
"Ya ampun Pah. Aku pusing karena Papa mengagetkanku," ucap Rian.
"Enak saja. Kenapa jadi Papa yang disalahkan?" tanya Tuan Wira.
"Ya memang Papa. Aku sedang tidur nyenyak. Papa datang-datang membangunkanku. Pusing kepalaku," jawab Rian.
Perdebatan tentang hal yang tidak penting pun tak kunjung berakhir. Masalah baru pun muncul saat Tuan Felix pulang dan ikut nimbrung dalam perdebatan itu.
"Terus kenapa kamu tidur di kursi? Kalian bertengkar?" tanya Tuan Felix.
Pertanyaan yang membuat Rian tersentak dan merasa jika kesalahpahaman ini akan semakin rumit. Belum lagi Tuan Wira yang ikut memperkeruh suasana. Belum sempat Rian membela diri, Tuan Wira sudah menyudutkannya.
"Sebagai seorang suami, kamu harus mengerti keadaan istri. Kalau ada masalah, selesaikan. Jangan kabur begini. Tidur di luar kamar. Bikin malu," ucap Tuan Wira.
"Rian, ingat ya laki-laki itu adalah pelindung untuk istrinya. Siapapun yang salah, yang harus kita lakukan adalah meminta maaf. Jangan pernah membahas apapun saat sedang ada masalah. Cukup minta maaf," ucap Tuan Felix.
"Tapi aku sama Mia tidak sedang marahan. Tidak ada masalah sama sekali," ucap Rian dengan wajah pasrah.
Rian menjawab seperlunya. Karena menurutnya, apapun yang akan ia jawab tentu akan didebat lagi. Sulit rasanya membuat mereka percaya dengan apa yang diucapkannya.
Tuan Felix dan Tuan Wira saling beradu pandang. Mereka menerka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Belum sempat bertanya pada Rian, Nyonya Helen keluar dari kamar. Tidak sendiri, ada Riri yang membantu mendorong kursi rodanya.
"Mama?" ucap Tuan Wira dengan wajah penuh tanya.
"Papaaaaa," teriak Nyonya Helen.
"Kenapa Ma? Kenapa?" tanya Tuan Wira panik.
"Kita harus ke rumah Mpus. Kita harus buat perhitungan dengan dia. Mama tidak mau menantu Mama tertekan begini. Ini akan mempengaruhi kehamilannya," ucap Nyonya Helen.
"Hamil? Mpus sudah hamil?" tanya Tuan Felix.
"Belum, belum." Rian segera membantah tuduhan Tuan Felix.
Sementara Riri yang panik dengan keadaan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.
"Kenapa kamu panik? Memangnya kamu tidak mau punya anak?" tanya Tuan Wira.
"Bukan, bukan begitu. Tapi ini terlalu cepat Pah," jawab Rian.
__ADS_1
"Lalu kamu akan menunggu sampai kapan? Ditunda sampai setahun? Dua tahun?" tanya Tuan Felix.
Belum sempat Rian membela diri, Nyonya Helen sudah ikut menyudutkannya.
"Terus kamu pikir, begituan itu buat senang-senang saja?" ucap Nyonya Helen.
Ini kenapa sensi semua sih sama aku? Semenjak ada Mpus, kok aku jadi tertekan begini?
"Ma," ucap Riri.
"Oh iya Mama hampir lupa. Kita harus ke rumah Mpus," ucap Nyonya Helen.
"Iya. Kita pasti akan ke rumah Mpus. Masa kita tidak bertemu dengan keluarga besan. Tapi Mama jangan marah-marah ya. Kita ke sana kan buat silaturahmi," ucap Tuan Wira.
"Tidak ada silaturahmi. Mama harus buat perhitungan dengan dia," ucap Nyonya Helen dengan sangat kesal.
"Ma, dia itu siapa? Jangan begitu ah sama besan kita. Bagaimanapun mereka adalah keluarga Mpus. Berarti keluarga kita juga," ucap Tuan Wira.
"Mana ada keluarga jahat begitu. Sudah sekarang semua ganti baju. Kita harus berangkat hari ini juga," ucap Nyonya Helen.
Dengan perasaan kesal Nyonya Helen pergi meninggalkan semua orang yang masih bingung. Namun akhirnya Riri menjelaskan semuanya. Bukan berniat membuka aib keluarganya, namun Riri ingin terbuka. Ia ingin keluarga Rian tahu apa yang terjadi dengan keluarganya. Walaupun sebenarnya Tuan Felix sudah tahu semua ini sebelumnya. Bahkan sebelum semua orang tahu, Tuan Felix lah orang pertama yang mengetahui keadaan keluarga Riri.
"Jangan menangis. Ini bukan salahmu. Kami juga tidak akan mempermasalahkan semua itu. Pernikahan ini sudah sah. Berarti tidak ada yang harus kamu khawatirkan," ucap Tuan Wira.
"Ayo! Kenapa masih pada kumpul di situ?" ucap Nyonya Helen.
"Ma, tenang. Semua tidak akan selesai kalau dengan emosi. Kita harus selesaikan dengan kepala dingin. Apalagi Papa sama Felix baru pulang. Kita harus mandi dan makan dulu," ucap Tuan Wira.
