
Selesai acara wisuda, Riri pamit. Ia tidak bisa ikut dengan Rian dan keluarganya yang sedang merayakan kelulusan Rian. Siang ini Riri harus menyiapkan pakaian untuk Mr. Aric yang akan pergi ke luar negeri.
"Sayang sekali kamu tidak bisa ikut," ucap Mia.
"Iya Kak. Lain kali saja," ucap Riri.
"Iya," ucap Mia.
Riri melambaikan tangan saat jemputannya sudah datang. Rian, Mia dan Tuan Felix pun ikut melambaikan tangannya dengan senyuman. Terlihat jelas wajah bahagia pada kedua orang yang sedang jatuh cinta itu.
"Sudah, Mpusnya juga sudah pergi." Mia menyikut Rian saat masih melambaikan tangan saat mobil Riri sudah semakin menjauh.
"Eh iya," jawab Rian malu.
Ketiganya mengunjungi sebuah cafe untuk merayakan kelulusan Rian. Di sana, mereka membahas tentang rencana Rian setelah kelulusan ini.
Mereka sepakat agar Rian segera kembali ke Indonesia dan memulai bisnisnya. Berat memang bagi Rian meninggalkan Riri. Apalagi dengan kehadiran Hiro yang selalu berhasil membuatnya cemburu.
"Apa yang kamu lakukan juga sebenarnya untuk Mpus juga. Aku rasa Mpus akan mengerti," ucap Mia.
"Iya Kak. Dia memang tidak pernah membuatku merasa terbebani dengan rencana ini," jawab Rian dengan bibir yang merekah.
Tiba-tiba bayangan Riri menghiasi kepalanya. Wajah cantik dan senyum manisnya memang selalu membuat Rian tenang. Sekalipun ia sedang kesal.
"Ayo pulang. Sudah malam," ajak Mia setelah selesai makan.
Ketiganya pulang. Selama dalam perjalanan, ketiganya berbincang mengenai persiapan nanti saat Rian sudah kembali ke Indonesia. Sesekali Tuan Felix melihat wajah Rian. Ada rasa tidak tega saat harus membuat Rian jauh dari Riri. Namun ia berpikir walaupun Rian di Indonesia, Riri akan terpantau olehnya.
Mia tidak punya banyak waktu. Besoknya ia harus sudah kembali karena pekerjaan sudah menantinya di Indonesia. Pelukan pamit dari Mia pada Tuan Felix meninggalkan air mata yang membasahi baju ayah tercintanya.
Mia yang terlambat merasakan kasih sayang ayah kandungnya, kini harus semakin sedih saat harus kembali jauh dengan Tuan Felix. Ia menangis hingga tersedu untuk melepas semua perasaannya.
"Jangan menangis. Papa selalu ada di hatimu. Pulanglah. Nanti Papa akan ke sana saat mengantar Rian," ucap Tuan Felix sambil mengusap sudut matanya.
Tuan Felix memang tangguh dalam urusan bisnis, namun ia akan sangat lemah saat berhadapan dengan Mia. Apalagi melihat anak kesayangannya menangis. Hatinya sakit. Sangat sakit.
__ADS_1
"Mia pulang ya Pah," ucap Mia.
Tuan Felix mengngguk. Sekali lagi ia membuka kacamata hitamnya dan mengusap sudut matanya.
"Hati-hati," ucap Tuan Felix.
Mia hanya mengangguk dan berusaha tersenyum saaat melihat Tuan Felix semakin sedih.
"Rian aku titip Papa ya," ucap Mia saat berpamitan dengan Rian.
"Iya. Kakak tenang saja. Papa aman bersamaku," ucap Rian mencoba mencairkan suasana
"Aku percaya. Oh iya aku juga mau titip pesan," ucap Mia.
"Pesan apa? Buat siapa?" tanya Rian.
"Pesan untukmu," jawab Mia sambil tersenyum.
"Untukku? Apa?" tanya Rian penasaran.
Tawa Mia diikuti oleh Rian dan Tuan Felix. Mereka bertiga tertawa meskipun pada kenyataannya, pesan Mia bukanlah becandaan. Mia serius mengingatkan Rian agar tidak menyesal. Dan Rian juga sebenarnya mengerti maksud Mia. Begitupun Tuan Felix.
