
Kedatangan Rian disambut hangat oleh keluarga Tuan Wira. Nyonya Helen masih tetap memperlakukan Rian seperti dulu. Bagi Nyonya Helen, Rian adalah anak yang harus selalu ia perhatikan.
Hari demi hari Rian lewati dengan bahagia di rumah itu. Setiap hari itu pula Rian mencoba menghubungi Riri namun masih belum berbalas. Sampai akhirnya ia berpikir untuk menyusul Riri ke Jerman.
"Apa aku ke Jerman saja ya?" gumam Rian.
Rian menggeleng. Ia tidak mau mengulang kesalahan atas kegegabahannya. Ia harus merencanakan semuanya dengan baik agar tidak salah langkah. Riri tidak mungkin menerima kehadirannya dengn mudah jika pesannya saja belum direspon sampai saat ini.
Hiro. Tiba-tiba Rian mengingat Hiro dan segera menghubunginya. Besar harapannya jika Hiro bisa membantu mencari solusi agar ia bisa bertemu dengan Riri. Ia yakin jika Hiro sudah berubah.
"Ada apa?" tanya Hiro saat panggilannya sudah terhubung.
Rian menggelengkan kepala dengan pertanyaan pertama yang ia dengar. Manusia tanpa basa basi pikir Rian.
"Aku mau minta bantuan," ucap Rian.
"Soal Riri?" tanya Hiro.
"Bisa tidak?" Rian balik bertanya.
"Aku sedang menyelesaikan tugasku. Aku rasa soal Riri, itu urusanmu. Apa kamu menyerah?" tantang Hiro.
"Kalau tidak berniat membantu jangan bicara basa basi. To the point saja," ucap Rian kesal.
"Bukan tidak niat Tapi saat ini fokusku adalah membantu Shelin biar bisa segera kuat dan menjadi Shelin seperti dulu lagi," ucap Hiro.
Shelin? Mendengar nama itu, tiba-tiba hati Rian berdegup kencang. Apa kabar wanita itu? Ia ingin sekali bertanya soal Shelin, namun takut jika Hiro salah paham. Namun dengan diamnya Rian, Hiro justru sangat mengerti apa yang ada di pikiran Rian saat ini.
"Kamu tenang saja. Shelin sudah hampir sembuh. Nanti setelah semuanya benar-benar baik, aku bantu urusanmu dengan Riri," ucap Hiro.
Rian mengakhiri panggilan itu saat obrolannya dengan Hiro selesai. Semua bahasan tentang Riri dan Shelin. Ponsel itu masih dalam genggamannya, namun pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana.
"Rian," panggil Mia.
Panggilan Mia rupanya membuyarkan lamunan Rian. Pintu kamar yang terbuka jelas memperlihatkan Rian yang tengah melamun.
"Kak Mia," sapa Rian dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Mia masuk dan duduk di tepi ranjang. Rian yang tengah berdiri di dekat jendela kamarnya mendekat dan duduk di samping Mia.
"Mereka masih marah?" tanya Rian.
Ya, kedatangan Mia seorang diri menjadi jawaban atas pertanyaan yang sebenarnya Rian sudah tahu jawabannya.
"Mereka terlalu sayang padamu. Maafkan jika mereka salah mengekspresikan rasa sayang dan pedulinya," ucap Mia.
Mia memang meminta mereka mendukung keputusan Rian. Tapi suami dan anak kembarnya tidak semudah itu menerima keputusan yang sudah membuat mereka kecewa.
"Tidak masalah. Semuanya salahku," ucap Rian sambil menunduk.
"Jangan begitu. Masih ada aku dan yang lain. Kami semua masih selalu ada untukmu," ucap Mia.
"Terima kasih Kak," ucap Rian.
Benar apa kata Mia, ia tidak sendiri. Selain Mia, masih ada Tuan Felix, Tuan Wira dan Nyonya Helen yang selalu mendukungnya. Belum lagi Danu dan Sindi serta Manto yang tak pernah absen menyemangati dengan cara mereka masing-masing.
Walaupun begitu, Rian tetap merasa ada yang berbeda. Ia merasa kehilangan separuh kebahagiaannya saat Naura dan Narendra tidak lagi seperti dulu. Perubahan itu begitu drastis hingga membuat Rian sangat merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang benar-benar hilang dalam hidupnya.
Hati Rian yang terasa hancur, bersambut kedatangan Mia dalam waktu yang tepat. Rian tanpa direncanakan mengungkapkan semua beban di hatinya. Sampai akhirnya ada air mata yang menetes di pipi Rian.
"Aku sangat mencintai Mpus," ucap Rian di ujung ceritanya.
"Aku tahu. Jangan khawatir. Minggu depan aku ke Jerman untuk urusan bisnis. Nanti aku sempatkan untuk bertemu dengan Mpus," ucap Mia.
