
"Masih kuat untuk menahan air mata?" ejek Tuan Felix saat Rian terlihat murung.
"Aku tidak secengeng yang Papa pikir," ucap Rian.
"Wanita itu adalah sosok yang berjasa dibalik pria yang sukses. Jika wanita itu baik dan tepat," ucap Tuan Felix sembari duduk di samping Rian.
Entah yang keberapa kali Tuan Felix mengingatkan Rian hal itu. Bahkan Rian sudah tidak bisa menghitungnya lagi. Bosan? Mungkin. Namun disadari atau tidak, setelah mendapat kalimat itu Rian selalu berusaha semakin menjauh dari Maudi.
"Pah, apakah aku masih bisa mencintai wanita lain?" tanya Rian dengan begitu polos.
Tuan Felix mengernyitkan dahinya. Ia menatap Rian dengan sangat dalam.
"Rian, kamu ini masih muda. Kamu bisa memilih wanita terbaik untuk menemani hidup kamu. Jangan berpikir jika hanya Maudi satu-satunya wanita yang kamu cintai. Banyak Rian, banyak. Buka mata dan hati kamu untuk wanita lain. Maudi tidak baik untukmu," ucap Tuan Felix.
Setelah berkata seperti itu, Tuan Felix segera berdiri, menepuk bahu Rian dan pergi. Ia segera menuju kamarnya. Menutup dan mengunci pintunya. Duduk lemas di lantai, tepat di balik pintu. Ia menundukkan kepalanya dan memijat pelan pelipisnya.
"Rian, aku tidak mau jika kamu merasakan hal yang sama denganku. Aku bahkan tidak bisa menggantikan Ningsih di hatiku. Tapi Ningsih wanita baik, tidak seperti Maudi." Tuan Felix berucap lirih.
Hari sudah berganti. Malam ini Nyonya Helen dan Tuan Wira pulang. Mereka menghabiskan waktu dengan asyik saat sudah berkumpul. Tidak lama karena sudah terlalu larut. Mereka istirahat.
Begitulah hari demi hari yang Rian dan Tuan Felix lewati hampir setiap harinya. Tuan Felix yang tetap memantau perusahaannya di Jerman, dan Rian yang semakin dekat dengan keempat keponakannya.
Tak jarang Dandi dan Yaza menginap di rumah Mia tanpa Sindi dan Maya. Mereka nampak asyik dengan asuhan Rian. Sosok ngemong seperti Rian sangat membuat keempat anak itu nyaman saat berada di dekat Rian.
"Rian, pacarmu berkunjung." Teriak Nyonya Helen siang itu.
Pacar? Bukan hanya Rian, tapi semua yang duduk di ruang keluarga itu menatap Rian penuh tanya. Sementara Rian yang tidak tahu siapa pengunjung itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa diam saja? Namanya Maudi. Dia cantik sekali," ucap Nyonya Helen lagi.
"Maudi?" tanya Tuan Felix terkejut.
Rian kaku. Ia bingung harus berbuat apa. Lidahnya kelu. Ia tidak bisa berbuat apapun selain mematung di tempat duduknya.
"Rian, ayo temui dia. Kenapa hanya diam saja?" tanya Nyonya Helen.
"Temui dia," ucap Mia.
Langkah Rian berat. Bukan karena tegang akan bertemu dengan Mia. Tapi Rian bingung bagaimana nanti saat ia harus menjelaskan alasan Maudi datang ke rumah itu.
"Rian," sapa Maudi sembari memeluk Rian.
__ADS_1
Jantung Rian seakan berhenti berdegup. Maudi kenapa bersikap seperti ini? Rian berusaha menolak pelukan itu. Namun jujur saja, hatinya senang saat diperlakukan seperti itu oleh Maudi.
"Om Rian dipeluk siapa?" tanya Narendra.
Rian segera melepaskan pelukan Maudi saat mendengar pertanyaan Narendra.
"Dia bukan siapa-siapa. Rendra ke kamar dulu ya!" bujuk Rian.
Pengasuh Narendra segera membawa anak itu pergi menjauh.
"Kamu bilang apa? Aku bukan siapa-siapa?" tanya Maudi tidak percaya.
"Kamu sendiri yang mengatakan hal itu," jawab Rian dengan santai.
"Tapi setidaknya kamu bisa menjawab dengan lebih baik. Kamu bisa menyebutku sebagai temanmu," protes Maudi.
"Kamu lupa kalau kamu bahkan menyebut kita tidak berteman lagi?" tanya Rian mengingatkan.
"Sekarang apa maumu?" tanya Maudi.
"Aku ingin lakukan apa yang sudah kamu ucapkan padaku saat itu," jawab Rian.
"Aku menyesal datang ke sini," ucap Maudi sembari menampar pipi Rian dan berlalu meninggalkan rumah itu.
"Mana Maudi?" tanya Nyonya Helen.
"Dia sudah pulang Ma," jawab Rian.
"Kenapa tidak lama?" tanya Nyonya Helen.
"Dia ada urusan Ma," jawab Rian.
