Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Salah paham


__ADS_3

Seperti biasa, Rian sudah siap dan menunggunya di ruang makan saat Tuan Felix baru keluar kamar.


"Apa tidak terlalu pagi?" tanya Tuan Felix.


Hari ini Tuan Felix sedang tidak masuk kantor. Bukan hari libur, ia hanya akan kedatangan temannya hari ini.


"Maaf ya Pah aku tidak bisa menemani Papa hari ini," ucap Rian.


"Tidak masalah," jawab Tuan Felix.


Mereka makan bersama, meskipun Rian nampak gelisah.


"Kalau sudah telat, berangkatlah. Sampaikan salam Papa untuk Mr. Aric," ucap Tuan Felix.


Rian yang merasa senang saat Tuan Felix mengerti keadaannya, segera pamit. Ia tidak ingin membuat Mr. Aric menunggu lebih lama.


Seperti kemarin, hari ini Rian diajarkan banyak hal oleh Mr. Aric. Semua yang berkaitan dengan cita-citanya diperoleh dari sahabat Tuan Felix itu. Bahkan Rian semakin semangat untuk belajar, karena Mr. Aric menawarkan hal luar biasa untuk karirnya di masa depan.


Berbeda dengan hari kemarin, Tuan Felix justru menghabiskan hari ini dengan lebih tenang. Ia tidak lagi menunggu kabar dari Rian. Bukan tidak khawatir, tapi ia juga sedang bersama temannya. Lagi pula, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Rian saat bersama Mr. Aric.


Banyak hal yang Tuan Felix ceritakan dengan temannya. Dia adalah satu-satunya sahabat saat sekolah yang masih berhubungan aktif dengannya. Tuan Felix menceritakan Mia dan Rian pada sahabatnya itu.


Wajah sahabatnya nampak berseri dan ikut bahagia dengan kebahagiaan yang diperoleh oleh Tuan Felix. Sahabatnya itu mengingatkan Tuan Felix agar selalu menjadi orang tua yang baik.


Tidak lama, hanya sampai jam dua siang, sahabatnya pulang. Tuan Felix memberinya beberapa makanan untuk dibawa pulang. Sahabatnya memang pintar, namun sayangnya ia tidak seberuntung dirinya.


Walaupun keadaannya tidak begitu beruntung, tapi sahabatnya tidak pernah menggantungkan hidup pada Tuan Felix. Pernah suatu saat Tuan Felix memberinya uang. Namun, sahabatnya menolak. Ia hanya ingin bersahabat dengan Tuan Felix, tidak meminta dikasihani.


Sempat diajak bekerja dengannya. Namun sudah sejak lama ia hanya mengandalkan hasil berkebunnya. Ia tidak bisa meninggalkan tempat tinggalnya karena mengurus ibunya yang sakit sejak lama.


"Aku salut padamu. Meskipun hidupmu serba terbatas, namun kamu mampu berdiri dengan kakimu sendiri." Tuan Felix mengagumi sahabatnya yang kurang beruntung itu.


Saat mendengar sahabatnya akan ke rumahnya, Tuan Felix rela untuk tidak masuk kerja. Ia menyambutnya sangat spesial. Bahkan ia sengaja menyiapkan makanan untuk dibawa pulang oleh sahabatnya itu.


Setelah sahabatnya pulang, barulah Tuan Felix mengingat Rian. Pepatahnya untuk selalu menyayangi apa yang ia miliki, sebelum kehilangannnya membuat Tuan Felix semakin takut kehilangan Mia dan Rian.


"Pah," sapa Rian.


"Rian," ucap Tuan Felix tidak percaya.


Pria yang sudah tidak muda lagi itu melihat pergelangan tangannya. Masih jam empat dan Rian sudah pulang.


"Apa ada masalah?" tanya Tuan Felix.

__ADS_1


"Masalah apa?" tanya Rian yang merasa bingung.


"Apa Mr. Aric memintamu untuk pulang cepat?" tanya Tuan Felix.


"Iya," jawab Rian.


"Kesalahan apa yang sudah kamu perbuat Rian?" tanya Tuan Felix panik. "Aku sudah bilang berhati-hatilah dengan Mr. Aric," lanjut Tuan Felix saat melihat Rian membuka mulutnya.


Suasana hening. Yang terdengar hanya napas Tuan Felix yang berat. Nampak kecewa dengan apa yang ia pikirkan. Sementara Rian tidak berani membuka mulut sebelum Tuan Felix mereda.


"Kenapa kamu diam?" tanya Tuan Felix.


"Apa aku sudah boleh bicara?" tanya Rian.


"Bicaralah. Jelaskan semuanya. Biar nanti Papa yang jelaskan pada Mr. Aric tentang kesalahpahaman ini. Papa yakin Mr. Aric pasti mengerti," jawab Tuan Felix.


"Papa salah paham," ucap Rian.


