Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Rencana busuk


__ADS_3

"Ah, aku tidak bisa tidur." Rian bangun dari ranjangnya.


Tangannya mengusap pelan wajahnya dan duduk di tepi ranjang. Ia kembali teringat bayangan Hiro. Setelah berusaha menahan kegelisahannya, Rian kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Berganti posisi berkali-kali tanda jika ia sedang gelisah.


"Aku harus meyakinkan Riri tentang perasaanku. Aku tidak bisa membiarkan Riri menjadi milik orang lain," gumam Rian.


Melihat jam yang terus bergerak, Rian segera tidur karena besok ia harus masuk kelas pagi. Ia tidak mau jika sampai kesiangan dan membiarkan Riri bertemu dengan Hiro.


Saat pagi, Rian bangun dengan begitu semangat. Ia segera mandi dan bersiap. Ia sudah sarapan bahkan sebelum Tuan Felix datang ke ruang makan.


"Pah," Rian mengetuk pintu kamar Tuan Felix.


"Iya," jawab Tuan Felix.


Tuan Felix menatap Rian dari atas hingga bawah. Setelan rapi dengan tas laptop yang sudah ia bawa. Matanya mengernyit melihat Rian sudah siap sepagi ini. Ia bahkan sampai melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku ada urusan dulu, Pah." Rian seakan menyadari pertanyaan yang belum sempat Tuan Felix ucapkan.


"Soal Mpus?" tanya Tuan Felix.


Rian tidak menjawab. Ia hanya menggaruk tengkuknya dan memunduk. Menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu saat sesemangat ini hanya demi cinta.


"Hati-hati! Ingat pesan Papa, perjuangkan apa yang pantas kamu perjuangkan." Tuan Felix menepuk bahu Rian dan pergi.


Rian mengangkat wajahnya dan mendapati ayahnya sudah tidak ada di sana. Ia segera menemui Tuan Felix yang sudah duduk di ruang makan.


"Hati-hati," ucap Tuan Felix lagi.


Sebagai seorang ayah yang senang saat anaknya bahagia, Tuan Felix sangat mendukung apa yang dilakukan oleh Rian. Ia tidak ingin Rian kehilangan cintanya seperti apa yang sudah ia alami.


Rian segera menerima uluran tangan Tuan Felix dan menciumnya. Senyum malu-malu Rian tunjukkan sebelum akhirnya ia benar-benar pamit.


Semangatnya pagi ini harus menelan kecewa karena ia tidak tahu jika hari ini ternyata wanita pujaannya masuk kelas siang. Ia bahkan harus menunggu penuh kebosanan sendirian. Satu jam sebelum masuk kelas ia hanya berteman dengan angin pagi dan keheningan. Belum banyak yang datang saat itu.


Sampai akhirnya Rey datang dan duduk di sampingnya. Rey menatap Rian kesal saat mendengar cerita Rian datang lebih pagi.


"Kok kamu jadi kesal sama aku?" tanya Rian.


"Kamu benar-benar bikin malu. Aku jadi takut kalau Hiro yang akan memenangkan hati Riri," jawab Rey.


"Jangan ngomong sembarangan," ucap Rian sambil memukul tangan Rey.


"Kamu kalau suka sama perempuan ya perjuangkan dong," ucap Rey.

__ADS_1


"Kamu tidak lihat aku ke kampus sepagi ini? Masih kamu pikir aku tidak berjuang?" tanya Rian kesal.


"Perjuangan macam apa? Jadwal Riri saja kamu tidak tahu. Kalah sama aku," ucap Rey kesal.


"Kamu tahu jadwal Mpus?" tanya Rian dengan nada tidak suka.


"Tahu. Karena kami tidak lepas komunikasi," jawab Rey.


"Kalian sering berkomunikasi?" tanya Rian.


"Tidak sering. Hanya saja sesekali kami berkomunikasi layaknya seorang sahabat. Masa kamu tidak ada komunikasi?" ejek Rey.


Rian menghela napas panjang. Ia jadi kesal sendiri saat menyadari jika ia sudah tertinggal banyak hal tentang Riri. Melihat sikap Rian, Rey segera menceritakan apa yang dimaksud dengan komunikasi antara dirinya dengan Riri.


"Aku kadang tidak percaya diri saat menghubungi Riri hanya untuk sekedar basa basi," ucap Rian.


"Justru basa basi yang menurutmu hal tidak penting itu, Riri akan merasa sangat diperhatikan. Ayolah! Riri itu wanita normal. Sudah sewajarnya jika dia membutuhkan perhatian. Apa lagi saat ia sendirian dan jauh dari keluarganya.


"Aku sangat mencintaimu sayang," batin Rian.


Sayang? Ya, hanya dalam hati Rian berani memanggil Riri dengan sebutan sayang. Ia selalu tidak percaya diri meskipun sudah tahu jika Riri juga merasakan apa yang ia rasakan.


"Hey, kok malah melamun begitu? Ayo masuk kelas," ajak Rey yang berhasil membuyarkan lamunan Rian.


"Ayo!" ucap Rian pelan.


