
Korban selanjutnya? Kata itu terngiang-ngiang di telinga Shelin. Bahkan sampai di rumah, Shelin menangis. Tangisan itu karena ketakutan dan kesedihannya. Ia khawatir jika apa yang disampaikan pria tadi memang benar adanya.
Kali ini apa yang ia dengar harus mendapat klarifikasi. Bukan hanya tentang masa lalu. Tapi ini sudah berhubungan dengan tindak kejahatan. Ini keterlaluan menurut Shelin. Bukan ia tidak percaya pada calon suaminya, tapi ia juga tidak mau menutup mata dari apa yang sebenarnya terjadi.
Shelin mencoba berpikir jernih. Ia tidak main terjebak dalam pernikahan yang akan menyengsarakannya kelak. Lebih baik ia sakit sekarang dari pada harus menanggung penyesalan yang tak berujung.
"Aku mau bicara," ucap Shelin melalui sambungan telepon.
"Kamu menangis? Ada apa?" tanya Rian.
Saat itu Rian sedang makan siang dengan menu kesukaannya yang dikirim oleh Sindi. Tiba-tiba selera makannyan hilang oleh pikiran buruknya. Tidak seperti biasanya Shelin menghubunginya dengan keadaan menangis.
"Aku mau bertemu. Bisa?" tanya Shelin.
"Tentu. Aku segera ke sana. Jangan menangis. Tunggu aku ya!" ucap Rian.
Dengan terburu-buru Rian segera pergi. Meninggalkan makan siangnya yang belum habis. Rasa khawatirnya pada Shelin terlalu besar hingga makanan yang ia tunggu-tunggu sejak tadi diabaikan begitu saja.
"Hati-hati Pak," ucap Manto.
Rian hanya mengangkat tangannya dan pergi dengan langkah yang cepat.
"Kamu kenapa?" tanya Rian saat sudah sampai ke rumah Shelin.
Nampak Shelin sedang menangis tersedu di dampingi ibunya. Melihat kedatangan Rian, ibunya pamit. Membiarkan Rian bicara berdua dengan anaknya.
"Kamu kenapa?" tanya Rian lagi.
"Jangan duduk di dekatku," ucap Shelin sambil memukul Rian.
Rian yang baru saja duduk di samping Riri segera bergeser menjauh. Ia semakin bingung dengan sikap Shelin yang tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa?" tanya Rian lagi.
Rian masih dengan pertanyaan yang sama, karena ia belum mendapat jawaban yang diinginkannya.
"Kamu jahat," ucap Shelin di sela isak tangisnya.
"Apa yang aku lakukan?" tanya Rian bingung.
Shelin menjelaskan apa yang ia dengar dengan terbata-bata. Matanya sudah bengkak dan merah karena menangis yang belum usai.
"Apa dia yang bercerita padamu?" tanya Rian menunjukkan foto Hiro.
Sayangnya Hiro tidak menunjukkan dirinya. Penyamarannya berhasil mengelabui Shelin, hingga ia tidak mengenali foto yang ditunjukkan oleh Rian.
__ADS_1
"Bspak-bapak?" tanya Rian.
"Iya. Dia begitu baik dan ramah. Aku tidak percaya kalau dia berbohong," jawab Shelin.
"Jadi kamu lebih mempercayai dia dibanding aku? Ingat Shelin, aku ini calon suamimu. Sebentar lagi kita akan menikah," ucap Rian meyakinkan.
"Lalu siapa dia?" tanya Shelin.
"Mana aku tahu. Aku sama sekali tidak mengenalnya," jawab Rian.
Akhirnya Rian pun menceritakan semua yang terjadi sebenarnya. Semua cerita tentang Maudi dan Riri. Dua wanita yang sempat singgah di hatinya. Tapi saat ini hanya Shelin yang sedang ia perjuangkan. Tidak ada yang lain. Perlahan Shelin mulai percaya. Tangisnya mulai reda.
"Seharusnya kamu tidak perlu tahu masa laluku, seperti aku yang tdiak pernah ingin tahu masa lalumu. Tapi karena aku takut masalah ini berlarut-larut aku terpaksa menceritakan semuanya," ucap Rian.
"Tapi kamu tidak bohong kan?" tanya Shelin.
Rian kembali menjelaskan tentang kejujurannya. Ia sama sekali tidak mau menjalin hubungan yang dilandasi dengan kebohongan. Ia bahkan bersumpah kalau ia memang tidak pernah menghamili wanita manapun. Apalagi sampai tidak bertanggung jawab seperti berita yang sampai ke telinga Shelin.
"Terima kasih untuk semua kejujurannya. Aku percaya," ucap Shelin.
"Terima kasih juga sudah sangat percaya kepadaku," ucap Rian.
Rian senang saat melihat Shelin sudah kembali tersenyum. Akhirnya ia bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Sebenarnya bukan karena Rian yang hebat, tapi karena kedewasaan Shelin. Ia berhasil menaklukkan rasa sakitnya dengan kesungguhan Rian.
Keputusannya untuk menjadi istri Rian sudah ia pertimbangkan dengan matang. Ia seharusnya sudah bisa mengatasi hal-hal seperti ini. Bahkan Rian meminta Shelin lebih bisa menyaring berita dari luar. Ia tidak boleh mudah percaya dengan apa yang ia dengar.
