Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Target menikah


__ADS_3

Rian pulang lebih cepat. Satu dosen tidak masuk dan diganti besok. Ia tidak menyangka jika akhirnya bisa bertemu lagi dengan Riri. Namun ia merasa Riri jalan lebih cepat dan belok arah saat matanya beradu pandang dengan Rian.


"Pus," panggil Rian dengan sedikit berteriak.


Riri tidak menoleh. Ia terus berjalan, apalagi saat melihat Maudi ada di sekitar parkiran. Rian merasa aneh dengan sikap Riri. Tidak mungkin Riri tidak mendengar panggilannya karena beberapa orang sempat menoleh saat Rian memanggil Riri. Akhirnya Rian mengejar Riri, namun tangannya ditahan oleh Maudi.


"Ayo pulang!" ajak Maudi.


"Kamu pulang duluan saja," ucap Rian.


Rian melepaskan tangannya dari Maudi dan segera mengejar Riri. Harus berlari agar ia bisa mengejar wanita yang berjalan lebih cepat itu. Meninggalkan Maudi yang tengah diselimuti rada marah.


"Pus, Pus, tunggu dulu!" panggil Rian.


Riri tidak mendengar panggilan Rian, ia terus berjalan semakin menjauh dari Rian. Sampai akhirnya tangannya berhasil ditahan oleh Rian.


"Mas, lepaskan. Mas kenapa ngejar aku? Aku tidak punya hutang kan?" tanya Riri.


"Jelas kamu punya hutang," jawab Rian.


"Oh, jadi kemarin Mas mengantar aku pulang itu tidak gratis? Oke nanti aku bayar untuk mengganti bensinnya," ucap Riri.


"Kamu berhutang penjelasan. Kenapa kamu menghindar dariku?" tanya Rian.


"Siapa yang menghindar?" tanya Riri kembali.


"Jangan basa basi. Jawab saja, kenapa kamu menghindar dariku?" tanya Rian.


"Aku hanya tidak mau berurusan dengan Mba Maudi. Aku ke sini untuk kuliah, bukan untuk terlibat dalam hubungan rumit kalian. Apalagi jadi kambing hitam begini," jawab Riri.


"Kambing hitam? Apa maksudmu?" tanya Rian.


Riri pun menjelaskan semuanya. Rian sampai tidak percaya jika Maudi bisa sampai mengancam Riri.


"Kamu cemburu?" tanya Rian.


"Aku?" tanya Riri sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya," jawab Rian sambil mengangguk.


"Cemburu sama Mas?" tanya Riri lagi.


"Ya," jawab Rian sambil menatap Riri lekat.


"Maaf ya Mas. Aku bukan perempuan gampangan. Hanya karena diantar pulang langsung jatuh cinta," ucap Riri sambil bergidik.


"Terus kenapa kamu menghindar dariku?" tanya Rian.


"Katanya Mas itu kuliah karena beasiswa. Masalah begini saja mendadak tidak mengerti," ucap Riri sambil menggelengkan kepalanya.


"Bukannya tidak mengerti. Tapi aku tidak yakin jika kamu menghindar dariku hanya karena ancaman Maudi," ucap Rian.


"Mas, aku tidak punya urusan dengan kalian. Mas kan niatnya mau buat dia cemburu? Nah sekarang Mba Maudi udah cemburu, jadi Mas udah menang. Aku tidak mau terlibat terlalu jauh," ucap Riri.


"Tapi aku merasa kamu cemburu padaku," ucap Rian.


"Ih, percaya dirinya sudah akut sih ini. Baik-baik Mas, takut kejiwaannya terganggu." Riri menggelengkan kepala dengan sikap Rian.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak cemburu, kamu mau dong ikut pulang denganku?" tanya Rian.


"Tidak perlu Mas. Nanti malah jadi ribet ah. Aku bisa pulang sendiri," jawab Riri.


"Mau pulang bareng atau mengaku kalau kamu memang cemburu?" tanya Rian.


Riri menghela napas panjang dan berbalik. Ia berjalan untuk kembali menuju mobil Rian yang masih di parkiran. Maudi masih menunggu di sana. Tatapannya sudah tidak aman. Sementara Rian mengikutinya di belakang dengan senyum yang lebar.


"Aku mau ikut pulang Mba. Biar dapat gratisan," ucap Riri.


"Tidak tahu malu sekali kamu," ucap Maudi.


"Jangan marah-marah Mba. Nanti cepat tua. Yang punya mobil aja tidak protes," jawab Riri.


Rian terkejut melihat jawaban Riri. Ternyata Riri yang pendiam dan pemalu di hari kemarin, kini sangat berbeda. Riri nampak begitu berani menghadapi Maudi.


"Maudi, jangan membuat ulah. Malu," ucap Rian.


Saat mobil akan melaju, Rian kembali membuat Maudi kesal.


"Harusnya sekarang itu bagian Riri yang di depan. Kan gantian," ucap Rian.


"Tidak apa-apa Mas. Tidak ada pengaruhnya juga buat aku. Di depan di belakang juga yang penting sampai," ucap Riri.


