
"Hey, suruh siapa naik di belakang? Kamu pikir aku sopirmu?" tanya Rian saat melihat Riri naik di jok belakang.
"Kan biasanya juga aku duduk di jok belakang Mas," jawab Riri.
"Pindah," titah Rian.
"Nanti Mba Maudi marah padaku," ucap Riri.
"Jadi kamu takut pada Maudi?" tanya Rian.
"Tentu. Aku takut rencana Mas untuk membuat Mba Maudi kembali lagi jadi gagal," jawab Riri.
"Mpus, pindah! Sudah tidak ada rencana-rencana seperti itu," ucap Rian kesal.
Antara kesal dan sakit hati. Rian kembali mengingat taktik yang diajarkan Mia. Namun akhirnya ia harus menelan pahitnya kenyataan tentang Maudi.
"Kenapa? Mas menyerah?" tanya Riri.
"Pindah ke depan!" ucap Rian sambil membulatkan bola matanya. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan Riri yang selalu membahas Maudi.
Rian mengancam Riri agar ia mau pindah. Berhasil, Riri pindah meskipun bibirnya cemberut. Mobil mulai melaju namun keduanya saling diam. Tidak ada yang bicara.
"Apa?" tanya Rian saat bola matanya beradu pandang dengan Riri.
Riri terkejut saat ia mencuri pandang pada Rian, ternyata Rian juga tengah meliriknya.
"Mas ini tampan loh. Kok Mba Maudi bisa lebih memilih Mas Rey ya?" ucap Riri.
"Aku? Tampan?" tanya Rian sanbil menunjuk dirinya sendiri.
Rian menahan tawanya saat melihat Riri mengangguk dengan wajah polosnya.
"Kenapa?" tanya Riri.
"Kamu tidak malu mengagumiku terang-terangan begitu?" ejek Rian.
"Siapa yang mengagumi? Aku hanya bilang jika Mas ini tampan. Di sini banyak kok yang lebih tampan dari Mas. Apalagi bule-bule Jerman yang hidungnya seperti perosotan anak TK," jawab Riri dengan datar.
"Terus apa maksudmu tadi memujiku tampan kalau akhirnya kamu menjatuhkanku," ucap Rian kesal.
"Ih, Mas kamu lama-lama kena darah tinggi deh. Marah melulu kerjaannya," ejek Riri.
Rian diam. Ia tidak ingin semakin dibuat kesal oleh Riri. Ah, tiba-tiba Rian ingat jika Riri masih punya cicilan. Mungkin ini bisa dijadikan salah satu cara agar Rian tidak terlalu merasa kecewa. Setidaknya ada Riri yang kisah hidupnya jauh lebih pahit dari pada kisahnya.
"Kamu masih punya cicilan. Jangan pura-pura lupa," ucap Rian.
"Mas menagihku?" tanya Riri.
"Ayo mulai cicilanmu,. Jangan banyak basa basi," jawab Rian.
"Oke. Mau mulai dari mana?" tanya Riri.
"Kenapa kamu bisa bertemu dengan Mr. Aric?" tanya Rian.
"Takdir," jawab Riri sambil menatap Rian.
__ADS_1
Menyadari Rian menatapnya tidak suka, Riri kembali meyakinkan Rian dengan jawabannya.
"Iya dong takdir. Benar kan? Bukankah semua yang terjadi pada kita adalah sebuah takdir dari Tuhan?" lanjut Riri.
"Oke, aku ganti pertanyaannya. Sejak kapan kamu ke Jerman?" tanya Rian.
"Belum lama ini. Seminggu sebelum kita bertemu pertama kali di kampus," jawab Riri.
"Berarti kamu dan Mr. Aric belum lama saling mengenal?" tanya Rian.
"Iya," jawab Riri sambil mengangguk.
"Lalu kenapa kamu bisa kuliah di sini?" tanya Rian.
Riri menghela napas panjang.
"Sepertinya aku harus menceritakan semuanya dari awal," ucap Riri.
"Bagus. Lakukan!" ucap Rian.
Riri mulai menguatkan dirinya. Ini adalah pertama kalinya Riri harus menceritakan kisah pahit yang pasti akan membuatnya memangis.
Sejak SMA, Riri berpacaran dengan kekasihnya yang tujuh tahun lebih tua dibanding dirinya. Pria itu mengajak Riri menikah setelah lulus sekolah. Riri sempat menolak karena ia ingin kuliah. Keadaan Riri memang dari keluarga sederhana, namun cita-citanya sungguh besar.
Dua tahun lebih mereka berpacaran, hingga Riri selesai sekolah. Pria itu kembali meminta Riri untuk menikah dengannya. Lagi-lagi Riri meminta waktu untuk kuliah.
Hari yang paling buruk itu tiba. Pacarnya datang membawa keluarganya. Riri panik karena ia tidak diberi tahu sebelumnya oleh pria itu. Kepanikannya berubah menjadi penderitaan saat pacarnya justru melamar kakak kandungnya.
Yang paling menyakitkan adalah saat kakak kandungnya menerima lamaran pacar Riri. Tanpa ia tahu, kakak kandungnya ternyata sudah sejak lama mengagumi pria itu.
Riri berharap itu hanya mimpi. Tapi ternyata itu memang kenyataan yang harus ia lalui. Pernikahan digelar tidak lama setelah lamaran. Sakit, saat harus menjadi pagar ayu dari pernikahan kakak sendiri dengan pria yang ia cintai.
Sejak saat itu ia merasa sudah tidak ada yang peduli padanya. Bahkan ayah dan ibunya justru mendukung pernikahan itu. Menurut mereka, Riri bisa kuliah jika pria itu menikah dengan kakaknya. Pria itu memang cukup kaya dan siap membiayai kehidupan keluarga Riri. Tidak terkecuali untuk biaya kuliah Riri.
