Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Aku harus bertahan


__ADS_3

"Papa pakaikan cincinnya boleh ya?" ucap Tuan Felix.


Riri mengangguk lalu mengusap pipinya yang sudah basah karena tangis bahagianya. Riri melihat tangan tua yang sudah mulai keriput itu gemetar memakaikan cincin di jari manisnya. Riri menatap haru jari manisnya yang sudah dihiasi cincin cantik dari Rian.


"Ini memang bukan lamaran pertama Mas Rian untukku. Tapi aku harap ini lamaran terakhir Mas Rian," ucap Riri.


Ini memang kalu kedua Rian melamar Riri, karena saat itu Rian juga pernah melamarnya. Lamaran pertamanya gagal karena jarak dan waktu yang terbentang membuat keduanya tidak bisa bertahan. Bahkan Rian pernah melamar wanita lain. Namun siapa sangka jika akhirnya Rian bisa kembali padanya.


"Papa harap juga begitu," ucap Tuan Felix.


Tuan Felix memang sudah terlanjut sayang pada Riri. Maka pertunangan kali ini benar-benar membuatnya kepikiran sampai ia harus dilarikan ke rumah sakit karena kurang istirahat. Lamaran sederhana yang ia berikan untuk Rian dan Riri memang berbanding terbalik dengan keadaan hatinya.


Jauh di dalam hatinya, Tuan Felix merasa bahwa tunangan itu sangat mewah dan megah. Bagaimana tidak? Keduanya berhasil mengalahkan ego dan berpikir positif. Menekan semua hal buruk yang mungkin akan membayanginya sampai kapanpun, namun keduanya tetap bertahan untuk selalu bersama.


"Papa tidak mau okut campur untuk rencana kalian berdua. Papa hanya berharap jika kalian terus bersama," ucap Tuan Felix.


"Pah, aku mungkin tidak bisa berjanji tapi aku akan berusaha. Karena aku sayang Mas Rian dan Papa," ucap Riri.


Tuan Felix senang mendengar kalimat yang terucap oleh Riri. Ia merasa ada ketulusan di sana. Ia merasa jika Riri adalah Mia versi kedua. Harapannya terlalu besar untuk Rian dan Riri. Dan hal itu yang membuatnya menjadi orang yang paling sakit saat tahu Rian dan Riri berpisah. Sebaliknya, ia menjadi orang yang paling bahagia saat mereka kembali bersama.


"Mas Rian tahu Papa di sini?" tanya Riri.


"Jangan beri tahu Rian. Biarkan dia bahagia," jawab Tuan Felix.


Sampai saat ini Tuan Felix memang merahasiakan keadaannya pada Rian. Beberapa kali ia menolak panggilan video dari Rian. Ia tidak mau jika Rian sedih di hari bahagianya.


"Nanti kalau Rian telepon, katakan kalau Papa sedang ada meeting penting dan tidak bisa diganggu. Bisa kan?" pinta Tuan Felix.


Kebohongan itu terpaksa dilakukan oleh Tuan Felix karena ia hanya ingin melihat Rian bahagia. Riri tersenyum dan mengangguk. Ia beruntung bisa bertemu dengan Tuan Felix. Pria baik yang penuh dengan ketulusan. Seorang ayah yang diinginkan oleh setiap orang. Terlebih oleh Rian dan Riri.


Ayah? Membahas ayah, Riri sudah mulai mencari ayah kandungnya yang berada di Indonesia. Hal itu ia lakukan karena ia ingin ayahnya menjadi wali di hari pernikahannya nanti.


Hal itu memang masih menjadi rahasia pribadinya. Karena ia sendiri belum mendapat kepastian kapan hari bahagia itu tiba. Ia hanya mempersiapkan diri agar suatu saat nanti kalau Rian sudah menyatakan kapan waktunya, ia tidak perlu susah mencari keberadaan ayahnya.


"Pah, aku keluar dulu ya!" ucap Riri saat ponselnya berdering.


"Iya," jawab Tuan Felix.


Telepon itu dari nomor baru yang ia duga keluarganya. Benar saja, suara seorang wanita yang sangat ia rindukan.


"Mama," ucap Riri dengan gemetar.

