
Sebagai seorang teman, Maya ingin Rara kembali bangkit. Menangisi masa lalu tidak akan mengubah keadaan. Sebisa mungkin, Maya akan berusaha membuat Rara menjadi semangat lagi. Perlahan tapi pasti, Rara harus berdamai dengan masa lalunya.
'Ra, jangan lupa istirahat. Kamu wanita hebat.'
Sebuah pesan yang dikirim Maya untuk Rara. Senyuman tipis terlihat menghiasi bibir Rara malam itu. Perhatian Maya adalah support system yang sangat dibutuhkan oleh Rara saat ini.
Lalu Riri dan Bu Risa? Mereka bukan tidak peduli. Namun sepertinya mereka berpikir bahwa Rara sudah berhasil move on dari masa lalunya. Bukan salah mereka, tapi karena Rara terlalu pandai bermain peran. Di hadapan adik dan ibunya, Rara akan menjadi wanita kuat dan bahagia. Ia akan terlihat baik-baik saja.
Belum lagi Riri dan Bu Risa yang jarang bertemu dengan Rara. Berbeda dengan Maya yang setiap hari selalu bersama dengannya. Tentu Maya akan tahu saat moodnya naik turun.
Besoknya, Rara tidak masuk kerja. Hal itu tentu membuat Maya sangat khawatir. Maya tidak menerima laporan apapun dari Riri. Itu artinya Riri tidak tahu keadaan Rara saat ini.
Maya pun tidak menberi tahu Riri perihal tidak masuknya Rara hari ini. Mungkin Rara tidak mau kalau Riri tahu keadaannya. Itu hak Rara dan Maya sangat mengerti. Ia pun bisa menghandle pekerjaan di butik.
Setelah pulang kerja, Maya tidak langsung pulang. Ia menemui Rara di rumahnya, tentunya setelah mendapat izin dari Reza. Berbekal alamat yang ia dapat dari butik, Maya mencari rumah Rara.
Ini pertama kalinya Maya ke rumah Rara. Rumah sederhana namun sangat asri. Terlihat sepi, namun sangat nyaman untuk menghilangkan kepenatan.
"Ra," panggil Maya.
Rara yang sedang berbaring di ruang televisi mengerutkan dahinya. Ia memastikan jika telinganya tidak salah dengar. Saat yakin dengan pendengarannya, Rara segera membuka pintu. Matanya terbuka lebar saat melihat Maya sudah berdiri di depan rumahnya.
"Aku boleh masuk?" tanya Maya.
"Ah, May. Ayo silahkan masuk!" ajak Rara.
Maya masuk dan duduk di tempat yang dipersilahkan oleh Rara. Tidak lama Rara pun mengambilkan air dan beberapa cemilan untuknya.
"Jangan merepotkan. Aku hanya ingin tahu keadaanmu," ucap Maya.
"Sama sekali tidak merepotkan. Di rumah ini tidak ada apa-apa. Maaf ya," ucap Rara.
__ADS_1
Maya mulai membahas tujuan kedatanganya ke sini. Sebenarnya ia tidak enak saat merasa dirinya terlalu ikut campur. Namun sebagai seorang rekan, teman dan saudara, Maya sangat peduli dengan keadaan Rara saat ini.
Rara pun kembali menangis. Bukan karena masa lalunya. Tapi tangisan Rara saat ini adalah ungkapan dari rasa terharunya karena bisa kenal dengan Maya. Padahal mereka baru kenal belum lama, namun sikap dan perhatian Maya sangat membuat Rara merasa sangat bahagia.
"Kamu berhak bahagia," ucap Maya.
Kalimat pamungkas itu membuat Rara kembali bersemangat. Bersiap menghadapi setiap masalah yang akan dihadapinya. Sebenarnya masalah tidak datang dari luar. Saat ini, masalah Rara muncul karena batinnya sendiri yang selalu meratapi masa lalunya.
Apalagi setiap ia mengingat mantan suaminya yang kini sudah bahagia dengan anak-anak dan istri barunya. Sakit rasanya saat ia membandingkan keadaannya dengan mantan suaminya.
