Antara Asa Dan Rasa

Antara Asa Dan Rasa
Mengabadikan momen


__ADS_3

"Ya sudah, sekarang kamu istirahat ya. Jangan pernah sekali lagi berpikir tentang balas budi seperti ini," ucap Tuan Wira.


Kertas list target itu dirobek dan digulung lalu dilempar ke dalam tong sampah oleh Tuan Wira. Sementara Rian hanya menatap kertas yang sudah terbuang itu dengan pasrah. Akhirnya ia pamit dan kembali ke dalam kamarnya.


Setelah semua itu sudah dibicarakan, akhirnya fokus Rian hanya pada tabungan masa depannya. Bagaimana ia bisa menjamin istrinya nanti. Padahal ia tahu kalau harta Riri tidak akan habis tujuh turunan.


Perusahaan Rian memang besar. Namun jika dibandingkan dengan perusahaan Mr. Aric yang kini sudah resmi menjadi milik Riri, itu hanya setengahnya saja. Kadang Rian sempat berpikir jika ia hanya akan menjadi status suami Riri. Pada kenyataannya, ia tidak bisa memberikan apapun pada Riri.


Harta? Sudah jelas harta Riri saat ini lebih banyak dibanding dengan apa yang Rian miliki. Pelindung? Bagaimana Rian bisa melindungi Riri sementara mereka tinggal berjauhan. Bahkan sebagai teman berbagi saja Rian tidak berharap. Mereka hanya akan bertemu beberapa waktu saja. Tentu semua akan sangat terbatas.


"Apa yang harus aku perjuangkan dalam rumah tanggaku nanti? Apa aku harus memaksa Mpus untuk ikut denganku? Meninggalkan apa yang dia miliki selama ini? Bisakah?" gumam Rian.


Rasa tidak percaya diri seakan menggiring Rian menjadi tidak yakin atas apa yang ia targetkan. Menikah dengan Riri kini menjadi beban baginya. Ia merasa kalau semakin ia benar-benar serius tentang pernikahan, banyak sekali yang harus ia hadapi.


Rian menghabiskan malamnya dengan kebimbangan yang menguasai dirinya. Entah jam berapa ia bisa tidur yang pasti saat alarm di ponselnya berdering, Rian merasa kepalanya sangat pusing.


Kalau saja bisa, ia ingin tidur sampai kepalanya tidak berat seperti saat ini. Namun pekerjaan yang sudah menunggunya di kantor membuat Rian harus memaksakan dirinya untuk segera bersiap.


"Pagi," sapa Rian sambil tersenyum saat menyapa Nyonya Helen dan Tuan Wira di ruang makan.


"Pagi," jawab Nyonya Helen.


"Hari ini ada acara?" tanya Tuan Wira.


Rian menggeleng.


"Kalau begitu nanti kita bertemu di rumah Mia ya! Hari ini Naura dan Rendra ulang tahun," ucap Tuan Wira.


Rian menepuk dahinya saat ia melupkan ulang tahun keponakan kembarnya.


"Aku segera merapat ke sana kalau sudah selesai," ucap Rian.


"Jangan kabari mereka. Kita akan buat kejutan," ucap Nyonya Helen.


"Siap Ma," ucap Rian.


Setelah sarapan, Nyonya Helen mengantar Rian dan Tuan Wira ke parkiran. Melihat anak dan suaminya pergi dengan mobil yang berbeda. Lambaian tangan Nyonya Helen sudah menjadi kebiasaan yang tidak terlewatkan.


Kebiasaan itu ternyata membuat Rian semakin sakit. Sepanjang perjalanan ke kantor, Rian membayangkan jika Riri yang mengantarnya ke parkiran dan melambaikan tangannya.


Selain itu, Nyonya Helen selalu menyambut Tuan Wira saat pulang. Hal itu adalah nilai plus yang menjadi harapannya nanti. Tapi sayangnya hal itu tidak mungkin terjadi.


Sabar Rian. Ini adalah resikomu saat mencintai wanita karir.

__ADS_1


Rian mengusap dadanya saat menyadari bahwa Riri bukanlah Nyonya Helen. Mereka berbeda dan tidak sama. Tidak ada hak Rian untuk membandingkan keduanya. Semua wanita unik dan berharga dengan apa yang mereka miliki.


