
Dering ponsel membuat Riri dan Rian segera membawa anak-anak untuk pulang. Sempat menolak karena masih ingin bermain. Tapi akhirnya Naura mengerti. Rian dengan cepat mengantar Riri ke bandara. Bertemu dengan Mr. Aric di sana.
"Om hati-hati," ucap Naura ketakutan.
"Iya Mas pelan-pelan," ucap Riri.
Sementara ia memeluk Naura yang mulai menangis.
"Rendra kamu pegangan ya!" ucap Riri.
"Tenang saja Aunty Puspus, Om Rian sudah jago. Nanti kalau aku sudah besar, aku juga akan seperti om Rian." Narendra justru terlihat lebih tenang.
Rian tersenyum mendengar ucapan Narendra. Beberapa kali ia mendengar Narendra mengungkapkan bahwa anak itu ingin seperti dirinya. Padahal ia sendiri pun sempat menyesali keadaannya dulu.
"Tapi nanti kamu terlambat Pus. Aku tidak mau Mr. Aric kecewa padamu," ucap Rian.
"Tidak Mas. Mr. Aric tidak akan marah. Tenang saja," ucap Riri.
Berbohong demi kebaikan mungkin yang dijadikan prinsip oleh Riri saat ini. Berusaha menenangkan Rian, padahal sebenarnya ia sendiri yang takut dengan keterlambatan ini.
"Mas, terima kasih ya!" ucap Riri.
"Sama-sama. Sampai bertemu lagi nanti ya!" ucap Rian.
"Aunty Puspus hati-hati ya! Nanti main lagi sama Naura," ucap Naura.
"Siap. Terima kasih untuk hari ini ya! Aku bahagia bisa bermain bersama kalian," ucap Riri.
Setelah berpamitan, Riri kembali mendapat telepon dari Mr. Aric yang mengabarkan kalau ia sudah sampai di bandara. Riri segera menuju tempat yang sudah dijanjikan Mr. Aric. Lambaian tangannya sukses membuat mata Rian berkaca.
Bagaimanapun ia sakit saat harus kembali menjalani hubungan jarak jauh seperti itu lagi. Tapi apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain selain sabar dan pasrah untuk saat ini.
"Aunty Puspus, Naura sayang Aunty. Baik-baik ya di sana," teriak Naura.
Riri yang sudah menahan tangis tiba-tiba harus mengusap pipinya. Air mata itu gagal ia tahan. Ia membalikkan badan dan melambaikan tangan lagi pada Naura.
Rian memaksa bibirnya untuk tersenyum meskipun hatinya sangat sakit. Ia ikut melambaikan tangan sebagai salam perpisahan untuk wanita cantik itu.
__ADS_1
"Ayo pulang Om," ajak Narendra.
"Iya," jawab Rian.
Berat langkahnya saat harus pergi meninggalkan bandara. Namun ia tidak bisa berlama-lama di sana. Naura dan Narendra masih mengenakam seragam. Meskipun ia sudah mengabari Nyonya Helen, tapi kedua keponakan kembarnya itu harus mengerjakan PR dan istirahat.
"Rian?" tanya wanita yang menghampirinya.
Rian menatapnya dengan bingung. Siapa wanita itu karena wajahnya tertutup masker. Namun teriakan anak kecil yang memanggil wanita yang mengenakan masker itu.
"Kak Sindi?" tanya Rian.
"Ya. Ini aku," jawab Sindi.
Antara senang dan bingung, Rian menyapa Sindi sambil gelisah. Ia mencari tahu Danu dan yang lain, karena tidak mungkin Sindi datang hanya berdua dengan anaknya.
"Mereka sedang menunggu di depan. Kamu mau kemana?" tanya Sindi.
"Tadi sudah mengantar teman," jawab Rian.
"Eh ini Naura sama Narendra ya?" tanya Sindi sambil mengusap pipi keduanya.
"Ini Aunty Sindi ya?" tanya Naura.
Sementara Naura dan Sindi saling sapa, Narenda sudah asyik bercerita dengan Dandi. Hanya Rian yang semakin gelisah dengan keadaan ini.
Aku beri tahu Kak Mia tidak ya?
Untung saja Sindi segera pamit saat Danu sudah meneleponnya. Sepertinya Sindi sadar dengan keadaan yang tidak mengenakkan ini. Ia memilih untuk pergi tanpa memberi tahu kalau Rian ada di sana.
Dulu saat masih tinggal serumah, Sindi adalah orang yang paling dekat dengannya. Bahkan jika dibandingkan dengan Mia, Rian justru lebih dekat dengan Sindi saat itu. Tapi entah mengapa tiba-tiba Sindi lost kontak dengannya beberapa tahun terakhir.
