Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Zaman sudah berubah


__ADS_3

Rian baru saja sampai di rumah Nyonya Helen. Ia mendengar ada sedikit keributan. Oma berusaha menajamkan pendengarannya. Semakin dekat semakin jelas jika suara itu berasal dari ruang keluarga.


"Ada apa lagi ini?" ucap Rian pelan.


Tidak ingin mencampuri urusan kedua orang tuanya, Rian memilih untuk pergi. Ia menemui Naura dan Narendra. Memastikan keduanya baik-baik saja dan tidak terganggu dengan pertengkaran Oma dan Opanya.


"Mas Rian mau kemana?" tanya Mba.


"Ke kamar si kembar," jawab Rian.


"Mau apa?" tanya Mba.


"Loh kok tanya mau apa?" Rian balik bertanya penuh kebingungan.


"Ya soalnya kamarnya sudah kosong. Memangnya masih ada barang yang ketinggalan?" tanya Mba.


"Kosong?" wajah Rian semakin bingung.


Rian butuh jawaban atas omong kosong Mba. Namun tubuhnya lemas saat masuk ke kamar Naura. Dengan cepat ia menutup pintu dan membuka kamar Narendra. Sama saja. Kedua kamar itu kosong.


"Mas Rian mau cari apa?" tanya Mba lagi.


"Kemana mereka?" Rian balik bertanya.


"Mas Rian memangnya tidak tahu? Naura sama Rendra kan sudah pulang ke rumahnya," jawab Mba.


"Sama siapa?" tanya Rian.


"Nyonya Mia sama Tuan Dion kan tadi ke sini jemput mereka," jawab Mba.


Jawaban yang diterima di telinga Rian membuatnya semakin lemas. Wajahnya memucat. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja ia memikirkan tentang Danu.


Apa semua ini karena Kak Danu?


Rian segera ke kamarnya. Membuka kemejanya dan menggunakan kaos oblong berwarna biru. Ia duduk dan meneguk segelas air mineral hingga benar-benar kandas. Menyimpan kembali gelas itu dengan keras. Terdengar nyaring suara gelas beling yang beradu dengan meja kaca.


"Aku harus gimana ini?" gumam Danu.


Saat ia sedang pusing dan gelisah, dering ponsel mengalihkan fokusnya.


"Kak Mia?" ucap Rian terkejut.


Dengan ragu Rian menjawab panggilan dari Mia. Suaranya pelan dan gugup. Namun akhirnya ia bisa bernapas lega saat yang meneleponnya adalah Naura.


"Kamu kenapa pulang?" tanya Rian.


"Katanya biar Mama yang merawat Naura, Om. Padahal kan Naura masih betah di rumah Oma. Besok Om nginep di sini ya!" pinta Naura.

__ADS_1


"Apa kamu masih sakit?" tanya Rian.


"Sudah membaik. Tapi Mama memaksa Naura untuk pulang," jawab Naura.


Terdengar suara Mia yang menasihati Naura agar jangan mengadu yang tidak-tidak pada Rian. Dan tidak lama panggilan itu sudah berakhir tanpa ada kata pamit.


Rian menggenggam ponselnya. Ia harus menemui Mia besok. Ada yang tidak beres di keluarganya. Ia harus segera menyelesaikan ya sebelum masalah semakin besar.


Tidak ingin mencari informasi dari Nyonya Helen ataupun Tuan Wira, malam ini Rian tidur dan pura-pura tidak tahu apa-apa. Hingga paginya ia mendapat curhat dari Nyonya Helen.


"Papa kamu selalu saja menyalahkan Mama. Padahal kan Mama tidak bermaksud apa-apa. Kok sampai ngadu sama Mia segala," gerutu Nyonya Helen.


Rian yang baru saja menggigit roti selai coklat itu jadi kaku. Ia mengangkat wajahnya dan mengunyah roti itu perlahan. Kepalanya masih memikirkan kalimat apa yang harus ia keluarkan untuk bisa menenangkan Nyonya Helen.


"Sabar ya Ma," ucap Rian.


"Sabar?" tanya Nyonya Helen.


Rian menelan roti dimulutnya dengan begitu susah. Tatapan Nyonya Helen jelas menunjukkan ketidaksukaannya.


"Ma-maksudku," ucapan Rian terhenti saat Nyonya Helen kembali mengumpat.


"Kamu tidak tahu sesabar apa Mama mengjadapi Papa. Hanya karena Mama bersikap spontan begitu pada Rendra, langsung mengadu." Nyonya Helen bicara dengan penuh emosi.


Rian diam sebentar. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Benarkah Tuan Wira mengadu?


"Ma, sudahlah. Ayo sarapan dulu. Jangan marah-marah begitu. Mau aku antarkan ke rumah Kak Mia?" tanya Rian.


Rian menghela napas panjang.


"Mama mau aku antar belanja di mall?" tanya Rian lagi.


