Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Nambah pasukan


__ADS_3

"Pus, hari ini Mama ada reuni sebentar. Apa Mama boleh keluar?" tanya Nyonya Helen saat panggilan itu sudah berakhir.


Riri menatap wajah Nyonya Helen dengan senyum yang sulit diartikan. Sebenarnya ia merasa sangat senang dengan pertanyaan Nyonya Helen. Sampai harus meminta izin padanya hanya untuk ikut kegiatan reuni. Betapa Nyonya Helen sangat menghargai keberadaannya di sana.


"Kenapa malah senyum? Mama boleh keluar sebentar kan?" tanya Nyonya Helen lagi.


Tidak ada jawaban. Riri malah memelul Nyonya Helen. Ia mengungkapkan rasa beruntung dan bersyukurnya karena sudah dipertemukan dengan wanita sebaik Nyonya Helen.


Nyonya Helen pun membalas pelukan itu. Ucapan yang sama pun terucap dari mulut Nyonya Helen. Menurutnya, justru Nyonya Helen yang beruntung karena kehadiran Riri membuat dirinya bersemangat dan sembuh sampai saat ini.


"Mama hati-hati ya!" ucap Riri sambil melambaikan tangannya.


Nyonya Helen membalas lambaian tangan itu sampai akhirnya mobil melaju dan Riri sudah tidak terlihat sama sekali. Bayangan kebahagiaan Nyonya Helen saat acara reuni ternyata pupus. Ia tidak seperti biasanya. Gambaran wajah Riri dengan perut besarnya membuat Nyonya Helen segera pulang meskipun acara belum selesai.


Saat sampai di rumahnya, ia memastikan jika Riri memang baik-baik saja. Dan Nyonya Helen bisa bernapas lega saat melihat Riri tengah berbincang dengan Maya. Lembaran-lembaran kertas yang terlihat membuat Nyonya Helen yakin jika Riri sedang memeriksa laporan keuangan di butiknya.


Rian memang sudah melarang Riri pergi ke butik. Sampai akhirnya Maya yang harus bolak-balik butik ke rumah Nyonya Helen demi laporan dan beberapa urusan lain di butik.


"Nyonya," sapa Maya sambil menunduk hormat saat melihat keberadan Nyonya Helen.


Riri yang tenga fokus dengan kertas itu segera mengangkat wajahnyan. Ia memastikan jika sebutan Nyonya itu memang ditujukan untuk mertuanya itu. Akhirnya Riri dibuat terkejut dengan kedatangan Nyonya Helen.


"Mama sudah pulang?" tanya Riri setelah melihat jam dinding.


"Mama khawatir ninggalin kamu sendirian di rumah," jawab Nyonya Helen.


Lagi-lagi Riri dibuat tersenyum lebar saat mendengar jawaban ibu mertuanya. Perlakuan Nyonya Helen pada Riri membuat Maya ikut senang. Namun ia meyakini dirinya sendiri, Riri memang pantas mendapatkan semua itu. Riri yang penuh dengan ketulusan dan kebaikan memang sangat pantas mendapat mertua sebaik dan setulus Nyonya Helen.


Hubungan itu kian lama kian membuat banyak orang iri. Kedekatan Nyonya Helen dan Riri sering kali disangka ibu dan anak kandung. Bahkan saat Riri akan melahirkan, Nyonya Helen adalah salah satu orang yang tidak bisa melepaskan tangan Riri.


"Ma, aku takut. Aku mau lahiran normal," ucap Riri sambil menangis.

__ADS_1


"Jangan takut. Ada Mama," ucap Nyonya Helen sambil mengusap kepala Riri.


"Sayang, kita semua ada di sini buat kamu. Jangan khawatir," ucap Rian yang ikut menenangkan Riri.


"Tapi aku mau lahiran normal," rengek Riri.


"Pus, lahiran normal atau operasi, kamu tetap seorang ibu. Ibu yang sudah berjuang untuk anak kita. Aku bangga," ucap Rian.


"Tapi Mas," ucap Riri.


"Jangan banyak mengeluh. Ini sudah jalan yang terbaik," ucap Nyonya Helen.


Setelah beberapa orang keluarga meyakinkan Riri, akhirnya Riri masuk ruang operasi. Ditemani Rian yang berusaha tegar padahal menyembunyikan kegelisahan dan kekhawatiran. Tangis Rian pun pecah saat suara tangis bayi terdengar nyaring di telinganya.


