Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Papa Felix


__ADS_3

"Rey," ucap Maudi saat Rian sudah pulang.


"Apa?" tanya Rey.


"Mau pulang sekarang?" tanya Maudi.


"Kalau kamu tidak mau pulang denganku, tidak masalah. Aku bisa pulang sendiri," jawab Rey.


"Eh, jangan begitu." Maudi menarik tangan Rey. "Jangan marah begitu. Aku mau pulang sama kamu," ucap Maudi sambil bergelayun manja di tangan Rey.


"Ayo masuk!" ajak Rey.


Maudi dengan senyumnya yang cantik segera masuk. Meskipun ia kecewa karena tidak bisa pulang bareng dengan Rian, namun paling tidak Maudi berharap Rian cemburu dengan kehadiran Rey tadi.


"Maudi, aku boleh bertanya padamu?" tanya Rey.


"Apa?" tanya Maudi.


"Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Rey.


Dada Maudi bergemuruh. Ia bingung menjawab pertanyaan Rey. Dulu, ia senang karena bisa membuat Rian kesal saat melihatnya dengan Rey. Sekarang semenjak kehadiran Riri, apa yang ia lakukan dengan Rey seolah tidak berpengaruh apapun untuk Rian.


"Apa kamu merasa sudah bosan dengan hubungan ini?" tanya Rey lagi.


"Apa maksudmu?" tanya Maudi.


"Jawab saja. Aku yakin kamu pasti mengerti," jawab Rey.


Maudi menatap Rey yang masih terlihat tenang di balik kemudi. Sempat terpikir untuk mundur saja dan kembali mengejar Rian. Namun gengsinya terlalu tinggi. Jika keputusan itu ia ambil sekarang, bukankah Rey akan terlihat baik-baik saja?


Bukan itu yang Maudi inginkan. Ia ingin baik Rian maupun Rey mencintainya sepenuh hati. Sehingga ke depannya, ia bisa memilih pria mana yang benar-benar ia inginkan karena bisa menguntungkannya.


"Apa kamu sudah punya yang lain?" tanya Maudi tiba-tiba.


Rey tergelak sambil memalingkan wajah.


"Jujur saja, jangan banyak alasan. Tidak perlu menuduhku jika memang kamu masih mencintai Rian. Kamu cemburu kan saat tahu dia dekat dengan Riri?" tanya Rey.


"Aku? Cemburu pada si kucing itu? Tidak mungkin. Kami tidak selevel," ucap Maudi dengan angkuh.


"Jangan merendahkan orang begitu. Kita tidak tahu kalau suatu saat nanti justru Riri yang akan sukses lebih dulu," ucap Rey.


"Kamu kok jadi bela-bela Riri begitu sih?" tanya Maudi kesal.


"Bukannya bela Riri, aku hanya mengingatkan saja." Rey menggelengkan kepalanya.


"Apa sih lebihnya Riri dibanding aku? Hanya seorang pembantu yang tidak tahu diri. Kelas bawah kok memaksakan diri kuliah di tempat bagus," ucap Maudi kesal.


"Dia pembantu?" tanya Rey.


Rupanya Maudi mencari informasi tentang Riri setelah merasa Rian dan Riri semakin dekat. Rey yang tidak tahu status Riri, justru terkejut dengan status Riri sebagai seorang pembantu.


Senyum sinis Maudi berubah menjadi kemarahan, saat tahu jika Rey justru semakin memuji Riri.


"Dia hebat sekali," ucap Rey.


"Apanya yang hebat?" tanya Maudi kesal.


"Ya hebat dong. Sebagai seorang pembantu, dia bisa kuliah di kampus terbaik. Berarti dia itu luar biasa," jawab Rey.


"Berarti dia menjual diri. Mana cukup bayaran pembantu untuk biaya kuliah di sini," ucap Maudi.


"Hussstt, jangan begitu. Dia anak baik," ucap Rey.

__ADS_1


"Bela saja terus. Jangan-jangan kamu suka ya sama dia?" tuduh Maudi.


"Siapa sih yang tidak suka padanya? Dia baik dan pintar, mandiri pula. Aku yakin akan banyak sekali yang menyukainya," jawab Rey dengan wajah datar.


"Rey cukup. Jangan terus memujinya di hadapanku. Aku sudah muak," ucap Maudi.


"Oke," jawab Rey.


Suasana di dalam mobil hening. Keduanya tidak lagi saling bicara. Entah karena takut salah bicara, atau justru sudah malas untuk berdebat.


"Sudah sampai," ucap Rey saat mobil terparkir di depan rumah Maudi.


"Terima kasih," ucap Maudi.


Maudi turun dengan wajah kesal dan membanting pintu mobil cukup keras. Rey hanya bisa menggelengkan kepalanya. Mobil kembali melaju. Tiba-tiba ia memikirkan Riri. Status Riri sebagai seorang pembantu, tidak memberikan kesan buruk pada Rey. Ia bahkan menjadi sangat kagum dan ingin bertemu dengannya.


Keesokan harinya, Rian dan Rey mencari keberadaan Riri. Mereka bertemu di jalan menuju ruang kelas Riri.


"Mau kemana Rey?" tanya Rian.


"Mencari Riri," jawab Rey.


"Riri?" tanya Rian bingung.


Rey pun menjelaskan maksud kedatangannya untuk mencari Riri.


"Jadi Maudi sudah tahu?" tanya Rian.


"Kamu juga sudah tahu?" tanya Rey.


"Iya," jawab Rian.