"Kamu tidak pernah cerita kalau sudah punya pacar. Kenapa? Punya pacar cantik itu jangan disembunyikan. Harusnya kamu bangga," ucap Nyonya Helen.
Nampaknya Nyonya Helen terkesima dengan sosok Maudi. Wanita yang digilai oleh Rian itu memang cantik. Namun sayangnya Nyonya Helen tidak tahu siapa Maudi yang sebenarnya.
"Dia hanya teman kuliahku Ma," jawab Rian.
"Ah, tidak mungkin ia sampai rela main ke sini jika kalian hanya berteman. Bukankah nanti juga kalian bertemu lagi di sana? Tapi dia menemuimu ke sini. Itu artinya kamu spesial. Kamu bukan teman biasa," ucap Nyonya Helen.
"Ah, Mama jangan begitu. Dia memang hanya temanku saja," ucap Rian.
__ADS_1
"Rian, Mama bukan anak kecil lagi. Tidak ada laki-laki dan perempuan yang murni berteman. Tidak ada. Palinh tidak, ada salah satu yang menganggap lebih. Percaya sama Mama," ucap Nyonya Helen.
Rupanya Nyonya Helen curiga dengan kedatangan Maudi ke rumahnya. Sementara yang lainnya sama sekali tidak membahas karena sudah tahu siapa Maudi sebenarnya. Namun setelah Mia menjelaskan tentang Maudi, Nyonya Helen sangat terkejut.
"Rian, masih banyak wanita lain yang akan mencintai dan mendukung apa yang emnjadi cita-citamu. Tenang saja wanita itu banyak. Kamu tidak akan kehabisan. Tunjukkan kalau kamu sukses, wanita pasti akan mengantri." Nyonya Helen meyakinkan Rian.
"Mama pikir mereka mau dibagi sembako sampai mengantri segala?" goda Tuan Wira.
Sengaja, Tuan Wira tidak mau suasana menjadi semakin panas. Ia tahu jika saat ini perasaan Rian sedang tidak baik. Yang lain juga ikut kompak untuk menghibur Rian. Hingga akhirnya Rian kembali tersenyum. Meskipun luka itu terlalu sakit dalam hatinya.
Dari mana Maudi tahu rumah ini? Apa tujuannya datang ke sini?
Pertanyaan itu berputar di kepalanya. Tujuan Maudi ke rumahnya memang tidak bisa ia tebak. Mungkin karena ia ingin agar Rian menjaga rahasianya dari Rey. Tapi kenapa Maudi marah saat Rian bilang diantara mereka tidak ada hubungan apapun?
Ah tidak! Jangan besar kepala kamu Rian. Dia bukan siapa-siapa. Kamu tahu itu, Rian.
Seperti itulah Rian. Setahu apapun ia tentang keburukan Maudi, namun ia bisa segila itu saat merindukan wanita itu. Apalagi saat Maudi justru menemuinya. Hatinya sempat kembali berbunga saat melihat sosok Maudi di hadapannya.
"Rian, besok ikut ke kantor Mia ya!" ucap Tuan Felix.
"Iya Pah," jawab Rian saat lamunannya terbuyarkan.
Tidak perlu bertanya untuk apa. Rian tahu kalau Tuan Felix ingin membuat ingatan Rian tidak lagi tentang Maudi. Tuam Felix juga menghindari hal serupa terjadi lagi. Ia berusaha untuk membatasi pertemuan Rian dengan wanita itu.
Sesuai rencananya, Rian bersiap pagi itu. Tuan Felix senang saat melihat Rian begitu bersemangat. Namun senyumnya menghilang setelah melihat kedatangan Maudi pagi itu.
"Selamat pagi," sapa Maudi dengan lembut dan penuh hormat.
Maudi menyalami semuanya. Sikapnya sangat manis, hingga Nyonya Helen nyaris tidak percaya dengan cerita tentang Maudi.
"Ayo sarapan bersama!" ajak Nyonya Helen.
Sempat menolak namun pada akhirnya Maudi ikut duduk di ruang makan. Bersama dengan yang lain, Maudi sarapan. Tidak menunjukkan gelagat apapun, semua terlihat baik-baik saja. Hanya Rian yang nampak begitu kaku. Ia tidak nyaman dengan situasi seperti itu.
"Rian, ayo berangkat!" ajak Tuan Felix.
Maudi bahkan menyadari sikap tidak suka yang ditunjukkan oleh Tuan Felix padanya. Namun ia masih berusaha tenang dan terlihat baik-baik saja. Bahkan saat Rian dan yang lain pergi ke kantor, Maudi memilih untuk tidak langsung pulang.
Rupanya Maudi pintar sekali mengambil hati Nyonya Helen. Di mata Nyonya Helen, Maudi sangat bertolak belakang dengan cerita tentangnya. Sementara di tempat lain, Tuan Felix justru menggerutu dengan sikap Maudi.
"Dasar wanita penjilat. Pintar seklai dia cari muka," gerutu Tuan Felix.
__ADS_1
Mia dan yang lain hanya diam. Tidak ada yang berani berkomentar dengan ucapan pedas Tuan Felix. Terlebih Rian. Ia hanya menunduk dan tidak berani menatap pria yang tengah marah itu.