__ADS_1


Tangis Riri pecah saat mendengar ibunya memanggil namanya. Ia benar-benar merindukan sosok ibu yang memang sudah sangat lama tidak ia jumpai. Saletelah bertahun-tahun, ka hanya mendapat kasih sayang dari Mr. Aric dan Tuan Felix.


Dua orang yang baru ia kenal namun bisa menerimanya bahkan memperlakukannya layaknya keluarga sendiri. Sedangkan keluarga mereka yang sebenarnya justru tidak ada. Bukan mereka yang tidak peduli, tapi karena ia sendiri yang menghindar.


Rasa sakit yang ia rasakan atas pengkhianatan itu membuatnya tidak lagi ingin kembali ke kehidupannya yang dulu. Namun pada akhirnya ia sadar jika tidak ada yang namanya bekas keluarga. Bagaimanapun juga ia harus kembali. Seburuk apapun keadaannya nanti.


"Kamu dimana Nak? Riri, kamu dimana? Mama merindukanmu," ucap seorang ibu dengan suara bergetar.


Riri merasa tubuhnya lemah. Ia terus menangis dan memanggil ibunya. Suara Riri semakin bergetar dan dadanya terasa sesak. Ia susah sangat ingin memeluk wanita itu.


"Ma, aku akan pulang. Aku akan pulang. Mama tunggu aku ya!" ucap Riri.


Tangisan Riri mereda saat mendengar suara yang tidak ia harapkan. Ucapannya begitu pedas. Awalnya hubungannya dengan kakaknya tidak begitu buruk, ia memang sengaja menghindar karena ingin tetap baik-baik saja meskipun sulit.


Semua memburuk karena kehadiran Riri di waktu yang tidak tepat. Rumah tangga kakaknya dan mantan pacar Riri yang berstatus sebagai kakak iparnya sedang tidak baik.


"Apa salahku? Kalau kakak tidak mengharapkan kehadiranku, tidak masalah. Tapi tolong jangan mengganggu kebahagiaanku dengan Mama," ucap Riri.


Debat yang tidak mungkin Riri selesaikan dengan panggilan telepon. Ia mengakhiri teleponnya karena tidak mau ribut di rumah sakit. Keharuannya berubah jadi sebuah kesedihan. Padahal ia sudah berharap setelah pergi bertahun-tahun, ia bisa melupakan semua kejadian buruk itu. Namun sayangnya semua tidak sesuai harapannya. Hubungan mereka tetap dibayangi oleh suatu kesalahan yang sebenarnya ia sendiri hanya korban.


Riri menenangkan dulu perasaannya sebelum ia kembali masuk ke ruangan Tuan Felix. Ia mengusap pipinya dan berusaha memasang wajah ceria. Cukup menelan semua kenyataan pahit itu sendiri, ia tidak mau melibatkan Tuan Felix dalam kesedihannya.


"Kamu kenapa?" tanya Tuan Felix.


"Tidak semua orang bisa kamu tipu. Papa sudah terlalu mengenalmu, Pus. Kalau kamu perlu teman, ada Papa di sini. Jangan pernah merasa sendiri," ucap Tuan Felix.


"Aku baik-baik saja Pah," ucap Riri.


"Kamu tidak baik-baik saja," ucap Tuan Felix.


Tuan Felix menatap Riri dengan lekat. Mencoba membaca isi hati wanita yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri yang tengah bersedih. Tidak lama tangis Riri pecah.


Cerita demi cerita mulai Riri ungkapkan. Berusaha meluapkan semua beban yang mengganjal di hatinya tanpa kecuali. Isak tangisnya menjadi saksi betapa sakit rasa yang tengah ia rasakan saat ini.


"Kamu adalah wanita terbaik yang Tuhan pilih. Kamu adalah wanita kuat yang tidak setiap orang mampu melewati masa itu. Hanya kamu yang bisa," ucap Tuan Felix.


Riri masih menangis. Ia merasa dadanya begitu sesak. Tangisnya belum juga reda. Belaian tangan Tuan Felix membuat ia semakin sakit. Kenapa justru orang yang baru ia kenal yang bisa menerimanya dengan sangat baik? Mengapa keluarganya sendiri justru mengasingkannya.


"Aku sangat merindukan keluargaku Pah. Tapi mengapa semuanya tidak seperti yang aku rasakan?" ucap Riri di sela isak tangisnya.


