
"Mas," panggil Riri sambil menarik tangan Rian yang masih memegang kepalanya.
"Maafkan aku. Aku sangat lancang. Kamu pasti kecewa padaku. Tapi asal kamu tahu, aku sama sekali tidak berniat merendahkanmu," ucap Rian dengan penuh rasa bersalah.
Tidak berani Rian menatap wajah wanita yang sangat ia cintai itu. Terlalu besar rasa bersalahnya sehingga ia merasa tidak pantas saat duduk di samping Riri.
"Aku sangat mencintaimu, Mas." Riri menggenggam tangan Rian yang terasa cukup dingin.
"Hah?" Rian memberanikan diri mengangkat kepalanya.
Bibir yang tengah tersenyum merekah dan bola mata yang bersinar berhasil membuat dada Rian semakin bergemuruh. Rasa bersalah itu telah hilang. Kini ia justru menginginkan kembali kehangatan yang sama.
"Mas," ucap Riri sambil menahan dada Rian.
Tubuh Rian yang semakin mendekat kepadanya membuat Riri berusaha mengendalikannya. Sebenarnya Riri juga menginginkan hal yang sama. Namun ia takut ini justru akan membuatnya gila. Apalagi Rian akan jauh dengannya setelah ini.
"Kamu menolakku?" tanya Rian kecewa.
"Mas marah?" Riri balik bertanya.
"Maaf," jawab Rian.
Rian kembali memegang setir dan mulai melajukan mobil. Hingga mobil berhenti di depan rumah Riri, tidak sepatah katapun keluar dari mulut keduanya. Hening, karena keduanya bungkam.
"Jika seandainya ada yang bisa memberikan apa yang Mas inginkan dan butuhkan, jangan sia-siakan. Jodoh urusan Tuhan," ucap Riri sebelum ia keluar dari mobil.
Belum sempat Rian meminta penjelasan dari kalimat Riri, wanita itu sudah berlari masuk ke dalam rumah.
"ARGH!" Rian memukul setir.
Napasnya tidak beraturan. Ia berusaha mengendalikan perasaannya sebelum akhirnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Rian mencoba mencerna kalimat yang terngiang di telinganya.
"Apa maksudmu, Pus? Apa kamu marah atas sikap kurang ajarku?" gumam Rian.
Mobil sudah sampai di parkiran rumahnya. Rian melihat wajahnya ada spion. Tangannya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia mengusap wajahnya dan tersenyum. Latihan terlihat tenang dan bahagia sebelum bertemu dengan Tuan Felix. Ia tidak mau jika ayahnya sampai bertanya hal yang tidak ia tahu jawabannya.
Langkahnya terasa ragu. Hatinya tak menentu. Setiap sudut ruangan tak lepas dari penglihatannya. Tidak ada ayahnya. Dimana dia? Penglihatannya tidak menemukan sosok Tuan Felix.
"Apa Papa sudah tidur?" tanya Rian pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba rasa khawatir membuatnya segera berlari menuju kamar Tuan Felix. Tangannya mengetuk pintu kamar ayahnya berkali-kali. Bibirnya terus memanggil ayahnya dengan sangat lembut. Masih tidak ada jawaban. Dadanya mulai berdebar tidak menentu.
"Pah," panggil Rian dengan nada tinggi sambil mencoba membuka pintu.
__ADS_1
Kepanikan semakin menjadi saat pintu kamar terkunci. Rian berteriak semakin keras saat ayahnya masih tidak membalas panggilannya.
"Pah, apa Papa baik-baik saja? Ini aku Pah. Buka pintunya," teriak Ruan semakin keras.
Rian terus berusaha untuk membuka pintu dan memanggil ayahnya tanpa berhenti. Sampai akhirnya ia diam setelah Tuan Felix membuka pintu.
"Berisik!" ucap Tuan Felix sambil menguap.
"Papa, sudah tidur?" tanya Rian gugup.
"Sudah bangun lagi, karena kamu sangat berisik. Kamu kenapa sih?" ucap Tuan Felix kesal.
"Aku pikir Papa sakit," ucap Rian sambil terus menatap Tuan Felix
Ada perasaan bahagia saat melihat Rian begitu mengkhawatirkannya.
"Papa baik-baik saja. Kamu baru pulang?" tanya Tuan Felix.
Rian mengangguk.
"Kamu mandi dan istirahat. Besok pagi kita ke kantor," ucap Tuan Felix.
Ya, Tuan Felix ingin menghabiskan waktu dengan Rian sebelum akhirnya mereka berpisah. Jarak Indonesia dan Jerman tidak dekat. Mereka juga akan disibukkan dengan aktivitas masing-masing sehingga akan sulit untuk menjadwalkan waktu bertemu.
Tuan Felix mengangguk dan menatap punggung Rian sampai akhirnya anak itu pergi dari pandangannya. Ia kembali masuk dan duduk di tepi ranjang. Ia meraih ponselnya dari atas nakas dan melihat beberapa foto.
"Waktu berlalu begitu cepat," ucap Tuan Felix sambil menatap layar ponselnya.