Dengan dramanya masing-masing, ketiganya berhasil menutupi rasa sedih itu saat Mia akan benar-benar meninggalkan Jerman. Senyuman dan lambaian tangan dari Mia membuat Tuan Felix dan Rian semakin sakit.
Perpisahan ini juga akan aku rasakan nanti. Pasti sakit sekali.
Setelah Mia benar-benar pergi, Tuan Felix dan Rian kembali ke rumah. Hari libur ini akan mereka habiskan bersama. Benar kata Mia, bahwa waktu mereka bersama tidak lama. Hanya beberapa hari lagi. Keduanya pun tidak ingin melewatkan masa-masa itu begitu saja.
Hari-hari sebelum Rian akan kembali ke Indonesia, mereka isi dengan menghabiskan waktu bersama. Sesekali mereka mengajak Riri untuk ikut bersama mereka. Rian mulai semakin yakin bahwa Riri tidak akan meninggalkannya. Mereka akan melewati masa sulit itu bersama.
"Malam ini aku ajak Mpus boleh ya Pah? Kebetulan Mr. Aric sedang tidak di rumah," ucap Rian.
"Tentu. Ajak saja. Ini pasti akan sangat menyenangkan," jawab Tuan Felix.
Sebelum makan malam, Rian dan Tuan Felix menjemput Riri. Dalam perjalanan, Tuan Felix ikut tersenyum saat melihat Rian begitu bahagia.
__ADS_1
Baru seperti ini saja kamu sangat bahagia Ri. Apalagi kalau Mpus benar-benar menjadi istrimu nanti.
Riri tampil berbeda. Kali ini Riri benar-benar berdandan. Rian dan Tuan Felix sempat tidak percaya kalau wanita yang sedang menunggunya adalah Riri.
"Kenapa?" tanya Riri salah tingkah saat Rian dan Tuan Felix menatapnya tanpa sepatah katapun.
"Ah tidak. Ayo berangkat!" ajak Rian.
Tuan Felix segera tersenyum saat mendapati Riri sedang menatapnya dengan sangat bingung. Hening. Tidak satupun bicara saat dalam perjalanan itu.
"Musik dong Ri," ucap Tuan Felix.
"Siap Pah," ucap Rian.
Tidak lama alunan musik mulai terdengar. Sampai akhirnya mereka sampai ke tempat yng sudah direncanakan. Memesan meja paling ujung adalah kebiasaan Tuan Felix. Mungkin agar tidak terganggu dengan pengunjung lain.
"Ayo pesan makanannya!" ucap Tuan Felix.
Rian dan Riri memesan salah satu menu paling favorit di sana. Sebuah kebetulan yang luar biasa saat mereka bertiga ternyata memilih menu yang sama.
"Kalian sudah ada rencana menikah?" tanya Tuan Felix di sela-sela acara makan malam dengan Riri dan Rian.
Menikah? Mendengar kata itu Rian dan Riri menghentikan makan mereka dan saling melihat. Mereka bingung dengan jawaban yang harus diberikan.
"Ya sudah lanjutkan saja makannya," ucap Tuan Felix saat melihat keduanya tidak siap dengan pertanyaan itu.
Makan malam berlangsung dengan singkat. Rian harus segera mengantar Riri kembali ke rumah Mr. Aric. Meskipun sebenarnya rasa rindu itu masih sangat besar.
Perjanjian demi perjanjian dibuat diantara Rian dan Riri. Tujuannya hanya satu. Saling menjaga rasa dan hubungan antara keduanya. Meskipun mungkin tidak mudah, namun mereka yakin bisa melewatinya.
Tidak lebih dari seminggu, Rian sudah harus kembali ke Indonesia. Wajah sedih terlihat jelas di kedua anak manusia yang tengah dimabuk asmara itu. Tuan Felix hanya bisa menguatkan dan mengingatkan untuk saling percaya dan menjaga kepercayaan.
"Papa yakin kalian pasti bisa," ucap Tuan Felix saat melihat Riri mulai menangis.
"Iya Pah," jawab Riri sambil mengangguk.
__ADS_1