"Mas," ucap Riri lirih.


"Selamat sayang. Terima kasih istri sekaligus ibu hebat," ucap Rian sambil mengecup dari Riri.


"Sayang, terima kasih." Nyonya Helen mengecup dahi dan pipi Riri.


Kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga Rian. Sejak berita kelahiran itu tersebar, banyak orang yang mengunjungi Riri di rumah sakit. Menjenguk bayi kecil yang sangat tampan penerus perusahaan Rian.


"Mas, aku pusing. Banyak sekali orang yang datang dengan minyak wangi yang bercampur keringat," keluh Riri.


Rian hanya tertawa saat apa yang ia rasakan ternyata dirasakan juga oleh istrinya. Sejak tahu jika istrinya tidak nyaman dengan banyak tamu yang datang, Rian pun sigap. Ia membatasi pengunjung yang akan menemui Riri.


"Terima kasih ya Mas," ucap Riri saat tahu jika Rian sudah membatasi pengunjung.


"Sama-sama," ucap Rian sambil mengusap kepala Riri.


"Mama kok tidak ke sini?" tanya Riri pelan.

__ADS_1


Rian memberi kode agar tidak membahas itu karena sedang ada Mia dan Nyonya Helen di sana. Riri yang mengerti kode itu hanya mengangguk dan berusaha menahan kesedihannya.


Setelah di rumah sakit itu sepi dan hanya ada mereka berdua, baru lah Rian menjelaskan alasan Bu Risa yang tidak menemani proses lahiran Riri. Semua karena Nyonya Helen tidak mengizinkan Bu Ris yang datang dengan Rara.


"Maafkan Mama Helen ya," ucap Rian.


Riri mengerti. Ia hanya diam dan tersenyum. Ia sangat mengerti kekhawatiran Nyonya Helen. Walaupun mereka semua salah sangka. Padahal Rara memang sudah berubah. Ia ingin melihat melihat keponakanannya. Menggendong bayi tampan yang menjadi bagian dari keluarganya juga.


Rara yang tidak mendapatkan seorang anak dari pernikahannya, membuat berubah saat mendengar bayi tampan itu sudah lahir. Hatinya tergerak saat menyadari jika ia bisa mendapatkan kebahagiaan itu dari keponakannya. Kehampaan itu bisa sirna jika ia bisa berada di dekat Riri. Ia akan merawat dan membantu Riri mengurus bayinya.


"Sebentar ya sayang," ucap Rian saat mendapat panggilan di ponselnya.


Rian segera menjauh dari Riri saat panggilan itu tentang pekerjaan. Rian tidak mau jika Riri berpikir Rian masih memikirkan pekerjaan, padahal baru beberapa jam anaknya lahir. Namun Rian tidak bisa menghindar saat tahu pekerjaan ini sangat penting.


"Dari siapa?" tanya Riri saat Rian sudah kembali.


"Kak Danu," jawab Rian.


Beruntung Naura dan Narendra datang di saat yang sangat tepat. Rian bisa menghindar dari penjelasan yang mungkin akan membuat Riri salah paham.


Riri senang dengan keceriaan yang Naura dan Narendra bawa. Ia merasa sakitnya mereda bahkan hilang. Apalagi saat Yaza dan Dandi juga turut datang. Anak-anak yang sudah beranjak remaja itu memang dekat dengan Riri.


"Wah, anak bayi sudah lahir. Kita nambah pasukan nih. Kasihan Naura masih sendiri," ucap Yaza yang diikuti gelak tawa dari yang lain.


"Dih, biarin. Biar tetap jadi yang paling cantik," ucap Naura.


"Yah, jadi yang paling cantik karena tidak ada saingan aja bangga. Ibaratnya nih, kamu juara satu karena tidak ada lagi siswa yang sekolah di sana." Narendra ikut menambahkan.


Gelak tawa tentu semakin riuh. Termasuk Riri yang ikut tertawa apalagi saat melihat bibir Naura mengerucut kesal. Riri yang bahagia dengan kehadiran buah hatinya, semakin bahagia saat bisa melihat keempat keponakannya berkumpul.


"Hussst, nanti dede bayinya nangis." Riri mengudahi kesedihan Naura.

__ADS_1


__ADS_2