Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Baikan


__ADS_3

"Ibumu tidak ada di rumah," ucap Tuan Wira.


"Apa?" tanya Rian.


Tidak biasanya Nyonya Helen pergi dari rumah tanpa izin dari Tuan Wira. Apalagi belum pulang sampai malam selarut ini.


"Papa istirahat dulu," ucap Tuan Wira.


Wajah kecewa Tuan Wira tidak bisa disembunyikan. Ia benar-benar kusut. Dan Rian bingung karena tidak bisa berbuat apa-apa.


Tidak lama setelah Tuan Wira masuk ke dalam kamar, Dion menghubunginya. Sempat bingung saat menerima panggilan itu. Namun akhirnya setelah panggilan Dion terjawab, kebingungannya juga terjawab.


"Rian, terima kasih ya!" ucap Dion dari balik sambungan telepon.


"Untuk apa?" tanya Rian bingung.


"Kamu selalu saja merendah. Sekali lagi terima kasih Ri. Kamu memang selalu bisa mencari solusi dari setiap masalah di keluarga kita," jawab Rian.


"Kak, tunggu dulu. Ini ada apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti," ucap Rian.


"Ri, sudahlah. Jangan bermain rahasia-rahasiaan lagi denganku," ucap Dion.


"Rahasia apa?" tanya Rian bingung.


"Kamu yang mengirim bunga buat Mama kan?" tanya Dion memastikan.


"Iya," jawab Rian.


"Kamu juga yang mengirin hadiah buat Rendra kan?" tanya Dion.


"Iya. Lalu?" tanya Rian.


"Berkat apa yang sudah kamu lakukan, sekarang Mama dan Rendra sudah baikan. Bahkan Mama menginap dan tidur di kamar Rendra bersama Naura," jawab Dion.


"Hah? Benarkah?" tanya Rian tidak percaya.


"Jadi kamu tidak tahu?" Dion ikut bingung.


"Sama sekali tidak. Bahkan Papa juga tidak tahu. Ya sudah kalau begitu aku mau memberi tahu Papa dulu ya!" ucap Rian.


Panggilan itu berakhir dan Rian segera berlari ke kamar Tuan Wira. Ia mengetuk pintu kaamr ayahnya dan memanggil ayahnya dengan sangat ceria.


"Apa sih?" tanya Tuan Wira saat pintu kamar sudah terbuka.


"Mama di rumah Kak Mia. Mama sudah baikan sama Rendra. Sekarang tidur di kamar Rendra sama Naura," jawab Rian.


"Hah?" tanya Tuan Wira tidak percaya.


"Barusan Kak Dion meneleponku Pah. Sumbernya akurat," jawab Rian.


Tuan Wira membuka ponselnya. Mengecek apakah ada pesan atau panggilan dari Nyonya Helen untuknya atau tidak. Wajah senangnya tiba-tiba berubah.


"Papa kok seperti yang tidak senang?" tanya Dion.


"Mama mu tidak adil. Dia sayang sama cucunya sampai-sampai Papa diabaikan. Dia tidak mengabari Papa sama sekali," ucap Tuan Wira.


Rian mulai resah. Nampaknya akan ada masalah baru. Tapi tidak! Ia sudah lelah dengan masalah-masalah yang terjadi hanya karena kesalahpahaman saja.


"Kalau begitu kita harus ke rumah Kak Mia. Kita harus tanya kenapa Mama bersikap seperti itu," ucap Rian.


"Kamu saja," jawab Rian.

__ADS_1


"Pah, ayolah. Besok kan libur. Kita menginap di rumah Kak Mia ya!" bujuk Rian.


"Kamu saja," jawab Tuan Wira.


"Pah," rengek Rian penuh harap.


"Ya sudah ayo!" ajak Tuan Wira.


Tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Tuan Wira juga sangat merindukan cucu kembarnya. Terbiasa bersama, ternyata membuat pria yang sudah tidak muda lagi itu merasa kesepian.


Keduanya langsung berangkat dan sampai di rumah Mia sudah sangat malam. Semua orang sudah tidur. Hanya ada asisten rumah tangga yang membukakan pintu rumah.


