Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Mpus


__ADS_3

"Papa berangkat dulu," pamit Tuan Felix.


"Iya Pah. Hati-hati!" ucap Rian.


Setelah Tuan Felix pergi, Rian segera kembali ke dalam kamarnya. Melanjutkan kembali tugasnya karena harus segera ia selesaikan. Tidak lama, semuanya selesai dan Rian siap pergi ke kampus.


Baru saja ia keluar dari kamarnya, Rian mendapati ponselnya berdering. Lagi, konsentrasinya terganggu saat nama Maudi terpampang jelas dalam layar ponselnya.


"Halo," ucap Rian sedingin mungkin saat panggilannya sudah terhubung.


"Kamu ke kampus jam berapa?" tanya Maudi.


"Sekarang mau berangkat," jawab Rian.


"Bisa jemput aku?" tanya Maudi.


Jemput? Benarkah? Hati Rian mengembang seketika saat mendengar kata itu. Sudah sangat lama ia tidak pernah menjemput Maudi lagi. Rindu itu sepertinya akan terpecahkan saat ini.


Ah tidak! Rian harus menyadari jika ada Rey dalam hidup Maudi saat ini. Ia berusaha mengendalikan hatinya yang semakin tidak karuan.


"Minta jemput Rey saja," jawab Rian.


"Rian, Rey sakit dan tidak bisa menjemputku. Kamu bisa kan menolongku?" bujuk Maudi.


Hati Rian luluh saat Maudi membujuknya. Akhirnya ia mengiyakan dan segera berangkat untuk menjemput Maudi sebelum ia ke kampus.


"Rian," sapa Maudi saat Rian tiba di depan rumahnya.


"Masuk!" ucap Rian.


Rian berusaha sebisa mungkin menyembunyikan perasaan bahagianya. Ia tidak mau Maudi melihat betapa ia sangat bahagia saat berada satu mobil dengannya.


"Kamu pulang jam berapa?" tanya Maudi.


"Jam empat," jawab Rian.


Matanya melirik sebentar ke arah Maudi, namun ia segera memalingkan wajahnya saat mata itu menatap matanya. Hatinya berdebar tidak karuan. Rasa itu kembaki menguasai hatinya.


"Kamu bisa tidak antarkan aku pulang nanti?" tanya Maudi.


"Lihat nanti ya," ucap Rian.


"Aku juga pulang jam empat. Kalau kamu tidak keberatan, kita bisa pulang bersama. Sekalian memperbaiki hubungan kita yang rusak," ucap Maudi.


"Memperbaiki hubungan kita yang rusak?" tanya Rian dengan nada mencibir.


"Rian, ayolah! Kita bukan anak kecil lagi," jawab Maudi.


"Iya, aku tahu kita sudah bukan anak kecil lagi. Jadi tidak ada waktu untuk bermain-main dengan waktu," ucap Rian.


Maudi diam, ia hanya bisa menghela napas panjang saat Rian terlihat mengejeknya.


"Jadi mau kamu apa?" tanya Maudi.


"Aku hanya mau kuliah dan meraih semua mimpiku menjadi kenyataan," jawab Rian.


"Tanpa pacaran?" tanya Maudi tidak yakin.


"Sambil mencari," jawab Rian.


"Mencari apa?" tanya Maudi sudah mulai kesal.

__ADS_1


"Pacar," jawab Rian datar.


Setelah itu suasana di dalam mobil hening. Keduanya tidak lagi bicara. Saling diam dan hanyut dengan pikirannya masing-masing. Maudi mengepalkan tangannya saat mendengar Rian akan mencari pacar. Artinya ia tidak punya kesempatan sama sekali untuk kembali bersama Rian.


"Turun! Sudah sampai," ucap Rian.


"Iya," jawab Maudi ketus.


Dengan wajah kesal, Maudi keluar dan membanting pintu mobil cukup keras. Beberapa orang yang ada di sekitar parkiran menatap mereka. Rian kesal, namun ia berusaha tenang.


BRUGHH


"Sorry," ucap salah seorang mahasiswa baru yang menabrak Rian.


"Are you from Indonesia?" tanya Rian.


"Ah, iya. Mas nya dari Indonesia juga?" tanya mahasiswa baru itu.


"Rian," jawab Rian mengangguk sambil mengulurkan tangannya.


"Riri Puspita Sari Nurmala Dewi," ucap Riri sembari membalas uluran tangan itu.


"Panjang sekali," jawab Rian.


"Hehe, panggil Riri saja Mas." Riri tersenyum manis.


"Riri? Tapi bukan Rian kan?" goda Rian.


"Riri aja Mas," ucap Riri.


"Aku boleh panggil kamu Mpus tidak?" tanya Rian.


"Mpus?" tanya Riri dengan wajah bingung.


"Ah, Mas bisa aja." ucap Riri.


Rian merasa geli sendiri dengan apa yang sudah ia lakukan. Ini pertama kalinya ia bicara begitu santai dan akrab dengan seorang wanita. Apa lagi ini pertemuannya pertama kali.


"Terus kenapa harus Mpus?" tanya Riri lagi.


"Kan namanya Riri Puspita apa lagi tadi ya? Nah aku mengambil nama Mpus dari Puspita, boleh kan?" tanya Rian.