"Mas bayangkan, aku harus kuliah dengan biaya dari mantan pacarku. Sementara dia sudah menjadi kakak iparku. Miris sekali," ucap Riri sambil mengusap pipinya yang mulai basah oleh air mata.
"Kuat ya anak baik," ucap Rian mengusap kepala Riri.
"Aku berusaha untuk selalu kuat di depan semua orang. Hanya di depan Mas aku menangis seperti ini," ucap Riri.
"Apa aku masih boleh bertanya?" tanya Rian.
"Boleh Mas," jawab Riri.
"Bagaimana kamu bisa ke Jerman?" tanya Rian.
Memang wajar jika Rian bertanya cara Riri bisa sampai di Jerman. Riri sendiri yang mengaku jika ia bukan berasal dari keluarga berada. Jadi mungkin sulit untuk mendapatkan tiket ke luar negeri.
"Aku kabur ke rumah temanku. Dia orang kaya. Aku pinjam uang untuk pergi ke luar negeri. Makanya bisa ada di sini," jawab Riri.
"Kenapa kamu memilih Jerman dibanding negara-negara lain?" tanya Rain.
Teman Riri punya tiket liburan ke Jerman. Riri memintanya dan berjanji akan menggantinya. Sempat menolak, tapi Riri terus memohon agar bisa pergi dari Indonesia. Bukan hanya memberikan tiketnya saja, tapi temannya itu membantu mengurus semuanya. Administrasi apa saja yang harus Riri tempuh. Beruntung Riri mempunyai seorang sahabat seperti itu.
"Lalu kamu tidak punya tujuan mau kemana saat pertama kali menginjakkan kakimu di sini?" tanya Rian tidak percaya.
__ADS_1
"Tidak," jawab Riri sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu bagaimana bisa bertemu dengan Mr. Aric?" tanya Rian.
"Saat itu aku sedang duduk di pinggir jalan. Dengan kemampuanku yang minim dalam berbahasa, aku hanya bisa menggunakan bahasa tubuh. Aku meminta pekerjaan pada setiap orang yang lewat. Semua mengabaikanku, kecuali Mr. Aric. Dia yang mengurus semuanya hingga aku bisa tinggal di rumahnya. Makanya aku sangat takut kehilangan orang sebaik Mr. Aric," jawab Riri panjang lebar.
"Kenapa kamu bisa yakin kalau Mr. Aric adalah orang baik? Apa kamu tidak takut jika Mr. Aric akan berniat jahat padamu?" tanya Rian.
"Bagiku saat itu semua orang jahat. Aku sudah tidak peduli lagi. Yang aku inginkan saat itu pergi jauh dari keluarga yang memperlakukan seperti anak pungut," jawab Riri.
"Senekad itu kamu, Pus?" tanya Rian tidak percaya.
"Makanya Mas harus bersyukur. Hidup Mas enak. Berbeda dengan aku yang sempat mengalami fase jatuh nyungseb bahkan berpikir jika tidak mungkin bisa bangkit lagi," jawab Riri.
"Bagaimana Mr. Aric bisa menguliahkanmu di sini?" tanya Riri.
"Selama seminggu tinggal di sini, aku selalu menggambar model-model gaun dalam sebuah kertas lusuh yang dibuang Mr. Aric. Dia bilang aku berbakat," ucap Riri.
"Semudah itu jalannya hingga kamu masuk kuliah di sini," ucap Rian.
"Seperti pepatah. Habis gelap terbitlah terang. Mungkin itu konsepnya. Aku yang sudah susah payah melewati fase itu, kini Tuhan memberiku kemudahan pada kesempatan yang lain. Aku mungkin gagal dalam urusan cinta. Tapi aku harus pastikan jika aku tidak gagal dalam cita-citaku," ucap Riri yakin.
"Mereka pasti bangga saat tahu kamu ada di tempat ini," ucap Rian.
"Tidak ada yang tahu keberadaanku sekarang," ucap Riri.
"Ini alasan kamu tidak mempunyai ponsel?" tanya Rian.
Riri mengeluarkan sebuah ponsel canggih keluaran terbaru dari dalam tasnya.
"Kamu berbohong. Katanya tidak punya ponsel," protes Rian.
"Aku tidak pernah menerima dan menghubungi orang lain selain Mr. Aric," jawab Riri.
"Kenapa?" tanya Rian.
"Selama ini hanya Mr. Aric yang peduli atas hidup dan masa depanku. Jadi aku rasa, hanya dia yang perlu aku kabari dan mengabariku," jawab Riri.
"Termasuk aku?" tanya Rian.
"Tentu," jawab Riri.
"Masukkan nomormu pada ponselku," ucap Rian sambil memberikan ponselnya.
"Untuk apa?" tanya Riri menolak ponsel Rian.
"Karena aku juga peduli padamu. Kamu sahabatku," ucap Rian sambil menyerahkan kembali ponselnya.
Riri mengambil ponsel Rian dan memasukkan nomornya.
"Nih. Cicilanku sudah lunas ya Mas," ucap Riri sambil mengembalikan ponsel Rian.
"Terima kasih. Cicilanmu sudah lunas. Tapi bunganya masih ada. Jadi kamu masih punya hutang," jawab Rian sambil mengambil kembali ponselnya.
"Hah? Dasar rentenir!" ucap Riri sambil cemberut.
__ADS_1
Rian hanya tertawa melihat ekspresi Riri. Tanpa Rian sadari, dengan kehadiran dan cerita Riri kini ia bisa melupakan sedikit rasa kecewanya pada Maudi.