Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Siapa Hiro?


__ADS_3

"Ekhem, ekhem." Dehaman Rey membuat Rian melepaskan genggaman tangan Riri.


Kegugupan terlihat jelas pada keduanya. Sementara Rey hanya menahan tawa dan duduk diantara Rian dan Riri.


"Geser dong," ucap Rey.


Rian dan Riri sontak menjauhkan tubuhnya satu sama lain. Rey sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dibicarakan keduanya. Namun Rey bisa menebak rasa itu semakin kuat. Mereka saling mencintai. Begitu dugaan Rey sejak saat itu.


"Aku mau ke kelas dulu," ucap Riri.


"Ke kelas?" tanya Rey.


"Maaf ya Mas. Tapi ini sudah terlalu siang. Aku takut terlambat," jawab Riri.


"Oh ya sudah. Hati-hati ya cantik," ucap Rey sambil melambaikan tangannya.


Riri kikuk. Ia hanya tersenyum kaku tanpa membalas lambaian tangan dari Rey. Sementara ujung mata Rey melihat reaksi Rian yang menatapnya tidak suka.


"Mau kemana?" tanya Rey saat Rian berdiri.


"Ke kelas," jawab Rian ketus.


"Kelas kita masih lama masuknya. Di sini dulu. Temani aku," ucap Rey.


"Aku ada perlu," jawab Rian.


"Perlu apa? Mengejar Riri karena kalian belum selesai membahas sesuatu?" tebak Rey.


"Tidak," bantah Rian.


Rey hanya tersenyum saat Rian lagi-lagi membohonginya.


"Sini! Duduk di sini! Aku mau bicara denganmu," ucap Rey sambil menepuk kursi di sampingnya.


"Ada apa Rey?" tanya Rian kesal.


"Duduk dulu," jawab Rey yang lagi-lagi menepuk kursi di sampingnya.


"Di kelas saja," ucap Rian.


"Sini!" ucap Rey sambil menarik tangan Rian agar duduk di sampingnya.


Rian duduk meskipun masih dengan perasaan kecewa dan kesal. Ia tidak terima saat Rey menyebut Riri cantik di hadapannya. Riri memang cantik, tapi Rian tidak mau Rey terang-terangan memuji kecantikan wanita yang ia cintai itu.


"Itu!" tunjuk Rey pada seorang pria yang berdiri di depan kasir.


"Siapa?" tanya Rian.


"Sainganmu," jawab Rey.


"Saingan?" tanya Rian bingung.


"Iya," jawab Rey.


"Hey, apa maksudmu?" tanya Rian.


"Dia sedang mengincar Riri," jawab Rey.


Mengincar? Siapa dia? Batin Rian terus bergemuruh mencari tahu pria yang ditunjuk oleh Rey.


"Ke kelas duluan ya!" ucap Rey.


Rian masih diam. Matanya menatap lekat orang yang disebut sebagai saingannya. Hingga Rian tidak menyadari jika Rey sudah meninggalkannya sendirian.


"Siapa dia sebenarnya Rey?" tanya Rian.


Hening, tidak ada jawaban.

__ADS_1


"Rey, Rey," panggil Rian.


Setelah tidak terdengar jawaban, Rian menoleh mencari keberadaan Rey. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat Rey sudah tidak ada di sana.


"Heh, dia kemana sih? Bisa-bisanya dia kabur," gumam Rian.


Rian segera menyusul Rey ke kelas. Ia ingin menuntaskan rasa ingin tahunya tentang pria itu.


"Rey, kamu kenapa pergi begitu saja?" tanya Rian kesal.


"Aku sudah pamit. Tapi kamu yang tidak peduli. Ya sudah aku pergi saja. Aku pikir kamu sedang mengagumi ketampanan sainganmu itu," goda Rey sambil menahan tawanya.


Rian kesal mendengar ucapan Rey. Namun Rey justru malah tertawa saat melihat Rian begitu kesal padanya.


"Siapa dia sebenarnya?" tanya Rian.


"Namanya Hiro. Dia mahasiswa baru di kampus ini," jawab Rey santai.


"Lalu hubungannya dengan Riri apa?" tanya Rian.


"Mana aku tahu. Memang mereka punya hubungan ya Ri?" god Rey.


"Rey," ucap Rian geram.


Belum selesai Rey menjelaskan siapa Hiro sebenarnya, dosen sudah masuk ke kelas. Akhirnya Rian menyimpan rasa penasarannya hingga pembelajaran usai.


"Rey, kamu utang penjelasan padaku. Siapa Hiro sebenarnya?" tanya Rian.


"Dia mahasiswa baru. Tadi kan sudah aku bilang," jawab Rey.


"Hubungannya dengan Riri apa?" tanya Rian.


"Dia memang belum punya hubungan yang spesial dengan Riri. Tapi aku melihat jika dia mengincar Riri," jawab Rey.


"Kata siapa?" tanya Rian.


"Ah kamu. Aku serius," ucap Rian.


"Kamu pikir aku becanda?" tanya Rey.


"Lalu bagaimana kamu bisa menyimpulkan jika dia mengincar Riri?" tanya Rian.


"Dia bertanya padaku tentang Riri. Bahkan dia juga bertanya tentang kamu. Aku rasa dia tahu kalau kamu dekat dengan Riri," jawab Rey.


"Tahu dari mana dia?" tanya Rian.


"Meneketehe," jawab Rey sambil keluar dari kelas.


Rian hanya diam dan duduk mengingat kembali setiap ucapan Rey. Ia menerka siapa Hiro sebenarnya. Belum selesai Rian mendapat jawaban atas keingintahuannya, ponselnya berdering.