"Terserah Mas deh," ucap Riri.


"Oh ya kamu mau kemana? Kok kelihatan buru-buru sampai menabrakku?" tanya Rian.


"Ya ampun, aku mau ke kantin. Maaf Mas, aku permisi dulu ya!" pamit Riri sambil berlari.


Ke kantin? Dia lapar atau haus? Lucu sekali sampai lupa dengan urusan perut hanya karena bertemu denganku.


Maudi melihat kejadian itu dan mengamatinya dengan penuh kekesalan. Namun saat Rian melihat Maudi, ia segera membuang muka dan berjalan semakin menjauh.


Ada rasa senang di hati Rian saat melihat ada gurat cemburu pada ekspresi Maudi. Wajah cantik itu jelas sekali menatap tidak suka dengan apa yang terjadi padanya dan Riri.


Rian masuk ke dalam kelas dan tidak melihat Rey. Nampaknya Rey memang sakit. Sudah lama ia tidak menghubungi Rey. Semenjak Rey dekat dan mengumumkan hubungan spesial diantara keduanya, Rian sudah tidak lagi menghubungi Rey. Begitupun sebaliknya.


Perkuliahan dimulai, Rian kembali fokus dan mengikuti pembelajaran dengan sangat semangat. Cita-citanya harus ia wujudkan. Banyak yang menaruh harapan padanya.


"Rian," sapa Maudi saat Rian sudah selesai kuliah.


"Mau pulang bareng?" tanya Rian.

__ADS_1


Maudi mengangguk dengan sangat semangat.


"Ayo! Aku sekalian mau menjenguk Rey," ucap Rian.


Maudi menahan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Rian.


"Tidak apa-apa," jawab Maudi.


Rian kembali melanjutkan langkahnya. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan kampus. Namun, tiba-tiba mobil Rian berhenti saat melihat Riri berdiri di pinggir jalan.


"Mau pulang?" tanya Rian setelah menurunkan kaca mobilnya.


"Iya Mas," jawab Riri.


"Ayo pulang bareng! Tapi di belakang tidak apa-apa ya?" ajak Rian.


"Ah, tidak usah. Nanti mengganggu," jawab Riri.


"Jangan khawatir. Dia hanya temanku," ucap Rian. "Eh kita sudah berteman lagi kan?" tanya Rian pada Maudi.


Maudi hanya bisa memutar bola matanya tanda jika ia tidak suka dengan kehadiran Riri.


"Memangnya rumah kamu dimana? Satu arah sama rumah Rian?" tanya Maudi pada Riri.


"Tidak masalah. Kita juga tidak searah, tapi aku mau antar jemput kamu kan?" ucap Rian.


Riri hanya diam. Ia merasa tidak enak saat menyadari Maudi tidak menerima kehadirannya.


"Ayo naik!" ajak Rian.


"Tidak usah Mas. Aku bisa sendiri," jawab Riri.


"Jangan menolak. Anggap saja ini perkenalan kita. Biar kita lebih dekat. Kita kan sama-sama dari Indonesia," ucap Rian.


"Tidak usah Mas, terima kasih. Lain kali saja," ucap Riri.


Maudi sudah tersenyum senang saat melihat Riri menolak ajakan Rian. Namun hak tidak diduga ternyata terjadi. Rian keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Riri.


"Masuk!" perintah Rian.


Riri segera masuk saat Rian semakin mendekat padanya. Suasanana semakin tidak nyaman apalagi setelah mobil mulai melaju. Semuanya diam. Bahkan tidak ada lagu yang diputar saat itu.


"Pus, kita ke rumah temanku dulu ya! Namanya Rey. Setelah itu, aku janji antar kamu pulang." Rian melihat Riri dari spion depan.


"Kita bisa mengantar dia pulang dulu sebelum ke rumah Rey," jawab Maudi.


"Iya Mas," jawab Riri.


"Jangan! Biar sekalian kamu tahu teman-temanku yang lain. Rey juga orang Indonesia. Kita harus saling mengenal. Kamu kan orang baru jadi harus banyak kenalan," ucap Rian.


"Kalau dia tidak mau ya jangan dipaksa dong Ri. Biarkan dia pulang saja," ucap Maudi.


"Pus, kamu mau kan ikut aku dulu? Tenang aja, aku orang baik kok. Serius," ucap Rian.


Maudi diam karena kesal saat Rian mengacuhkannya dan terus membujuk Riri untuk ikut. Sementara Riri diam karena bingung dengan keadaan di dalam mobil yang terasa semakin tidak nyaman.


Sesekali Rian melirik Maudi dan Riri. Ia melihat keduanya sama-sama cantik. Namun hatinya tidak bisa berbohong karena sampai saat ini cintanya hanya untuk Maudi.


Semua keacuhannya pada Maudi hanyalah salah satu taktik yang diajarkan oleh Mia. Rian ingin agar Maudi mau berubah dan menjadi wanita baik untuknya. Kehadiran Riri ternyata membawa dampak besar untuk perubahan sikap Maudi padanya.

__ADS_1


Maudi bahkan terlihat cemburu dengan kehadiran Riri. Rian jelas melihat itu dari sikap Maudi padanya.


__ADS_2