Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Mengabdikan diri


__ADS_3

Riri belum merespon ucapan Tuan Felix. Menurutnya ucapan itu hanya sebuah kalimat penenang saja. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang anak sepertinya? Kehilangan kebahagiaan ditengah harapan besarnya.


"Pah, bagaimana kalau Mas Rian tahu tentang keluargaku?" tanya Riri saat berhenti dari tangisnya.


"Bagaimana apanya?" Tuan Felix balik bertanya.


"Apa Mas Rian bisa menerimaku?" tanya Riri.


"Dia akan menikahimu besok. Apa yang membuatmu ragu padanya? Kalau dia belum bisa menerima keluargamu, mana mungkin dia mau menikahimu. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak," jawab Tuan Felix.


"Tapi selama ini Mas Rian tidak tahu bagaimana keadaan keluargaku Bagaimana kalau ternyata Mas Rian," ucapan Riri terhenti karena ia merasa ngeri sendiri dengan ucapannya.


"Berhenti berpikir buruk. Semua yang terjadi seerti apa yang kamu pikirkan. Berpikirlah yang baik-baik. Papa yakin kamu sudah mengenal Rian. Apa mungkin Rian bisa meninggalkanmu hanya karena keluargamu?" tanya Tuan Felix.


Riri terdiam. Ia tahu pikirannya terlalu buruk tentang Rian. Ketakutannya membuatnya ragu pada pria yang sangat mencintainya itu. Beruntunglah ada Tuan Felix yang menemaninya sampai saat ini. Jika saja Tuan Felix tidak ada, ia tidak tahu apa yang akan terjadi.


Mobil melaju menuju rumah Tuan Wira. Tidak ada istilah dipingit dalam hidup Tuan Felix. Ia sengaja mempertemukan Rian dan Riri sebelum mereka menikah. Kedatangan Riri disambut hangat oleh keluarga Tuan Wira.


"Haii," sapa Mia sambil memeluk Riri.


"Kak," sapa Riri sambil menikmati hangatnya pelukan Mia yang penuh dengan ketulusan.


Setelah menyalami Mia, Riri menyalami semuanya bergantian. Sampai akhirnya ia bersalaman dengan Nyonya Helen. Riri harus duduk agar ia bicara dengan Nyonya Helen yang duduk di kursi roda.


"Sayang, terima kasih sudah datang. Mama bahagia melihat kamu di sini. Mama bisa tenang kalau pergi nanti," ucap Nyonya Helen.


"Ma, jangan pergi kemana-mana. Nanti kita bisa bercerita bersama ya. Aku mau Mama jadi temanku nanti," ucap Riri.


"Setelah menikah kamu pasti ke Jerman lagi. Kapan kamu kembali? Mungkin Mama sudah tidak ada," ucap Nyonya Helen.


"Jangan bicara seperti itu Ma. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan di sini sama Mama," ucap Riri.


Mendengar jawaban Riri, Rian mengernyitkan dahinya. Ia tidak suka saat Riri memberi harapan yang terlalu besar untuk Nyonya Helen. Ia khawatir harapannya akan membuatnya semakin sakit dan berpengaruh pada kesehatannya.


"Benarkah? Kamu akan cuti lama dari perusahaan?" tanya Nyonya Helen dengan sangat senang.


"Aku tidak cuti Ma. Aku sudah menyerahkan perusahaan pada orang yang tepat. Aku hanya sesekali ke sana. Selebihnya aku akan memantau dari sini," jawab Riri.

__ADS_1


"Wah, apa ini serius? Mama senang sekali," ucap Nyonya Helen.


"Serius. Tapi Mama sembuh ya. Aku mau Mama menemaniku setiap harinya," ucap Riri.


Ingin sekali Rian menghentikan bualan Riri yang menurutnya sudah terlalu berlebihan. Namun sayangnya ia tidak bisa menghentikan obrolan itu. Ia tidak mau melihat wajah ceria itu berubah seketika.


"Pah, bisa kita bicara? Aku sangat merindukan Papa," ucap Rian.


Tuan Felix segera mengikuti Rian karena ia juga merasakan hal yang sama. Namun ia terkejut saat ternyata Rian justru marah atas apa yang dilakukan Riri. Ia tidak berpikir jika Rian akan membahas tentang obrolan Riri dan Nyonya Helen.


"Aku tidak suka Mpus membohongi Mama begitu. Kasihan Mama," ucap Rian dengan nada dan wajah kecewa.


"Hah? Siapa yang berbohong?" tanya Tuan Felix.


"Papa sudahlah. Aku sudah muak jika harus membahas ini sebenarnya. Aku tahu Mama mungkin selalu berpikir jika usianya tidak akan lama lagi. Tapi kita juga tidak bisa membuat kebohongan hanya untuk membuat Mama tersenyum," jawab Rian.