Rian segera pulang untuk menghindari pertemuannya dengan keluarga Nyonya Nathalie. Dalam perjalanan, Rian tidak fokus. Antara sedih karena Riri sudah berangkat lagi ke Jerman dan karena kedatangan keluarga Sindin ke Jakarta. Sampai beberapa kali Naura bertanya banyak hal yang membuatnya harus membuyarkan lamunannya.
Saat sudah tiba di rumah Nyonya Helen, Mia dan Dion sudah pulang. Rian terkejut saat melihat semua sudah berkumpul. Ia melihat pergelangan tangannya. Ini masih siang.
"Kalian dari mana saja?" tanya Dion.
__ADS_1
"Naura sudah main sama Aunty Puspus," jawab Naura dengan girang.
"Gimana Aunty Puspusnya? Baik?" tanya Nyonya Helen.
"Baik banget. Tapi cuma sebentar," jawab Naura.
"Naura sama Rendra masuk kamar dulu ya! Ganti baju dan kerjakan PR nya. Jangan lupa istirahat juga ya!" ucap Rian.
Bukan tidak mau membahas Riri, tapi Rian sudah ingin membahas kedatangan Sindi ke Indonesia. Mereka semua terkejut dengan berita yang dibawa oleh Rian.
"Ya sudah. Lebih baik kalian segera pindah sementara ini. Naura sama Rendra kan ada Mama di sini. Jadi jangan khawatir," ucap Nyonya Helen.
"Apa Mia tidak merepotkan Mama?" tanya Mia.
"Mereka itu cucu Mama. Mana mungkin Mama merasa direpotkan," jawab Nyonya Helen.
Setelah mereka semua sepakat, akhirnya Mia dan Dion bersiap untuk kembali ke rumahnya sementara waktu. Mereka pamit pada Naura dan Narendra. Karena sudah terbiasa dengan kesibukan kedua orang tuanya, semua berjalan lancar. Tidak banyak pertanyaan dari Naura ataupun Narendra.
"Mi, kok aku merasa anak-anak kita jadi jauh ya sama kita?" tanya Dion.
"Aa jangan begitu," ucap Mia.
Mia sebenarnya menyadari hal itu. Namun ia juga sadar diri. Apa yang terjadi memang sepenuhnya salahnya juga. Mereka memang tidak punya banyak waktu untuk kedua buah hatinya itu.
Beruntungnya Mia, Naura dan Narendra dibawah asuhan Nyonya Helen. Meskipun kadang memanjakan mereka berlebihan, tapi Mia selalu merasa dihargai. Porsi Mia sebagai ibu tidak hilang di mata Naura dan Narendra.
Baru saja Mia sampai ke rumahnya, ia segera menghubungi Rian untuk mencari tahu kabar mereka. Rian meyakinkan Mia dan Dion kalau mereka akan baik-baik saja.
Setelah cukup tenang, Mia mengakhiri panggilannya dengan Rian. Membiarkan Rian melanjutkan pekerjaannya lagi. Hari ini Rian memang tidak ke kantor. Tapi beberapa pekerjaan sudah ia kerjakan. Hanya ada beberapa yang belum sempat ia selesaikan.
Rian duduk bersandar dan menengadahkan kepalanya. Ia menggeliat merasakan tubuhnya yang pegal. Ia pun menguap berkali-kali. Namun tetap berusaha melawan rasa ngantuknya karena ingin menyelesaikan semuanya tepat waktu.
"Aku sangat mencintaimu. Kamu adalah semangat untuk hidupku," gumam Rian sambil mengusap layar laptopnya yang terpampang wajah Riri.
Belum selesai ia mengerjakan pekerjaannya, Naura sudah mengetuk pintu kamarnya. Tanpa dipersilahkan, Naura masuk begitu saja dan duduk di samping Rian. Ia nampak menikmati kehadiran Naura saat ini. Biasanya mereka hanya bertemu saat di meja makan saja. Tapi kali ini Naura tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Banyak sekali pertanyaan Naura yang membuatnya senyum sendiri. Ada juga yang justru membuat Rian pusing sendiri.
Rian sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena menjawab pertanyaan-pertanyaan Naura. Kalau sudah ada Naura seperti itu, Rian tidak bisa mengerjakan apapun. Konsentrasinya buyar karena suara Naura yang begitu lantang dan bawel. Ia menutup laptopnya, karena fokusnya sudah teralihkan.
__ADS_1