"Pagi Pak," sapa Danu.


"Eh Kak Danu," sapa Rian.


Danu selalu memperlakukan Rian layaknya atasan saat di kantor. Namun Rian selalu menganggap Danu adalah kakak iparnya,bukan sebagai bawahannya.


"Ada pesan dari Pak Manto. Katanya hari ini izin untuk tidak masuk kantor. Istrinya mendadak masuk rumah sakit," ucap Danu.


"Oh ya?" tanya Rian sambil meraih ponselnya.


Rian ingin mengecek apakah Manto mengabarinya atau tidak. Namun Danu segera memberi tahu kalau Manto sudah mencoba mengabari Rian namun ponsel Rian tidak aktif.


"Astaga aku tidak tahu kalau ponselku mati," ucap Rian.


Rian segera pamit ke ruangannya. Ia mengecas ponselnya dan mencari tahu kabar istri Manto. Ternyata istri Manto sakit ashma dan kambuh tiba-tiba pagi ini. Padahal Manto sudah bersiap dengan stelan ke kantor.


"Sudah, sudah Pak. Saya percaya. Yang penting sekarang istri Bapak sehat-sehat ya! Maaf saya belum bisa jenguk," ucap Rian.


Hari ini Rian tidak bisa meninggalkan kantor karena sedang banya pekerjaan. Apalagi saat Manto sedang tidak masuk. Bahkan Manto berkali-kali meminta maaf karena meninggalkan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan hari ini.


Rian dengan tegas meyakinkan kalau saat ini Manto tidak perlu memikirkan pekerjaan kantor. Kesembuhan istrinya menjadi tugas paling penting untuk Manto saat ini.


"Keburu tidak ya kalau nanti pulang surprise Naura sama Rendra aku ke rumah sakit?" gumam Rian.


Setelah jam kerja selesai, Rian membawa pekerjaannya ke rumah karena masih ada yang belum selesai. Semantara ia tidak bisa pulang lebih sore. Kejutan ulang tahun untuk Naura dan Narendra terlalu penting untuk ditinggalkan.


"Pah, aku berangkat sekarang." Rian mengirim sebuah pesan untuk Tuan Wira.


Tidak lama Tuan Wira menelepon Rian agar tidak ke rumah Mia. Mereka sudah mengajak Naura dan Narendra ke cafe mewah. Pesta ulang tahun itu dirayakan di sana. Rian segera menuju tempat yang sudah ditentukan.


Dua buah kado besar Rian bawa saat memasuki cafe itu. Nampak Naura dan Narendra memburunya. Bukan untuk kadonya, tapi karena mereka merindukan Rian. Sudah seminggu Rian tidak ke rumah Mia.


"Aku pikir Om Rian tidak ke sini," ucap Narendra.


"Mana mungkin Om meninggalkan acara sepenting ini. Selamat ulang tahun sayang," ucap Rian.


Keduanya nampak memeluk Rian dengan penuh kasih sayang. Kerinduan mereka terbayar sudah. Apalagi saat sebuah kado mereka terima.


Sore ini menjadi sore yang sangat menyenangkan. Ia benar-benar merasa bahagia setelah akhir-akhir ini selalu berkutat dengan dokumen dan laptop. Ulang tahun Narendra dan Naura membuat Rian sejenak menemukan dunia barunya.


"Om ikut pulang ke rumah Mama kan?" tanya Naura dengan penuh harap saat pesta sudah selesai.

__ADS_1


Rian duduk dan merapikan rambut Naura. Anak yang sudah mulai remaja itu terlihat jauh lebih cantik. Tidak tega sebenarnya menolak permintaan Naura. Tapi ia harus menjenguk istrinya Manto.


Ia mencoba menjelaskan kalau ada hal yang paling penting untuk dikerjakan olehnya. Tapi ia juga berjanji untuk menginap di rumah Naura malam besok. Meskipun kecewa namun akhirnya Naura mengerti.


Selesai acara, Rian segera mengunjungi rumah sakit. Manto nampak terkejut melihat kedatangan Rian ke rumah sakit. Pasalnya Rian datang sudah cukup malam dan masih mengenakan pakaian kerjanya.