Rasanya semua berbanding terbalik. Namun Maya selalu meyakinkan Rara agar bersikap tenang. Tidak semua yang Rara lihat adalah benar terjadi. Iri pada mantan suami hanya akan membuat dirinya semakin terpuruk. Maya menyarankan agar Rara tidak lagi mrngikuti akun sosial media mantan suaminya.
"Aku pulang dulu ya! Sampai ketemu besok," ucap Maya.
Karena ini sudah mulai gelap, Maya segera pamit. Ia tidak bisa berlama-lama di rumah Rara. Sudah ada suami dan anak yang menunggunya di rumah.
Beruntung Maya berada dalam keluarga yang tepat. Mereka tidak marah saat Maya pulang terlambat. Sebaliknya, Maya sangat terharu dengan sikap manis suami dan anaknya. Mereka sudah menyiapkan makan malam dan air hangat agar Maya segera mandi.
Setelah selesai makan, Maya menceritakan aa yang terjadi pada Rara. Reza tiba-tiba menyarankan agar Rara segera menikah lagi. Menurut Reza, saat Rara menikah lagi maka perlahan ia akan melupakan mantan suaminya itu.
"Tapi sama siapa?" tanya Maya.
Belum sempat Reza menjawab, obrolan mereka terhenti saat mendapat telepon dari Riri. Bos sekaligus sahabatnya itu memberi kabar jika pengiriman barang akan telat karena istri dari produsen bahan baku itu meninggal. Pria yang bernama Hasan itu tidak bisa mengantar barang sesuai dengan perjanjian kemarin.
"Tuh, kan ada jalannya." ucap Reza saat panggilan Maya dengan Riri sudah berakhir.
"Jalan apa?" tanya Maya.
"Duda kan? Bisa tuh sama Rara," jawab Reza dengan sangat datar.
"Astaga. Istrinya pun belum dikubur, kok Mas sudah kepikiran buat jodohin sama Rara. Tega bener," ucap Maya.
__ADS_1
"Eh, kan nanti. Boleh kali," ucap Reza.
Maya menatap Reza. Ia berpikir tentang apa yang dikatakan Reza. Ada benarnya juga. Setidaknya, jika Rara menikah lagi maka Rara akan memiliki teman bercerita. Perlahan tapi pasti semua rasa sakit dan bersalahnya akan memudar.
Meskipun mungkin bukan produsen bahan baku itu orangnya, namun Maya berharap jika Rara akan segera mendapatkan jodohnya. Sampai tidur pun, Maya memimpikan pernikahan Rara dengan produsen bahan baku itu.
"Astaga," ucap Maya saat tersadar dari tidurnya.
"Kenapa?" tanya Reza sambil mengucek matanya.
"Aku mimpi Rara menikah. Sama produsen bahan baku itu, Mas. Apa ini pertanda ya?" ucap Maya.
"Kamu hanya terbawa suasana saja. Jangan terlalu cepat. Kamu tidak terlalu mengenal pria itu. Jangan sampai Rara kecewa untuk yang kedua kalinya," ucap Reza sambil beranjak dari tempat tidur.
Maya menatap punggung Reza dengan cemberut. Padahal tadi malam Reza sendiri yang memberi ide itu. Tapi sekarang Reza sudah berubah pikiran.
"Dasar aneh," ucap Maya.
Hari ini Maya sudah mendapati Rara di butik. Wajahnya sudah jauh lebih ceria. Bahkan sikapnya juga sudah kembali hangat. Maya sudah merasa Rara berubah.
"Kamu makin cantik kalau begitu," ucap Maya.
"Begitu gimana?" tanya Rara sambil tersipu malu.
"Aku suka kamu yang semangat. Tetap seperti ini ya! Jangan sampai berubah lagi," ucap Maya.
"Terima kasih buat support nya ya May," ucap Rara sambil mengangguk senang.
"Ada apa ini?" tanya Riri yang tiba-tiba datang.
Riri merasa heran saat melihat Rara dan Maya saling berpegangan. Ada rasa iri saat melihat kakak kandungnya justru terlihat lebih akrab dengan orang lain.
__ADS_1
Kenapa tidak denganku? Kenapa Kakak tidak semanis itu padaku? Apa kalian tahu kalau aku cemburu? Aku ini adik kandungmu. Seharusnya aku yang di sana. Bukan Kak Maya.