"Tahu begini kita tidak usah ke rumah Mia. Kita tidur saja di rumah," ucap Tuan Wira kesal.


"Kalau Papa tidak lama, kita pasti sampai sebelum mereka tidur." Rian pun ikut kesal.


"Oh, jadi kamu menyalahkan Papa?" tanya Tuan Wira.


"Tidak, tidak. Bukan begitu," ucap Rian.


Merasa percuma ribut karena tidak akan mendatangkan solusi, keduanya tidur. Meskipun kesal, namun rasa kantuk juga sudah menyerang keduanya.


"Pagiiii," teriak Naura dengan riang.


Dion dan Tuan Wira yang tidur satu kamar langsung terbangun. Naura yang berlari memeluk Rian membuat Tuan Wira kesal.


"Opa," ucap Narendra yang datang di saat yang tepat.


Pelukan Narendra membuat rasa kesal karena ulah Naura menjadi hilang begitu saja. Pelukan hangat dari Narendra benar-benar bisa menenangkan Tuan Wira.


"Kenapa tidak bilang mau menginap di rumah Naura?" tanya Naura.


"Om datangnya terlalu malam," protes Naura.


"Sudah dong Naura. Om sama Opa kan baru bangun tidur. Biarkan mandi dulu. Hari ini kita jalan-jalan ya!" ucap Narendra.


"Mau jalan-jalan kemana?" tanya Rian.


"Terserah Om. Mumpung libur, aku mau kita semua kumpul dan main. Bisa ya?" bujuk Narendra.


Tuan Wira dan Rian saling menatap. Mencari jawaban hanya dari tatapan mata saja. Anggukan pelan Tuan Wira membuat teriakan yang luar biasa dari Naura.


"Tapi kamu kan sakit?" tanya Narendra.


"Aku sudah sembuh," jawab Naura.


"Semalam kamu masih minum obat. Artinnya kamu masih sakit Naura," ucap Narendra.


"Rendra, kata dokter meskipun aku sudah sembuh tapi obatnya harus dihabiskan. Kamu tidak pernah sakit sih. Kalau tidak tahu makanya jangan sok tahu," ucap Naura.


Jika dibandingkan dengan Naura, Narendra memang jauh lebih kebal. Selama ini bisa dihitiung jari ia mengunjungi dokter. Berbeda dengan Naura yang seperti memiliki jadwal khusus dengan dokter.


"Sudahlah. Jangan bertengkar," ucap Tuan Wira.


Narendra dan Naura saling menyalahkan. Dan hal itu menjadi kegiatan rutin saat mereka ditegur oleh siapapun.


"Rendra, Naura, kita bisa jalan-jalan di tempat yang dekat. Sekedar makan dan bermain di mall juga bisa kan? Yang penting kan momen berkumpulnya. Bukan kemana dan beraa jauhnya kita main," ucap Rian.


Akhirnya mereka sepakat untuk main di tempat yang dekat. Alasan Naura yang belum sehat membuat Narendra cemberut. Lagi-lagi ia merasa Naura selalu diutamakan.


"Kenapa, sayang?" tanya Nyonya Helen saat Narendra sudah kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Opa dan Om Rian lebih sayang sama Naura," jawab Narendra.


"Kamu kok ngomongnya begitu sih?" tanya Nyonya Helen.


Narendra pun menjelaskan alasan rasa kesal dan tuduhannya terhadap Rian dan Tuan Wira. Nyonya Helen segera memeluk Narendra dengan erat. Penjelasan panjang lebar yang diberikan Nyonya Helen perlahan membuat Narendra mengerti.


"Ya sudah kemanapun jalan-jalannya, yang penting hari ini main ya Oma!" pinta Narendra.


"Iya sayang," ucap Nyonya Helen sambil mencium kepala Narendra.


Semenjak kejadian itu, kini Nyonya Helen lebih menjaga perasaan Narendra. Ia selalu berusaha menenangkan Narendra saat cucunya merasa tersisihkan.