"Benarkah?" tanya Rian antusias.
"Iya. Kamu fokus saja dengan kerjaan. Aku dengar-dengar kamu jarang ikut meeting. Kenapa selalu Manto yang datang? Itu akan mengurangi kepercayaan rekan bisnis. Usahakan kamu datang dan aktif," ucap Mia.
Rian mengangguk. Ya, ia mengakui jika akhir-akhir ini ada beberapa meeting yang hanya dihadiri oleh Manto saja. Bukan karena sibuk atau sakit, Rian justru sampai lupa jadwal meetingnya.
Tidak ada tudingan dari Rian untuk Manto. Ia yakin jika Manto tidak mungkin mengadu. Tapi karena relasi Mia yang terlalu luas, ia bisa dengan mudah mengetahui kelalaian Rian dalam bekerja.
"Aku janji akan lebih baik lagi, Kak. Semua akan aku perbaiki," ucap Rian.
"Baguslah. Maaf ya Ri. Bukan hanya karena perusahaan ini Papa yang dirikan. Tapi aku harus meyakinkanmu jika besar harapan Papa untuk kemajuan perusahaanmu," ucap Mia.
__ADS_1
"Aku mengerti," ucap Rian.
Benar kata Mia. Bukan hanya tentang keinginan Tuan Felix untuk kesuksesan perusahaan itu. Karena selama ini Tuan Felix tidak pernah menerima keuntungan atas perusahaan yang dikelola oleh Rian. Apa yang Tuan Felix berikan untuk Rian semata-mata hanya untuk menjamin masa depan Rian kelak.
Mia pulang setelah melihat keadaan Rian. Tidak lupa ia mengabarkan apa yang ia lihat kepada Tuan Felix.
"Papa jadi khawatir kalau Rian terus-terusan seperti itu," ucap Tuan Felix.
"Jangan khawatir Pah. Ada Mia di sini. Mia akan membuat Rian kembali fokus ke perusahaan," ucap Mia.
"Terima kasih Mi.Oh ya kamu jadi ke Jerman minggu depan?" tanya Tuan Felix.
"Jadi. Nanti kita bicarakan masalah Rian ya Pah," jawab Mia.
Mendengar jawaban Mia, Tuan Felix merasa jauh lebih tenang. Namun hal ini berbanding terbalik dengan Dion. Suami Mia ini justru terlihat tidak suka saat Mia membahas tentang Rian di rumah itu.
Sikap Dion yang tidak mengenakkan membuat Mia segera mengakhiri panggilannya dengan Tuan Felix. Ia tidak mau kalau nanti suaminya akan membahas ini lagi sebelum tidur.
"Kenapa sih kamu tidak bosan membahas Rian?" tanya Dion setelah Mia selesai menelepon dengan Tuan Felix.
"A, Papa butuh informasi tentang keadaan Rian. Maaf ya," jawab Mia.
"Kenapa dia tidak kembali ke Jerman saja? Bukankah di sana semuanya lebih baik?" tanya Dion.
Mia menelan salivanya. Ia tidak tahu kalau Dion semakin kecewa dengan semua kejadian itu. Wajar sebenarnya, karena Dion memang terkena imbasnya. Beberapa wartawan mengincarnya. Belum lagi beberapa rekan bisnisnya yang berusaha mencari tahu cerita yang sebenarnya.
"Mia pijitin ya A," ucap Mia.
Salah satu cara yang Mia gunakan untuk mengalihkan pembahasan tentang Rian. Karena ia tahu semua akan panjang dan berakhir dengan perseteruan kalau Mia ladeni. Hingga Mia lebih memilih untuk menghindari kesalahpahaman dengan suaminya.
"Kamu bisa saja mengalihkan bahasannya," ucap Dion.
Meskipun sambil menggerutu, tapi Dion membuka bajunya dan tengkurap di atas ranjang. Menunggu pijitan yang sudah Mia tawarkan padanya. Pijitan yang selalu berhasil membuatnya sangat nyaman. Pijatan Mia menang candu untuk Dion.
"Enak Mas?" tanya Mia.
"Hemm," jawab Dion.
__ADS_1
Mia tersenyum saat Dion akhirnya diam dan menghentikan bahasan tentang Rian. Jika bicara kecewa, tentu ia juga sama. Ia ikut malu dengan beredarnya kabar tidak mengenakkan itu. Tapi di sisi lain, Tuan Felix meminta Mia untuk menemani Rian. Ayahnya yang juga sayang pada Rian tidak mau melihat Rian terpuruk.
Selain itu, Mia yang sudah menganggap Rian seperti adik kandungnya juga tidak mau melihat Rian berlarut dalam kesedihan. Apalagi kesedihan Rian akan menjadi kesedihan Tuan Felix. Hal itu membuat Mia jadi serba salah.