Keduanya berjalan bersama untuk menemui Riri. Rian yakin jika hari ini ia akan bertemu dengan Riri. Sesuai jadwal, pagi ini Riri memang ada jadwal. Namun sayangnya Riri tidak masuk.


"Apa jangan-jangan Riri sakit ya?" tanya Rian.


"Bisa jadi. Kamu tahu rumahnya?" tanya Rey kembali.


Belum sempat Rian menjawab, Maudi sudah ada di hadapan mereka. Mengintrogasi keberadaan mereka di sana.


"Tanya pada Rey saja ya! Aku mau ke kantin dulu. Tadi belum sempat sarapan. Daaah," ucap Rian.


Rian tersenyum lebar saat bisa lepas dari pertanyaan Maudi. Membiarkan Rey yang menangani Maudi dengan pertanyaannya yang itu-itu saja.


"Aku harus ke rumahnya," gumam Rian.


Selesai kuliah, Rian menghubungi Tuan Felix jika ia akan pulanh terlambat. Sempat berdebat, namun tidak lagi setelah tahu Rian akan ke rumah Riri.


"Sampaikan salam Papa pada Mpus ya!" ucap Tuan Felix.


"Iya. Nanti aku sampaikan," ucap Rian.


Rian pergi dengan cepat saat melihat Maudi akan menghampirinya. Ia tidak mau jika Maudi ikut ke rumah Riri. Tentu hal itu akan membuat masalah baru.


"Kamu mau ikut pulang sama Rian?" tanya Rey yang melihat Maudi kesal dengan kepergian Rian.


"Aku pulang sama kamu kok," jawab Maudi sambil bergelayun manja di tangan Rey.


"Kamu masih mencintai Rian kan?" tanya Rey.


"Rey, sudahlah. Kamu kenapa sih selalu saja membahas Rian?" ucap Maudi kesal.


"Karena aku melihat rasa untuk Rian masih terlalu besar," ucap Rey.

__ADS_1


"Kamu jangan aneh-aneh deh. Ayo pulang!" ajak Maudi menarik tangan Rey.


"Maudi, tunggu sebentar!" Rian menahan tangannya dan memegang bahu Riri.


"Jika kamu masih mencintai Rian, tidak masalah. Aku bisa menerima semua kenyataan itu," ucap Rey.


Maudi menarik tangan Rey dan menatap Rey lekat. Meyakinkan Rey jika saat ini ia masih ingin bersama dengan Rey.


Mana mungkin aku akan melepaskanmu, sementara Rian saja masih belum jelas denganku. Aku hanya akan melepaskanmu setelah Rian memohon untuk kembali padaku. Mungkin jahat Rey, tapi maaf aku harus melakukan ini.


Rey yang mencintai Maudi hanya bisa tersenyum dengan kebohongan Maudi. Merasa jika kebohongan itu adalah ketulusan Maudi padanya.


"Ayo pulang! Aku ada tugas yang harus segera aku selesaikan," ucap Maudi.


Itu adalah salah satu cara Maudi agar Rey tidak main ke rumahnya. Yang Maudi butuhkan hanya diantar pulang oleh Rey. Ia tidak membutuhkan Rey untuk apapun selain mengantarnya pulang.


Maudi bukan tidak sanggup beli mobil. Namun ayahnya tidak memberinya kebebasan dengan penggunaan mobil pribadi. Hingga Maudi harus memanfaatkan pria bermobil untuk mengantar dan menjemputnya pulang.


"Hati-hati ya Rey," ucap Maudi saat ia sudah berdiri di depan rumahnya.


"Iya," ucap Rey.


Rey kembali memikirkan Riri saat mobil sudah melaju. Ia sangat mengagumi Riri.


"Aku tidak menyangka jika ia sehebat itu. Keren. Eh apa sih aku ini? Kenapa selalu memikirkan Riri? Rey, sadar." Gumam Rey.


Rey menyadarkan dirinya kembali dan segera pulang. Ia tidak ingin kekagumannya pada Riri membuat Maudi tidak nyaman. Maklum saja, Rey sudah termakan gombalan Maudi hari ini.


Jangankan Rey yang masih berstatus sebagai pacar Maudi, Rian saja yang statusnya sudah menjadi mantan masih sering baper dengan Maudi. Bahkan sampai sekarang, Maudi masih menguasai hatinya. Lalu Riri?


Rian masih menganggap Riri sebagai sahabatnya. Tidak lebih. Hanya saja, karena Riri tinggal di rumah Mr. Aric, membuat Rian penasaran dengan sosok Riri.


"Mas Rian?" tanya Riri saat melihat kedatangan Rian di rumah itu.


"Pus, kamu sehat?" tanya Rian.


"Sehat. Siapa yang bilang aku sakit?" tanya Riri kembali.


"Tidak ada. Hanya saja aku pikir kamu sakit karena tidak masuk kuliah," jawab Rian.


"Mr. Aric sakit," ucap Riri sedih.


"Sakit apa? Kemarin saat pesta makan malam aku lihat Mr. Aric baik-baik saja," ucap Rian terkejut.


"Mungkin karena kecapean saja," ucap Riri.


"Apa aku boleh menengoknya?" tanya Rian.


"Jangan!" tolak Riri.


"Kenapa?" tanya Rian.


"Mr. Aric paling tidak suka kalau ada yang tahu ia sedang sakit. Jadi aku mohon, jangan beri tahu Papa ya!" ucap Riri memohon.


"Papa siapa?" tanya Rian.


"Papa Felix," jawab Riri dengan polos.


Rian mengernyitkan dahinya.


"Kenapa?" tanya Riri.


"Tidak," jawab Rian.

__ADS_1


__ADS_2