"Sebentar, Papa tidak mengerti dengan ucapanmu. Apa kamu berpikir jika Mpus sedang membual? Apa kamu tidak percaya jika dia meninggalkan perusahaannya demi kamu?" tanya Tuan Felix.


Rian menatap Tuan Felix dengan tatapan yang sangat tajam. Jantungnya berdebar lebih cepat saat mendengar ucapan Tuan Felix. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia tidak tahu apa-apa?


"Maksud Papa apa?" tanya Rian.


Rian menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak percaya dengan ucapan Tuan Felix. Mana mungkin Riri bisa meninggalkan semua itu?


"Masih tidak percaya? Menurutmu apa yang membuat Riri sampai pulang ke sini begitu mepet? Dia mengurus semuanya. Bahkan Papa sendiri turun tangan untuk membantunya," ucap Tuan Felix.


"Rupanya kalian di sini. Ayo makan dulu," ajak Tuan Wira.


Obrolan yang belum selesai itu menggantung begitu saja. Mereka menuju ruang makan. Obrolan itu belum bisa mereka lanjutkan karena selesai makan, Tuan Wira mengajak Tuan Felix ke ruangan kerjanya. Mereka membahas tentang urusan perusahaan.


Harapan Rian saat ini hanya Riri. Tapi sayangnya Naura dan Narendra lebih dulu mencuri perhatian Riri. Rian terpaksa kembali mengalah. Ia rasa mereka bertiga memang perlu lebih dekat.


"Naura, Rendra, tidur ya! Ini sudah malam. Besok Om Rian dan aunty Riri akan menikah. Kalian tidak boleh bangun kesiangan," ucap Mia mengingatkan.


"Yah, padahal baru sebentar. Nanti ya Ma," rengek Naura.


"Aunty Riri harus istirahat juga. Kalian ngobrolnya besok lagi ya!" ucap Mia.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu aunty Riri tidur sama Naura saja ya," pinta Naura.


"Boleh," jawab Riri.


"Yeaaay," teriak Naura senang.


"Tapi nanti ya. Sekarang aunty Riri harus mempersiapkan pernikahannya dulu," ucap Mia.


"Yaaaah," ucap Naura kecewa.


"Nanti aku ke kamar ya kalau sudah selesai," ucap Riri.


Wajah kecewa Naura seketika berubah menjadi sangat bahagia. Tanpa ditanya, Naura dengan sangat semangat menunjukkan kamarnya agar Riri tidak salah masuk nanti.


"Iya, nanti aku ke sana ya!" ucap Riri.


Naura segera pergi ke kamar setelah Riri meyakinkannya. Sementara Narendra sudah lebih dulu pergi saat diminta tidur oleh Mia. Narendra memang berbeda dengan Naura. Kembaran Naura itu memang lebih santai dan tidak mau berdebat. Tidak seperti Naura yang sering berdebat dengan ibunya.


Mia pun mengajak Riri untuk membahas konsep pernikahan mereka besok. Riri sangat terkejut saat mendengar konsep pernikahan yang sudah disiapkan untuknya. Ah, tidak hanya Riri. Sebenarnya Rian juga terkejut karena ia tidak menyangka jika akan dibuat semewah itu. Padahal waktunya sangat mepet.


"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Riri.


"Tidak ada kata berlebihan Pus. Kita ini satu keluarga. Ini pernikahan impian kalian kan?" ucap Mia dengan bibir yang mengembang.


"Kak, ini berlebihan. Benar kata Mpus, ini berlebihan. Aku jadi tidak enak," ucap Rian.


"Kasih kucing saja kalau tidak enak," ucap Dion yang tiba-tiba ikut gabung di sana.


Obrolan semakin seru saat Dion ikut membahas konsep pernikahan itu. Namun sayangnya, tidak lama ia pergi saat ponselnya berdering.


"Siapa?" tanya Mia saat Dion sudah kembali bergabung.


"Reza," jawab Dion.


"Sudah sampai mana? Dia jadi ke sini kan?" tanya Mia.


"Sudah di hotel," jawab Dion.

__ADS_1


"Loh kok di hotel? Kenapa tidak ke sini saja?" tanya Mia.


Dion hanya menggeleng. Ia juga tidak tahu apa. alasan sebenarnya. Meskipun Reza sempat mengatakan jika ia sudah lelah dan ingin istirahat. Padahal jarak hotel dan rumah Tuan Wira tidak terlalu jauh. Tapi sudahlah. Ia tidak mau mempermasalahkan keputusan Reza.


__ADS_2