"Kak Mia," ucap Rian.


Rian segera menjawab panggilan Mia dan bicara banyak hal. Namun saat tahu Rian sedang di kampus, Mia menyudahi panggilannya.


"Mas," panggil Riri.


"Eh, kamu kenapa ke sini Pus?" tanya Rian.


"Kenapa ke sini? Bukannya kata Mas Rey aku ditunggu Mas Rian?" tanya Riri.


Ditungguku? Apa maksud Rey?


"Mas," panggil Riri membuyarkan lamunan Rian.


"Eh iya. Maksudku kenapa kamu menemuiku di sini? Ketemu di bebangkuan saja. Seperti biasa," ucap Rian.


Meskipun ia tidak meminta Rey agar Riri menemuinya, namun ia tidak mungkin membuat Riri kecewa karena merasa dipermainkan.

__ADS_1


"Jadi aku ke babangkuan saja?" tanya Riri.


"Ah tidak. Ayo bersamaku," jawab Rian.


Mereka berdua berjalan menuju ke bebangkuan. Rian melihat pria bernama Hiro itu sedang berdiri di parkiran. Matanya menatap Rian yang sedang berjalan dengan Riri. Ia merasa tidak nyaman karena saat duduk bersama Riri, Hiro terus menatap mereka.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Riri saat melihat Rian terlihat gelisah.


"Tidak, tidak ada. Sudah siang. Kamu pulang ya! Aku juga mau pulang," ucap Rian.


"Ya sudah Mas. Aku menunggu jemputan. Mas pulang saja duluan," jawab Rian.


"Aku menemanimu sampai jemputan datang," ucap Rian.


Rian tidak mungkin meninggalkan Riri sendiri. Ia tidak bisa membiarkan Hiro mengambil kesempatan untuk mendekati Riri.


"Mas jemputan sudah datang. Aku pulang ya!" ucap Riri.


"Iya," jawab Rian.


Sebuah senyuman, Riri berikan sebagai salam perpisahan untuk Rian. Rian segera pulang setelah Riri pulang. Ia melihat pria itu masih berdiri di parkiran. Hanya saja kini ia menunduk memainkan ponselnya.


"Siapa dia?" gumam Rian saat masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobilnya, Rian mengamati Hiro. Sampai akhirnya Rian pergi, pria itu masih berdiri di sana. Selama dalam perjalanan, Rian terus memikirkan pria bernama Hiro itu.


Baru saja Rian sampai di rumahnya, ia menerima sebuah pesan dari Rey.


'Kamu tidak berniat berterima kasih padaku?'


Rian mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud dengan sebuah pesan yang dikirim oleh Rey. Untuk memastikan apa yang dimaksud oleh Rey, Rian segera menelepon Rey.


Ternyata, Rey sengaja meminta Riri untuk segera menemui Rian di kelas. Alasannya karena Hiro sudah berusaha mendekati Riri dan mengajaknya berbicara.


"Aku semakin penasaran dengan dia. Kenapa dia mendekati Riri?" tanya Rian.


"Ya wajar lah. Riri itu kan cantik," ucap Rey.


Rian menghela napas panjang saat mendengar Rey memuji Riri cantik. Pasalnya ini bukan yang pertama. Rey sering memuji Riri cantik. Rian pun tahu jika Riri memang cantik. Tapi ia tidak suka jika ada pria lain yang memuji Riri cantik selain dirinya.


Panggilan berakhir saat Tuan Felix mengetuk kaca mobilnya. Rian segera membuka pintu mobilnya.


"Kamu kenapa tidak turun-turun?" tanya Tuan Felix.


"Papa sudah pulang?" tanya Rian.


"Kamu ini kebiasaan. Kalau ditanya bukan jawab kok malah balik bertanya," ucap Tuan Felix.


"Iya maaf. Tadi aku menerima telepon dulu dari Rey," jawab Rian.


"Memangnya dia tidak masuk?" tanya Tuan Felix.


"Masuk," jawab Rian.


"Kenapa dia meneleponmu? Seperti orang pacaran saja. Baru ketemu kok sudah telepon," ucap Tuan Felix.


Rian merasa diberi jalan untuk bercerita tentang apa yang terjadi tadi siang. Tuan Felix hanya tertawa melihat Rian yang sedang terbakar api cemburu.


"Papa kok malah tertawa?" tanya Rian bingung.


"Makanya beri kepastian. Wanita itu butuh kepastian. Kalau kamu masih tetap begini, ya jangan salahkan Hiro kalau dia yang berhasil mendapatkan Mpus. Dia itu kan cantik, pintar dan baik. Pantas untuk diperjuangkan," ucap Tuan Felix sambil menggeleng.


Belum sempat Rian menjelaskan hubungannya dengan Riri, Tuan Felix sudah pergi meninghalkan dirinya. Rasa kesal kembali memenuhi ruang hatinya saat pujian demi pujian mengalir untuk Riri.


Kenapa mereka memuji Riri di hadapanku? Papa sama saja seperti Rey. Apakah mereka tidak tahu jika aku sangat kesal saat mereka bicara seperti itu?


Rian menggeleng dan pergi ke kamarnya. Menyimpan tas laptopnya di atas meja belajarnya. Membuka kemejanya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.

__ADS_1


Tidur mungkin bisa mengobati kegelisahannya sementara ini. Karena bagaimanapun, bayangan Hiro dan tatapannya yang membuatnya tidak nyaman.


__ADS_2