Materi kuliah sudah usai. Rian segera keluar dan ingin menemui Riri. Karena ia tahu jika Riri sudah ada di kampus saat ini. Namun kemarahannya membara saat melihat Riri sedang berdua dengan Hiro di bebangkuan.


"Ekhem," deham Rian.


"Mas," sapa Riri sambil tersenyum.


"Kamu sudah di sini?" tanya Rian dengan menatap Hiro sinis.


"Oh ya kenalkan. Ini Hiro. Dia mahasiswa baru di sini. Dari Indonesia juga," ucap Riri saat melihat Rian tidak nyaman dengan keberadaan Hiro di sana.


"Hiro," ucap Hiro sambil mengulurkan tangan.


Kali ini, Hiro terlihat begitu hangat dan ramah. Tidak seperti Hiro yang Rian lihat kemarin.


"Rian. Calon suami Riri," ucap Rian sambil membalas uluran tangan Hiro.


"Wah, senang sekali bisa berkenalan dengan Mas. Mas beruntung sekali bisa mendapat calon istri seperti Riri. Cantik dan sangat pintar. Semoga aku juga bisa mendapatkan calon istri seperti Riri," ucap Hiro dengan tawa renyah.

__ADS_1


Hal itu juga diikuti oleh Riri. Ia tertawa mendengar pujian dari Hiro. Ah tidak hanya itu. Tawa Riri juga karena rasa bahagianya saat mendengar Rian mengakuinya sebagain calon istrinya.


Sementara Rian hanya menatap kesal pada Hiro. Bisa-bisanya Hiro memanggil Riri debgan begitu akrab. Padahal mereka baru kenal dan terpaut usia dua tahun. Namun rasa kesal Rian juga semakin membesar saat Riri tidak memermasalahkan apa yang terjadi.


"Aku ke kelas dulu ya!" pamit Hiro.


Selepas kepergian Hiro, Rian menjauh dari Riri.


"Aku minta maaf ya," ucap Rian.


"Maaf?" tanya Riri bingung.


Kebingungan Riri juga ditambah dengan sikap Rian yang tiba-tiba berubah menjadi tidak sehangat sejak ada Hiro.


"Maaf karena aku sudah berani mengakuimu sebagai calon istriku," ucap Rian.


"Jadi semua itu hanya sebuah kesalahan? Apa yang Mas katakan tidak sungguh-sungguh?" tanya Riri dengan mata berlinang.


Melihat Riri salah paham, Rian segera mendekat dan menggenggam tangan wanita yang sangat ia cintai.


"Pus, maafkan aku jika ucapanku melukaimu. Aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Rian penuh sesal.


"Aku tidak mengerti maksudmu Mas," ucap Riri sambil mengusap sudut matanya.


Batin Rian sakit saat melihat Riri memangis karena ucapannya. Bagaimana mungkin ia begitu takut kehilangan Riri, sementara ia justru membuat Riri menangis.


"Aku sangat mencintaimu, Pus. Aku takut kehilanganmu," ucap Rian sambil menunduk.


Rian berusaha mengalahkan rasa takut dan tidak percaya diri yang menguasai hatinya.


"Benarkah?" tanya Riri dengan bahagia.


"Tentu. Aku hanya tidak ingin Hiro berusaha mendekatimu," jawab Rian.


Tanpa Rian sadari, Hiro mendengar semua ucapannya.


Kamu tidak ingin aku mendekati Riri? Aku bukan hanya akan mendekati Riri. Tapi aku akan membuat Riri menjauhimu. Aku pastikan kamu merasakan sakitnya kehilangan cinta Riri. Aku akan membuat kamu merasakan apa yang Kak Maudi rasakan, Rian. Aku akan membalas semua dendam Kakakku.


Tangan Hiro mengepal sempurna. Ia benar-benar tidak sabar menunggu Rian merasakan apa yang sudah sepantasnya dirasakannya. Kebencian yang membuatnya buta. Ia bahkan tidak tahu ceritanya seperti apa. Hanya bayangan keterpurukan Maudi yang membuatnya bertekad kuat untuk membalas dendamnya.


Teriakan Maudi dan menyebut nama Rian, sejak itulah ia mencari kesempatan untuk bertemu dengan Rian. Setelah itu, rencana demi rencana sedang ia susun untuk membuat luka di hari Rian lebih perih dibanding dengan luka Maudi.


"Kak, aku akan menuntut balas semua yang sudah dia lakukan. Aku akan membuat kakak berterima kasih padaku," gumam Hiro sebelum akhirnya ia benar-benar masuk ke kelasnya.

__ADS_1


Tidak lama, Riri juga pamit kepada Rian untuk segera ke kelas. Mereka kembali merasakan cinta yang tumbuh semakin besar. Bahkan Rey ikut tersenyum bahagia saat menyaksikan kebahagiaan sahabatnya itu.


Rey senang saat Rian berani mengutarakan perasaannya untuk Riri dengan lebih leluasa. Apalagi saat Riri meresponnya dengan begitu senang. Hal itu tentu membuat Rey ikut bahagia. Namun sayangnya Rey tidak tahu jika Hiro sedang menyusun rencana yang begitu busuk untuk mereka berdua.


__ADS_2