
"Iya, iya. Sabar dong," ucap Rian sebelum akhirnya menutup pintu kamar mandi.
Riri menggelengkan kepalanya saat menyadari aa yang sudah ia janjikan pada Rian. Ia juga memegang pipinya yang merah karena malu. Tidak pernah terbayangkan jika ia akan berani mengeluarkan kalimat seperti itu.
"Astaga, malu sekali." Riri mengusap wajahnya sambil mengamati dirinya dalam pantulan cermin.
Setelah berusaha menenangkan dirinya sendiri, Riri segera merapikan baju kotor Rian. Ia pun menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Namun belum keluar Rian dari kamar mandi, pintu kamarnya sudah diketuk. Bibi sudah memanggilnya untuk makan malam.
"Iya Bi, nanti aku menyusul. Mas Rian belum selesai mandi. Tolong panggilkan orang tuaku dulu ya," ucap Riri.
"Pak Beni dan Bu Risa sudah menunggu di ruang makan, Nyonya." Bibi tersenyum ramah.
"Oh, terima kasih banyak. Aku segera ke sana," ucap Riri.
"Siapa?" tanya Rian saat pintu kamar sudah tertutup lagi.
Riri yang baru saja menutup pintu langsung menatap ke arah sumber suara. Ia melihat Rian yang berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya.
"Bibi," jawab Riri singkat.
Rian sudah mengerti dan segera mengenakan pakaian gantinya. Riri membantu Rian mengeringkan rambutnya dan segera keluar setelah selesai.
"Mertuaku sudah ke sana?" tanya Rian saat baru keluar dari kamar.
"Kata Bibi, ibu dan ayahku sudah di ruang makan." Riri mengimbangi langkah Rian.
Saat sampai ke ruang makan, nampak semua sudah menunggu di sana. Makan malam pun berlangsung seperti biasa. Hanya saja kali ini lebih ramai karena ada Bu Risa dan Pak Beni.
Riri tengah menikmati waktunya yang sangat membahagiakan itu. Rian memberikan waktu yang sangat bebas untuk Riri karena ia tahu waktunya hanya dua hari. Setelah itu, orang tuanya akan kembali ke rumahnya. Dan mereka hanya akan bertemu seminggu sekali atau bahkan hanya dua minggu sekali.
Tidak apa-apa. Riri tidak ingin mengeluh. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan sangat bahagia, apapun caranya. Rian sudah sangat membuat hari-hari Riri penuh warna. Hingga seminggu atau dua minggu bukan waktu yang lama saat Rian ada di sampingnya.
__ADS_1
"Ri, Mama sama Papa pulang dulu ya! Nanti gantian kamu ke sana. Menginap di sana ya!" pamit Bu Risa.
"Tidak perlu. Kalian telepon Mpus saja kalau sudah rindu. Nanti aku kirim sopir agar menjemput kalian," ucap Nyonya Helen.
Riri tidak bisa menjawab apa-apa. Ia hanya tersenyum dan memeluk orang tuanya bergantian. Air mata kesedihan tak bisa dibendung oleh Riri saat harus melihat kedua orang tuanya pergi dari rumah itu.
Dua hari bukanlah waktu yang lama. Namun semua itu sangat berkesan. Sayangnya perpisahan itu meninggalkan kerinduan yang begitu besar meskipun hanya sementara. Apalagi saat Nyonya Helen seakan meyakinkan Riri jika ia tidak boleh pulang ke rumah orang tunya sendiri.
Sempat kesal namun saat tangan Nyonya Helen membelai hangat tubuhny membuat Riri berubah. Ia justru paham bahwa itu adalah cara Nyonya Helen melindunginya dari Rara yang selalu punya cara untuk menyakitinya. Nyonya Helen sangat membatasi ruang gerak Rara agar tidak menyakiti Riri sedikitpun.
"Pagiiiii," teriak Mia.
Mia datang hanya satu jam setelah orang tua Riri pulang. Kedatangan Mia bagaikan obat mujarab bagi kesedihan Riri. Senyumnya sudah terukir jelas saat melihat Mia. Dengan wajah ceria dan segudang rencana, akhirnya kesedihan Riri benar-benar sirna.
"Jadi begini ya? Sudah deal?" tanya Mia memastikan.
Ya, pagi ini Mia datang untuk meyakinkan bisnis yang akan mereka kelola bersama. Tempat dan beberapa pekerja serta rencana pemasaran sudah jelas terinci dalam bahasan yang disampaikan Mia. Riri hanya mengangguk senang saat semua ide Mia memang sejalan dengan apa yang dipikirkannya.
Lagi-lagi Riri senang saat mendengar ucapan Mia. Semua yang Mia bahas selalu pas dengan keinginannya. Riri merasa Mia adalah dirinya di masa depan.
