Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Ini bukan tujuanmu


__ADS_3

Semalaman Tuan Felix merenung, mau mikirkan nasib Rian akan seperti apa. Jangankan Rian, ia pun memiliki kegelisahan yang sama. Ia tahu betul bagaimana rasa yang Rian simpan untuk Riri. Tapi di sisi lain, ia tidak mau Rian menyakiti Shelin.


"Pah," panggil Rian sambil mengetuk pintu kamar Tuan Felix.


"Ada apa?" tanya Tuan Felix.


Rian membuka pintu kamar itu. Pemilik kamar sedang berbaring di atas ranjangnya. Melihat Rian datang, Tuan Felix bangun dan duduk di tepi ranjang. Sebuah senyuman hangat Rian dapatkan dari ayahnya.


"Sini!" panggil Tuan Felix sambil menepuk tempat di sampingnya.


"Papa belum tidur?" tanya Rian.


"Papa pikir kamu yang sudah tidur," jawab Tuan Felix.


"Aku masih memikirkan pernikahanku dengan Shelin," ucap Rian.


"Apa yang kamu pikirkan? Sudah sejauh mana persiapannya?" tanya Tuan Felix.


Rian sudah mulai mempersiapkan semuanya. Meskipun belum selesai, tapi semua sudah berjalan. Beberapa DP sudah masuk. Rian juga sudah memantapkan hatinya untuk Shelin. Nyaris tidak ada lagi harapan untuk bersama dengan Riri.


Kedatangan Hiro memang seperti angin badai yang menyampai sebuah lilin kecil. Seketika semuanya membesar bahkan kembali tidak bisa Rian kendalikan.


"Aku jadi bingung," jawab Rian.


Tuan Felix menghela napas panjang. Ia berusaha mencari solusi. Namun sepertinya ia masih bingung. Rian masih terkunci dengan ucapan Hiro. Ia memang menyadari ucapan Hiro memang ada benarnya. Pernikahan Rian dengan Shelin tidak akan sepenuhnya membuat Rian bahagia.


Seandainya Rian menikah dengan Riri, dua orang akan merasakan bahagia yang dangst luar biasa. Tapi rasanya itu semua tidak adil. Ah, Tuan Felix harus tegas. Rian yang sudah memilih Shelin, maka ia yang harus bertanggung jawab atas semua pilihannya.


"Aku sangat mencintai Mpus," ucap Rian tiba-tiba.


Mata Tuan Felix membulat sempurna. Dadanya begitu sesak mendengar pengakuan Rian. Ia memang sudah tahu akan perasaan itu, tapi ia tidak menyangka jika Rian akan terang-terangan mengakui perasaan itu.


"Rian, kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?" tanya Tuan Felix dengan wajah bingung.


Rian menunduk. Ia tidak berani menatap wajah Tuan Felix. Ia malu sendiri atas kejujurannya.


"Aku minta maaf Pah," ucap Rian.


"Rian, jangan mempermalukan dirimu sendiri. Apa yang kamu lakukan akan berimbas pada perusahaan. Ingat semua perjuangan yang kamu lakukan untuk membesarkan perusahaan. Jangan karena egomu, perusahaan yang menjadi korban." Tuan Felix meyakinkan Rian.


"Jadi aku harus mengorbankan perasaanku untuk perusahaan?" tanya Rian.


"Kamu yang memilih Shelin. Kamu yang membuat keputusan," jawab Tuan Felix.


Tuan Felix sebenarnya menggunakan perusahaan untuk alasannya mempertahankan Shelin. Ia tidak tega melihat Shelin kecewa dan patah hati. Belum lagi keluarganya yang akan ikut kena imbas.


Alasan Tuan Felix ternyata justru membuat Rian tersudutkan. Ia merasa dirinya harus mengorbankan kebahagiaannya demi perusahaan. Obrolan malam itu justru berakhri tegang. Perdebatan mereka semakin memanas.


"Terserah apa maumu. Itu hidupmu. Yang jalani kamu sendiri. Terserah," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


Rian diam. Ya, semua memang kembali padanya. Ia keluar dari kamar Tuan Felix dan tidur. Rasa lelah membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik. Akibatnya semua hanya membuat suasana semakin buruk.


Rian sudah meyakinkan dirinya untuk menemui Riri besok. Bukan untuk memintanya kembali. Tapi ia ingin meminta maaf karena sudah membuat Riri kecewa. Sudah membuatnya sakit hati dan menghancurkan semua mimpi yang pernah mereka rangkai bersama.


"Aku sangat mencintaimu," suara Rian perlahan menghiasi sepinya malam dalam tidur nyenyaknya.


Wanita yang ada dalam mimpi itu justru Riri, bukan Shelin. Bukan wanita yang akan ia nikahi dan menemaninya seumur hidup. Ucapan itu ditujukan untuk wanita yang sudah ia anggap sebagai masa lalunya.


Dalam ketidaksadaran ia bermimpi kalau Riri memeluknya dengan erat. Bahkan ia masih bisa merasakan kehangatan itu sampai ia bangun.


"Astaga. Apa ini?" ucap Rian saat tersadar dari mimpinya.


Rian dengan wajah yang sangat pucat nampak sedang mengumpulkan kesadarannya. Setelah semakin sadar, ia bangun dan bersiap. Ia segera menemui Tuan Felix dan meminta maaf. Bagaimanpun ia sudah bersikap keterlaluan pada orang yang sudah menyayanginya dengan begitu tulus.


"Pah, aku minta maaf." Rian memeluk Tuan Felix yang baru saja keluar dari kamarnya.