Maudi sudah mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia turun. Namun ia tidak mau membiarkan Rian berduaan dengan Riri. Sebisa mungkin Maudi bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Maudi lebih memilih sibuk dengan ponselnya.


"Antar dia dulu," ucap Maudi saat mobil berhenti di depan rumahnya.


"Ya tidak bisa begitu. Nanti aku harus bolak-balik," ucap Rian.


"Kamu kok perhitungan begitu sih?" ucap Maudi kesal.


Seperti biasa, Maudi turun sambil membanting pintu dan masuk ke rumahnya tanpa menoleh lagi. Padahal setelah sampai ke rumahnya, Maudi pasti mengintip dari balik gorden. Melihat mobil Rian melaju semakin menjauh.


"Aku tidak menyangka kamu begitu berani," ucap Rian saat mobil sudah kembali melaju tanpa Maudi di sampingnya.


"Kalau kita tidak salah, tidak ada yang harus kita takutkan." Riri menjawab dengan begitu santai.


Rian menganggukkan kepalanya.


"Ya, kamu benar. Sepertinya aku harus belajar banyak darimu," ucap Rian.


"Aku belum jadi dosen," ucap Riri.


"Jadi kamu mau jadi dosen?" tanya Rian.


"Mau tidak mau, seorang wanita itu akan menjadi dosen untuk anaknya." Riri menatap Rian sebentar.


"Kamu target menikah kapan?" tanya Rian.


"Menikah kok pakai target segala," jawab Riri.


"Ya kan harus direncanakan, Pus. Gambaranlah kira-kira usia berapa gitu," ucap Rian.


"Aku sih tidak punya target untuk urusan jodoh. Kalau untuk menjadi desainer ternama sih aku udah punya target," ucap Riri.


"Kalau ditakdirkan menikah sekarang?" tanya Rian.

__ADS_1


"Tidak masalah," jawab Riri.


"Kalau ternyata harus menikah lebih lama?" tanya Rian.


"Tidak masalah," jawab Riri.


Rian menatapnya dengan penuh kebingungan. Ia menggelengkan kepalanya. Namun Riri tidak mau ambil pusing. Sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah Riri.


"Mau masuk dulu?" tanya Riri.


"Boleh?" tanya Rian.


"Kenapa tidak. Masuklah," ucap Riri.


Rian turun, namun saat ia melangkah menuju rumah Riri, dering ponsel menghentikan langakhnya.


"Maaf ya Ri, Papa minta aku pulang cepat. Mungkin lain waktu aku pasti akan main ke rumah kamu," ucap Rian.


"Iya. Terima kasih ya Mas," ucap Riri.


Sesampainya di rumah, Rian menepuk dahinya. Kenapa ia tidak menanyakan tentang latar belakang keluarga Riri? Bahkan setelah dua hari bersama, Rian bahkan tidak memiliki nomor ponsel Riri. Pertemuan mereka benar-benar oleh alam. Tidak janjian untuk sengaja bertemu.


"Makan dulu lalu kerjakan tugasmu!" ucap Tuan Felix.


"Aku baru makan di kantin Pah. Lagi pula nanti kita di sana juga makan malam," ucap Rian.


"Ya sudah. Mandi dulu sana," ucap Tuan Felix.


"Siap Pah," ucap Rian.


Rian segera menyimpan laptop dan mandi. Tidak langsung menemui Tuan Felix, ia segera mengerjakan tugasnya. Hari ini memang ada banyak tugas yang harus ia selesaikan.


"Rian," ucap Tuan Felix sambil membawa dua cangkir teh hangat untuk dirinya dan Rian.


"Pah, jangan merepotkan begini. Aku bisa ambil sendiri," ucap Rian sambil menerima cangkir teh itu.


"Tidak repot. Ini agar kamu lebih relax. Papa tahu tugasmu banyak," ucap Tuan Felix.


"Terima kasih ya Pah," ucap Rian.


"Ya. Lanjutkan!" ucap Tuan Felix.


Rian meneguk teh itu lalu menyimpannya di meja, sedangkan ia kembali mengerjakan tugasnya. Tuan Felix yang sedang memperhatikan Rian, dikejutkan dengan dering ponsel yang disertai getaran. Semua itu bersumber dari bokongnya.


"Papa, ponsel aku." Rian meminta ponselnya.


"Bukan salah Papa. Siapa suruh simpan ponsel di atas sofa," ucap Tuan Felix yang tidak mau disalahkan.


Rian cemberut saat Tuan Felix begitu datar.


"Siapa?" tanya Tuan Felix.


Panggilan video itu dari Mia. Tuan Felix segera merebut ponsel Rian dan membawanya keluar kamar.


"Kamu selesaikan dulu tugasnya. Biar Papa yang video call ya!" ucap Tuan Felix.


Rian hanya bisa pasrah dan kembali mengerjakan tugasnya. Ia sudah tidak sabar ingin segera ikut video call dengan Mia. Apalagi saat Tuan Felix tertawa cukup keras saat berceloteh dengan cucu kembarnya.

__ADS_1


"Papa membuat hati panas. Padahal kan aku juga mau ikutan. Pasti seru banget," gumam Rian tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


__ADS_2