"Masalah ini darurat Pah. Kita harus menyelesaikan semua ini secepatnya. Mama tidak mau dia membuat Mpus menderita," ucap Nyonya Helen.
"Ma, biarkan Papa Wira sama Papa Felix istirahat dulu ya. Kita bisa ke sana besok. Benar kata Papa, kita harus menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Mama juga sebaiknya makan dulu ya," ucap Riri.
"Kenapa kamu jadi lebih membela mereka dibanding Mama? Mama ini sayang loh sama kamu, Pus." Nyonya Helen terlihat begitu sedih.
"Ma, aku juga sayang sama Mama. Kita pasti akan menyeleasaikan masalah ini. Tapi setelah Mama makan ya. Jangan lupa obatnya," ucap Nyonya Helen.
"Mama tidak berselera makan," ucap Nyonya Helen.
"Ma, ada obat yang harus diminum. Kalau Mama tidak makan, gimana obatnya mau bereaksi. Makan ya," bujuk Riri.
__ADS_1
"Ah, selama ini Mama minum obat juga masih sama saja seperti ini. Mama belum sembuh sampai sekarang," ucap Nyonya Helen.
"Tapi yang aku lihat Mama sudah jauh berubah. Mama sudah berangsur sehat. Dan aku yakin kalau Mama teratur minum obat, Mama pasti sembuh. Yang penting sekarang Mama semangat sehat ya," ucap Riri.
"Tapi Mama tidak bisa jalan," ucap Nyonya Helen.
"Mama pasti bisa jalan kok. Semangat ya," ucap Riri.
"Kalau masih tetap tidak bisa jalan?" tanya Nyonya Helen dengan wajah sedih.
"Gendong bayi kan bisa sambil duduk Ma. Yang penting sekarang Mama usaha dulu semaksimal mungkin," jawab Riri.
Mendengar kata bayi, Nyonya Helen langsung tersenyum. Tangannya dengan cepat mengusap-usap perut Riri yang masih rata.
"Terima kasih sudah hadir di kehidupan Mama ya," ucap Nyonya Helen dengan mata yang berlinang.
"Mama jangan begitu. Aku yang seharusnya berterima kasih. Berkat Mama, aku jadi bisa merasakan kehangatan keluarga. Hal yang selama ini aku rindukan," ucap Riri.
Keduanya berpelukan. Membuat haru ketiga laki-laki yang tengah memperhatikannya. Keharuan itu terhenti saat suara pasukan tiba-tiba riuh. Tiga keluarga datang karena ingin bertemu dengan pengantin baru.
Keluarga Dion, keluarga Danu, dan keluarga Reza. Mereka datang membawa anak dan istrinya. Tidak hanya itu, mereka datang membawa berbagai makanan dan hadiah. Baik itu untuk pengantin baru maupun untuk Nyonya Helen.
"Haloooo," teriak Naura dengan suara tingginya.
Semua mata tertuju pada Naura yang tiba-tiba langsung memeluk Riri. Mereka hanya bertemu beberapa kali, namun Naura sudah begitu akrab. Naura dengan bangga memperkenalkan Riri kepada Narendra, Dandi dan Yaza.
Naura juga menarik tangan Riri agar bermain bersama. Namun Mia menahannya. Mia meminta Naura dan yang lain bermain saja bersama. Ada Bibi yang akan menemani mereka. Meskipun kecewa namun mereka mengiyakan karena Riri berjanji akan menemui mereka nanti.
"Oh ya ini ada kenang-kenangan dari kami," ucap Maya sambil memberikan sebuah kado berukuran sedang untuk Riri.
"Ya ampun Kak, merepotkan sekali. Aku jadi tidak enak. Terima kasih banyak ya," ucap Riri.
"Sama-sama. Aku juga berterima kasih karena suamiku bisa bekerja di kantornya Nyonya Rian," ucap Maya.
"Eh jangan begitu. Jangan panggil aku Nyonya Rian. Aku tidak terbiasa. Panggil aku Riri saja," ucap Riri sambil mengulurkan tangannya.
Maya pun menyambut uluran tangan Riri. Hal yang sama juga di lakukan oleh Sindi. Meskipun Sindi sudah sangat dekat dengan Rian, tapi ia belum begitu mengenal Riri.
Dari kesan pertama mereka saat berkenalan dan mengobrol, Riri terlihat begitu baik dan ramah. Ia juga hangat dan sangat menyukai anak kecil. Sebenarnya ini bukan pertemuan pertama mereka. Karena saat pernikahan kemarin, mereka bertemu dan sedikit mengobrol. Namun suara musik yang cukup berisik membuat mereka tidak terlalu antusias untuk mengobrol.
__ADS_1
"Pus, selamat ya. Akhirnya kamu benar-benar menjadi bagian dari keluarga ini," ucap Mia sambil memeluk Riri dengan erat.
Dibandingkan dengan Maya dan Sidni, Mia sudah jauh lebih mengenal Riri. Tidak hanya sebatas saling kirim pesan singkat atau telepon. Namun keduanya sempat bertemu beberapa kali sebelum akhirnya Riri dan Rian menikah. Bahkan Mia adalah salah satu orang yang meyakinkan Riri jika Rian masih sangat mencintainya.