Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Sarapan Bertiga


__ADS_3

Riri memandang Hiro dengan tatapan cemas.


"Ayo makan lagi!" ucap Rian membuyarkan lamunan Riri.


"Mas, lain kali jangan kasar begitu ya sama Hiro. Aku takut," ucap Riri.


"Takut kenapa? Dia itu kalau dikasih hati pasti minta jantung. Nanti lama-lama dia minta usus, ginjal, lambung. Abis kita," ucap Rian.


Riri hanya bisa tersenyum. Rasa takutnya hilang dengan cara Rian menjawab ucapannya. Begitu terlihat tenang dan santai. Ia tidak melanjutkan lagi bahasan tentang Hiro. Itu hanya akan membuat momen yang membahagiakan ini jadi berantakan.


Selesai makan Rian mengantarkan Riri pulang. Selama dalam perjalanan, Rian tidak sangat sering melirik Riri. Wanita yang menyadari tengah diperhatikan itu segera mengambil ponselnya dan melihat wajahnya.


"Kamu ngaca?" tanya Rian.


"Mas dari tadi lihatin aku terus. Senyum-senyum lagi. Aku takut ada cabe yang nyangkut di gigiku," jawab Riri.


"Ya ampun Pus. Gigi kamu bersih. Tidak ada apapun yang nyangkut di gigimu. Hanya kamu yang nyangkut di hatiku," ucap Rian.


Gombalan Rian kembali membuat Riri jadi malu-malu. Wajahnya yang memerah menandakan kalau ia tengah tersipu dengan gombalan Rian.


"Oh ya Mas kapan pulang ke Indonesia?" tanya Riri.


"Besok," jawab Rian.


Besok? Padahal Riri baru beberapa jam bertemu dengan Rian. Tapi besok Rian sudah harus kembali ke Indonesia. Sementara dirinya tidak tahu kapan bisa pulang. Ia belum bicara dengan Mr. Aric perihal rencana pulangnya.


"Perusahaan gimana, Mas?" tanya Riri.


"Sudah sangat baik. Kak Danu dan Pak Manto memang orang-orang luar biasa," ucap Rian yang begitu membanggakan teman kerjanya.


"Kamu juga luar biasa Mas," ucap Riri.


Rian tersenyum senang.


"Apa ini salah satu cara menggombal yang sudah kamu pelajari?" goda Rian.


"Mas, mana ada aku belajar menggombal. Aku berbeda denganmu," ucap Riri.


"Ah masa," goda Rian lagi.


Rian hanya tertawa dan meminta maaf karena sudah membuat Riri kesal. Bibir Riri sampai mengerucut begitu karena Rian terus menggodanya.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Rian dengan wajah yang tiba-tiba serius itu.


"Mas tidak sakit, kan?" tanya Riri yang memegang dahi Rian dengan punggung tangannya.


"Ya ampun Pus. Kamu ini kenapa sih?" tanya Rian dengan menahan tawa.


"Ah, Mas menyebalkan hari ini." Riri membuang muka karena tidak nyaman dengan sikap Rian.


"Yakin?" tanya Rian.


"Mas ah," ucap Riri kesal.


"Ini buatmu," ucap Rian.


Riri tidak menjawab dan masih tetap membuang muka. Namun Rian kembali memberikan barang yang ada di tangannya. Setelah beberapa kali tidak direspon, Rian mengangkat benda itu tepat di wajah Riri.

__ADS_1


Kotak merah yang membuat Riri mengerutkan dahinya. Perlahan ia mengamati kotak merah itu. Ia memang sangat senang melihat hadiah dari Rian. Tapi tidak, ia tidak mau kecewa karena Rian memberikan prank padanya.


Siapa tahu isinya bukan seperti apa yang aku pikirkan. Begitu dugaan Riri. Ia hanya mengambil benda itu dengan wajah datar.


"Apa ini?" tanya Riri.


"Tahu," jawab Rian.


"Mas, kok tahu?" tanya Riri kesal.


"Ya kamu buka saja sendiri. Masa yang begutu kamu kira tahu," ucap Rian.