"Iya aku tahu kamu anak yang baik. Tidak mungkin kamu mengecewakan Mr. Aric. Ayo jelaskan padaku apa yang membuat kalian salah paham?" tanya Tuan Felix.


Rian menggeleng.


"Kenapa? Ayo cerita!" ucap Tuan Felix.


Tuan Felix diam. Ia melihat Rian dengan tidak percaya. Sedekat dan sepercaya itu Mr. Aric pada Rian? Hingga Rian diajak untuk ikut meeting. Ah bukan hanya itu, rasa tidak percaya itu muncul saat mendengar Mr. Aric takut ia khawatir.


Ternyata dingin-dingin begitu kamu bisa menjaga perasaan sahabatmu sendiri. Aku tentu tidak akan membiarkan Rian ikut meeting denganmu berhari-hari. Rian itu anakku.


"Pah," ucap Rian sembari melambaikan tangannya di depan wajah Tuan Felix.


"Kamu kenapa sih?" ucap Tuan Felix sambil menepis tangan Rian.


"Papa yang kenapa? Dari tadi diam saja. Apa aku salah bicara?" tanya Rian.


"Ah, sudahlah. Papa mau ke kamar dulu," ucap Tuan Felix menghindar.


Rian hanya menatap Tuan Felix dengan bingung. Setelah punggung itu tidak terlihat sama sekali, Rian masuk ke kamarnya. Melempar tasnya ke sembarang arah.


Lelah, namun Rian sangat menikmati. Banyak sekali pelajaran yang bisa ia ambil. Bibirnya mengembang saat mengingat tawaran hebat itu.


"Astaga, aku lupa memberi tahu Papa tentang tawaran itu." Rian segera bangun dan kembali menemui Tuan Felix.


Ketukan pintu terdengar begitu rusuh saat Rian begitu bersemangat. Ia sudah tidak sabar mendengar respon dari Tuan Felix.

__ADS_1


"Pah, Pah," panggil Rian sambil mengetuk pintu berkali-kali.


Tuan Felix yang baru saja duduk di tepi ranjanganya, menggelengkan kepalanya.


"Ada apa lagi sih, Rian?" gerutu Tuan Felix.


Mendengar ketukan pintu yang masih belum berhenti, Tuan Felix berjalan untuk membuka pintu kamarnya.


"Eh maaf Pah," ucap Rian saat tangannya masih mengetuk dan pintu sudah terbuka.


"Ada apa lagi?" tanya Tuan Felix.


"Aku lupa memberi tahu kabar bahagia," jawab Rian dengan bibir yang masih tersenyum lebar.


"Kabar bahagia?" tanya Tuan Felix.


"Mr. Aric memberikan aku tawaran luar biasa Pah," jawab Rian.


"Tawaran apa?" tanya Tuan Felix.


"Kata Mr. Aric, aku akan dibuatkan cabang perusahaan di Indonesia kalau aku bisa lulus dengan nilai memuaskan. Doakan aku ya Pah," ucap Rian.


"Terus kamu mau?" tanya Tuan Felix datar.


"Mau dong Pah," jawab Rian dengan bersemangat.


"Jadi kamu sudah tidak butuh bantuan Papa?" tanya Tuan Felix.


Aduh, salah paham lagi.


"Bukan begitu Pah. Tapi aku bangga. Aku ditawari Mr. Aric untuk dibuatkan cabang perusahaan. Bayangkan Pah, aku dipercaya untuk mengelola cabang perusahaan dari seorang pengusaha keren seperti Mr. Aric." Rian menjelaskan rasa bangganya.


"Papa juga bisa membuatkanmu perusahaan di Indonesia. Jangan khawatir. Papa hanya ingin kamu belajar padanya, bukan menggantungkan hidupmu begitu," ucap Tuan Felix.


"Aku tidak menggantungkan hidupku Pah. Tapi Mr. Aric sendiri yang menawarkan diri," bantah Rian.


Tuan Felix menyadari jika Rian tersinggung dengan ucapannya. Ia segera menjelaskan maksud ucapannya agar tidak salah paham.


"Rian, dengarkan Papa!" Tuan Felix memegang bahu Rian. "Papa hanya tidak ingin kamu terbebani dengan tawaran Mr. Aric. Papa ingin kamu belajar dengan sungguh-sungguh, tapi Papa juga tidak ingin kamu tertekan. Nikmati masa-masa kuliahmu. Seandainya nilaimu menurun, Papa masih bisa merintis perusahaan untukmu nanti." Lanjut Tuan Felix.


Rian tersenyum. Kini ia paham ketakutan Tuan Felix pada dirinya. Ia segera memeluk Tuan Felix.


"Pah, maaf ya kalau aku salah paham. Aku tahu Papa sayang sama aku. Tapi aku juga ingin membuktikan pada Papa kalau aku bisa mandiri. Mandiri bukan berarti tidak butuh Papa. Aku masih sangat butuh doa dan dukungan Papa," ucap Rian.

__ADS_1


__ADS_2