"Kamu yakin semuanya begitu?" tanya Tuan Felix.

__ADS_1


Pertanyaan Tuan Felix membuat Riri mengangkat wajahnya. Ia melihat Tuan Felix sambil menganalisa antara ucapan dan raut wajahnya.


Tuan Felix memang benar. Tidak semua bersikap seperti itu. Sampai saat ini hanya kakaknya yang bersikap seperti itu padanya. Rasanya tidak adil jika harus memukul rata penilaiannya terhadapan keluarganya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Pah?" tanya Riri.


"Tunjukkan kalau kamu bukan Riri yang mereka tahu sebelumnya. Tunjukkan jika kamu adalah Riri yang jauh lebih tangguh, lebih kuat dan lebih baik. Perjalanan selama ini seharusnya bisa membuatmu jauh lebih dewasa," ucap Tuan Felix.


Riri tidak bisa berkata apapun lagi. Ia hanya diam mencoba mengerti setiap kalimat yang disampaikan oleh Tuan Felix. Kepalanya mulai menangkap maksud kalimat itu. Tapi hatinya tidak yakin dengan kalimat itu. Sulit rasanya harus berpura-pura tegar di tengah kerapuhannya.


Ada rasa yang tidak bisa ia sembunyikan. Rasa kecewa dan sakit hati atas semua kejadian di masa lalu. Namun ada hal yang tidak bisa ia ubah juga. Rasa rindunya pada kedua orangtuanya.


"Aku tidak yakin bisa sekuat itu," ucap Riri setelah diam beberapa waktu.


"Papa yakin kamu kuat," ucap Tuan Felix meyakinkan.


"Aku tidak sekuat yang Papa pikir," ucap Riri.


"Coba kamu ingat perjalananmu beberapa tahun terakhir. Apakah kamu yakin semua orang bisa melewatinya? Papa rasa tidak," ucap Tuan Felix.


Riri melihat jemari tangannya. Cincin yang melingar di jemarinya membuat Riri mulai yakin. Apapun yang terjadi ia harus menemui kedua orang tuanya. Rian adalah alasan terkuatnya agar tetap menghadapi kenyataan pahit keluarganya.


"Aku harus bertahan. Semua ini demi Mas Rian. Saat aku menikah nanti, Papa tetap harus menjadi waliku," gumam Riri.


Riri mulai meyakinkan dirinya agar lebih bersabar dan kuat menghadapi keadaan keluarganya. Bersama Tuan Felix ia akan melewati masa-masa sulit ini. Bahkan saat Riri ke Indonesia, Tuan Felix sudah berjanji akan mengantar Riri bertemu dengan keluarganya.


Tujuannya untuk mengenalkan diri sebagai calon mertua Riri. Tuan Felix juga tidak mau jika pernikahan Rian dan Riri hanya tertunda hanya karena masalah yang menurutnya tidak perlu ada.


"Sekarang kamu pulang. Istirahat ya!" ucap Tuan Felix.


"Tidak Pah. Malam ini aku akan menemani Papa," ucap Riri.


"Kamu harus istirahat. Jaga kesehatan. Papa sudah ada tim medis yang jaga di sini," ucap Tuan Felix.


"Mana mungkin aku bisa meninggalkan Papa dalam keadaan seperti ini," ucap Riri.


"Pulanglah! Rian pasti akan menghubungimu. Papa tidak mau Rian curiga. Tolong katakan pada Rian kalau Papa sedang sibuk," ucap Tuan Felix.


Riri mengangguk dan pamit. Memang benar, Rian sudah mencoba meneleponnya berkali-kali. Namun Riri mengabaikan panggilan itu. Ia berpikir akan lebih baik jika menghubungi Rian saat sudah sampai ke rumah.


Meskipun tidak tega, akhirnya Riri pulang. Meninggalkan Tuan Felix di rumah sakit yang masih terbaring dengan infusan di tangan kanannya.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka jika masih ada orang seperti Papa. Dia sangat baik. Bahkan mungkin lebih baik dari keluargaku sendiri," gumam Riri.


Membahas kembali tentang keluarga, membuat Riri merasa hatinya kembali sakit. Ia harus menelan kecewa saat harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Ia berpikir jika keluarganya akan merindukannya, ternyata kakak kandungnya sendiri justru sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya.


__ADS_2