Dengan berbagai kepentingan, akan sangat mungkin banyak orang yang ingin menghancurkan kebahagiaannya. Tugasnya saat ini adalah mematahkan harapan jahat mereka yang akan membuatnya cape sendiri.
"Sudah selesai masalahnya?" tanya ibunya Shelin saat melihat Rian sudah pulang dari rumahnya.
"Sudah," jawab Shelin dengan senyum sambil memeluk ibunya.
"Sayang, bahagia selalu ya. Ibu tidak mau kamu menangis seperti tadi. Asal kamu tahu, ibu jauh lebih bahagia saat kamu bahagia. Ibu juga jauh lebih sakit saat kamu sakit," ucap ibunya Shelin.
Shelin menyesal karena sudah membuat ibunya terluka dan bersedih. Ia berjanji akan selalu berpikir dewasa karena tidak mau kejadian itu terulang lagi.
Sementara Rian yang baru saja sampai ke kantor mengambil napas yang dalam dan menghembuskannya perlahan. Lalu ia duduk santai sambil menengadahkannya ke langit-langit. Ia masih berpikir siapa pria yang sudah memfitnahnya itu.
"Apa mungkin ayahnya Hiro?" gumam Rian.
Manto yang baru saja kembali ke ruangan itu terkejut melihat Rian terperanjat karena kedatangannya.
"Eh maaf Pak. Saya pikir Bapak belum pulang," ucap Manto.
"Tidak apa-apa Pak," jawab Rian sambil memegang dadanya.
__ADS_1
Manto bisa melihat wajah terkejut Rian yang lucu menurutnya. Ia merasa bersalah karena masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintin dulu.
"Dari mana Pak?" tanya Rian.
"Dari ruangan Pak Danu," jawab Manto.
"Ada pekerjaan yang telat Pak?" tanya Rian.
"Tidak. Saya hanya mengkonsultasikan laporan yang akan disetor besok," jawab Manto.
Rian tidak tahu saja kalau mereka sempat sedikit mrnggosip tentang dirinya. Manto berbagi cerita tentang kepergian Rian setelah mendapat telepon dari Shelin. Rupanya Manto dan Dsnu semakin hari semakin akrab dan kompak. Ternasuk kompak dalam menggosip atasannya sendiri.
"Bagaimana laporan untuk besok? Aman?" tanya Rian.
"Aman Pak," jawab Manto.
"Syukurlah," ucap Rian.
Keduanya kembali dengan pekerjaan masing-masing. Sampai akhirnya mereka pulang setelah jam kerja sudah selesai. Sore ini Rian pulang ke rumah Nyonya Helen. Ia akan membahas rencana pesta yang akan digelar beberapa bulan ke depan.
Rian memang akan menyiapkan semuanya sendiri. Namun Rian juga butuh masukan dari kedua orang tuanya. Ia tidak mau Nyonya Helen malah dan merasa tersinggung dengan langkah yang ia ambil.
Dsn ternyata benar. Apa yang ia takutkan memang benar-benar terjadi. Nyonya Helen marah karena Rian memberi tahu rencana itu mendadak menurutnya.
"Masih beberapa bulan lagi Ma. Masih lama," ucap Rian.
"Kamu pikir persiapan pernikahan itu mudah?" tanya Nyonya Helen kesal.
Rian hanya menunduk saat Nyonya Helen memarahinya. Belum lagi Tuan Wira yang ikut nimbrung. Ia sama sekali tidak bisa membela diri. Ia memang benar-benar hanya diam dan mengakui kesalahannya.
Kesalahan terbesar Rian adalah menganggap semuanya bisa ia selesaikan sendiri. Nyatanya ada banyak hal yang harus Rian persiapkan dan belum terselesaikan.
"Harusnya kita ke sana. Jadi bisa kita komunikasikan langkah apa yang akan kita ambil bersama," ucap Nyonya Helen.
Akhirnya Rian mengatur jadwal untuk pertemuan keluarganya dengan keluarga Shelin. Meskipun masih menggerutu, tapi akhirnya Nyonya Helen dan Tuan Wira masuk ke kamar untuk istirahat.
"Syukurlah saat ini aku sudah aman," ucap Rian sambil mengusap dadanya.
Rian meneguk segelas air mineral sebelum akhirnya masuk ke kamarnya. Beristirahat dengan sangat nyaman karena besok harus sudah kembali bekerja. Masih banyak sekali yang harus ia kerjakan besok.
Perusahaan Rian yang sedang naik daun, kembali membuatnya tidak punya waktu luang untuk sekedar makan di luar dengan Shelin. Hal itu rupanya menjadi keuntungan tersendiri untuk hubungan Rian dan Shelin. Akhirnya Maudi merasa senang karena mengira keduanya sedang bertengkar.
Maudi terlihat bahagia sambil memeluk Hiro dengan erat. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih pada adiknya. Hiro memang sangat banyak membantu Maudi untuk misi balas dendamnya. Tanpa Hiro sadari ia semakin jahat hanya untuk melihat Maudi bahagia.
Seandainya kamu bukan adik dari Maudi, kamu pasti akan menjadi pria yang sangat baik.
__ADS_1