segera membunyikan alarm khusus agar Riri segera menemuinya. Ia segera meminta Riri agar Rian segera pulang.


"Aku bahkan tidak tahu bagaimana nasib Riri sekarang. Mungkin dia sedabg dihukum karena aku sudah lancang main ke sana," ucap Rian yang merasa bersalah.


"Ya sudah kamu cepat hubungi Mpus. Telepon dia dan tanyakan kabarnya," ucap Tuan Felix.


"Aku tidak punya nomor ponselnya Pah," ucap Rian.


"Pah, dia tidak punya ponsel." Rian ikut kesal.


"Mana ada zaman sekarang mahasiswa yang tidak mempunyai ponsel," ucap Tuan Felix.


"Aku juga berpikir begitu. Tapi aku diusir. Mpus kelihatan sangat panik," ucap Rian.


"Apa Papa harus menemuinya biar Mr. Aric tidak menghukum Mpus? Kalau perlu Mpus di sini saja. Aku mau Mpus jadi anakku," ucap Tuan Felix.


"Jangan Pah. Itu hanya akan menambah masalah Mpus. Biar nanti aku cari tahu apa yang terjadi sama Mpus. Aku yang akan meminta maaf pada Mr. Aric kalau Mpus dihukum karena kedatanganku ke sana," ucap Rian.


Tuan Felix tersenyum. Ia senang saat melihat Rian tampak bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan.


"Papa bangga padamu. Katakan pada Mr. Aric, aku siap membawa Mpus jadi anakku. Aku tidak akan menjadikan Mpus pembantu di rumah ini," ucap Tuan Felix.


"Terus Papa mau ganti aku sama Mpus?" tanya Rian.


"Aku akan menjadikan Mpus anak menantuku," jawab Tuan Felix sambil berlalu meninggalkan Rian.


Anak menantu? Aku sama Mpus kan hanya berteman. Papa jangan sampai salah paham tentang Mpus. Kedekatan aku dan Mpus tidak lebih dari seorang sahabat saja.


Rian segera masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Ia belum mandi. Duduk santai di kursi dengan memikirkan apa yang terjadi dengan Riri saat ini.


"Pus, kamu pasti sedang dihukum. Maafin aku ya Pus. Aku tidak tahu kalau Mr. Aric akan semarah itu atas kedatanganku. Padahal dia mengenalku. Pantas saja kamu tidak berteman dengan siapapun," gumam Rian.

__ADS_1


Rian merasa Riri adalah sahabat terbaiknya saat ini. Namun soal perasaan lebih, sepertinya tidak ada perasaan selain rasa pedulinya terhadap sahabat.


Maudi, sampai saat ini hatinya masih menjadi milik Maudi. Ia belum bisa membuka hatinya untuk wanita manapun selain Maudi. Tapi paling tidak, kehadiran Riri membuat waktu Rian tidak tersita sepenuhnya untuk meratapi perasaannya pada Maudi.


Rian ingin segera besok. Di jadwal yang ia pegang, Riri seharusnya masuk pagi. Tapi Rian tidak yakin karena Mr. Aric yang sedang sakit. Tidak mungkin Riri meninggalkan Mr. Aric. Namun ia masih berharap jika ada kesempatan untuk mencari tahu tentang latar belakang Riri.


Pagi-pagi sekali Rian sudah berangkat ke kampus. Menunggu di sebuah bebangkuan yang biasanya dilewati oleh Riri saat ke kelas. Namun hampir dua puluh menit ia di sana, Riri tidak kunjung datang.


"Apa dia bolos lagi ya?" gumam Rian.


"Rian," panggil Rey.


Rian melihat ke arah sumber suara. Ia malas karena melihat Maudi sudah menggandeng tangan Rey.


"Kamu menunggu Riri?" tanya Rey menghampiri Rian.


"Iya," jawab Rian dengan senyum lebarnya.


"Kamu tidak bisa cari yang lebih dari Riri?" tanya Maudi dengan sinis.


"Lebih apa?" tanya Rian.


"Ya lebih terhormat dong. Masa masih saja mengejar seorang pembantu. Cari yang levelnya lebih tinggi," jawab Maudi.


"Memangnya kalau aku pembantu kenapa? Kalau levelku jauh lebih rendah dari kalian kenapa? Aku juga tidak meminta siapapun untuk berteman denganku," ucap Riri yang tiba-tiba datang.


"Pus," ucap Rian terkejut.


"Ya kamu harusnya sadar diri siapa kamu dan siapa kita," ucap Maudi.


"Sadar diri? Rasanya aku tidak pernah memohon untuk berteman dengan kalian," ucap Riri.


"Kamu itu pembantu yang sombong," ucap Maudi.


"Atas dasar apa Mba menyebutku sombong?" tanya Riri.


"Pus sudah Pus. Ayo kita pergi!" ajak Rian menarik tangan Riri.


Riri ikut dengan Rian sedangkan Maudi ditenangkan oleh Rey.


"Mas, lepaskan. Aku harap Mas tidak menemuiku lagi. Mas tahu kan semua ini jarena siapa? Benar kata Mba Maudi. Masih banyak wanita yang selevel dengan kalian. Jadi jangan menggangguku lagi," ucap Riri.


"Kamu merasa terganggu dengan kehadiranku?" tanya Rian.


"Iya," jawab Riri.


"Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Maafkan aku jika selama ini sudah mengganggumu," ucap Rian.


"Terima kasih. Aku permisi dulu Mas," ucap Riri.


Rian melihat punggung Riri yang semakin menjauh sampai akhirnya tidak lagi terlihat olehnya.

__ADS_1


Aku tidak percaya jika kamu tidak membutuhkan teman selama kuliah di sini. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti akan membutuhkanku. Kita lihat saja nanti.


__ADS_2