Dengan perasaan terharu, Tuan Felix kembali memeluk Rian. Ia sudah salah menilai anak itu. Ia pikir Rian memang sudah berubah, namun ternyata Rian tetaplah Rian. Anak yang selalu meminta maaf dan menghormatinya.


"Papa pikir kamu marah," ucap Tuan Felix.


"Mana mungkin aku marah," jawab Rian.


"Syukurlah. Papa senang mendengarnya.


Tuan Felix mengajak Rian untuk sarapan. Namun di tengah-tengah waktu sarapan, ia menyadari penampilan Rian yang terlihat rapi.


"Aku mau bertemu dengan Mpus. Temani aku ya Pah," pinta Rian.


"Bertemu Mpus? Buat apa?" tanya Tuan Felix terkejut.


Lagi-lagi Tuan Felix salah menebak sikap Rian. Namun saat tahu kalau Rian mau meminta maaf, ia merasa lega. Meskipun ia ikut sakit saat melihat wajah kecewa Rian.


Tentu kecewa, karena kedatangannya ke Jerman adalah berharap jika Tuan Felix mendukung hubungannya dengan Riri. Ia berpikir jika Tuan Felix akan memintanya untuk memperjuangkan Riri. Tapi semua itu tidak sesuai ekspektasinya.


Selesai sarapan, Tuan Felix dan Rian berangkat ke kantor Riri. Kantor yang sangat besar dan mewah di sana. Bahkan ia tidak menyangka jika pemimpin perusahaan besar itu adalah wanita hebat yang sempat bermimpi bersama dengannya.


"Pagi Pah," sapa Riri saat melihat kedatangan Taun Felix ke kantornya.


Rian memang tidak ikut dengan Tuan Felix. Ia menunggu di luar. Berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk bicara dengan Riri. Namun sayangnya baru mendengar suara Riri saja jantung Rian sudah berdebar tidak karuan.


Suara yang bisa membuat hatinya berdebar tidak menentu. Suara yang sudah lama tidak pernah ia dengar. Dan kini suara itu kembali membuatnya tidak bisa menguasai diri. Ia memegang erat dadanya.


Rian segera masuk ke ruangan itu saat mendengar tawa Riri yang begitu renyah. Ia merindukan wajah bahagia itu. Ia ingin melihat wanita cantik itu dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Pasti sangat cantik.


"Mas Rian," ucap Riri dengan wajah yang pucat.


Bagaimanapun Riri belum siap jika harus bertemu dengan Rian. Tapi kenyataannya Rian sudah di depan mata. Ia hanya berusaha bersikap tenang meskipun hatinya berontak. Rindu namun berbalut kekecewaan yang mendalam. Membuat Riri tidak siap bertemu dengan pria yang sudah bukan siapa-siapanya itu.


"Pus," ucap Rian sambil memeluk Riri.

__ADS_1


Dengan cepat Riri melepas tubuh Rian darinya. Sebentar, namun kehangatan itu berdesir membuat darahnya mengalir lebih cepat.


"Maaf Mas, tolong jaga sikap Mas. Calon istri Mas pasti akan sakit hati saat calon suaminya memeluk wanita lain. Lagi pula aku bukan wanita yang bisa dipeluk sembarangan," ucap Riri.


"Ma-maafkan aku Pus. Aku salah, aku salah. Pukul aku jika itu membuatmu bisa memaafkanku," ucap Rian.


Tangan Riri berada dalam genggamannya. Rian memaksanya untuk memukul dan menampar. Namun Riri segera melepaskan tangannya.


"Mas, jangan begini. Aku sudah memaafkanmu tanpa harus menyakitimu," ucap Riri.


Menyakiti? Kata yang justru menancap di hatinya. Membuat sakit itu semakin dalam. Ah, bukan hanya sakit. Yang ia rasakan saat ini adalah rasa bersalah.


"Aku yang sudah melukaimu," ucap Rian lirih.


"Tidak Mas. Ini takdir Tuhan. Aku percaya semua akan baik-baik saja," ucap Riri dengan tenang.


"Aku sangat mencintaimu," ucap Rian.


"Rian," ucap Tuan Felix sambil mengguncang tubuh Rian.


Tuan Felix terkejut dengan sikap Rian yang menurutnya diluar kesadarannya. Apa yang Rian ucapkan saat ini, sangat berbeda dengan tujuannya datang bertemu Riri.


"Pah tolong beri aku waktu untuk bicara berdua dengan Mpus," pinta Rian.


"Tidak Ri. Papa harus di sini," jawab Tuan Felix menggeleng.


Sikap Rian yang tidak bisa dikendalikan akan membuat masalah baru jika tanpa pengawasan Tuan Felix. Maka ia harus tetap di sana. Memastikan semuanya baik-baik saja.


"Mas, tolong. Lebih baik Mas pulang saja," ucap Riri.


"Kamu tidak mau bicara denganku?" tanya Rian.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan," jawab Riri.


"Kamu benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Rian.


Riri diam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Rian yang membuat dadanya sesak.


"Pus, katakan kalau kamu masih mencintaiku kan?" tanya Rian.


"Rian," ucap Tuan Felix.


"Pah, tolong. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan Riri untukku," ucap Rian.


"Ini bukan alasanmu datang ke sini," ucap Tuan Felix dengan menatap Rian penuh arti.


"Mas, lebih baik Mas pergi dari sini." Riri kembali meminta Rian untuk tidak melanjutkan semua ucapannya yang hanya akan melukai hatinya.


Tuan Felix memaksa Rian untuk pergi dari sana. ia tahu Rian sudah tidak bisa menguasai dirinya. Hal itu tentu akan membuat masalah semakin besar.

__ADS_1


__ADS_2