Riri dengan jantung berdebar kencang membuka kotak itu. Matanya berbinar saat melihat sebuah kalung berbandul huruf RR membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.


"Ini buatku?" tanya Riri.


"Buat Mr. Aric," jawab Rian.


"Mas," ucap Riri.


"Ya kamu jangan nanya itu buat kamu. Itu basa basi yang benar-benar basi," ucap Rian.


Riri nampak kembali cemberut saat mendengar apa yang Rian sampaikan. Tapi matanya masih tetap aktif mengamati kalung yang ada di tangannya.


"Mau aku pasangkan?" tanya Rian.


"Boleh Mas," jawab Riri sambil menyerahkan kaling itu.


Rian menepi dan menghentikan mobilnya. Melingkarkan kalung itu di leher wanita cantik yang sangat ia cintai.


"Mas ini cantik sekali," ucap Riri sambil memegang kalung yang ada di lehernya.


"Terima kasih ya Mas," ucap Riri dengan senyum yang merekah.


Tidak terasa mobil sudah sampai di depan rumah Mr. Aric. Riri merasa kakinya berat untuk melangkah keluar dari mobil Rian. Ia ingin sekali tetap berada di samping Rian. Tapi ini belum saatnya.


"Pus," panggil Rian saat tangan Riri sudah menyentuh pintu mobil dan siap keluar.


"Aku tidak tahu kapan kamu akan kembali ke Indonesia. Aku juga tidak akan memaksamu untuk segera kembali ke sana. Tapi aku yakin, kita akan hidup bersama saat sudah waktunya tiba." Rian menggenggam tangan Riri dan mencium punggung tangannya.


"Terima kasih untuk hadiah dan pengertiannya Mas. Aku janji akan segera pulang," ucap Riri.


Senyum mereka berdua menyimpan luka dan sakit, karena besok mereka sudah tidak bertemu lagi. Akan terpisah jarak yang membentang lagi. Dan itu benar-benar menyakitkan. Keduanya nampak kuat hanya sekedar untuk tidak saling menambah kesedihannya.


Rian pulang setelah melihat Riri benar-benar masuk ke dalam rumah. Ia kembali dengan hati yang hampa.


"Kemarin-kemarin waktu terasa sangat lama. Tapi kenapa kalau sama Mpus waktu cepat sekali berputar," gumam Rian.


Saat kakinya baru satu langkah masuk ke dalam rumahnya, Tuan Felix sudah memberondonginya dengan pertanyaan. Rian menjawab kalau semua berjalan sesuai dengan arahan dari Tuan Felix.


Arahan? Ya, mengatakan kalau Rian tidak akan memaksa Riri kembali ke Indonesia adalah arahan yang diberikan Tuan Felix padanya. Karena sebenarnya bukan itu yang ia inginkan. Ia ingin hari itu juga membawa Riri ke Indonesia. Menyelesaikan semua urusan Riri dengan Mr. Aric.


Pemikiran yang berbeda diutarakan oleh Tuan Felix. Jika Rian mengikuti pemikirannya, maka Riri akan semakin tertekan. Tuan Felix meyakinkan Rian kalau kerinduan dan harapan yang sama juga dirasakan oleh Riri. Tapi bagaimanapun Riri harus menyelesaikan semuanya secara bertahap.


"Ada hal-hal yang harus Riri selesaikan. Sabarlah," ucap Tuan Felix saat Rian akan merayakan kelulusan Riri tadi sore.


Menurut Tuan Felix, jangan berikan beban berat pada Riri. Ia baru saja merasakan kebahagiaan dengan wisudanya. Biarkan Riri merasakan apa yang seharusnya ia rasakan. Kebahagiaan. Ya, Riri berhak bahagia. Dengan pulangnya Rian ke Indonesia saja sudah membuat hatinya sedih. Jadi cukup menambah kesedihannya.

__ADS_1


"Papa akan mengawasi Riri. Kamu tenang saja ya!" ucap Tuan Felix.