"Kamu pikir Mama matre? Ternyata kamu sama Papa sama saja. Selalu berpikiran buruk tentang Mama," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Helen pergi ke kamar tanpa pamit. Rian jelas sangat merasa bersalah dengan kemarahan Nyonya Helen. Ia menyusul Nyonya Helen yang membanting pintu dengan begiru keras.


"Ma, maafkan aku ya! Aku tidak bermaksud menyinggung Mama," ucap Rian sambil mengetuk pintu kamar Nyonya Helen yang tertutup rapat.


"Kamu tidak mengerti perasaan Mama. Kamu dan Papa sama saja," teriak Nyonya Helen.


"Ma, aku minta maaf. Aku tahu aku salah," ucap Rian.


Tidak ada lagi jawaban. Tanpa putus asa, Rian kembali mengetuk pintu kamar Nyonya Helen berkali-kali dan meminta maaf. Namun sama sekali tidak ada respon dari Nyonya Helen. Karena waktu sudah semakin siang, Rian segera pamit.


"Sekali lagi aku minta maaf ya Ma. Aku berangkat kerja dulu," ucap Rian.


Rian tiba di kantor dengan wajah kusut. Hal ini tentu mengundang kekhawatiran Manto.

__ADS_1


"Bapak baik-baik saja, kan?" tanya Manto.


"Baik," jawab Rian lemas.


"Kalau Bapak sakit, istirahat saja. Saya bisa menyelesaikan urusan kantor. Lagi pula ada Pak Danu juga," ucap Manto.


"Oh ya Kak Danu sudah datang?" tanya Rian.


"Sudah, Pak. Pak Danu datang sebelum jam masuk. Saya melihat Pak Danu memang sangat berkualitas," jawab Manto.


"Seperti yang saya bilang, Kak Danu memang sangat dibutuhkan di sini. Sekelas Pak Manto saja memuji Kak Danu. Artinya kualitas Kak Danu tidak bisa diragukan lagi," ucap Rian.


"Saya yakin perusahaan akan cepat berkembang saat ada orang berkualitas seperti Pak Danu," ucap Manto.


"Bahkan perusahaan ini mempunyai dua orang hebat. Aku yakin kalau kita kita bisa maju bersama," ucap Rian.


"Kita bertiga, Pak." Manto tersenyum.


Rian memang selalu tidak percaya diri saat bersama dengan Manto dan Danu. Namun keduanya selalu menyemangati Rian. Dan hal itu yang membuat rasa syukur Rian tidak pernah berhenti.


"Pak, pekerjaan saya pagi ini sudah saya selesaikan tadi malam. Apa saya boleh keluar dulu? Ada urusan sebentar. Saya janji tidak lama," ucap Rian.


"Bapak ini aneh," jawab Manto sambil tersenyum.


"Kok aneh?" tanya Rian bingung.


"Ini kan perusahaan Bapak. Kenapa harus minta izin pada saya?" Manto balik bertanya.


Rian adalah pemilik perusahaan itu. Tapi ia selalu merasa bukan siapa-siapa. Hal itu yang membuat Rian selalu meminta izin pada Manto setiap kali ia akan keluar kantor.


Setelah memastikan pekerjaan di kantornya aman, Rian segera pergi menemui Tuan Wira. Pagi ini ia tidak bertemu dengan ayahnya itu, karena sudah berangkat sebelum waktu sarapan.


"Rian?" tanya Tuan Wira.


"Pagi Pah. Boleh aku masuk?" tanya Rian saat Tuan Wira membiarkannya berdiri di depan pintu ruangan.


"Ah ya tentu. Silahkan. Masuk, masuk." Tuan Wira menepuk sofa di sampingnya.


Rian segera masuk. Ia semakin yakin jika semuanya tidak baik-baik saja. Tuan Wira sudah berangkat lebih pagi ke kantor. Tapi saat sampai di kantor, tidak terlihat sedang bekerja. Tuan Wira nampak duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Ada apa Pah?" tanya Rian.


Tuan Wira mengerti pertanyaan Rian. Bagaimanapun, istrinya pasti mengadu pada Rian. Meskipun malas, ia terpaksa menjelaskan apa yang terjadi diantara mereka.


Sebenarnya Tuan Wira tidak mengadu. Namun ia meminta Mia menjemput Naura dan Narendra karena keadaan di rumah sedang tidak baik. Rasa khawatir Nyonya Helen yang berlebihan membuat Narendra merasa disisihkan.


"Aku hanya tidak ingin Rendra menjadi salah tanggap saja. Hanya itu," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


"Iya Pah. Aku mengerti. Mungkin Mama begitu karena belum siap dengan perkembangan Naura yang terlalu cepat," ucap Rian.


Zaman sudah berubah. Pacaran sudah lumrah bagi anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Berbeda dengan zaman Nyonya Helen dulu.


__ADS_2