Matanya nanar. Ada air mata yang mendesak ingin keluar saat ia membayangkan kebersamaannya dengan Rian. Rasanya baru kemarin ia bertemu dengan anak asing itu. Lalu hari ini ia harus kembali berpisah. Ia takut hubungannya dengan Rian akan kembali terasa asing dengan jarak dan kesibukan mereka masing-masing.
Tuan Felix membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Berusaha kembali tidur dan melupakan rasa takutnya yang berlebihan. Namun semakin ia berusaha, ia semakin merasa begitu sulit. Matanya kembali terbuka dengan kegelisahan yang semakin menjadi.
Hal yang serupa dirasakan pula oleh Rian. Ia pun tidak bisa tidur. Duduk di depan layar laptop yang tidak menyala. Ia beranjak dan duduk di tepi ranjangnya.
"Pah, hanya dua malam lagi aku di sini. Entah kapan aku bisa kembali menemati kamar ini lagi. Atau bahkan aku tidak bisa menempati lagi ruangan ini. Kamar yang selalu menjadi tempat paling nyaman dalam segala kondisi," gumam Rian.
Ia menyimpan ponselnya dan merebahkan tubuhnya. Kedua tangannya menjadi bantal untuk kepalanya. Kesedihan tentang ayahnya juga kembali mengingatkan Rian akan kemarahan Riri.
"Ah, dia benar-benar marah." Rian kembali bangun dari tidurnya dan meraih ponselnya.
Hasilnya tidak Rian harapkan. Senyap. Tidak ada pesan apalagi panggilan dari Riri. Ia pun memberanikan diri untuk menghubungi Riri. Namun sayangnya Riri tidak bisa dihubungi. Nomornya tidak aktif.
"Kamu kenapa sih, Pus?" desah Rian.
__ADS_1
Rian semakin gelisah saat tidak bisa berbuat apa-apa. Ia kesal dengan keadaan yang membuatnya berada di zona paling tidak nyaman.
Waktu terus berlalu, malam semakin larut. Sementara Rian masih terjaga. Entah jam berapa ia benar-benar terlelap. Yang ia ingat saat alarm sudah membangunnya dan kembali tersadar.
Rian memijat kepalanya yang terasa pusing. Ia segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Meskipun sebenarnya ia ingin tidur dan membiarkan tubuhnya istirahat. Namun ia juga ingin memanfaatkan waktunya dengan Tuan Felix.
Saat keluar dari kamarnya, Rian sudah melihat Tuan Felix duduk di meja makan. Namun tangannya sedang memijat kepalanya. Ia tersenyum. Ia menyadari jika bukan hanya dirinya saja, ayahnya pun ternyata merasakan apa yang ia rasakan.
"Hey, sudah bangun?" tanya Tuan Felix saat melihat Rian menarik kursi dan duduk di hadapannya.
"Bukan hanya sudah bangun, aku sudah siap. Papa tidak lihat jika aku sudah tampan begini?" goda Rian.
"Tapi kamu tidak lebih tampan dari Papa. Meskipun Papa sudah lebih matang darimu, tapi Papa tidak kalah gagah kan?" tanya Tuan Felix dengan begitu percaya diri.
"Lebih matang? Kenapa tidak bilang lebih tua? Lebih simple kan?" goda Rian.
"Anak kurang ajar," gerutu Tuan Felix.
Rian tertawa. Hal itu tentu membuat Tuan Felix ikut tertawa saat Rian terus menggodanya. Rasanya seketika rasa sakit di kepalanya menjadi hilang.
"Ayo!" ajak Tuan Felix setelah selesai sarapan.
Rian mengangguk dan segera meninggalkan ruang makan. Berjalan di belakang ayahnya. Perlahan langkah ayahnya melambat. Ternyata ia merangkul bahunya dan berjalan bersama. Hal yang mungkin belum akan sangat ia rindukan nantinya.
"Ri, nanti kita makan siang di cafe biasa yu!" ajak Tuan Felix.
"Boleh Pah," jawab Rian.
Pagi ini Rian benar-benar tidak ingin melewatkan waktu bersama ayahnya. Dari mulai mempelajari banyak hal tentang perusahaan sampai akhirnya mereka makan siang bersama.
"Nanti ajak Mpus ya!" ucap Tuan Felix.
Rian menghentikan tangannya yang sedang berkutat dengan keyboard laptopnya. Ia mengangkat wajahnya dan melihat ayahnya.
"Mpus sibuk," ucap Rian.
"Sibuk?" selidik Tuan Felix.
Sebagai seorang ayah, Tuan Felix tentu tahu saat Rian sedang berbohong.
"Ketika ada masalah, selesaikan. Kamu ini laki-laki. Harus bertanggung jawab. Jangan biarkan masalah berlarut-larut," ucap Tuan Felix.
Rian menunduk. Ia merasa bersalah dan benar-benar egois. Ia sangat tertampar dengan apa yang diucapkan oleh ayahnya.
__ADS_1
Aku harus banyak belajar, Pah. Maafkan aku, Pus. Aku akan menyelesaikan masalah ini. Aku ingin kita tetap baik-baik saja meskipun sedang berjauhan.