"Kita jalan sekarang yu!" ajak Tuan Wira.


Semuanya berangkat tanpa kecuali. Hari ini adalah quality time mereka setelah beberapa minggu terlewat karena kesibukan masing-masing.


Setelah sore, mereka kembali. Untuk sementara Naura dan Narendra tinggal di rumahnya, sedangkan Rian masih akan tinggal di rumah Tuan Wira. Seminggu sekali mereka menjadwalkan acara berkumpul dan bermain bersama.


"Dadaaaah Om, Opa, Oma," Naura dan Narendra melambaikan tangan dengan wajah sendu.


"Dadaaaah," balas Rian.


Perpisahan sore itu menjadi momen yang sangat mengharukan. Hubungan Naura dan Narendra kini sudah kembali membaik dan membuat keadaan di rumah menjadi sangat nyaman.


Hari demi hari, bulan sudah berganti. Setelah penantian panjang, akhirnya hari ini Riri wisuda. Perjalanan cinta Rian yang sesungguhnya baru akan dimulai. Ia sudah izin jauh-jauh hari untuk meninggalkan perusahaan. Bertolak ke Jerman untuk menemani sang pujaan hati yang sedang wisuda.


Ditemani Rian dan Tuan Felix, Riri menangis bahagia. Sebuah pencapaian luar biasa yang tidak bisa dianggap remeh. Tahun terakhir tanpa Rian menjadi tahun yang sangat berat bagi Riri.


Saat ia mulai disibukkan dengan skripsi, ia benar-benar sendiri. Belum lagi pekerjaan di rumah Mr. Aric. Tapi akhirnya ia bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu dengan nilai memuaskan.


Foto-foto wisuda Riri memenuhi galeri ponsel Rian. Ia mengabadikan setiap kegiatan Riri hari itu. Wajah cantiknya terlihat begitu bersinar. Apalagi saat nama Riri disebut sebagai mahasiswa terbaik.


"Kenapa menangis?" tanya Rian.


Bulir bening itu membasahi pipi mulusnya saat acara wisuda telah usai. Tangis haru dan sakit kala mengingat keluarganya menjadi alasan tangis Riri saat itu. Dengan berani Rian menggenggam tangan Riri, meyakinkan wanita itu kalau dia tidak sendiri.


"Selamat ya Ri," ucap Hiro yang tiba-tiba datang.


Uluran tangan Hiro sempat diabaikan sebentar karena ia meminta persetujuan Rian. Tidak lama, Riri menjabat tangan Hiro. Sebuah boneka dan coklat Hiro berikan sebagai tanda kalau ia ikut bahagia dengan jari bahagia Riri.


"Terima kasih," ucap Riri pelan.


"Sama-sama," ucap Hiro.


"Sudah selesai kan?" tanya Rian saat Hiro masih tetap di sana.


"Memangnya ku tidak boleh ikut gabung ya?" tanya Hiro yang menunjukkan wajah sedihnya.


"Lebih baik kamu pulang saja. Kami sedang ingin berdua," ucap Rian.


Ya, mereka hanya berdua karena Tuan Felix pulang saat acara sudah selesai. Keadaan itu sudah membuat Rian sangat senang, namun semua berubah saat datang Hiro di tengah-tengah mereka.


"Lain kali kita makan bersama ya!" ucap Riri.


Hiro mengepalkan tangannya yang kini bersembunyi di balik saku celananya. Ia kesal saat mendapat penolakan dari Riri. Meskipun jawaban Riri sangat halus, tapi Hiro bisa menyimpulkan maksud Riri yang mengusirnya.


"Lain kali? Kapan? Kamu kan akan kembali ke Indonesia kalau sudah wisuda," ucap Hiro.


"Apa urusanmu? Tidak perlu ikut campur urusan calon istriku," ucap Rian dengan nada cukup tinggi.


Hiro menahan amarahnya yang nyaris membludak karena tingkah Rian. Namun ia berusaha menenangkan dirinya. Mengalah untuk menang, begitulah prinsip Hiro dalam menghadapi Rian dan Riri.

__ADS_1


__ADS_2