Ya, sepertinya tidak perlu ada keraguan untuk hal itu. Selama ini Tuan Felix memang benar-benar menjaga Riri. Tidak ada lagi laporan Riri tentang gangguan Hiro yang dialaminya. Itu karena Tuan Felix menyimpan orang yang selalu berjaga-jaga di sekitar Riri saat keluar rumah, terlebih ketika Riri pergi ke kampus.


Tidak ada kesempatan untuk Hiro bisa mendekati Riri. Apalagi mengganggunya. Sementara nomor ponsel Hiro sudah diblokir oleh Riri. Semua aman ditangan Tuan Felix.


"Pah, terima kasih ya sudah memberikan yang terbaik. Aku berhutang banyak sekali pada Papa," ucap Rian.


"Berhutang? Selama kamu menganggap Papa ini adalah Papamu, tidak ada hutang diantara kita. Kecuali jika kamu sudah tidak mau menjadi anak Papa, maka kamu wajib membayar semuanya. Mengerti?" tanya Tuan Felix.


Rian hanya tertawa dan mengangguk. Ia segera memeluk Tuan Felix. Pria yang sudah memberikan banyak sekali pelajaran hidup. Semua keberuntungan yang Tuhan berikan, semua dititipkan pada Tuan Felix.


"Tidurlah. Besok kita akan kembali ke Indonesia," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," ucap Rian.


Setelah lima langkah, Rian membalikkan badannya.


"Kenapa lagi?" tanya Tuan Felix.


"Papa bilang apa tadi?" Rian balik bertanya.


"Yang mana?" tanya Tuan Felix.


"Papa tadi bilang kita. Apa Papa juga akan ikut ke Indonesia besok?" tanya Rian.


"Iya," jawab Tuan Felix dengan datar.


"Yeaaayyy. Kenapa Papa tidak bilang dari tadi?" tanya Rian dengan sangat senang.


"Mau bilang tadi atau sekarang bahkan besok sekalipun, yang penting kan Papa ikut pulang besok. Papa sudah sangat rindu sama Mia dan si kembar," ucap Rian.


"Mereka pasti sangat senang saat dengan kedatangan Papa besok," ucap Rian.


"Tapi Papa di sana tidak lama. Hanya dua hari saja. Sehari untuk mengontrol perusahaanmu, sehari lagi untuk bermain dengan cucu kembar kesayangan Papa," ucap Tuan Felix.


"Kensa tidak satu minggu saja?" tanya Rian.


"Kamu pikir Papa ini pengangguran?" ucap Tuan Felix.


Rian hanya tertawa. Malam ini ia tidur dengan nyenyak. Walaupun sebelumnya ia masih gelisah karena tidak ingin berpisah lagi dengan Riri.


Pagi hari Rian sudah bangun. Ia menyiapkan apa yang akan ia bawa dan segera ke ruang makan untuk sarapan.


"Selamat pagi, Mas." Sapa Riri dengan senyum manisnya.


"Pa-pagi," sapa Rian dengan gugup.


Rian mengucek matanya dan kembali melihat orang yang sudah menyapanya. Ia meyakinkan dirinya kalau itu bukan sebuah halusinasi.


"Iya, dia pujaan hatimu. Sudah jangan bengong begitu. Ayo sarapan!" ucap Tuan Felix menepuk bahu Rian.


"Papa tahu kalau Mpus ke sini pagi ini?" tanya Rian.


"Papa yang minta dia ke sini," jawab Tuan Felix.


Rian tersenyum. Ia senang dengan kehadiran Riri pagi ini. Ternyata Tuan Felix sangat pengertian padanya. Menghadirkan Riri pagi ini adalah suatu hadiah yang sangat luar biasa baginya.

__ADS_1


"Ayo makan!" ajak Tuan Felix sambil menarik tangan Rian yang sedang bengong.


Sarapan bertiga adalah momen yang sangat mengesankan bagi ketiganya. Keadaan yang sangat mereka nantikan selama ini. Rian menjadi semakin tidak sabar menunggu waktu untuk bisa segera meminang Riri.


__ADS_2