Rian dan Nyonya Helen ikut mendukung. Meskipun tidak banyak terlibat, namun keduanya ada andil dalam usaha Riri yang sedang dirintisnya.
Saat bisnis ini mulai dirintis, Tuan Felix datang dengan membawa kabar yang tak kalah membahagiakan. Semua urusannya di Jerman sudah selesai. Namun sekarang, perusahaan itu dibawah kendali Manto. Sedangkan Tuan Felix sendiri sudah memutuskan untuk menetap di Indonesia. Menghabiskan sisa waktunya bersama anak dan cucunya. Bersama semua orang yang sangat ia sayangi.
"Papa tidak menyangka jika pergerakannya akan secepat ini," ucap Tuan Felix.
"Semua berkat Kak Mia, Pah. Kalau tidak, mungkin tidak akan seperti ini jadinya." Riri tersenyum senang saat menjelaskan semuanya .
"Mia memang sangat bisa diandalkan," ucap Tuan Felix.
Satu hal yang membuatnya bangga pada Mia adalah ini. Selalu benar-benar bertindak dengan penuh tanggung jawab. Meskipun saat ini perusahaannya tidak bergerak di bidang fashion, namun Mia sangat menyukai hal ini.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, apa yang sudah Mia rencanakan mulai terwujud. Butik itu sudah buka meskipun belum terlalu banyak barang yang ditawarkan. Mia tidak malu untuk menawarkan barang yang tersedia di butik.
Bukan karena Mia seorang pemilik perusahaan, tapi karena barang yang Mia tawarkan memang berkelas. Karya Riri memang sangat bagus dan menjual. Mia senang bekerja sama dengan wanita cerdas dan cekatan seperti Riri.
Hanya dalam waktu dua bulan sejak butik itu resmi dibuka, Mia sudah melihat ada progres yang bagus. Namun sayangnya, Riri terlihat pucat dan sering sakit-sakitan. Awalnya semua berpikir jika Riri kecapean. Akhirnya mereka dibuat bahagia saat hasil tes bergaris dua ditunjukkan.
"Aduh, aku mau tambah cucu. Kita jadi kakek-kakek," ucap Tuan Felix pada Tuan Wira.
"Tapi dari dulu juga kita sudah jadi kakek-kakek. Kita punya dua cucu sekaligus. Sekarang malah jadi kakek-kakek-kakek. Tiga cucu kita," ucap Tuan Wira.
Semua terkekeh mendengar kerecehan dua pria yang garis keriputnya terlihat semakin jelas. Lagi-lagi Riri kembali merasakan kebahagiaan yang tiada terkira. Orang tuanya pun datang untuk ikut terlibat dalam kebahagiaan itu.
"Mas, aku merasa hidupku terlalu sempurna saat ini." Riri mengusap perutnya yang masih rata dan mata yang berkaca.
"Ini adalah bonus atas kesabaranmu selama ini," ucap Rian yang ikut mengusap perut Riri.
Rian sempat melarang Riri untuk melanjutkan bisnisnya saat tahu jika calon anaknya ada dalam perut rata itu. Namun Riri terus meyakinkan Rian jika ia masih bisa bekerja meskipun sedang hamil. Riri tidak mau kehamilannya membatasi langkahnya.
"Aku akan membatasi pekerjaanku Mas. Kamu tenang saja ya," ucap Riri.
Rian hanya mengangguk saat Riri meyakinkannya. Meskipun begitu, tentu ia akan mengawasi istrinya agar tidak terlalu lelah. Kini porsi bekerjanya harus dikurangi karena ada bayi yang bergantung pada kesehatannya.
Kehamilan Riri menjadi berkah tersendiri. Bisnisnya kian maju. Hari ke hari membuat Riri tersenyum senang. Bagaimana tidak, kini pelanggan butiknya sudah semakin banyak. Karyanya semakin banyak dikenal dari berbagai kalangan. Hal itu membuat nama Riri kian melambung.
"Kenapa sih dia selalu saja bahagia saat aku menderita? Aku sumpahin dia hidup susah kayak aku," gerutu Rara.
"Sudahlah Ra. Dia itu adikmu. Apalagi saat ini dia sedang hamil. Jangan bicara yang tidak-tidak," ucap Bu Risa.
"Iya. Justru kamu itu harusnya ikut bahagia. Doakan Riri biar makin sukses dan bahagia," tambah Pak Beni.
"Mama dan Papa sama saja," ucap Rara sambil mendecak kesal.
__ADS_1
Bu Risa dan Pak Beni hanya menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang saat melihat tingkah Rara. Untung saja Rara berada dalam tekanan Tuan Felix. Jika tidak, mungkin saat ini Rara sedang mengacaukan butik yang sedang Riri kembangkan.