"Bapak tidak perlu repot-repot. Istri saya sudah baikan kok," ucap Manto yang merasa sangat tidak enak.


"Tidak apa-apa. Saya sekalian numpang tidur di sini," ucap Rian.


"Maaf gimana Pak?" tanya Manto.


Jujur saja Manto tidak menyangka jika Rian akan menemaninya malam ini di rumah sakit. Ia benar-benar terharu. Setelah tadi sore Danu yang menjenguknya, kini Rian justru datang menemaninya.


"Saya juga sambil mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai," ucap Rian.


"Mana yang belum selesai Pak? Biar saya kerjakan," ucap Manto.


"Tidak perlu. Bapak. istirahat saja ya. Mumpung istrinya sedang tidur. Nanti Bapak temani istrinya kalau sudah bangun," ucap Rian.


Manto benar-benar tidak menduga jika Rian akan sepeduli itu padanya. Kabar ini segera sampai ke telinga Tuan Felix. Manto sengaja mengabarkan semua ini. Ia takut Tuan Felix menyangka jika ia yang meminta Rian menemaninya.


"Anak itu memang baik. Dia terlahir dan terdidik dengan sangat baik. Biarkan saja dia lakukan semua itu," ucap Tuan Felix.


Malam kian larut. Rian yang sudah tidak kuat mengantuk segera menutup laptopnya. Ia menguap berkali-kali. Sebelum tidur, Rian melihat Manto dan istrinya sudah pulas. Kursi yang ia gunakan untuk bekerja dibuat senyaman mungkin agar ia bisa segera tidur.


Rasa lelah membuatnya dengan cepat tidur nyenyak meskipun dengan tempat seadanya. Sampai ia terbangun saat mendengar wanita yang merintih kesakitan.


Perlahan Rian membuka matanya dan mengamati sekitarnya. Pandangannya menangkap Manto yang sedang mengusap dan memijat istrinya. Sedangkan istrinya tengah menangis. Rian bisa melihat dengan jelas kegelisahan Manto sementara ia harus menenangkan istrinya.


Sekilas bayangan tentang harapan pernikahan itu kembali hadir. Ia membayangkan betapa bahagianya jika mereka bisa hidup bersama setelah menikah. Namun Rian tidak mau berandai-andai terlalu jauh. Ia takut harapannya tidak terlaksana.


Rian benar-benar memperhatikan bagaimana Manto memperlakukan istrinya dengan begitu lembut. Ia juga melihat bagaimana manjanya wanita itu pada Manto. Sayangnya Riri adalah wanita mandiri yang menurut Rian, tidak terlalu membutuhkan kehadirannya.


"Pus, kamu harus lihat ini." Rian bergumam.


Perlahan tangannya meraba ponsel. Tanpa sepengetahuan Manto dan istrinya, Rian segera mengabadikan momen itu. Momen yang menurutnya sangat luar biasa. Ia berpikir akan mengirimkan rekaman itu pada Riri.


Sedikit harapan jika Riri mengerti apa maksudnya mengirimkan rekaman itu. Walaupun ia tahu mungkin mereka bisa saja bertengkar. Tekad Rian tidak berubah, ia mengirimkan rekaman itu.


"Aku di rumah sakit menemani pria hebat yang sedang merawat istrinya," tulis Rian dalam pesan singkat.


Lama Riri tidak membalas hingga akhirnya ia ketiduran. Ia bangun setelah Manto membangunkannya karena sudah jam enam pagi. Hal pertama yang Rian cari adalah ponsel. Ia mengecek pesan dan ternyata Riri memang sudah membalas pesannya.

__ADS_1


Rian cukup terkejut dengan balasan apa yang dikirim oleh Riri. Ia memilih untuk ke kamar mandi sebelum membaca pesan yang diterimanya.


Rian menatap wajahnya pada pantulan cermin di kamar mandi. Ia menduga-duga apa yang sebenarnya ada di kepala Riri saat melihat rekaman itu. Apakah Riri marah? Ah Rian semakin gelisah. Hari ini ia sedang banyak pekerjaan hingga moodnya hari ini harus benar-benar terjaga.


__ADS_2